Sama seperti kemarin, saat aku mulai menarik diri dari keramaian,
pergi ke bilik tempatku berteduh menenangkan fikiran, hanya karena aku memilih
diam tak menjawab, terlambat, itulah jawabannya, sebuah bantahan di pikiranku
datang terlambat, aku masih jelas mengingatnya, benar-benar terngiang nyata,
dengan lembut ku beranikan diri bertanya, halus suaraku seakan takkan menerpa
lembutnya angin sekalipun, di ruang pertemuan para pendidik, dibalik kerudung
kuning cerahku, sejuntai pertanyaan singgah, menggelitik naluri untuk
melontarkannya.
Tadi Pagi.
Tadi Pagi.
Perhatikan, mereka, para pendidik sedang duduk seksama
mendengarkan tetua menyampaikan pengarahan-pengarahan untuk anak-anak didiknya,
sayup-sayup anak didik itu terdengar bising disana. Aku tahu, mereka melongok
dari lantai atas menatap ke bawah, mengawasi sesuatu apapun yang melintas,
entah manusia, hewan, ataupun daun yang gugur dari pohon di tengah-tengah
halaman, perhatian yang mudah teralihkan itu akan dengan mudah pula mengikuti
gerak angin sekalipun. kiranya tak bisakah tanpa perintah mereka menapakkan
kaki dan duduk tenang di dalam ruangannya, ya mereka punya alasan, entah baik
atau buruk, yang jelas dimata kami yang katanya para pendidik, alasan apapun,
melongokkan kepala di luar ruangan adalah penyimpangan. Sepintas mereka menatap
ke ruangan kami. Dari jarak jauh. Aku memicingkan mata tak mampu mengenali
wajah-wajah mereka.
Perhatianku teralih, kali ini aku asyik mengamati, menatap para
pendidik yang tampil dengan gayanya masing-masing. Satu meja besar dengan kursi
melingkar, mereka duduk memenuhi kursi-kursi membentuk
bundaran, pandanganku akan mudah menyapu semuanya, terlihat jelas, semua wajah
bisa ku jangkau dari sudut-sudut mata sekalipun, selain bapak-bapak dengan sedikit uban di rambutnya, rata-rata
mereka adalah ibu-ibu setengah baya, dengan penampilannya yang rapi, iket
miring, kerudung yang dihiasi bros, oh ya, alisnya juga terlihat ditebalkan
dengan pensil alis, tak lupa gincu juga menempel dibibir mereka. Sepintas,
isyarat itu tampaknya membahasakan bahwa penampilan begitu penting.
Tapi ada
yang berbeda, ternyata tak semuanya demikian, lihat saja wanita di sebelahku,
bukankah ia baru kemarin melepas statusnya sebagai wanita lajang, kenapa tidak
ada perubahan sama sekali dengannya, masih sama, wajah polos tanpa riasan, tak ada bedanya sebelum menikah dan setelah menikah. Biasanya perempuan yang
menikah bisa dibedakan dari gincu di bibirnya yang
semakin tebal saja. Tapi, wanita di sampingku ini, apakah tak ada gairah
baginya untuk sekedar berdandan? Sedikit saja barangkali.
Hatiku terasa gatal untuk tak melontarkan pertanyaan. Aji mumpung
ada di sebelahku, berhubung rapat masih berlangsung, Jadi aku berbisik padanya,
tak sabar ingin mengetahui alasannya berbeda dengan yang lain, sedikit nakal
memang, di tengah-tengah rapat aku malah bersuara sendiri, tapi pembahasan
rapatnya sudah tak terlalu penting, tinggal penegasan dan pengulangan dari
pengantar koordinasi, pak Tetua atau yang kami kenal pak Kepsek, sudah mengatup
bibir setelah melontarkan informasi kepada para hadirin.
“bu, sampeyan
gak kepingin dandan seperti guru-guru yang necis-necis itu ta?” bisikku dengan
nada menggoda. Ku sunggingkan senyum, agar tampak seperti bercanda.
"dandan itu ya di rumah, di depan suami baru dandan, kalau di
luar rumah dandan untuk siapa coba?" Jawabnya tegas, seketika membuatku
tak ingin membuka suara lagi. Wanita di sebelahku menjawab dengan penuh
keyakinan dan komitmen yang sepertinya sudah tertanam sebagai seorang istri.
Aku jadi bungkam, ingin menyela namun fikiran terasa beku.
Dalam hati ku lanjutkan sendiri kalimatnya, terdengar pelan namun
sedikit menampar batinku. Berarti kalo dandan tidak untuk suami, akan menarik
perhatian orang yang bukan mahrom, itu tidak baik? karena dandan khusus untuk
suami saja. Apa itu yang ia maksudkan? tak masalah jika memang suami
melarangnya berdandan saat di luar rumah, tapi mendengar alasannya, sepertinya
itu tulus dari hatinya sendiri, bukan karena larangan suami. Aku terdiam
sejenak, tersenyum tidak enak, bukan karena tidak suka, tapi merasa tersindir,
sekaligus dinasehati secara tidak langsung.
Lihatlah, aku saja yang belum menikah, menghiasi wajahku dengan
celak dan pelembab demi menyempurnakan penampilan, ku rasa itupun akan tetap
berlangsung walau nanti sudah berkeluarga, baik di dalam rumah maupun di luar
rumah, Insyaallah aku tidak akan lepas dengan yang namanya celak dan pelembab,
meski pelembab tidak terlalu masalah, yang terpenting adalah celak, karena ia
harus selalu menghiasi mataku, itu nomer satu agar aku tak terlihat pucat. Pada
intinya, aku tidak bisa mengikuti nasehatnya. Namun bingung bagaimana mencari dalilnya.
Aku sudah kembali ke peraduan, karena koordinasi telah selesai, ku
buka kembali memori. Merenungi apa yang tadi ku dengar, memandang diri sendiri. Alasanku, mengapa tidak sama
dengannya? apakah komitmen seperti itu yang lebih baik? agaknya aku tidak akan
sanggup berkomitmen sepertinya, karena sejujurnya diriku selalu ingin tampil
menarik, kurasa walau tidak dihadapan siapapun, ah sepertinya ini bukan perkara
berdandan untuk siapa, tapi karena aku memang tidak suka melihat diri sendiri
tak menarik, bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri, jasad yang
sedang membungkus ruhku. Aku tetap terobsesi untuk membuatnya nyaman ku pandang
sendiri ataupun dipandang orang lain, lebih-lebih untuk suamiku nanti.
Belum cukup rasanya pembelaan yang saat ini muncul dalam benak,
sengaja ku buka internet, mempelajari kembali adab berhias dalam syari'at
islam. Aku membacanya dengan teliti, berharap artikel itu akan membela
prinsipku.
Dari situ dapat ku simpulkan, Islam mengajarkan umatnya untuk
menyukai keindahan, baik dari segi penampilan ataupun lingkungan. Dan seperti
apakah syari'at Islam mengaturnya, sebenarnya bisa di lihat dari berbagi
literatur, berhias sendiri ternyata adalah kebaikan dan disunnahkan dalam
syariat Islam selama tidak berlebihan dan sesuai kodratnya, bahkan menjadi
suatu keharusan agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain dalam memandangnya,
terutama bagi kaum wanita dihadapan suaminya, dan kaum suami dihadapan
istrinya, misal dari segi berpakaian saja, syariat mengatur umat Islam harus
menutup aurat dan tidak berlebihan, pakaian yang tampak rapi akan lebih sedap
dipandang dari pada yang kumal, merias wajah misalnya, ternyata juga
disunnahkan selama tidak berlebihan, seperti memakai lipstik yang tidak
melebihi garis bibir, pelembab untuk menjaga kulit, ataupun celak sebagai obat
dan memperindah mata. Dengan demikian berhias harus sesuai dengan adab dan tata
cara yang islami, sehingga perbuatan menghiasi diri ini tidak hanya membuat
penampilan menjadi indah dan menarik, akan tetapi juga mendapatkan nilai ibadah
dihadapan Allah SWT.
Singkat, itulah pemahaman yang ku dapat, dan ku tuliskan kembali,
Ku lihat rujukan artikel yang baru saja ku baca di internet, diambil dari
Hirasah al Fadilah karya Syeikh Bakr Abu Zaid. Alhamdulillah, rasanya tenang,
tak perlu ku lukiskan kelegaan hatiku, aku seperti mendapat pembelaan, tindakan
yang selama ini ku lakukan ternyata tidak menyimpang dari syariat, selain
karena alasan dalam diri, ada poin plusnya, kini aku diingatkan, bahwa berhias
harus diniatkan karena Allah, agar mendapatkan keridhoan dan nilai ibadah.
Alhamdulillah.

2 komentar
ia.. dandan itu untuk suami ... bukan untuk orang lain. yang sewajarnya saja tidak berlebihan
Replyhahaha. iya.. makasih :)
Reply