Kekasihku, Tegakah Kau Mengirimiku Undanganmu?

Kekasihku, Tegakah Kau Mengirimiku Undanganmu?

Kekasihku, Tegakah Kau Mengirimiku Undanganmu?

Masih  saja tak mampu ku mengerti, padahal sudah benar-benar ku sadari, waktu sangat sempurna menegaskan kejelasan kisah ini, kenyataan terpampang di depan mata, sangat nyata, bahkan dengan indahnya memukulku tanpa ampun. Sakit, tentu saja, ia berlalu dan berisyarat tak dapat bersanding denganku. Melihat hal demikian, aku benar-benar ingin mendorongnya dengan keras, menjejalinya pertanyaan yang ku tahu pasti tak mungkin mengubah bubur menjadi nasi kembali.

Sebuah takdir sudah berlaga gagah, purnama tak lagi peduli dengan hati yang cahayanya mulai sirna, mungkin ia lelah mengingatkanku untuk benar-benar ikhlas melepaskan seseorang yang sebelumnya menghuni, terlalu bandelkah hatiku? Keras kepalakah perasaanku? tidakkah seseorang itu merasakan? maghnet yang dulu ia ciptakan menarikku begitu kuat, hingga aku tak bisa sepenuhnya melepaskan. Kabar itu begitu tiba-tiba, keputusan itu harus melemparkan jauh anganku yang telah bertunas. Bisakah ia merasakan bagaimana basahnya luka ini? Luka yang berharap tak pernah terjadi, atau barangkali ada sebuah keajaiban atas kedatangannya kembali untuk menyembuhkan sayatan ini?

Terkadang aku berfikir, mengapa kau pergi membawa impian yang telah susah payah ku rajut, tidakkah kau tahu? Sebelumnya, aku tak terlalu terpacu untuk berkomitmen dalam sebuah hubungan pasti, aku bukanlah orang yang dengan mudah menapak kedalaman rasa yang tak terjamah. Tanpa bualan dan banyak tingkah kau datang dengan segenap ketulusan, cinta yang suci, aku menyadarinya, kau memiliki sifat yang berbeda dari yang lain, bersamamu, aku tak merasa lapar dan juga tak terlalu kenyang, tanpa sadar itulah yang selama ini ku cari dan ingin ku rasakan, aku bertahan dan menikmati kebersamaan denganmu yang begitu stabil.

Namun hantaman rasa itu? Tidak, Ya Allah, aku, mengapa belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan ia bersama pilihan orangtuanya? Gagal move on kah? Bisakah waktu mengikis harapan ini agar benar-benar tenang, kuatkah aku jika nanti sebuah surat undangan terpampang jelas di depan mata bertintakan namanya dan calon istrinya? Akankah ia menghadirkanku dalam pesta kebahagiaannya? Atau mungkin Ia akan melewatkanku dari segenap daftar undangan untuk teman-temannya, bukankah saat ini aku sudah berstatus sebagai teman? Tapi kuatkah jika aku benar-benar ia undang?

Aku tak bisa memastikan, mungkin butuh waktu, biarlah segenap penantian ini ku manfaatkan untuk berdo’a agar Allah memberikanku kekuatan menghadapi kenyataan yang tak bisa ku hindari, semoga.


Hanya do’a yang bisa ku sematkan dalam hati, semoga kau bahagia bersamanya, doakan juga aku bahagia bersama kekasih halalku nanti, seseorang yang akan menggantikan tempatmu dihatiku.


0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES