Ayah, Apa yang dilakukan Wanita itu Padamu?

Ayah, Apa yang dilakukan Wanita itu Padamu?

Entah sampai kapan perkembangannya terus mengusik hati, hari demi hari yang hadir terus saja mebubuhkan tinta hitam dalam kehidupan itu. Ada segumpal permintaan yang sampai saat ini ku sematkan, untuk seseorang yang telah berubah agar kembali lagi seperti semula.

Ayah, Apa yang dilakukan Wanita itu Padamu?

Bukan karena aku benci lalu berdo’a untuk menjauhkan ia darinya. Hanya saja sebuah kesadaran sedikit demi sedikit mulai singgah, umur yang telah bertambah semakin membuka mataku untuk mengenali dan menganalisis perubahan yang terjadi, aku bernostalgia pada masa silam, sosok laki-laki panutan dengan segala sifat-sifat terpujinya, ramah, dermawan, rajin beribadah dan sabar, kini seperti tertelan oleh waktu, aku bagai beradaptasi kembali dengan sosok yang berbeda, jauh berbalik dengan sifat-sifatnya yang dulu. Ada apa dengannya? mengapa seseorang itu memberikan pengaruh kurang baik padanya?

Ayah, sebuah kata yang membubuhkan rasa  tak menentu dalam hati, namun harapan  tulus muncul tanpa batas, ada sebuah bisikan yang senantiasa ku lantunkan dalam setiap ingatan nostalgia bersamanya, yang kerap singgah begitu saja dan menghadirkan muara kecil di pelupuk, yang ku fikir, masihkah dapat ku jangkau senyuman dan keramahan yang terasa damai dulu ku rasa. Aku masih begitu mengingatnya, bahkan saat aku turut merasakan sayatan yang ibu rasa dan berusaha ikhlas atas posisiku sebagai seorang buah hati yang harus tetap menjunjung tinggi kehormatannya.

Ada apa sebenarnya? Baiklah akan sedikit ku ulas. Suatu kali, dimasa aku sudah cukup mengerti akan arti sebuah hubungan antara kaum adam dan hawa,  dua manusia dengan ikatan darah berbeda menjadi satu di bawah atap yang sama, dua karakter yang dipaksa untuk saling menerima kekurangan masing-masing, sudah sekian tahun dua manusia pria dan wanita itu begitu setia menemani hari-hari yang ku lalui, lengkap, itulah kalimat yang bisa ku simpulkan, kami keluarga yang utuh.

Namun, penegasan bahwa kendali takdir itu berada di tangan sang maha kuasa, telah melompat-lompat dalam batinku,  baik dan buruk, berat dan ringan, manis dan pahit terasa benar-benar mewarnai kisah hidup ini, di depan mataku, dua orang yang begitu ku sayang itu harus mengambil sebuah keputusan besar, keputusan yang tak penah sedikitpun terbersit dalam fikiran, mereka bercerai,  hampir 18 tahun bersama, waktu yang tak sedikit itu rupanya bukan suatu jaminan bahwa keutuhan keluarga akan tetap terbina, siapa yang sangka akan begini adanya? Terkejut, tak percaya, tak habis pikir, itulah yang ku rasa.

Bagaimana pula dengan perasaan wanita yang selama ini telah berkorban untuk membesarkan anak-anaknya? Membayangkan saja, perasaan ini terasa diremas-remas oleh sebuah kenyataan yang menyimpang dari harapan, sebagai seorang anak, apalah daya, segenap tenaga telah aku kerahkan, air mata, keringat kemarahan atas sebuah bencana yang datang tak cukup untuk meredam kegersangan yang telah hadir di ambang kehancuran, aku menyerah, biarlah mereka mengajukan pilihannya sendiri, hidup tetap harus dilanjutkan meski dengan atau tanpa, walau demikian sampai kapanpun keduanya adalah orang tua yang tetap tak terbalas budinya.

Semua hal yang terjadi tentu ada sebab musababnya, begitu pula dengan keputusan ini, entah sihir apa yang sebenarnya telah menguasai ayah? tak bisa ku nafikan ada seorang berparas cantik yang hadir diantara mereka, tak pernah diduga, namun mempengaruhi keharmonisan keluarga, apa yang bisa dilakukan saat hati sudah condong pada orang lain? Kurang menjaga imankah? kecantikankah yang telah menaklukannya? Hingga dengan mudahnya istri yang bertahun-tahun menemaninya mesti tersisihkan?  Ah, sudahlah semua itu sudah terjadi. Aku tak ingin membahas alasannya, mungkin itu sudah takdir terbaik yang telah Allah berikan, ada misteri dibalik skenarionya.

Hanya saja, aku tetap tidak rela, sosok wanita itu menjadikan ayah sebagai ladangnya untuk berhura-hura, harta yang ayah hasilkan kian habis olehnya, ayah sepertinya sadar, namun entah mengapa ia seakan tak berdaya dalam pelukan wanita yang telah memberikan pengaruh negatif terhadapnya. Mungkin sikap yang ia tampakkan sebenarnya adalah sebuah isyarat bahwa ia salah, hanya saja ia tak berdaya dengan wanita yang saat ini ia nikahi dan ia cintai.

Begitu mudahnya Allah membolak balikkan hati hambaNya, kuasaNya yang tak terhingga itulah yang membuatku tak pernah putus asa untuk sekedar menyisipkan do’a dalam hati, semoga ada bisikan manis yang menggelitik kesadaran ayah untuk segera kembali ke jalanNya yang damai, aku rasa wanita itu memiliki pengaruh besar, jika tanpa wanita itu ayah akan berubah, aku benar-benar mengiba kepada Allah, agar Ia segera menjauhkan ayahku darinya, semoga ayah segera menjadi sosok yang kusegani seperti dahulu kala, memiliki sifat dermawan, sosial, sabar dan ramah,  Aamiin. Aku sudah ikhlas dengan takdir ini.


2 komentar

11/16/2016

Allah pasti akan memberikan yg terbaik... (y)

Reply
avatar


View MoreHOTTEST ARTICLES