Istikhoroh Itu telah Menjawab Takdir Kita

Istikhoroh Itu telah Menjawab Takdir Kita

Istikhoroh Itu telah Menjawab Takdir Kita
Senin. Setengah satu dini hari, enam belas Januari dua ribu tujuh belas.

Sejarah besar dihidupku singgah dengan lembut, takdir berhembus melambaikan jawaban pasti yang selama ini kami nanti. Kilas prakata terngiang-ngiang di telinga, tanpa memory visual, kami hanya bersuara, dari seberang mengintai praduga. Hari berganti telah terpana dengan apa yang baru saja kita lalui, tempatku bercerita kini akan berganti, meski masih bisa seperti hari sebelumnya, namun status kita telah berbeda. 

Air mata tak begitu bermuara, karena ku rasa Allah telah benar-benar mempersiapkan hati kita untuk menghadapi takdirNya, takdir bahwa kita tak baik dalam satu tenda, tiada yang bersalah diantara kita. Semua ini adalah berkat bisikan cintaNya untuk menyelamatkan kita, seandainya pun menerjang, belum tentu kita bahagia, karena petunjukNya telah sekian kali  berisyarat dan semakin nyata.

Bila boleh jujur, sebenarnya tanda-tanda itu telah singgah disemula ibundaku bermimpi tentang kita, mimpi yang tak pernah ku ungkapkan sampai detik ini, namun waktu itu, rasa telah membuat kita menjadi buta dan menerjang segala yang menghadang, tanpa memikirkan manfaat dan mudhorotnya. Bahkan sebuah cincin sempat bersaksi, mengikat kebersamaan, mengikuti rasa yang memandang masa depan, karena sejak itu telah terencana.
 
Manusia hanya bisa berencana, bila difikirkan, mungkin takkan ada habisnya uraian kata, mengingat waktu yang berlalu begitu saja, bagai air mengalir dengan tenang dan membasahi jiwa, kehadiran dan perpisahan menjadi sebuah keniscayaan yang kini harus kita terima, ah kehidupan ini, sebenarnya begitu sederhana. Hanya perlu rasa syukur yang meruang dalam dada yang kan tetap menjaga senyum dan kebahagiaan kita.

Mereka bilang kita terlambat? ah, tidak juga, bukankah semua ini sudah terencana, Ia yang Maha Esalah yang telah mengatur dan menyisipkan pelajaran pada detik-detik hembus kebersamaan kita, melalui dirimu, aku telah belajar banyak hal, mungkin begitupun sebaliknya, seandainyapun kita memutuskan tak bersama waktu dulu, mungkin hati takkan selapang hari ini.

Rencana ini telah diatur sedemikian rupa, Alhamdulillah kita telah berkata, sampai kapanpun kita kan tetap bersaudara, tetap tersenyumlah untuk menyambut hari yang berbeda, semoga selalu bahagia, hidup berkah dan sentosa. Aamiin.
 

1 komentar

1/21/2017

Itulah takdir. Meski dalam alam sadar terasa begitu berat untuk dijalani, namun tetaplah kehidupan terus berjalan. Dengan man jadda wajada kita akan merasa mudah menjalaninya. Dan menerima apapun hasilnya. Kegagalan bukan berarti memutusnya begitu saja. Melainkan kita harus mengambil hikmah dibaliknga

Reply
avatar


View MoreHOTTEST ARTICLES