Ya Allah Engkau lebih tahu apa yang tengah kurasakan saat ini, perputaran waktu mengantarkan aku bertemu dengan berbagai macam sang adam, dari yang begini sampai begitu, memang tak ada yang sempurna, benar-benar sulit mejumpai seorang adam yang benar-benar pas di hati.
Dalam keriasauan
ini, hatiku masih tak segera mampu mengurai benang kusut, sebenarnya siapakah
yang ku suka, bagaimanakah sebenarnya cinta yang ku rasakan? Mengapa yang
katanya ku anggap cinta terasa biasa-biasa saja bahkan amat sederhana, apakah
cinta memandang kriteria? Apakah hati akan luluh dan mampu mencintai karena
kebaikan yang dilakukan seseorang? Benarkah itu? Mendengar banyak pernyataan
bahwa dalam berumah tangga cinta atau ketampanan sudah bukan no 1. Karena yang
akan lebih di utamakan adalah ekonomi, sifat dan agama. Kemakmuran keluarga itu
sendiri.
Terkadang aku
meminta pada Allah untuk menenangkan waktuku sejenak, berfikir mendalam tentang
warna yang ku selami hanya membuat fikiran penat dan ingin melepaskan takdir,
aku tidak ingin merasakan gelombang ombak meski sebenarnya aku sudah
terombang-ambing olehnya. Mungkin kasusku kali ini tak jauh beda dengan kisah
cintaku yang pertama, di cintai tapi aku tak mampu memahami perasaanku sendiri,
apakah benar hati ini menaruh keinginan padanya? Apakah benar ia yang ku
harapkan menjadi imam? Tapi mengapa perasaan datar dan biasa-biasa saja yang ku
rasakan? Mengapa tiada tawa atau sekedar senyum sebagai pertanda atau kode
bahwa aku bahagia saat ia hadir. Mungkinkah ini isyarat bahwa sebenarnya cinta
tak bisa dipaksakan? Bahwasanya cinta tak bisa luluh begitu saja meski dengan
pengorbanan dan kebaikan, karena yang hadir kala mendapati hal itu hanyalah
rasa kasihan dan tidak tega. Apakah seperti itu yang sebenarnya ku alami saat
ini?
Ya Allah,,
bagaimana seharusnya jalan yang mesti ku tempuh, apakah ku harus bertahan,
memberikan kesempatan bahwa mungkin suatu saat hatiku berubah dan bisa
tersenyum karenanya, benarkah cinta bukan prioritas utama saat berumah tangga?
Benarkah yang terpenting adalah kebaikan dan kemapanan dari seorang suami,
tanpa perlu menengok perasaan yang sebenanya tak sepenuhnya menerima kehadiran
seseorang yang begitu mencintai kita, karena ternyata tak bertaut dengan
perasaan kita. Apakah jahat jika ku masih berharap ada seseorang yang mampu
menciptakan debar di hatiku, meski ia tak melakukan apapun, apalagi melakukan
hal-hal untukku? Jahatkah jika aku mengharap orang lain untuk menjadi imamku?
Adam yang benar-benar menarik hatiku untuk benar-benar ikhlas menemani jiwa
raganya? Ataukah aku harus bertahan dengan apa yang ku rasakan sekarang, saat
ada seseorang yang benar-benar mencintaiku dan begitu besar pengorbanannya,
karena mungkin nantinya aku akan merasa butuh dan menaruh rindu akan
kehadirannya. Mungkinkah?

5 komentar
msh single mbak? :v
Replymsh single mbak? :v
Replyudah nggak dong :v
ReplyMau donk :D hihi
ReplyAlhamdulillah ane udah nikah :D
ReplyMampir ya
https://www.itoru.id