Ternyata, Tak Mudah Mengendalikannya

Ternyata, Tak Mudah Mengendalikannya

Ternyata, Tak Mudah Mengendalikannya

Ternyata, Tak Mudah Mengendalikannya
Aku memasuki kelas, riuh suara terdengar dari setiap bangku, entah apa yang tengah mereka perbincangkan, jejak sepatu yang hanya beberapa langkah itu, mengantarkanku ke sebuah meja, lengkap dengan kursi khusus di depan, aku mengangkat wajah, menatap puluhan laki-laki kelahiran 99, selisih lima tahun dengan yang ada di hadapan mereka. Tapi lihat saja, tinggiku berada di bawah mereka, barangkali sedagu atau di bawah telinga, hanya satu dua orang yang kurasa hampir sama. Hal itu yang terkadang membuatku ingin bertanya, mereka menganggapku seperti apa?

Perkataan-perkataan yang biasa dilontarkan saat awal memasuki kelas kembali ku terima, berdendang riang, bagai melodi yang tak beraturan, dengan sengaja, aku memilih diam mengabaikan semuanya, aku hanya ingin mempertegas ini bukan saatnya berkenalan, ini waktunya ujian. Walau tanpa kata.

Aku mulai membuka suara, tak menjangkau.  Suaraku kalah dengan riuh para siswa yang sudah mukallaf itu, mereka bukan anak kecil lagi, mereka remaja, mereka sudah memasuki masa puber dengan perubahan bass dalam pita suaranya. Hanya diam, isyarat agar mereka berhenti berkata. Ampuh juga, ada anak yang membantuku untuk meredam keramaian yang tercipta, seketika kelas menjadi hening.

 Ini adalah awal pertama aku menjadi penjaga ujian, jika waktu itu aku yang dijaga, tak dinyana sekarang aku yang menjaga. Ku ucapkan salam untuk menyapa para siswa, sebagian dari mereka memang seperti tak mampu menahan gejolak untuk terus menggenderang, aku meredamnya dengan melanjutkan pembacaan  do’a agar ujiannya berjalan lancar. Ku harap mereka menikmati do’anya dengan hidmad, namun begitulah harapan hanya sekedar harapan, tak semua anak yang menundukkan kepala dengan khusyu’, sebagian yang lain malah melaluinya dengan ketidakseriusan, meremehkan, mengucapkan amin sekedar bermain-main. Aku mencoba memakluminya, Wajarlah memang tak semua orang mampu mencapai esensinya, bagai kecepatan sebuah kendaraan yang tercipta tidak sama. Masih perlu perbaikan.

Memoriku kembali berkelana, sekitar lima tahun yang silam, aku berada di posisi mereka, mengerjakan ujian yang terkadang diiringi puasa dan sholat malam (bukan sok alim ya,, hehe tapi aku memang percaya dengan istilah tirakat, tapi bukan berarti melakukan ibadah karena ujian, ya harus tetap karena Allah, dan ibadah itu adalah rayuan untukNya. Agar diberi kelancaran, hehe)  tentu saja diiringi usaha pada malam harinya, walau terkesan SKS alias sistem kebut semalam, hehe. Pertanyaannya, bagaimana dengan hari-hari sebelumnya? Apa tidak belajar?  Ya, belajar waktu disekolah atau saat ada PR, hihi.  Setidaknya kan sudah ada persiapan untuk menghadapi perang melawan soal-soal (maaf ya bukannya membela diri, tapi tetap kok yang lebih baik adalah belajar yang rutin agar tidak lagi sks), oh, bukan perang tepatnya, tapi berkencan dengan soal-soal. Karena mengerjakannya, adalah sebuah petualangan yang mengasyikkan. Apalagi matematika, ibarat detektif yang diharuskan mampu untuk memecahkan kode-kode. Seru bin butuh waktu ekstra. Lihat tingkat kesulitan soalnya juga sih. Loh, suasananya kok tiba-tiba berubah ya? 

