Kami tak sengaja
bertemu, di lapangan sepak bola saat gemuruh suara penonton menyemangati
tim andalannya. Di desaku, setiap
seminggu sekali selalu diadakan pertandingan sepak bola antar kecamatan, entah
siapa yang mengkoordinir, dan apa hadiahnya, sejauh ini, yang ku lihat, mereka
hanya mendapatkan apresiasi dari masyarakat tanpa imbalan apapun, perhatikan
saja laki-laki bernama Ferdi itu (nama samaran), sepulang dari lapangan
sepakbola hanya lelah yang ia terima,
sementara itu seharian ia tak mempunyai pekerjaan, kasihan istrinya yang
hanya terus bersabar, berharap suaminya segera mendapatkan hidayah untuk
bertanggung jawab terhadap nafkah keluarga, karena selama ini ia (istri) yang
menopang perekonomian keluarga dengan cara berjualan kerupuk yang hasilnya tak
seberapa, tapi Alhamdulillah, masih cukup untuk makan sehari-hari.
Waktu itu kami
adalah segerombolan anak ABG yang suka caper, beranjak remaja telah menggelitik
naluri kami untuk menampilkan diri di depan umum, dan momen itu adalah
saat-saat yang kami nantikan, temanku pasti sudah berdandan cantik, begitupun
denganku, bertambahnya usia telah mengubah kami menjadi wanita yang lebih
menarik, padahal baru kusadari, saat ku lihat fotoku tiga tahun yang lalu,
penampilanku masih terlihat begitu kucel dan kumuh, berbeda kontras dengan
diriku waktu sudah beranjak remaja.
Ada mata yang
menatap tak berkedip, ada bisikan yang menghentakkan perhatianku pada bola yang
telah melayang di depan, Bella mencubit pinggulku saat ia sadari ada seorang
laki-laki yang tengah memperhatikanku tak jauh, aku menoleh penasaran,
memastikan kebenaran ucapannya, benar saja, ada dia, laki-laki yang terasa
asing, namun cukup manis ku rasa, ia melempar senyum padaku, saat dengan
sengaja aku mengarahkan kelopak mataku untuk menangkap sosoknya, deg, aku
merasa seperti putri yang telah menaklukkan hati seorang pangeran.
Sebenarnya, hal
itulah yang hakikatnya ku nanti, untuk apa aku berlama-lama di lapangan sepak
bola, menatap permainan bola yang sejatinya tak ku mengerti, aku hanya ikut
bersorak saat melihat tim akan memasukkan bola ke gawang, jika bukan karena
ingin mencari perhatian, mengundang lebih tepatnya, siapa tahu diantara mereka
melabuhkan namaku dan mengakuinya sebagai gadis remaja yang cantik dan menarik,
sebuah label yang siapapun pasti menyukainya.
‘kamu tambah
cantik’
tulis sebuah
pesan yang tiba-tiba masuk di layar hp, sejenak, aku merasa berbunga disanjung
demikian, namun seingatku, aku tidak pernah memberikan nomer hp pada siapapun dalam
dekat itu, ku coba mengingat-ngingat sesuatu yang juga tak pasti, siapa tahu
aku mampu menduga pemilik nomer tersebut, dilihat dari pesannya, berarti ia
memperhatikanku, secret edmirer jika aku boleh menyebutnya, walau belum ada
pernyataan langsung bahwa ia pengagum rahasia, namanya juga perempuan, sedikit
saja kode tersematkan, sudah membuat anggapan yang melambung. Namun nomer itu,
aku tidak mengenalnya, siapa pula yang memberikan nomerku pada orang asing,
“kamu siapa?”
Balasku penasaran.
“Saya Syaiful (nama
samaran),”
Saiful, bertahap,
aku mulai menelusurinya, sms demi sms ku layangkan pada teman-teman untuk
mencari tahu siapa dia, alhamdulillah pada sms ke tiga, ada jawaban dari
saudariku Bella yang tadi sore mencubit pinggulku, tidak salah lagi pemilk
nomer itu adalah anak laki-laki yang sore harinya menatap ke arahku, jadi
namanya Saiful.
Gadis ABG,
itulah diriku kala itu, tak bisa dipungkiri ada kebanggaan tersendiri saat menyadari
maghnet pada diri telah menarik seorang adam, tak disangka ternyata ada juga orang
laki-laki yang menyukaiku, maklum baru terlihat cantik karena sebelumnya masih
bocah ingusan yang tak terawat.
Aku membuka diri
untuk berkenalan dengannya, setahap demi setahap kedekatan itu semakin terasa,
bahkan tak jarang kami mengadakan pertemuan di suatu tempat, untuk hal yang
satu ini sebenarnya aku tak ingin menceritakannya pada siapapun, kalau bukan
karena namaku disamarkan dan untuk memberikan pelajaran pada yang lain, tentu
aku takkan membuka catatan noda yang sampai saat ini masih ku simpan rapi dalam
bingkai memori pahitku.
Aku harap
setelah aku menceritakan hal ini, kalian yang masih ABG bisa segera berfikir
ulang jika mengahadapi situasi yang sama sepertiku, karena sampai kapanpun penyesalan
takkan pernah manis, penyesalan akan menarik diri mengharap peristiwa itu bisa
kita perbaiki, namun sayang waktu berdenting mengalir ke hilir, menyisakan
tangis yang tak lagi berdaya. Jika sudah demikian dengarkanlah kisahku, dan
ambillah hikmahnya. Akan ku buka apa yang terjadi padaku kala itu.
Tobe Continue di Sepuluh Ribu Rupiah Itu Part 3

0 komentar