Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 2)

Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 2)

Sepuluh Ribu Rupiah Itu Part 2
Kami tak sengaja bertemu, di lapangan sepak bola saat gemuruh suara penonton menyemangati tim andalannya. Di desaku,  setiap seminggu sekali selalu diadakan pertandingan sepak bola antar kecamatan, entah siapa yang mengkoordinir, dan apa hadiahnya, sejauh ini, yang ku lihat, mereka hanya mendapatkan apresiasi dari masyarakat tanpa imbalan apapun, perhatikan saja laki-laki bernama Ferdi itu (nama samaran), sepulang dari lapangan sepakbola hanya lelah yang ia terima,  sementara itu seharian ia tak mempunyai pekerjaan, kasihan istrinya yang hanya terus bersabar, berharap suaminya segera mendapatkan hidayah untuk bertanggung jawab terhadap nafkah keluarga, karena selama ini ia (istri) yang menopang perekonomian keluarga dengan cara berjualan kerupuk yang hasilnya tak seberapa, tapi Alhamdulillah, masih cukup untuk makan sehari-hari.

Waktu itu kami adalah segerombolan anak ABG yang suka caper, beranjak remaja telah menggelitik naluri kami untuk menampilkan diri di depan umum, dan momen itu adalah saat-saat yang kami nantikan, temanku pasti sudah berdandan cantik, begitupun denganku, bertambahnya usia telah mengubah kami menjadi wanita yang lebih menarik, padahal baru kusadari, saat ku lihat fotoku tiga tahun yang lalu, penampilanku masih terlihat begitu kucel dan kumuh, berbeda kontras dengan diriku waktu sudah beranjak remaja.

Ada mata yang menatap tak berkedip, ada bisikan yang menghentakkan perhatianku pada bola yang telah melayang di depan, Bella mencubit pinggulku saat ia sadari ada seorang laki-laki yang tengah memperhatikanku tak jauh, aku menoleh penasaran, memastikan kebenaran ucapannya, benar saja, ada dia, laki-laki yang terasa asing, namun cukup manis ku rasa, ia melempar senyum padaku, saat dengan sengaja aku mengarahkan kelopak mataku untuk menangkap sosoknya, deg, aku merasa seperti putri yang telah menaklukkan hati seorang pangeran.  

Sebenarnya, hal itulah yang hakikatnya ku nanti, untuk apa aku berlama-lama di lapangan sepak bola, menatap permainan bola yang sejatinya tak ku mengerti, aku hanya ikut bersorak saat melihat tim akan memasukkan bola ke gawang, jika bukan karena ingin mencari perhatian, mengundang lebih tepatnya, siapa tahu diantara mereka melabuhkan namaku dan mengakuinya sebagai gadis remaja yang cantik dan menarik, sebuah label yang siapapun pasti menyukainya.

‘kamu tambah cantik’

tulis sebuah pesan yang tiba-tiba masuk di layar hp, sejenak, aku merasa berbunga disanjung demikian, namun seingatku, aku tidak pernah memberikan nomer hp pada siapapun dalam dekat itu, ku coba mengingat-ngingat sesuatu yang juga tak pasti, siapa tahu aku mampu menduga pemilik nomer tersebut, dilihat dari pesannya, berarti ia memperhatikanku, secret edmirer jika aku boleh menyebutnya, walau belum ada pernyataan langsung bahwa ia pengagum rahasia, namanya juga perempuan, sedikit saja kode tersematkan, sudah membuat anggapan yang melambung. Namun nomer itu, aku tidak mengenalnya, siapa pula yang memberikan nomerku pada orang asing,

“kamu siapa?” Balasku penasaran.
“Saya Syaiful (nama samaran),”

Saiful, bertahap, aku mulai menelusurinya, sms demi sms ku layangkan pada teman-teman untuk mencari tahu siapa dia, alhamdulillah pada sms ke tiga, ada jawaban dari saudariku Bella yang tadi sore mencubit pinggulku, tidak salah lagi pemilk nomer itu adalah anak laki-laki yang sore harinya menatap ke arahku, jadi namanya Saiful.

Gadis ABG, itulah diriku kala itu, tak bisa dipungkiri ada kebanggaan tersendiri saat menyadari maghnet pada diri telah menarik seorang adam, tak disangka ternyata ada juga orang laki-laki yang menyukaiku, maklum baru terlihat cantik karena sebelumnya masih bocah ingusan yang tak terawat.

Aku membuka diri untuk berkenalan dengannya, setahap demi setahap kedekatan itu semakin terasa, bahkan tak jarang kami mengadakan pertemuan di suatu tempat, untuk hal yang satu ini sebenarnya aku tak ingin menceritakannya pada siapapun, kalau bukan karena namaku disamarkan dan untuk memberikan pelajaran pada yang lain, tentu aku takkan membuka catatan noda yang sampai saat ini masih ku simpan rapi dalam bingkai memori pahitku.

Aku harap setelah aku menceritakan hal ini, kalian yang masih ABG bisa segera berfikir ulang jika mengahadapi situasi yang sama sepertiku, karena sampai kapanpun penyesalan takkan pernah manis, penyesalan akan menarik diri mengharap peristiwa itu bisa kita perbaiki, namun sayang waktu berdenting mengalir ke hilir, menyisakan tangis yang tak lagi berdaya. Jika sudah demikian dengarkanlah kisahku, dan ambillah hikmahnya. Akan ku buka apa yang terjadi padaku kala itu.

Tobe Continue di Sepuluh Ribu Rupiah Itu Part 3 

               

0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES