Siapa sangka akan seperti ini? Akhir-akhir ini ada yang berbeda di hidupku. Perbedan yang tak pernah ku duga sebelumnya, perbedaan yang tak pernah ku pastikan adanya, perbedaan yang ingin ku tepis kenyataannya. Sejujurnya, aku masih tak habis pikir, bagaimana bisa begitu mudah? Ah, sudahlah. Jika ku fikir lagi, inilah suratan yang tak pernah ku tahu misterinya. Hanya saja aku ingin mengingatkan seseorang atau siapa saja yang membaca tulisan ini, semoga mendapatkan pelajaran.
Aku mengenalnya sejak menduduki bangku SMP, saat orang tua melepaskanku untuk mengenyam pendidikan pesantren dan formal. Di pendidikan formallah kami saling mengenal, Kelas 7 dan kelas 8 berlalu dengan pengakuanku atas rasa kagum terhadap rupanya, jujur saja ia enak dipandang. Apakah aku jatuh cinta saat itu? Sepertinya tidak, aku hanya kagum. Sebatas itu. Bahkan saat ia memutuskan menjalin kasih dengan temanku. Teman yang menumpahkan cerita cintanya padaku, tentu temanku takkan pernah tahu bahwa aku sempat menaruh kagum pada kekasihnya, dan berkat curhatannya aku semakin mengetahui dan mengenalnya secara tidak langsung. Ternyata seperti itu perangainya, sama saja, manusia, ada baik dan buruknya.
Walau telah mempunyai kekasih, aku tak mempermasalahkannya, kami tetap berteman, saat kelas 9, aku dan dia sering bertengkar, motifnya hanya karena hal spele, bertengkar ala anak SMP, tentu saja kami tidak membenci, perbedaan itu wajar terjadi.
Waktu berlalu, sudah dua kali ia berganti kekasih, ia memang punya tampang, dan lucunya setiap itu pula aku menjadi tempat curahan hati kekasihnya, karena yang keduapun juga temanku, teman baikku. Kekasih pertama telah meninggalkannya karena dipersunting orang lain, dan dengan kekasih keduapun kandas karena suatu alasan. Dua sahabatku adalah mantan kekasihnya.
Hanya itu yang ku tangkap, selebihnya, aku sudah lupa. Ia menjadi bagian memory SMPku. Jika tiba-tiba berkelebat, guratan ingatan itu terasa indah dan mengharukan.
Apa yang terjadi selanjutnya? Akupun tak pernah menduga, setelah bertahun terpisah karena ia memilih boyong setelah lulus SMP sedang aku tetap bertahan disini, melanjutkan sekolah hingga tak terasa berada dibangku kuliah. Tak ku sangka kami dipertemukan lagi melalui media sosial, facebook tepatnya, ia menyapa, aku terkesiap, rupanya ia adalah temanku yang dulu sempat ku kagumi, katanya ia sedang bekerja saat ini, terlihat banyak hal yang telah berubah, dari fotonya ia sudah lebih tinggi dari yang dulu, wajahnyapun tampak dewasa, wajar, sudah berapa tahun kami berpisah, bila boleh jujur, aku lebih memuji wajahnya saat SMP. Tapi tak masalah, ia tetaplah temanku, sejarah yang sempat ku rindu.
Sejak itu, kami mulai berkomunikasi, mengutarakan banyak hal, cerita demi cerita terus tersaji, mengalir dengan deras hingga begitu mudah menimbulkan keakraban. Semakin lama rasanya semakin nyaman. Awalnya, perasaanku biasa-biasa saja, seperti teman yang lainnya, meski tak bisa ku pungkiri aku masih mengingat rasa kagum itu, sampai akhirnya sapaan demi sapaan secara perlahan menimbulkan ketergantungan, aku selalu menunggunya, menunggu ia menyapaku, bahkan tak jarang aku yang memulainya untuk berkomunikasi.
Kedekatan ini mulai menjadi. Aku tahu arahnya, ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Kecocokan yang mulai timbul dan tak ingin dipisahkan.
Believe in me that i’ll never leave you, i don’t wont you to cry sad tears desist from you, i’ll do anything as long as you can smile.
Perasaanku melambung saat ia mengatasi kekhawatiranku dengan kata-katanya, melalui pesan singkat, ia menuliskan frase berbahasa inggris itu padaku. Saat itu aku meyakini ucapannya, percaya ia tulus, kebahagiaan dan rasa tenang menyergap karena ku rasa ia takkan pernah pergi.
Menurut kalian bagaimana, bukankah itu sebuah janji? Siapa sangka, jika kini kata-kata itu tinggal saksi bisu belaka, onggokan kalimat yang tak bernyawa, aksara yang sempat membuatku berbunga dan mempercayainya. Oh Tuhan, kini ia pergi begitu saja, tanpa kata, tanpa alasan yang nyata, aku dibiarkannya merana. Menanti tanpa kepastian sudah ku jalani, mencoba menghubungi sudah berkali-kali, bersabar dan mengharapkan kembali sudah ku lalui. Kini aku pasrah, mengembalikan segala janji dan mencoba mengingatkannya lagi. Dan rupanya, kisah kita bahkan tetap berakhir disini, tanpa kejelasan yang pasti.
Ah, sudahlah, aku sudah terbiasa sendiri, kini aku mencoba bertahan dan menjalani hari-hari tanpanya, cukup lelah aku mempertaruhkan image demi menghubunginya. Cukup, terserah! aku tetap akan menatap ke depan melanjutkan hidup ini, karena Tuhan pasti telah mempersiapkan takdir yang terbaik untukku. Semua ini adalah bagian dari skenarioNya, misteri yang harus ku petik hikmahnya.
Kini aku ingin lebih berhati-hati. Dengan kata-kata, aku tak mudah lagi percaya, aku tak ingin lagi mudah terlena, karena manusia tempat luput dan dosa. Allah, akupun juga tak patut berucap, berjanji tanpa menyertai bahwa semua yang terjadi esok adalah kehendakMu.
Pesanku, berhati-hatilah dengan apa yang kita ucap, kita tak tahu apa yang kan terjadi esok. Perasaan bisa saja berubah, keadaan bisa saja tak berpihak, apa yang dikata bisa saja menyimpang dari semula. Jika sudah demikian dimana pertanggungjawabannya? Bagaimana dengan hati yang lara karena janjinya? Tak berdosakah ia dengan penyalahannya? bukankah semua yang terjadi esok tak lain semata-mata kuasaNya, kita tak pernah tahu adanya. Jika demikian, masihkah kita dengan mudah berjanji tanpa menyertai kehendakNya? Wallahu a'lam. Semua jawabnya ada pada diri kita masing-masing.Cerita ini berdasarkan kisah teman bernama Ilmiyah

0 komentar