“ jam berapa ini?” tanyaku, yang
tak bisa menyembunyikan kepanikan, gusar, hanya itu yang ku rasa, sudah pasti
aku terlambat.
“ jam tujuh kurang seperempat mbak”
Linglung, aku bingung sendiri, ku ingin berdiri, perlahan ku angkat bahu
dan beranjak dari rebah untuk segera bertindak, aku melangkah dalam keadaan
setengah sadar, walau demikian sempat-sempatnya aku menatap cermin melihat rautku setelah terbangun dari lelap yang tak ku
harapkan. Temanku mengikuti langkahku, menanti kepastian dan jawaban.
“istirahat.a mbak?” Biro kesehatan di asrama menawarkan diri
untuk menggelarkan kasur agar aku
beristirahat.
“tidak, tidak usah, aku gak
papa ” kilahku padanya, benar-benar
yakin aku pasti akan baik-baik saja, Insyaallah, meski tersimpan ragu,
mengingat tadi pagi perutku tak bersahabat, maghku kambuh, dan kepalaku pening. Sejenak, aku dilanda kebimbangan, rasanya
tidak mungkin jika aku meminta temanku
yang satu ini untuk menunggu, kasihan, ia bisa terlambat karena diriku.
“pean berangkat dulu wis mbak”
putusku padanya, meski sempat terbersit untuk segera bergegas mandi, dan
memintanya menunggu sampai aku selesai dan siap
berangkat.
“ maaf mbak, aku tadi sakit
perut, dan agak pusing” sambungku.
“iya mbak, ya udah mbak, aku
berangkat dulu”
“iya mbak, maaf” .
Selepas ia pergi, aku bergegas
mengambil peralatan mandi, berharap air bersahabat denganku, mendukung harapanku beraktifitas dalam keadaan lebih baik, sejujurnya
rasa pening di kepalaku masih saja menggelayut, apakah karena banyaknya aktifitas sehingga
seharusnya aku beristirahat, atau karena tekanan fikiran atau mungkin darah rendah? entahlah, aku ingin sembuh, walau ku tahu keadaanku tak sepenuhnya
pulih, namun ku yakin kasih sayang Allah akan mudah berlabuh bagi hambanya yang memiliki
keyakinan kuat bahwa ia akan segera membaik. Semangat ini akan berpengaruh pada kesehatan, ku yakin itu.
Sekitar jam 07.30 segala tetek bengek persiapan berangkat ke sekolah baru selesai sepenuhnya, telat,
amat telat, namun itu lebih baik dari
pada aku harus rebah di kamar tak beraktifitas yang artinya aku mengiyakan
bahwa diriku memang sakit, dan tentu
saja hal itu adalah daftar nomer sekian yang harus ku pilih.
Selesai, aku segera meraih tas
dan sepatu, rasa pening itu semakin terasa saat aku menunduk mengambil sesuatu,
hmm, ku rasa aku benar-benar darah rendah. Tak masalah, itu bukanlah
penghalang, aku masih bisa berjalan
dengan nyaman, keputusanku sudah bulat
untuk menjalani aktifitas seperti biasanya, jalanan menjadi lengang, tentu
saja, ini berbeda dari kemarin, karena
hari-hari kemarin saat aku berusaha berangkat tepat waktu, adik-adik sekolah akan terlihat berlalu
lalang meramaikan jalan. Ini sudah lewat dari jam berangkat sekolah atau kerja, setengah delapan, sejujur nya hatiku sedikit
ciut membayangkan ada yang mengetahui aku berangkat telat, khawatirnya tak
semua orang berfikir positif, sekilas aku pasti terlihat seperti pekerja yang datang terlambat, biarlah, toh, aku akan lebih menyesal jika
memilih melepas aktifitas dan menaruh
diri di kamar.
Meski sejatinya aku ingin
langsung menuju sekolah setelah melihat jam sudah lebih dari setengah delapan, namun ku
urungkan hal itu, ya, dari semula aku memang
berencana untuk tensi darah, ada prasangka kuat bahwa yang kurasakan karena darah rendah.
Sekitar 10 menit aku berjalan, papan kecil bertuliskan jam kunjung itu sejenak mengunci pandanganku, hari ini hari selasa, hari aktif klinik dan buka sejak jam 07.00, Alhamdulillah aku bersyukur melihat pintu klinik terbuka lebar.
"assalamu'alaikum,," sapaku.
Upps, Terlanjur, kaki kananku sudah memijak ruangan, sementara kaki kiri masih berada diluar, aku berhenti melangkah, mengurungkan diri untuk terus beranjak sebelum dipersilahkan masuk. Ku lihat seorang wanita berjilbab tengah duduk serius menghadap ke mejanya, sepertinya ia tengah menuliskan sesuatu.
"wa'alaikumsalam,, masuk dik" jawabnya ramah, seraya memutar pandangan kearahku diiringi senyum simpulnya, dokter praktek berkacamata itu tampak muda. Aku tak tahu pasti berapa usianya.
"ada apa? silahkan duduk"
Segera saja aku mengambil posisi duduk dihadapannya, dan ku sampaikan maksud kedatanganku.
"aku ingin periksa darah bu"
"Oh tensi?" Ungkapnya menggunakan istilah yang lebih keren. Matanya menatap sesuatu di dadaku. Pikirku ada apa? oh, ternyata ia menuliskan namaku di bukunya. Oalah, aku hampir lupa, iya di dadaku memang sudah ada tanda pengenal dari sekolah.
Sekitar 10 menit aku berjalan, papan kecil bertuliskan jam kunjung itu sejenak mengunci pandanganku, hari ini hari selasa, hari aktif klinik dan buka sejak jam 07.00, Alhamdulillah aku bersyukur melihat pintu klinik terbuka lebar.
"assalamu'alaikum,," sapaku.
Upps, Terlanjur, kaki kananku sudah memijak ruangan, sementara kaki kiri masih berada diluar, aku berhenti melangkah, mengurungkan diri untuk terus beranjak sebelum dipersilahkan masuk. Ku lihat seorang wanita berjilbab tengah duduk serius menghadap ke mejanya, sepertinya ia tengah menuliskan sesuatu.
"wa'alaikumsalam,, masuk dik" jawabnya ramah, seraya memutar pandangan kearahku diiringi senyum simpulnya, dokter praktek berkacamata itu tampak muda. Aku tak tahu pasti berapa usianya.
"ada apa? silahkan duduk"
Segera saja aku mengambil posisi duduk dihadapannya, dan ku sampaikan maksud kedatanganku.
"aku ingin periksa darah bu"
"Oh tensi?" Ungkapnya menggunakan istilah yang lebih keren. Matanya menatap sesuatu di dadaku. Pikirku ada apa? oh, ternyata ia menuliskan namaku di bukunya. Oalah, aku hampir lupa, iya di dadaku memang sudah ada tanda pengenal dari sekolah.
"kamu guru ya?" ungkapnya tiba-tiba. Tanda pengenal itu sudah membahasakannya tanpa harus berucap.
"ia bu"
"maaf, ku sangka kamu adik-adik mbak, masih imut-imut soalnya" terangnya sedikit canggung, diiringi sebutan yang tiba-tiba berubah. Aku hanya berdiri maklum.
"silahkan ke ruangan, rebah disitu"
Aku menurut, seperti anak kecil yang dibimbing, sekali lagi dokter muda itu mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap profesi dan raut wajahku.
Memang selalu seperti ini, postur tubuh dan wajahku acapkali menipu, sudah biasa, sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, saat SMP dikira masih SD, saat MA dikiranya masih SMP, saat kuliah dikira masih MA, parahnya malah ada yang mengira aku kelas enam SD, padahal saat itu sudah semester 7. ckckck.
Tidak habis pikir, tentu saja aku bersyukur sekali padaNya, semua yang Ia anugerahkan merupakan kenikmatan yang tak mampu ditukar dengan apapun, ada hikmah tersendiri dibalik segala takdirNya, mendapatkan anugerah wajah dan postur ini juga menghadirkan kisah manis dan pahit.
Ku renungkan kembali ucapannya, saat ku pakai sepatu setelah tadi ditensi, darahku 100, katanya itu sedikit rendah, mungkin aku hanya perlu menjaga pola makan dan istirahat.
Jam sudah menujukkan pukul setengah delapan lebih, aku terkejut menatapnya, itu sudah begitu terlambat, solusinya? dengan sigap ku ambil ancang-ancang, bersiap melangkah dengan kekuatan super cepat. Pusing? masih, tapi biarlah. Sebentar lagi aku pasti baik-baik saja. Insyaallah. Karena ku yakin Allah akan memberikan kekuatan kepada hambaNya.
"ia bu"
"maaf, ku sangka kamu adik-adik mbak, masih imut-imut soalnya" terangnya sedikit canggung, diiringi sebutan yang tiba-tiba berubah. Aku hanya berdiri maklum.
"silahkan ke ruangan, rebah disitu"
Aku menurut, seperti anak kecil yang dibimbing, sekali lagi dokter muda itu mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap profesi dan raut wajahku.
Memang selalu seperti ini, postur tubuh dan wajahku acapkali menipu, sudah biasa, sejak dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, saat SMP dikira masih SD, saat MA dikiranya masih SMP, saat kuliah dikira masih MA, parahnya malah ada yang mengira aku kelas enam SD, padahal saat itu sudah semester 7. ckckck.
Tidak habis pikir, tentu saja aku bersyukur sekali padaNya, semua yang Ia anugerahkan merupakan kenikmatan yang tak mampu ditukar dengan apapun, ada hikmah tersendiri dibalik segala takdirNya, mendapatkan anugerah wajah dan postur ini juga menghadirkan kisah manis dan pahit.
Ku renungkan kembali ucapannya, saat ku pakai sepatu setelah tadi ditensi, darahku 100, katanya itu sedikit rendah, mungkin aku hanya perlu menjaga pola makan dan istirahat.
Jam sudah menujukkan pukul setengah delapan lebih, aku terkejut menatapnya, itu sudah begitu terlambat, solusinya? dengan sigap ku ambil ancang-ancang, bersiap melangkah dengan kekuatan super cepat. Pusing? masih, tapi biarlah. Sebentar lagi aku pasti baik-baik saja. Insyaallah. Karena ku yakin Allah akan memberikan kekuatan kepada hambaNya.

0 komentar