Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 1)

Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 1)

Sepuluh ribu rupah.

Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 1)

Ku tatap dua lembar uang bergambar Imam bonjol itu di meja, sekitar satu jam yang lalu suamiku berlalu, meninggalkan dua lembar uang, ia pergi untuk membantu kakaknya berjualan sapi di pasar.
Sepuluh ribu itu untuk satu hari.
Sebenarnya, aku masih sedikit tidak percaya dengan hal ini, ada rasa yang memberontak dalam hati, ada keganjalan yang masih ku tahan, ada segenap teka-teki yang belum terpecahkan. Bagaimana bisa, tiada badai tiada hujan, tiba-tiba saja ada perubahan menajemen dalam rumah tangga kami, managemen keuangan keluarga yang sebelumnya berada dalam kendaliku, kini harus berbalik dikendalikan oleh suamiku.
sebelumnya hal seperti ini tidak pernah terjadi, bahkan keuangan aku sepenuhnya yang mengendalikan, suamipun tidak keberatan dengan hal itu.
Namun semenjak hari itu, ada perubahan yang diciptakannya, tanpa meminta persetujuanku, ia mengatakan bahwa mulai saat itu keuangan akan dikendalikan olehnya, sementara diriku akan menerima jatah belanja darinya, mendengar keputusannya yang tiba-tiba, aku mengelak, bertanya mengapa tiba-tiba seperti itu, aku tidak mengerti, mengapa begitu mendadak? mengapa ia seperti itu pada istrinya, apa salahku? Ia hanya menjawab untuk lebih berhemat. Aku merenungi jawabannya, tidak masuk akal, bukankah aku sudah begitu berhemat? Berhemat yang bagaimana lagi? Ah, berdebat dengannya hanya akan membuat kericuhan, akhirnya, dengan setengah hati aku menerima keputusan itu.  
Sampai saat ini aku juga tak mampu menjawabnya, aku merasakan perubahan itu sejak ia kembali pulang dari keluarganya disana.
keesokan harinya, ucapan itu terlaksana, ia memberikan jatah uang belanja, betapa terkejutnya, saat nominal yang ia letakkan adalah separuh dari kebutuhan dihari-hari sebelumnya, padahal jujur saja, jika dibandingkan dengan tetangga kami yang sering menggunakan lauk bermacam-macam sebagai menu sarapan, sementara kami, hanya menggunakan lauk seadanya, olahan tempe atau tahu, biasanya juga ikan laut untuk menambah protein, paling mewah telur, karena suami sangat menyukainya, memang, saat ini kami belum dikaruniai seorang putra, tapi lihatlah, perutku sudah tak lagi sama, ada nyawa disana yang juga membutuhkan asupan gizi. Sepuluh ribu itu, aku tahu, tidak sepenuhnya untuk belanja lauk pauk, harus tersedia kopi dan rokok eceran dua lembar saat ia pulang dari bekerja nanti, Jika demikian, sisa berapa untuk membeli lauk pauk? walau aku mengelak jika uang belanja sudah habis dipakai yang lain, ujung-ujungnya ia pasti marah karena menganggapku tak bisa berhemat, saat kalimat itu terlontar, tentu saja aku mulai berandai  jika ia yang menjadi seorang istri, mungkin ia akan merasakan bagaimana perasaanku. Tapi ia malah naik pitam, aku memilih diam dan mencoba berfikir mencari solusi yang lain, itu lebih baik dari pada barang di rumah harus pecah lagi karenanya. Sudah cukup hp dan kaca lemari yang rusak.

Bersyukur masih ada beras hasil panen yang bisa kami masak, sawah warisan orang tuaku sedikit membantu, uang sepuluh ribu itu aku cukupkan untuk belanja lauk pauk, meski tak jarang aku harus menjual sebagian beras untuk menambal uang belanja yang sering tidak cukup. Tentu saja aku sudah mengadukan hal itu pada suami, bahkan karena hal demikian aku jadi sering mengomel padanya. Jawabannya, ia akan berbalik marah padaku, perekonomian kami mungkin terlihat memprihatinkan,  padahal aku tahu upah yang dihasilkan suamiku dalam sekali bekerja bisa digunakan untuk belanja selama dua hari menurut ukuran normal. Beli minyak goreng, lauk pauk, sayur, cabai, bumbu-bumbu, gula dll.

Aku tetap bertahan dalam keadaan ini, lama-lama persediaan beras mulai habis,  untuk mendapatkan nasi, aku harus membeli beras ke toko, harganya juga tidak murah, walau dengan kualitas rendah,  dengan uang belanja sepuluh ribu, apakah cukup? Tentu saja tidak, aku berikir keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami.

Dalam keadaan terhimpit itu aku memilih menghampiri orangtuaku yang rumahnya terletak disebelah, ada ibu disana.

“ibu, aku mau pinjam beras” ucapku padanya, raut wajah ibu yang sudah berkeriput, semakin terlihat saat ia mengernyitkan dahinya, heran.
“aku menjualnya bu, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga” jawabku, setelah menangkap gelagat terkejut di wajahnya. Ibu belum sempat berkata.

Aku tahu, ibu pasti sangat kecewa dengan suamiku, ada raut tak terima dan marah yang tergambar disana. Setelah hampir satu tahun menikah, saat waktu demi waktu mengungkapkan segala karakter dan sifat yang sesungguhnya, terkuak sudah bagaimana sikap sejati seorang menantu yang selama ini dibanggakannya sebagai adik seorang haji. Ia sudah tahu, bagaimana suamiku sebenarnya.

Nasi sudah menjadi bubur, kami sudah menjalin ikatan sakral, bahkan tak lama lagi akan hadir seorang yang akan menambah ramai rumah tangga kami. Aku tak sabar menantikannya, mungkin ia akan menjadi pelipur laraku nanti.


Tobe Continue..  Sepuluh Ribu Rupiah 2

0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES