Masih terngiang
kata-kata orang disana yang
diiringi gurauan “jangan kalah-kalah sama anak-anak” mendengar ucapan itu aku
membalasnya dengan senyuman, bisa jadi alasan itu terlontar karena melihat
posturku yang mungil atau karena umurku yang tak terlampau jauh. Untuk hal itu,
aku tak terlalu memikirkannya, bukan suatu hal yang berada dalam prioritas
fikiran, ada sesuatu yang lebih penting untuk ku perjuangkan.
Memasuki kelas
menatap mereka dengan kasih sayang adalah sebuah panah yang ingin selalu ku
lontarkan, bukan gertakan atau hentakan yang harus membuat mereka takut
sehingga memperhatikanku, bukan, itu bukan jurusku. karena perasaan takut dan
negative akan berlabuh di hati, terpatri dan melekat di memori. Dan aku tak mau
hal itu terjadi. Mereka adalah kertas yang perlu di ukir dengan tinta-tinta
kebaikan yang menyentuh dasar hati, meski ku sadar “انك لا تهدي من احببت ولكن الله يهدي من يشاء ” sebagai partner
aku hanya bisa berusaha dengan segala upaya, dan hasilnya hanya Ia, sang maha
Kuasa yang bisa menentukan, apakah segala celotehan yang aku sampaikan meresap
kedalam hatinya, atau hanya berlalu lalang seperti kapas yang dihembuskan
angin. Aku akan terus belajar.
Jika tiba saatnya nanti aku hanya ingin sebuah
ungkapan manis dan kenangan indah terselip dalam ingatan mereka. Aku ingin
menyuarakan, aku datang bukan dengan setumpuk materi yang akan aku
jejalkan tanpa hati, aku datang untuk berbagi dan menjadi teman inspirasi. Terkadang,
tak bisa dipungkiri, ragam sifat bagai sebuah layar dengan channel yang
berbeda, menampilkan ciri khas tersendiri, ada tayangan yang tak berkenan di
hati, bahkan sedikit melukai jika diresapi. Tapi tunggu dulu, semua itu tak
perlu dimasukkan ke hati, sekilas rasa sedih memang wajar, tapi jangan sampai
senyum itu tak jadi terurai, bukankah masih banyak yang mendambakan lambang kelembutan
dan keramahan itu, bila ada ulat, do’akan saja nanti ia akan menjadi kupu-kupu, Insyaallah, akan ada saatnya Ia membukakan
pintu hati. Aamiin Ya Robbal Izzati.

0 komentar