Oke, back to my memory, emm, banyak hal yang ingin ku ungkapkan, tapi rasa khawatir tiba-tiba datang, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan cerita waktu itu, mungkin lain kali ya,, agar tak salah paham. 

Nah, aku akan kembali mengulas yang saat ini. Anak-anak itu, ya begitulah, mungkin banyak yang menyadari bahwa budaya nyontek bukan hal yang asing lagi, dari jaman alif sampai ya’ kebiasaan itu seakan sudah tak bisa dibasmi, gertakan apapun seakan tak mampu menghilangkannya. Benar tidak? Yang kurang terima tenang dulu, aku tidak menjudge semuanya demikian, tapi tak bisa dipungkiri ada sebagian kalangan atau perorangan yang tidak bisa menghindar dari hal itu. Yang pernah sekolah pasti pernah merasakannya bukan?

Agak miris memang, bukannya sok bener lo ya,, seakan-akan yang nulis ini gak pernah mencontek, hehe. Tentu saja, aku juga pernah menaruh buku di bawah bangku untuk mencuri-curi jawaban, tapi bisa dihitung jari lo, 1 kali di SLTP dan 1 kali di SLTA. Percaya tidak? Ah masa’? loh gak percaya? Kamu pikir aku bohong apa? (hehe, rada gak terima) kenapa aku mengingatnya? Ya, karena suatu hal aneh menimpaku saat aku melakukan hal itu. Tak perlu ku sebutkan namanya,siapa yang menjadi penjaga ujianku waktu di SLTP, yang jelas beliau adalah guru yang begitu melekat diingatan sampai sekarang.

Saat itu, aku mencoba membuka buku, pikirku untuk menyempurnakan hasil ujian, meski ada bisikan dari dalam yang melarangku untuk menggunakan cara rendah itu, tapi apa daya, saat mata hati sedang buta, dan ambisi untuk mendapatkan nilai sempurna tertancap dalam fikiran, cara yang seharusnya tak ku lakukan menjadi terpampang di depan mata, ya hanya karena ada satu dua soal yang begitu merisaukan jawabannya, dengan membohongi perasaan, aku menghalalkannya, berharap nilaiku sempurna dengan cara demikian.

Tapi, entah angin dari mana, padahal penjaga ujianku sedang tidak ada di tempat.  Namun setelah beberapa waktu kemudian beliau kembali ke kelas, posisiku? tentu saja tak lagi menunduk untuk melihat jawaban. Namun, beliau yang baru datang, tiba-tiba saja berkata, persis sesuai dengan kata hati yang baru saja ku ingkari. “Tak perlu mencontek hanya untuk menyempurnakan nilaimu”. ucapnya, seakan membaca fikiranku. Aku tertunduk malu, rasanya seperti di tembak dengan peluru, singkat tapi mengena hatiku. Padahal sebelumnya, aku tak pernah mendengar beliau berkata-kata, walau marak teman-teman sebelah sibuk mencari contekan, tak pernah. Namun sekarang, saat pertama kali aku mencoba, beliau tiba-tiba berkata, sesuai dengan kata hatiku pula, semenjak itulah, aku mengatur lagi jalan nurani dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu kembali. 

Waktu berlalu, mungkin aku lupa dengan tekadku waktu dulu, kejadian itu ku ulangi kembali di SLTA, pelajaran PKN tepatnya, melihat jawaban soal nomer satu sampai 30 pilihan ganda yang tak meyakinkan, karena jawabannya berpola aneh, abcd, abcd, begitu seterusnya. No 1=a, 2=b, 3=c, 4=d, lucu bukan? Untuk memastikan, aku memberanikan diri melihat LKS, apalagi tidak ada guru yang menjaga ujian.

