Entah sampai
kapan perkembangannya terus mengusik hati, hari demi hari yang hadir terus saja mebubuhkan tinta hitam dalam
kehidupan itu. Ada segumpal permintaan yang sampai saat ini ku sematkan, untuk seseorang yang
telah berubah agar kembali lagi seperti semula.
Bukan karena aku
benci lalu berdo’a untuk menjauhkan ia darinya. Hanya saja sebuah kesadaran sedikit demi
sedikit mulai singgah, umur yang telah bertambah semakin membuka mataku untuk
mengenali dan menganalisis perubahan yang terjadi, aku bernostalgia pada masa
silam, sosok laki-laki panutan dengan segala sifat-sifat terpujinya, ramah,
dermawan, rajin beribadah dan sabar, kini seperti tertelan oleh waktu, aku
bagai beradaptasi kembali dengan sosok yang berbeda, jauh berbalik dengan
sifat-sifatnya yang dulu. Ada apa dengannya? mengapa seseorang itu memberikan pengaruh kurang baik padanya?
Ayah, sebuah
kata yang membubuhkan rasa tak menentu dalam hati, namun harapan tulus muncul tanpa
batas, ada sebuah bisikan yang senantiasa ku lantunkan dalam setiap ingatan nostalgia
bersamanya, yang kerap singgah begitu saja dan menghadirkan muara kecil di
pelupuk, yang ku fikir, masihkah dapat ku jangkau senyuman dan keramahan
yang terasa damai dulu ku rasa. Aku masih begitu mengingatnya, bahkan saat aku turut merasakan sayatan yang ibu rasa dan berusaha ikhlas atas posisiku sebagai seorang buah hati yang harus tetap menjunjung tinggi kehormatannya.
Ada apa
sebenarnya? Baiklah akan sedikit ku ulas. Suatu kali, dimasa aku sudah cukup
mengerti akan arti sebuah hubungan antara kaum adam dan hawa, dua manusia dengan ikatan darah berbeda
menjadi satu di bawah atap yang sama, dua karakter yang dipaksa untuk saling menerima kekurangan masing-masing, sudah sekian tahun dua manusia pria dan
wanita itu begitu setia menemani hari-hari yang ku lalui, lengkap, itulah
kalimat yang bisa ku simpulkan, kami keluarga yang utuh.
Namun, penegasan
bahwa kendali takdir itu berada di tangan sang maha kuasa, telah
melompat-lompat dalam batinku, baik dan
buruk, berat dan ringan, manis dan pahit terasa benar-benar mewarnai kisah
hidup ini, di depan mataku, dua orang yang begitu ku sayang itu harus mengambil
sebuah keputusan besar, keputusan yang tak penah sedikitpun terbersit dalam
fikiran, mereka bercerai, hampir 18
tahun bersama, waktu yang tak sedikit itu rupanya bukan suatu jaminan bahwa
keutuhan keluarga akan tetap terbina, siapa yang sangka akan begini adanya? Terkejut,
tak percaya, tak habis pikir, itulah yang ku rasa.
Bagaimana pula
dengan perasaan wanita yang selama ini telah berkorban untuk membesarkan
anak-anaknya? Membayangkan saja, perasaan ini terasa diremas-remas oleh sebuah
kenyataan yang menyimpang dari harapan, sebagai seorang anak, apalah daya,
segenap tenaga telah aku kerahkan, air mata, keringat kemarahan atas sebuah bencana
yang datang tak cukup untuk meredam kegersangan yang telah hadir di ambang
kehancuran, aku menyerah, biarlah mereka mengajukan pilihannya sendiri, hidup
tetap harus dilanjutkan meski dengan atau tanpa, walau demikian sampai kapanpun
keduanya adalah orang tua yang tetap tak terbalas budinya.
Semua hal yang
terjadi tentu ada sebab musababnya, begitu pula dengan keputusan ini, entah
sihir apa yang sebenarnya telah menguasai ayah? tak bisa ku nafikan ada seorang
berparas cantik yang hadir diantara mereka, tak pernah diduga, namun
mempengaruhi keharmonisan keluarga, apa yang bisa dilakukan saat hati sudah
condong pada orang lain? Kurang menjaga imankah? kecantikankah yang telah
menaklukannya? Hingga dengan mudahnya istri yang bertahun-tahun menemaninya
mesti tersisihkan? Ah, sudahlah semua
itu sudah terjadi. Aku tak ingin membahas alasannya, mungkin itu sudah takdir
terbaik yang telah Allah berikan, ada misteri dibalik skenarionya.
Hanya saja, aku
tetap tidak rela, sosok wanita itu menjadikan ayah sebagai ladangnya untuk
berhura-hura, harta yang ayah hasilkan kian habis olehnya, ayah sepertinya
sadar, namun entah mengapa ia seakan tak berdaya dalam pelukan wanita yang
telah memberikan pengaruh negatif terhadapnya. Mungkin sikap yang ia tampakkan sebenarnya
adalah sebuah isyarat bahwa ia salah, hanya saja ia tak berdaya dengan wanita
yang saat ini ia nikahi dan ia cintai.
Begitu mudahnya Allah
membolak balikkan hati hambaNya, kuasaNya yang tak terhingga itulah yang
membuatku tak pernah putus asa untuk sekedar menyisipkan do’a dalam hati,
semoga ada bisikan manis yang menggelitik kesadaran ayah untuk segera kembali
ke jalanNya yang damai, aku rasa wanita itu memiliki pengaruh besar, jika tanpa
wanita itu ayah akan berubah, aku benar-benar mengiba kepada Allah, agar Ia
segera menjauhkan ayahku darinya, semoga ayah segera menjadi sosok yang
kusegani seperti dahulu kala, memiliki sifat dermawan, sosial, sabar dan ramah,
Aamiin. Aku sudah ikhlas dengan takdir
ini.

2 komentar
Allah pasti akan memberikan yg terbaik... (y)
Replyia. makasih,,
Reply