Masih saja tak mampu ku mengerti, padahal sudah
benar-benar ku sadari, waktu sangat sempurna menegaskan kejelasan kisah ini,
kenyataan terpampang di depan mata, sangat nyata, bahkan dengan indahnya
memukulku tanpa ampun. Sakit, tentu saja, ia berlalu dan berisyarat tak dapat
bersanding denganku. Melihat hal demikian, aku benar-benar ingin mendorongnya
dengan keras, menjejalinya pertanyaan yang ku tahu pasti tak mungkin mengubah
bubur menjadi nasi kembali.
Sebuah takdir
sudah berlaga gagah, purnama tak lagi peduli dengan hati yang cahayanya mulai sirna,
mungkin ia lelah mengingatkanku untuk benar-benar ikhlas melepaskan seseorang
yang sebelumnya menghuni, terlalu bandelkah hatiku? Keras kepalakah perasaanku?
tidakkah seseorang itu merasakan? maghnet yang dulu ia ciptakan menarikku
begitu kuat, hingga aku tak bisa sepenuhnya melepaskan. Kabar itu begitu
tiba-tiba, keputusan itu harus melemparkan jauh anganku yang telah bertunas.
Bisakah ia merasakan bagaimana basahnya luka ini? Luka yang berharap tak pernah
terjadi, atau barangkali ada sebuah keajaiban atas kedatangannya kembali untuk
menyembuhkan sayatan ini?
Terkadang aku
berfikir, mengapa kau pergi membawa impian yang telah susah payah ku rajut,
tidakkah kau tahu? Sebelumnya, aku tak terlalu terpacu untuk berkomitmen dalam
sebuah hubungan pasti, aku bukanlah orang yang dengan mudah menapak kedalaman
rasa yang tak terjamah. Tanpa bualan dan banyak tingkah kau datang dengan
segenap ketulusan, cinta yang suci, aku menyadarinya, kau memiliki sifat yang
berbeda dari yang lain, bersamamu, aku tak merasa lapar dan juga tak terlalu
kenyang, tanpa sadar itulah yang selama ini ku cari dan ingin ku rasakan, aku
bertahan dan menikmati kebersamaan denganmu yang begitu stabil.
Namun hantaman
rasa itu? Tidak, Ya Allah, aku, mengapa belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan ia
bersama pilihan orangtuanya? Gagal move on kah? Bisakah waktu mengikis harapan
ini agar benar-benar tenang, kuatkah aku jika nanti sebuah surat undangan
terpampang jelas di depan mata bertintakan namanya dan calon istrinya? Akankah
ia menghadirkanku dalam pesta kebahagiaannya? Atau mungkin Ia akan melewatkanku
dari segenap daftar undangan untuk teman-temannya, bukankah saat ini aku sudah
berstatus sebagai teman? Tapi kuatkah jika aku benar-benar ia undang?
Aku tak bisa
memastikan, mungkin butuh waktu, biarlah segenap penantian ini ku manfaatkan
untuk berdo’a agar Allah memberikanku kekuatan menghadapi kenyataan yang tak
bisa ku hindari, semoga.
Hanya do’a yang
bisa ku sematkan dalam hati, semoga kau bahagia bersamanya, doakan juga aku
bahagia bersama kekasih halalku nanti, seseorang yang akan menggantikan
tempatmu dihatiku.

0 komentar