 Dengan dalih, bukankah teman-teman sudah sering melihat LKS, sementara aku baru kali ini, mengapa tidak? Batinku meski hati nurani pasti sudah mampu menilai bahwa perbuatan demikian tak di indahkan. dengan menyisihkan rasa bersalah, aku mantap membuka LKS mengikuti yang lain. Lega, setelah merasa yakin dengan jawabannya. Tiba-tiba saja, saat guru PKN ku mengisi kelas, ia bertanya pada semua siswa, "apakah kalian mengerjakan dengan jujur atau tidak?" Tentu saja, kami semua terdiam. Mengapa begini? batinku dalam hati. Aku merasa tersentil kembali dengan kejadian seperti ini, mengapa disetiap aku melakukan perbuatan itu ada kejadian yang seakan membongkar aibku? Padahal saat aku mengerjakan ujian dengan jujur, sementara yang lain menyontek, tak ada ulasan. Namun, saat tepat diriku yang mencontek? Tiba-tiba ada ulasan yang tak terduga. Termasuk kali ini, beliau langsung tertuju padaku, sepertinya ia ingin mengandalkanku, tapi nyatanya? Saat beliau bertanya, “Wardah kamu juga mencontek?” jelas aku mengaku padanya bahwa akupun demikian, aku bisa menangkap gurat kekecewaan disana, teman-teman yang lain hanya mendengarkan seksama, tak hanya bertanya hal itu, beliau juga memborongku pertanyaan, nomer berapa saja yang kamu mencontek? Tanyanya padaku. Sebenarnya, aku ingat, namun karena malu aku tak menyebutkan nomer berapa saja, hanya isyarat gelengan kepala yang menjadi jawaban. 

Ku harap hal itu mampu meredamnya, atau setidaknya agar aku tak terlalu malu. Namun nyatanya? Apa yang beliau katakan seakan meruntuhkan kepercayaannya padaku, aku merasa sedih dan amat menyesal, beliau menyebut ketidak tahuan nomer berapa saja yang dicontek, kemungkinan karena kurang belajar atau karena sebagian besar soal tidak bisa dikerjakan hingga memutuskan untuk mencontek. Tak sampai lima soal yang ku jawab dari hasil contekan. Namun nasi sudah menjadi bubur,  saat itu beliau menyatakan kekecewaannya pada kami semua. Semenjak itulah, senyum kepercayaan yang tersungging dari beliau padaku terlihat sedikit luntur sebab kejadian itu. Kejadian yang begitu ku sesali, amat-amat ku sesali. Andai waktu dapat ku ulang kembali. 

Peringatan itu sudah cukup bagiku, bisa tidak bisa aku harus mengerjakan sesuatu sesuai dengan kemampuan. Dalam catatan sejarah hidup mengenai ujian sekolah itulah alpaku, dan selebihnya, Insyaallah aku mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang telah Ia anugerahkan padaku, Syukur Alhamdulillah, tak pernah sekalipun dalam catatan sekolah SLTA itu ada kata remidi yang menghampiri. Aku sangat bersyukur sekali atas catatan manis yang bisa ku rangkai agar menjadi pelajaran bagi adik-adikku terutama yang kali ini ku hadapi secara langsung, anak laki-laki yang ternyata melakukan kealpaan sepertiku dulu yang terasa menodai. 

Ku ungkapkan pada mereka, lebih-lebih mereka adalah seorang laki-laki. ‘laki-laki yang gentle, adalah ia yang mengerjakan ujian sesuai dengan kemampuannya, tak perlu mencontek sana sini, karena laki-laki adalah sosok yang harus bertanggung jawab, cara kalian menjawab soal adalah salah satu gambaran apakah ia bertanggung jawab atau tidak atas dirinya sendiri’
Ada yang menyimak, ada yang tidak, setidaknya mereka mendengar, namun ku yakin ada beberapa yang merenungkannya. Lihat saja, ada yang benar-benar mengerjakannya tanpa menoleh sana sini, entah karena ungkapan yang telah ku utarakan atau memang anak itu sejatinya sudah demikian. Alhamdulillah, masih ada beberapa yang tak mendustai hati nuraninya, ku harap, yang lain juga  bisa mencontohnya, aminn.

0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES