Dalam dongeng, aku bisa menghayal
menjadi siapapun. Termasuk menjadi seseorang yang dengan kelebihannya
menunjukkan diri pada dunia, tanpa rasa takut, tanpa rasa ragu untuk membuat dunia
itu sendiri terpukau dan mengakui anugerah yang Maha Esa. Sempurna, Dongeng
yang sempurna. Itulah yang hanya berlari-lari kecil dalam anganku,
implementasi? Tak ada. Namun aku masih bisa menarik nafas, melihat teman-teman
disamping juga bernasib sama, banyak, aku termasuk diantara mereka, menonton
tanpa bisa melakukan apa-apa, kecuali menikmati pertunjukan yang aku sendiri
tak yakin bisa setenang itu jika tampil dihadapan banyak orang. Itulah kemungkinan, karena aku sendiri
tidak yakin dengan kemampuanku, mungkin sebab itulah diriku tak terpilih
menjadi lakon dalam drama yang telah mereka buat.
Seperti yang telah kalian
ketahui, tadi aku hanya duduk termangu, menyaksikan penampilan-penampilan
bersama kawan yang lain, kawan-kawan yang tak terpilih untuk berdiri dihadapan
kelompok-kelompok pasopati. Sejujurnya hatiku meringis. Impianku, jalanku,
masih terkikis karena suatu ketraumaan yang tak bisa ku jelaskan disini.
Bersama hayal yang sempat terulas, tak terasa langkahku telah mencapai ruang
transit kelompok Harimau. Dengan segera aku duduk, beristirahat sejenak, sebelum
berkemas.
Ku sapu sekeliling, ekspresi
teman-teman beragam. Dina yang terlihat lesu, Mely yang masih tampak
bersemangat, dan rudin yang masih tetap dengan tampang sangarnya. Aku tak
mungkin menjabarkan satu persatu disini. Setelah ini kami akan pulang ke
kediaman masing-masing. Katanya perkuliahan akan di mulai satu minggu lagi.
lama sekali, sejujurnya aku sudah tidak sabar untuk segera mencicipi bangku
perkuliahan. Mungkin rasanya tak jauh beda saat kita baru memasuki tingkat
sekolah yang baru, pertama kali SLTP atau pertama kali SLTA. Hari pertama akan
selalu menimbulkan rasa penasaran.
Apa yang bisa ku lakukan nanti?
Berada dibelakang layar lagi? Tak bisakah ku tunjukkan? Pada kesempatan ini
saja aku sudah meratapi diri, bukan karena tak bersyukur, namun ukuran, sebuah
ukuran yang dulu telah melekat pada diriku dan terenggut begitu saja ketika
sekolah menengah pertama menyapa. Ah, aku masih tidak bisa melupakan itu.
Pengaruhnya begitu kuat, tertanam, dan mungkin sudah begitu mengakar. Terlalu
sakit jika terus-menerus menyesalinya. Katanya, semua ada hikmahnya, meski aku
tak tahu pasti dalam kasus ini, hikmah yang datang lebih banyak atau malah
lebih sedikit. Ku harap, kalian tidak bertanya lebih lanjut, ini misteriku,
suatu saat mungkin aku akan mengatakannya. Entah kapan.
Sepertinya sudah cukup aku
bernostalgia dengan masa lalu, teman-teman disamping sedang asyik berfoto
selfie, aku sampai tidak sadar ada yang memanggil namaku untuk bergabung. Tepat
disampingku, Fina mengarahkan kameranya, ada tiga orang lagi disebelahnya,
menyadari hal itu, serta merta aku ikut berpose, meski sedikit canggung.
Suasana hatiku masih tak begitu ceria.
Aku tahu, tak seharusnya ku
pasang wajah kusut hanya karena hal ini, hari ini adalah kesempatan untuk
membingkai kenangan. Kami akan mengambil gambar yang banyak, bersama
teman-teman, aku ikut nimbrung berfoto ria, dan secepatnya menyisihkan masalah
internal.
Setelah foto bersama. Aku duduk
kembali, siap berkemas untuk pulang. Tapi, Laki-laki itu datang mendekat, Rasya.
Disampingku ada Vina, aku tidak tahu siapa yang telah menariknya untuk berada
di depan kami, “foto yuk,,” pintanya. Tentu saja kami mengiyakan, ia begitu
saja mengambil posisi di tengah-tengah kami, pas banget, seperti laki-laki yang
dipeerbutkan oleh dua orang. Perlahan,
aku tahu, mau tidak mau kami harus saling menyapa, demi pertemanan yang telah
dipertemukan selama pasopati ini. Sayangnya, tetap saja, aku tak jua bernyali
mengucapkan rasa terimakasih. Begitu sulitnya, entahlah. Aku hanya perlu
mensyukuri, setidaknya ia sudah sempat bersuara menyebut nama dan mengajakku
berfoto.

0 komentar