Misteri Cinta (Part 1) Kami Berakhir

Misteri Cinta (Part 1) Kami Berakhir

Misteri Cinta (Part 1) "Kami Berakhir"
Ku sapa malam, tak ada sahutan, kecuali suara desir angin di ranting pohon yang masih sempurna menemani, sayup-sayup ku dengar bising suara hewan, sepertinya mereka sedang berkomunikasi dengan kawannya, ramai bercengkrama, bersahutan menyambut suara yang lain. Maklum, tempatku memang tidak jauh dari area persawahan, gaduhnya hewan-hewan itu, mana peduli dengan hatiku. 

Sudahlah, semuanya telah terjadi. Ku yakinkan diri seraya menyandarkan tubuh di dinding, menatap hampa udara di depan. Aku sudah cukup tenang sekarang, Alhamdulillah, ku tarik nafas dalam, dan ku hempaskan perlahan, lirih ku lontarkan istighfar dan kalimat-kalimat toyyibah berulang kali, berharap Allah melapangkan dada dan membesarkan hatiku. Ternyata benar, menghadapi rasa ini  memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Rasa yang awalnya berlapis madu, rasa yang menawarkan keindahan dan kebahagiaan, rasa yang tak pernah ku duga begitu sakit setelah menerima kenyataan bahwa ia yang sebelumnya hadir harus pergi begitu saja, rasa kehillangan yang siap tidak siap harus ku tanggung karena kemarin telah memilih bersamanya. Rasa yang, ah aku tak mampu mengungkapkannya.

Ku edarkan pandangan, menatap teman-teman satu kamar yang sudah berpose dalam tidur nyenyaknya, sejam  yang lalu seharusnya aku sudah berada di alam mimpi, seperti mereka, tidur tentram bersama bantal tanpa alas dan tanpa selimut, aku merindukan istirahat, tidur nyenyak yang bisa membawa diriku ke alam bawah sadar, terlebih saat ini, aku benar-benar membutuhkannya untuk mengangkat segala beban yang masih terasa ku sanggul, sayang sampai detik inipun aku tak mampu membuat mata terpejam, setidaknya dengan lelap inilah, aku bisa sejenak beristirahat dari rasa kehilangan yang sedari tadi menghujam ulu hati. Tapi, apa daya, jika fikiran ini masih tidak bisa lepas, aku berusaha melupakan, namun usaha itulah yang memancing kantuk tak segera singgah di diri, harus bagaimanakah? mungkin nanti, setelah aku benar-benar lelah, tidur itu akan datang menghampiri.

Sekali lagi, ku hirup udara dalam-dalam, berharap oksigen benar-benar melegakan pernafasan, agar dada yang sejak tadi seakan sesak terasa lebih ringan, setidaknya itulah pertolongan pertama agar perasaanku sedikit lebih baik, tak bisa dipungkiri tangis itu berulang kali membuncah, lelah, namun aku tak bisa menghindari kesensitifan kelenjar air mataku setiap kali mengingatnya. Ah, suratan. Beruntung saja, kali ini air mataku benar-benar terhenti. Ku rasa karena sudah cukup terkuras. Mungkin, ah, malam, kau menjadi saksi bisu sejarah besar dalam hidupku.

Kau tahu? Malam selalu saja ditemani sang bulan, kesetiaannya tak pernah pudar, karena bulan selalu hadir bersama petang, walau musim berganti, walau awan menutupi, walau petir menghadang, walau badai menerpa, walau hujan meradang, ia yang telah digariskan oleh keagunganNya, tak pernah surut menghiasi malam, hanya malam, Maha Besar Allah yang memiliki kuasa penuh, yang telah menggariskan sebuah kesetiaan mahluknya, yang berhak menentukan segala takdir kehidupan manusia dan misteriNya.

Seperti misteri hidupku kali ini, tak pernah ku sangka jika kami akan berakhir disini, hari ini, saat aku masih sibuk dengan segala tugas kuliah dan teman-teman. Saat aku merancang masa depan bersama seseorang yang mampu menjadi penyemangat studi, tak bisa ku pungkiri terkadang juga mengganggu, dari sinilah sejarah itu dimulai, saat dengan tiba-tiba ada sebuah pernyataan bahwa kami tak bisa melanjutkan mimpi bersama karena orang tuanya yang tak berkenan. Hatiku membantah, mengapa ia tak memperjuangkanku? apakah seperti itu caranya menjadi laki-laki, mengapa semudah itu ia menerima semuanya, ku dengar ia sudah sebulan yang lalu menerima pernyataan itu dari mereka, lama ia  menyiapkan mental dan mengumpulkan keberanian agar mantap mengatakannya padaku. Patah, hatiku benar-benar patah, serasa ingin meluruh ke dalam bumi, buncahan air mata membuat lidahku kelu dan tak mampu berkata, kecuali pasrah pada suratan yang telah menakdirkan kami seperti ini, mungkin inilah yang terbaik. Kami menutup harapan, sepertinya benar-benar tiada lagi jalan. Ah cinta, secepat itukah ia datang dan pergi? Ya Allah, berilah jalan terbaik untuk kami.

Aku lelah, aku benar-benar ingin terlelap.

4 komentar

2/27/2017

visit back +coment gan . .!!
: Http://bit.ly/2mqvos7

Reply
avatar
3/08/2017

Visit back & coment
www.humorstudent.blogspot.com

Reply
avatar
3/20/2017

Jarang sekali saya baca blog yang nulis tentang hal seperti ini ..good job sob,

Reply
avatar


View MoreHOTTEST ARTICLES