Selama ini, ia tak nyata di depan
mata, berada di seberang kota untuk mengais rezeki menghidupi keluarga. Sengaja
ia berada jauh disana, agar kehormatan kami tetap terjaga, mungkin agar kami tidak perlu
menatap belas atas apa yang tengah di lakukannya saat ini.
Tahun demi tahun telah berlalu, sedikit
demi sedikit aku mulai menyentuh arti kehadirannya, ku rasa kini aku mulai
mengenal perjuangannya, perjuangan yang kerap kali tak tergubris dalam anganku, aku merasakannya, benar-benar nyata, itu terbukti dengan studiku yang selesai tepat waktu karena biaya dari hasil memeras keringatnya, hasil ia menjemur badan di tengah teriknya matahari, hasil ia mempertaruhkan nyawa, hasil ia mengkikis ketampanannya karena warna kulitnya yang kuning kini mulai berubah kecoklatan, aku menatapnya, saat ia datang dengan selamat, menggunakan sepeda motor menempuh jarak beratus kilo untuk bertemu dengan keluarga menjelang lebaran. Alhamdulillah, aku senang beliau hadir. Keluargaku lengkap, meski dipersatukan saat lebaran atau hari-hari besar Islam saja. Betapa sempurnanya kebahagiaan ini, aku memiliki keluarga yang utuh. Puji syukur padamu ya Allah..
Saat ini, kami benar-benar harmonis, tiada lagi gertakan atau kata paksaan dari ayah yang dulu ku terima semasa kecil, entah kenapa. Waktu itu umurku masih belia, seorang
laki-laki yang ku kenal pertama kali, entah dari mana asalnya, sejak kapan aku
mampu melafadzkan aksara untuk memanggilnya, yang ku tahu dia ku sebut sebagai
ayah. Katanya dia adalah orang tuaku. Aku tak mengerti mengapa ayah selalu
memaksaku untuk istirahat di siang hari, aku tidak suka dengan perintahnya, sebenarnya
ingin menolak, tapi ku takut, karena
kalau tidak menuruti ucapannya, bisa-bisa ayah menggertakku, dan boleh jadi
mendaratkan tangannya di betisku dengan lambang merah karena pukulannya. Aku tak
pernah tahu apa maksudnya, dalam pandanganku ayah jahat karena telah merenggut
kebahagiaan yang akan aku dapatkan bersama teman-teman. Padahal saat itu adalah
kesempatanku bermain. Keasyikan yang tercipta dengan mereka menghuni duniaku.
Mungkin inilah yang disebut
naluri, karena sikapnya yang demikian, seringkali aku berpura-pura terpejam, waktu itu kami
masih dalam satu kamar. Ayah, ibu dan aku berada dalam kamar untuk
istirahat, namun lihatlah aksiku, setelah ayah terlihat
pulas, perlahan aku mencoba bangun, berjingkat-jingkat agar tak menimbulkan
suara, Tentu saja, tak ada yang pernah mengajarkanku demikian. Ya, aku keluar
untuk bermain dengan teman-temanku disana. Rasanya, seperti baru saja terbebas
dari penjara.
kini, aku merenungkannya, saat masa itu menjadi sebuah cerita, mengapa ayah demikian? Ayah tidak jahat, aku telah salah menilainya, ia hanya ingin melindungi anaknya saat orangtua tak bisa memantau karena sedang istirahat. Karena bersama teman-teman aku juga tak terjamin keamanannya, terkadang kami (aku dan anak-anak) juga membuat konflik hingga berantem dengan sesama, bahkan aku pernah berantem dengan temen cowok sampai banting-bantingan. Beruntung orang tuaku tidak mengetahuinya, akan jadi apa jika mereka tahu aku seperti itu.
kini aku semakin dewasa, betapa terasa perubahan sikap yang aku terima, saat ini tak lagi seperti dulu, gertakan-gertakan itu tak lagi kujumpai, aku sudah diberi kewenangan, keputusan dengan kehendak yang menurutku terbaik. Baru kusadari, ternyata ayahku begitu baik, ia tidak mengekang, ia adalah seseorang yang flexibel, ia yang selama ini berkorban, menghabiskan sisa umurnya untuk memenuhi kebutuhan hidupku.
Aku tak mampu membayangkannya, hati ini benar-benar tak kuasa, aku yakin mata hatiku takkan kuat untuk melihatnya secara langsung saat bekerja, karena selama ini yang ku terima hanya rupiah saat hasil keringatnya hadir di depan mata untuk memenuhi studiku. bahkan untuk mengingat dalam anganpun aku tak mampu menahan sesak didada dan hangatnya air mata yang dengan mudahnya tumpah ruah. Berterimakasihlah kita padanya, Bersyukurlah kita yang masih diperkenankan untuk menatapnya semasa hidup di dunia.
karena akan ada saatnya, mereka hanya tinggal nama dan cerita, ada saatnya kita ingin menarik diri kembali untuk melakukan hal-hal terpuji demi membahagiakannya, karena akan ada saatnya rasa yang meremukkan hati datang menghampiri saat kenangan bersamanya terlintas begitu saja. Karena kesadaran atas berharganya mereka begitu datang tiba-tiba.
Tiada yang bisa kita lakukan selain melantunkanlah do'a untuk kebahagiakan kedua orang tua, bahagia dunia dan akhirat, kemudian berbakti padanya. Berbaktilah dengan sebakti-baktinya pada mereka. Agar tak terlalu dalam rasa sesal dan kehampaan yang akan datang menghujam, karena semuanya sudah tak mampu kembali seperti semula, saat tak mampu lagi bersamanya.

0 komentar