Untuk Siapakah Aku Berhias?

Untuk Siapakah Aku Berhias?

Untuk Siapakah Aku Berhias?
Sama seperti kemarin, saat aku mulai menarik diri dari keramaian, pergi ke bilik tempatku berteduh menenangkan fikiran, hanya karena aku memilih diam tak menjawab, terlambat, itulah jawabannya, sebuah bantahan di pikiranku datang terlambat, aku masih jelas mengingatnya, benar-benar terngiang nyata, dengan lembut ku beranikan diri bertanya, halus suaraku seakan takkan menerpa lembutnya angin sekalipun, di ruang pertemuan para pendidik, dibalik kerudung kuning cerahku, sejuntai pertanyaan singgah, menggelitik naluri untuk melontarkannya.

Tadi Pagi.
Perhatikan, mereka, para pendidik sedang duduk seksama mendengarkan tetua menyampaikan pengarahan-pengarahan untuk anak-anak didiknya, sayup-sayup anak didik itu terdengar bising disana. Aku tahu, mereka melongok dari lantai atas menatap ke bawah, mengawasi sesuatu apapun yang melintas, entah manusia, hewan, ataupun daun yang gugur dari pohon di tengah-tengah halaman, perhatian yang mudah teralihkan itu akan dengan mudah pula mengikuti gerak angin sekalipun. kiranya tak bisakah tanpa perintah mereka menapakkan kaki dan duduk tenang di dalam ruangannya, ya mereka punya alasan, entah baik atau buruk, yang jelas dimata kami yang katanya para pendidik, alasan apapun, melongokkan kepala di luar ruangan adalah penyimpangan. Sepintas mereka menatap ke ruangan kami. Dari jarak jauh. Aku memicingkan mata tak mampu mengenali wajah-wajah mereka.

Perhatianku teralih, kali ini aku asyik mengamati, menatap para pendidik yang tampil dengan gayanya masing-masing. Satu meja besar dengan kursi melingkar, mereka duduk memenuhi kursi-kursi membentuk bundaran, pandanganku akan mudah menyapu semuanya, terlihat jelas, semua wajah bisa ku jangkau dari sudut-sudut mata sekalipun, selain bapak-bapak dengan sedikit uban di rambutnya, rata-rata mereka adalah ibu-ibu setengah baya, dengan penampilannya yang rapi, iket miring, kerudung yang dihiasi bros, oh ya, alisnya juga terlihat ditebalkan dengan pensil alis, tak lupa gincu juga menempel dibibir mereka. Sepintas, isyarat itu tampaknya membahasakan bahwa penampilan begitu penting. 

Tapi ada yang berbeda, ternyata tak semuanya demikian, lihat saja wanita di sebelahku, bukankah ia baru kemarin melepas statusnya sebagai wanita lajang, kenapa tidak ada perubahan sama sekali dengannya, masih sama, wajah polos tanpa riasan, tak ada bedanya sebelum menikah dan setelah menikah. Biasanya perempuan yang menikah bisa dibedakan dari gincu di bibirnya yang semakin tebal saja. Tapi, wanita di sampingku ini, apakah tak ada gairah baginya untuk sekedar berdandan? Sedikit saja barangkali.

Hatiku terasa gatal untuk tak melontarkan pertanyaan. Aji mumpung ada di sebelahku, berhubung rapat masih berlangsung, Jadi aku berbisik padanya, tak sabar ingin mengetahui alasannya berbeda dengan yang lain, sedikit nakal memang, di tengah-tengah rapat aku malah bersuara sendiri, tapi pembahasan rapatnya sudah tak terlalu penting, tinggal penegasan dan pengulangan dari pengantar koordinasi, pak Tetua atau yang kami kenal pak Kepsek, sudah mengatup bibir setelah melontarkan informasi kepada para hadirin. 

 “bu, sampeyan gak kepingin dandan seperti guru-guru yang necis-necis itu ta?” bisikku dengan nada menggoda. Ku sunggingkan senyum, agar tampak seperti bercanda.

"dandan itu ya di rumah, di depan suami baru dandan, kalau di luar rumah dandan untuk siapa coba?" Jawabnya tegas, seketika membuatku tak ingin membuka suara lagi. Wanita di sebelahku menjawab dengan penuh keyakinan dan komitmen yang sepertinya sudah tertanam sebagai seorang istri. Aku jadi bungkam, ingin menyela namun fikiran terasa beku.

Dalam hati ku lanjutkan sendiri kalimatnya, terdengar pelan namun sedikit menampar batinku. Berarti kalo dandan tidak untuk suami, akan menarik perhatian orang yang bukan mahrom, itu tidak baik? karena dandan khusus untuk suami saja. Apa itu yang ia maksudkan? tak masalah jika memang suami melarangnya berdandan saat di luar rumah, tapi mendengar alasannya, sepertinya itu tulus dari hatinya sendiri, bukan karena larangan suami. Aku terdiam sejenak, tersenyum tidak enak, bukan karena tidak suka, tapi merasa tersindir, sekaligus dinasehati secara tidak langsung. 

Lihatlah, aku saja yang belum menikah, menghiasi wajahku dengan celak dan pelembab demi menyempurnakan penampilan, ku rasa itupun akan tetap berlangsung walau nanti sudah berkeluarga, baik di dalam rumah maupun di luar rumah, Insyaallah aku tidak akan lepas dengan yang namanya celak dan pelembab, meski pelembab tidak terlalu masalah, yang terpenting adalah celak, karena ia harus selalu menghiasi mataku, itu nomer satu agar aku tak terlihat pucat. Pada intinya, aku tidak bisa mengikuti nasehatnya. Namun bingung bagaimana mencari dalilnya.

Aku sudah kembali ke peraduan, karena koordinasi telah selesai, ku buka kembali memori. Merenungi apa yang tadi ku dengar, memandang diri sendiri. Alasanku, mengapa tidak sama dengannya? apakah komitmen seperti itu yang lebih baik? agaknya aku tidak akan sanggup berkomitmen sepertinya, karena sejujurnya diriku selalu ingin tampil menarik, kurasa walau tidak dihadapan siapapun, ah sepertinya ini bukan perkara berdandan untuk siapa, tapi karena aku memang tidak suka melihat diri sendiri tak menarik, bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri, jasad yang sedang membungkus ruhku. Aku tetap terobsesi untuk membuatnya nyaman ku pandang sendiri ataupun dipandang orang lain, lebih-lebih untuk suamiku nanti.

Belum cukup rasanya pembelaan yang saat ini muncul dalam benak, sengaja ku buka internet, mempelajari kembali adab berhias dalam syari'at islam. Aku membacanya dengan teliti, berharap artikel itu akan membela prinsipku.

Dari situ dapat ku simpulkan, Islam mengajarkan umatnya untuk menyukai keindahan, baik dari segi penampilan ataupun lingkungan. Dan seperti apakah syari'at Islam mengaturnya, sebenarnya bisa di lihat dari berbagi literatur, berhias sendiri ternyata adalah kebaikan dan disunnahkan dalam syariat Islam selama tidak berlebihan dan sesuai kodratnya, bahkan menjadi suatu keharusan agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain dalam memandangnya, terutama bagi kaum wanita dihadapan suaminya, dan kaum suami dihadapan istrinya, misal dari segi berpakaian saja, syariat mengatur umat Islam harus menutup aurat dan tidak berlebihan, pakaian yang tampak rapi akan lebih sedap dipandang dari pada yang kumal, merias wajah misalnya, ternyata juga disunnahkan selama tidak berlebihan, seperti memakai lipstik yang tidak melebihi garis bibir, pelembab untuk menjaga kulit, ataupun celak sebagai obat dan memperindah mata. Dengan demikian berhias harus sesuai dengan adab dan tata cara yang islami, sehingga perbuatan menghiasi diri ini tidak hanya membuat penampilan menjadi indah dan menarik, akan tetapi juga mendapatkan nilai ibadah dihadapan Allah SWT.

Singkat, itulah pemahaman yang ku dapat, dan ku tuliskan kembali, Ku lihat rujukan artikel yang baru saja ku baca di internet, diambil dari Hirasah al Fadilah karya Syeikh Bakr Abu Zaid. Alhamdulillah, rasanya tenang, tak perlu ku lukiskan kelegaan hatiku, aku seperti mendapat pembelaan, tindakan yang selama ini ku lakukan ternyata tidak menyimpang dari syariat, selain karena alasan dalam diri, ada poin plusnya, kini aku diingatkan, bahwa berhias harus diniatkan karena Allah, agar mendapatkan keridhoan dan nilai ibadah. Alhamdulillah.

2 komentar

5/30/2017

ia.. dandan itu untuk suami ... bukan untuk orang lain. yang sewajarnya saja tidak berlebihan

Reply
avatar
6/03/2017

hahaha. iya.. makasih :)

Reply
avatar


View MoreHOTTEST ARTICLES