Move On Dari Galau Yuk

Move On Dari Galau Yuk


Jika ada 99% kenikmatan, dan 1% penderitaan. Mengapa yang mengusik fikiran adalah yang satu persen?
Move On Dari Galau Yuk
Apakah engkau tengah mengalaminya, merasakan masalah yang sedang melanda saat ini, apa yang kini dominan menghuni fikiran? Masalah yang terjadi ataukah kenikmatan yang luput disadari, bila boleh ku tebak. Engkau lebih dominan memikirkan masalah bukan?  karena jika kita sadar, kita akan tahu betapa banyak kebahagiaan yang semestinya dirasakan dan disyukuri. Tidak percaya? Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban..

Oya ada apa dengan 1% diatas? Jika orang lain ingin menyebutnya 10% atau 100% bagaimana? Bukankah kadar cobaan seseorang berbeda-beda. Mungkin engkau 1%, tapi belum tentu dengan yang lain bukan? Oke, kenapa ku globalkan satu persen? Mari nanti kita bahas.

Sama halnya saat seseorang melakukan sebuah tugas dengan hasil kurang sempurna, hanya tinggal beberapa persen untuk mencapainya, tapi mengapa yang dibahas adalah kekurangannya saja? Dimana apresiasi untuk kerja keras yang telah memperoleh hasil meski kurang sempurna itu?

Ada apa dengan manusia? Evaluasi? Membahas kekurangan saja? Jerih payahnya diabaikan? Tak ada penghargaan atau sekedar pujian? Mengapa lebih focus pada kekurangan? Ah, aku ingat manusia memang tak pernah puas.

Sebentar, mengapa wajahmu murung begitu, apakah hari ini kau sedang ada masalah? Masalah apa? Berat sekali ya? Lantas bisakah terselesaikan dengan memasang wajah kusut seperti itu? Apakah kau tak ingin menarik nafas dan merenung sejenak untuk mengembalikan senyummu yang manis? Ciyee,,,
Saktah dulu ya,, berhenti sejenak, ayo bermuhasabah denganku.

Sahabat, sudah berapa kali kita berkeluh kesah? Sudah berapa banyak waktu yang tersita demi menyesali hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak hati, sudah berapa lama engkau memasang muka masam karena terbawa perasaan.

Sejenak saja, tidakkah kita tengok kebahagiaan yang sebenarnya bisa mendominasi,. Hembusan nafas, kesehatan, rizki, keselamatan. Hal-hal itu adalah perkara yang seringkali diabaikan. Acap kali saat sedang dirundung masalah atau duka, seakan-akan dunia di depan mata menjadi gelap gulita dan tak  ada satu celahpun kebahagiaan yang tersedia.

Hal apakah yang membuat perasaan itu berlarut dan menguasai fikiran? Tentu saja karena sebuah hati yang bisa seluas samudra atau sekecil larva. Kalau begitu, kau memilih yang mana? Pasti ingin yang seluas samudra bukan? Lalu untuk apalagi kau membuang-buang waktu larut dalam rasa cemas dan sedih?

Apakah tadi ada masalah dengan sahabat? Pacarmu tidak menghubungi sama sekali? Apa kau berpisah dengan orang yang kau cintai? Orangtuamu sedang memarahimu? Atau suamimu dengan tidak sengaja telah menyinggung perasaanmu?

Saat ini apakah kau masih ingin terus menerus berkubang dalam rasa menyakitkan itu? Ingin tetap sesak dan tak segera bangkit dari keterpurukan? Apa kau merasa menjadi orang yang paling menderita? Yang paling menyedihkan? Yang paling susah? Lantas, bagaimana dengan kelengkapan organ tubuh yang kau punya saat ini? Bukankan diluar sana ada banyak orang yang difabel atau bahkan kehilangan organ tubuhnya karena suatu hal, misal kecelakaan atau akibat sebuah penyakit. Apakah saat ini kau sedang sakit? Sakit panas? Sakit gigi? Atau sakit perut? Apakah dengan itu kau merasa begitu susah. Bukankah hanya satu bagian saja yang sakit? Bagian tubuh yang lain sehat bukan? Diiluar sana ada orang yang sedang menahan sakit disekujur tubuhnya karena terbakar, atau dikeroyok masa karena telah dituduh menjadi maling. Masihkah kau merasa paling malang dan paling kesakitan hingga tak jarang sampai menghujat Tuhan, atau mengatakan bahwa Tuhan tidak adil? Naudzubillah, Bagaimana dengan keselamatan yang kau sandang sehingga kau masih nyaman bernafas di dunia ini? Lantas bagaimana dengan limpahan rizki yang telah diberikanNya sehingga kau bisa makan dan minum? Dimana semua itu? Dimana kenikmatan berlimpah yang seharusnya senantiasa kau syukuri agar tetap berlapang dan bahagia.

Coba saja saat ini kau ditimpa musibah, misal seseorang yang kau cintai pergi, entah pergi untuk selamanya atau hanya sementara, bagaimana perasaanmu? Sedih? Ingin menjerit? Ingin tenggelam dalam bumi? kemudian engkau mengingat-ngingat saat dia masih ada, betapa berartinya dia, betapa bahagianya hati seandainya Allah mempertemukan kembali. Lantas kau merasa menyesal karena kurang mensyukuri dan berbuat yang terbaik untuknya. Jika begitu, Kemana saja rasa syukur itu selama ini? Kemana saja semangat untuk berbuat yang terbaik itu selama ini? Apakah dengan seperti itu kita baru menyadari kebahgiaan yang selalu mengelilingi?

Atau kau sedang sakit, sakit magh misalkan, naudzubillah. Bagaiamana rasanya? Tidakkah suara hatimu berteriak, menyesal karena sudah tidak mengatur pola makan? Karena saat sakit melanda, kau hanya bisa pasrah merasakannya, berusaha mengembalikan seperti semula, sementara didalam hati berkali mengucap, betapa nikmatnya sehat, seperti yang sebelumnya kau rasakan, namun kini terasa hilang hanya karena satu organ yang sedang bermasalah.

Ah manusia, tempatnya alpa dan lupa, kenikmatan sebesar itu menyilaukan penglihatan hingga tak mampu terlihat, cobaan seukuran kerikil menjadi nampak besar di depan mata, mengalahkan kenikmatan dan kebahagiaan yang luasnya tak terhingga.

Itulah mengapa, aku mengglobalkannya dengan kata 1% penderitaan atau cobaan, karena sejatinya amal khusyu’ yang kita perbuat selama delapan puluh tahun nyatanya tidak sebanding dengan nikmat mata satu yang telah Allah anugerahkan. Sekali lagi ibadah khusyu’ selama 80 tahun, sholat, zakat puasa, haji dan kebaikan-kebaikan yang lain masih kalah jauh dengan besarnya nikmat mata satu. Apa kau bersedia jika satu matamu ditukar dengan uang satu triliun? tidak bukan? Lantas, bagaimana dengan dua mata dan seluruh organ yang telah Allah anugerahkan, belum lagi oksigen gratis, rezeki dan keselamatan yang saat ini nyaman kita rasakan. Bukankah layak jika aku menyebutnya kenikmatan 99% sementara cobaan 1%?

Tersenyumlah, mungkin itu akan membuatmu lebih baik, berdzikirlah agar hatimu tenang karena merasakan kehadiranNya, damailah karena kenyamanan itu pantas kau dapatkan, kebahagiaan yang bisa kau ciptakan sendiri melalui rasa syukur. Semoga Allah segera melapangkan hatimu, menyelesaikan masalahmu, menetramkan hatimu, dan mengembalikan keceriaanmu. Aamiin..

0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES