Misteri Cinta (Part 5) Ia Menyapa

Misteri Cinta (Part 5) Ia Menyapa

Misteri Cinta (Part 5) "Ia Menyapa"
Dalam dongeng, aku bisa menghayal menjadi siapapun. Termasuk menjadi seseorang yang dengan kelebihannya menunjukkan diri pada dunia, tanpa rasa takut, tanpa rasa ragu untuk membuat dunia itu sendiri terpukau dan mengakui anugerah yang Maha Esa. Sempurna, Dongeng yang sempurna. Itulah yang hanya berlari-lari kecil dalam anganku, implementasi? Tak ada. Namun aku masih bisa menarik nafas, melihat teman-teman disamping juga bernasib sama, banyak, aku termasuk diantara mereka, menonton tanpa bisa melakukan apa-apa, kecuali menikmati pertunjukan yang aku sendiri tak yakin bisa setenang itu jika tampil dihadapan banyak  orang. Itulah kemungkinan, karena aku sendiri tidak yakin dengan kemampuanku, mungkin sebab itulah diriku tak terpilih menjadi lakon dalam drama yang telah mereka buat.

Seperti yang telah kalian ketahui, tadi aku hanya duduk termangu, menyaksikan penampilan-penampilan bersama kawan yang lain, kawan-kawan yang tak terpilih untuk berdiri dihadapan kelompok-kelompok pasopati. Sejujurnya hatiku meringis. Impianku, jalanku, masih terkikis karena suatu ketraumaan yang tak bisa ku jelaskan disini. Bersama hayal yang sempat terulas, tak terasa langkahku telah mencapai ruang transit kelompok Harimau. Dengan segera aku duduk, beristirahat sejenak, sebelum berkemas.

Ku sapu sekeliling, ekspresi teman-teman beragam. Dina yang terlihat lesu, Mely yang masih tampak bersemangat, dan rudin yang masih tetap dengan tampang sangarnya. Aku tak mungkin menjabarkan satu persatu disini. Setelah ini kami akan pulang ke kediaman masing-masing. Katanya perkuliahan akan di mulai satu minggu lagi. lama sekali, sejujurnya aku sudah tidak sabar untuk segera mencicipi bangku perkuliahan. Mungkin rasanya tak jauh beda saat kita baru memasuki tingkat sekolah yang baru, pertama kali SLTP atau pertama kali SLTA. Hari pertama akan selalu menimbulkan rasa penasaran.

Apa yang bisa ku lakukan nanti? Berada dibelakang layar lagi? Tak bisakah ku tunjukkan? Pada kesempatan ini saja aku sudah meratapi diri, bukan karena tak bersyukur, namun ukuran, sebuah ukuran yang dulu telah melekat pada diriku dan terenggut begitu saja ketika sekolah menengah pertama menyapa. Ah, aku masih tidak bisa melupakan itu. Pengaruhnya begitu kuat, tertanam, dan mungkin sudah begitu mengakar. Terlalu sakit jika terus-menerus menyesalinya. Katanya, semua ada hikmahnya, meski aku tak tahu pasti dalam kasus ini, hikmah yang datang lebih banyak atau malah lebih sedikit. Ku harap, kalian tidak bertanya lebih lanjut, ini misteriku, suatu saat mungkin aku akan mengatakannya. Entah kapan.

Sepertinya sudah cukup aku bernostalgia dengan masa lalu, teman-teman disamping sedang asyik berfoto selfie, aku sampai tidak sadar ada yang memanggil namaku untuk bergabung. Tepat disampingku, Fina mengarahkan kameranya, ada tiga orang lagi disebelahnya, menyadari hal itu, serta merta aku ikut berpose, meski sedikit canggung. Suasana hatiku masih tak begitu ceria.

Aku tahu, tak seharusnya ku pasang wajah kusut hanya karena hal ini, hari ini adalah kesempatan untuk membingkai kenangan. Kami akan mengambil gambar yang banyak, bersama teman-teman, aku ikut nimbrung berfoto ria, dan secepatnya menyisihkan masalah internal.

Setelah foto bersama. Aku duduk kembali, siap berkemas untuk pulang. Tapi, Laki-laki itu datang mendekat, Rasya. Disampingku ada Vina, aku tidak tahu siapa yang telah menariknya untuk berada di depan kami, “foto yuk,,” pintanya. Tentu saja kami mengiyakan, ia begitu saja mengambil posisi di tengah-tengah kami, pas banget, seperti laki-laki yang dipeerbutkan oleh dua orang.  Perlahan, aku tahu, mau tidak mau kami harus saling menyapa, demi pertemanan yang telah dipertemukan selama pasopati ini. Sayangnya, tetap saja, aku tak jua bernyali mengucapkan rasa terimakasih. Begitu sulitnya, entahlah. Aku hanya perlu mensyukuri, setidaknya ia sudah sempat bersuara menyebut nama dan mengajakku berfoto. 

Padahal sejauh ini, aku selalu menghindari  foto berdua dengan laki-laki yang bukan mahram, namun malam ini, mungkin karena toleransi sebuah kenangan, dengan ringan hati aku bersedia, ia mengajakku foto berdua. Semoga tidak ada yang salah faham dan menjadi kasus di Pesantren. Kami hanya berfoto, tidak lebih. Batinku membela.


0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES