Kisahku di Pagi Hari: Dilema Raga

Kisahku di Pagi Hari: Dilema Raga

Tadi pagi, ku buka mata perlahan saat sebuah tangan menyentuh bahuku dengan lembut.
Kisahku di Pagi Hari "Dilema Raga"
“Sampeyan sakit ta?”  terkejut, aku terpaku menatapnya, tak sadar bahwa mataku telah terbuka,  ah tidak!! Aku tertidur, berapa lama? Jam berapa ini? Aku tahu, saat temanku itu hadir jam sudah tak lagi  dibawah setengah  tujuh.

“ jam berapa ini?” tanyaku, yang tak bisa menyembunyikan kepanikan, gusar, hanya itu yang ku rasa, sudah pasti aku terlambat.

“ jam  tujuh kurang seperempat mbak”

Linglung, aku bingung sendiri, ku ingin berdiri, perlahan ku angkat bahu dan beranjak dari rebah untuk segera bertindak, aku melangkah dalam keadaan setengah sadar, walau demikian sempat-sempatnya aku menatap cermin melihat rautku setelah terbangun dari lelap yang tak ku harapkan. Temanku mengikuti langkahku, menanti kepastian dan jawaban.

“istirahat.a mbak?”  Biro kesehatan di asrama menawarkan diri untuk  menggelarkan kasur agar aku beristirahat.

“tidak, tidak usah, aku gak papa ”  kilahku padanya, benar-benar yakin aku pasti akan baik-baik saja, Insyaallah, meski tersimpan ragu, mengingat tadi pagi perutku tak bersahabat, maghku kambuh,  dan kepalaku pening. Sejenak, aku dilanda kebimbangan, rasanya tidak mungkin jika aku meminta  temanku yang satu ini untuk menunggu, kasihan, ia bisa terlambat karena  diriku.

“pean berangkat dulu wis mbak” putusku padanya, meski sempat terbersit untuk segera bergegas mandi, dan memintanya menunggu sampai aku selesai dan siap  berangkat.

“ maaf mbak, aku tadi sakit perut, dan agak pusing” sambungku.

“iya mbak, ya udah mbak, aku berangkat dulu”
“iya mbak, maaf” .

Selepas ia pergi, aku bergegas mengambil peralatan mandi, berharap air bersahabat denganku, mendukung harapanku beraktifitas dalam keadaan lebih baik, sejujurnya rasa pening di kepalaku masih saja menggelayut, apakah  karena banyaknya aktifitas sehingga seharusnya aku beristirahat, atau karena tekanan fikiran atau mungkin darah rendah? entahlah, aku ingin sembuh, walau ku tahu keadaanku tak sepenuhnya pulih, namun ku yakin kasih sayang Allah akan mudah  berlabuh bagi hambanya yang memiliki keyakinan kuat bahwa ia akan segera membaik. Semangat ini akan berpengaruh pada kesehatan, ku yakin itu.

Sekitar jam 07.30  segala tetek bengek persiapan berangkat ke sekolah baru selesai sepenuhnya, telat, amat telat, namun itu  lebih baik dari pada aku harus rebah di kamar tak beraktifitas yang artinya aku mengiyakan bahwa diriku  memang sakit, dan tentu saja hal itu adalah daftar nomer sekian yang harus ku pilih.

Selesai, aku segera meraih tas dan sepatu, rasa pening itu semakin terasa saat aku menunduk mengambil sesuatu, hmm, ku rasa aku benar-benar darah rendah. Tak masalah, itu bukanlah penghalang, aku masih bisa  berjalan dengan  nyaman, keputusanku sudah bulat untuk menjalani aktifitas seperti biasanya, jalanan menjadi lengang, tentu saja, ini berbeda dari kemarin,  karena hari-hari kemarin saat aku berusaha berangkat tepat waktu,  adik-adik sekolah akan terlihat berlalu lalang meramaikan jalan. Ini sudah lewat dari jam  berangkat sekolah atau kerja,  setengah delapan, sejujur nya hatiku sedikit ciut membayangkan ada yang mengetahui aku berangkat telat, khawatirnya tak semua orang berfikir positif, sekilas aku pasti terlihat seperti  pekerja yang datang terlambat,  biarlah, toh, aku akan lebih menyesal jika memilih melepas aktifitas dan  menaruh diri  di kamar.

Meski sejatinya aku ingin langsung menuju sekolah setelah melihat jam sudah  lebih dari setengah delapan, namun ku urungkan hal itu, ya, dari semula aku memang  berencana untuk tensi darah, ada prasangka kuat bahwa yang kurasakan karena darah rendah.

Sekitar 10 menit aku berjalan, papan kecil bertuliskan jam kunjung itu sejenak mengunci pandanganku, hari ini hari selasa, hari aktif klinik dan buka sejak jam 07.00, Alhamdulillah aku bersyukur melihat pintu klinik terbuka lebar.

"assalamu'alaikum,," sapaku.

Upps, Terlanjur, kaki  kananku sudah memijak ruangan, sementara kaki kiri masih berada diluar, aku berhenti melangkah,  mengurungkan diri untuk terus beranjak sebelum dipersilahkan masuk. Ku lihat seorang wanita berjilbab tengah duduk serius menghadap ke mejanya, sepertinya ia tengah menuliskan sesuatu.

"wa'alaikumsalam,, masuk dik" jawabnya ramah, seraya  memutar pandangan kearahku diiringi senyum simpulnya, dokter praktek berkacamata itu tampak muda. Aku tak tahu pasti berapa usianya.
 
"ada apa? silahkan duduk"
Segera saja aku mengambil posisi duduk dihadapannya, dan ku sampaikan maksud kedatanganku.

"aku ingin periksa darah bu"
"Oh tensi?" Ungkapnya menggunakan istilah yang lebih keren. Matanya menatap sesuatu di dadaku. Pikirku ada apa? oh, ternyata ia menuliskan namaku di bukunya. Oalah, aku hampir lupa, iya di dadaku memang sudah ada tanda pengenal dari sekolah.

"kamu guru ya?" ungkapnya tiba-tiba. Tanda pengenal itu sudah membahasakannya tanpa harus berucap.
"ia bu"
"maaf, ku sangka kamu adik-adik mbak, masih imut-imut soalnya" terangnya sedikit canggung, diiringi sebutan yang tiba-tiba berubah. Aku hanya berdiri maklum.

"silahkan ke ruangan, rebah disitu" 
Aku menurut, seperti anak kecil yang dibimbing, sekali lagi dokter muda itu mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap profesi dan raut wajahku. 

Memang selalu seperti ini, postur tubuh dan wajahku acapkali menipu, sudah biasa, sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, saat SMP dikira masih SD, saat MA dikiranya masih SMP, saat kuliah dikira masih MA, parahnya malah ada yang mengira aku kelas enam SD, padahal saat itu sudah semester 7. ckckck.

Tidak habis pikir, tentu saja aku bersyukur sekali padaNya, semua yang Ia anugerahkan merupakan kenikmatan yang tak mampu ditukar dengan apapun, ada hikmah tersendiri dibalik segala takdirNya, mendapatkan anugerah wajah dan postur ini juga menghadirkan kisah manis dan pahit. 

Ku renungkan kembali ucapannya, saat ku pakai sepatu setelah tadi ditensi, darahku 100, katanya itu sedikit rendah, mungkin aku hanya perlu menjaga pola makan dan istirahat.

Jam sudah menujukkan pukul setengah delapan lebih, aku terkejut menatapnya, itu sudah begitu terlambat, solusinya? dengan sigap ku ambil ancang-ancang, bersiap melangkah dengan kekuatan super cepat. Pusing?  masih, tapi biarlah. Sebentar lagi aku pasti baik-baik saja. Insyaallah. Karena ku yakin Allah akan memberikan kekuatan kepada hambaNya.


0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES