Sepuluh ribu rupah.
Ku tatap dua
lembar uang bergambar Imam bonjol itu di meja, sekitar satu jam yang lalu
suamiku berlalu, meninggalkan dua lembar uang, ia pergi untuk membantu kakaknya
berjualan sapi di pasar.
Sepuluh ribu itu untuk satu hari.
Sebenarnya, aku
masih sedikit tidak percaya dengan hal ini, ada rasa yang memberontak dalam
hati, ada keganjalan yang masih ku tahan, ada segenap teka-teki yang belum
terpecahkan. Bagaimana bisa, tiada badai tiada hujan, tiba-tiba saja ada
perubahan menajemen dalam rumah tangga kami, managemen keuangan keluarga yang
sebelumnya berada dalam kendaliku, kini harus berbalik dikendalikan oleh
suamiku.
sebelumnya hal seperti ini tidak pernah terjadi, bahkan keuangan aku sepenuhnya yang mengendalikan, suamipun tidak keberatan dengan hal itu.
Namun semenjak
hari itu, ada perubahan yang diciptakannya, tanpa meminta persetujuanku, ia
mengatakan bahwa mulai saat itu keuangan akan dikendalikan olehnya, sementara
diriku akan menerima jatah belanja darinya, mendengar keputusannya yang
tiba-tiba, aku mengelak, bertanya mengapa tiba-tiba seperti itu, aku tidak
mengerti, mengapa begitu mendadak? mengapa ia seperti itu pada istrinya, apa salahku?
Ia hanya menjawab untuk lebih berhemat. Aku merenungi jawabannya, tidak masuk
akal, bukankah aku sudah begitu berhemat? Berhemat yang bagaimana lagi? Ah,
berdebat dengannya hanya akan membuat kericuhan, akhirnya, dengan setengah hati
aku menerima keputusan itu.
Sampai saat ini aku juga tak mampu menjawabnya, aku merasakan perubahan itu sejak ia kembali pulang dari keluarganya disana.
keesokan
harinya, ucapan itu terlaksana, ia memberikan jatah uang belanja, betapa
terkejutnya, saat nominal yang ia letakkan
adalah separuh dari kebutuhan dihari-hari sebelumnya, padahal jujur saja, jika dibandingkan dengan tetangga kami yang
sering menggunakan lauk bermacam-macam sebagai menu sarapan, sementara kami,
hanya menggunakan lauk seadanya, olahan tempe atau tahu, biasanya juga ikan
laut untuk menambah protein, paling mewah telur, karena suami sangat
menyukainya, memang, saat ini kami belum dikaruniai seorang putra, tapi
lihatlah, perutku sudah tak lagi sama, ada nyawa disana yang juga membutuhkan
asupan gizi. Sepuluh ribu itu, aku tahu, tidak sepenuhnya untuk belanja lauk
pauk, harus tersedia kopi dan rokok eceran dua lembar saat ia pulang dari
bekerja nanti, Jika demikian, sisa berapa untuk membeli lauk pauk? walau aku mengelak
jika uang belanja sudah habis dipakai yang lain, ujung-ujungnya ia pasti marah
karena menganggapku tak bisa berhemat, saat kalimat itu terlontar, tentu saja
aku mulai berandai jika ia yang menjadi
seorang istri, mungkin ia akan merasakan bagaimana perasaanku. Tapi ia malah
naik pitam, aku memilih diam dan mencoba berfikir mencari solusi yang lain, itu
lebih baik dari pada barang di rumah harus pecah lagi karenanya. Sudah cukup hp
dan kaca lemari yang rusak.
Bersyukur masih
ada beras hasil panen yang bisa kami masak, sawah warisan orang tuaku sedikit
membantu, uang sepuluh ribu itu aku cukupkan untuk belanja lauk pauk, meski tak
jarang aku harus menjual sebagian beras untuk menambal uang belanja yang sering
tidak cukup. Tentu saja aku sudah mengadukan hal itu pada suami, bahkan karena
hal demikian aku jadi sering mengomel padanya. Jawabannya, ia akan berbalik
marah padaku, perekonomian kami mungkin terlihat memprihatinkan, padahal aku tahu upah yang dihasilkan suamiku
dalam sekali bekerja bisa digunakan untuk belanja selama dua hari menurut
ukuran normal. Beli minyak goreng, lauk pauk, sayur, cabai, bumbu-bumbu, gula
dll.
Aku tetap
bertahan dalam keadaan ini, lama-lama persediaan beras mulai habis, untuk mendapatkan nasi, aku harus membeli
beras ke toko, harganya juga tidak murah, walau dengan kualitas rendah, dengan uang belanja sepuluh ribu, apakah
cukup? Tentu saja tidak, aku berikir keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga
kami.
Dalam keadaan
terhimpit itu aku memilih menghampiri orangtuaku yang rumahnya terletak
disebelah, ada ibu disana.
“ibu, aku mau
pinjam beras” ucapku padanya, raut wajah ibu yang sudah berkeriput, semakin
terlihat saat ia mengernyitkan dahinya, heran.
“aku menjualnya
bu, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga” jawabku, setelah menangkap gelagat
terkejut di wajahnya. Ibu belum sempat berkata.
Aku tahu, ibu
pasti sangat kecewa dengan suamiku, ada raut tak terima dan marah yang
tergambar disana. Setelah hampir satu tahun menikah, saat waktu demi waktu
mengungkapkan segala karakter dan sifat yang sesungguhnya, terkuak sudah
bagaimana sikap sejati seorang menantu yang selama ini dibanggakannya sebagai adik
seorang haji. Ia sudah tahu, bagaimana suamiku sebenarnya.
Nasi sudah
menjadi bubur, kami sudah menjalin ikatan sakral, bahkan tak lama lagi akan
hadir seorang yang akan menambah ramai rumah tangga kami. Aku tak sabar menantikannya,
mungkin ia akan menjadi pelipur laraku nanti.
Tobe Continue.. Sepuluh Ribu Rupiah 2

0 komentar