
Aku adalah gadis yang tercebur ke
dalam jurang terjal, walau belum sepenuhnya, bunga yang baru mekar ini mungkin
hampir saja dipetik di waktu yang tak seharusnya, mungkin tangkainya hampir patah, berenang
dalam liang dosa yang dengan ringan diterjang, itulah kebodohanku, ketidakberdayaanku,
kelemahanku, aku yang dibutakan oleh
cinta, mudah sekali menuruti apa yang ia lakukan.
Hingga suatu hari, aku mendapat
kabar dari temanku Rosa, katanya Saiful bukanlah laki-laki yang baik, selama
aku di pesantren dia telah berkali-kali ganti pacar, Risma temanku sendiri
adalah salah satu pacarnya, bahkan yang tak dapat ku percaya lagi dia bilang Saiful
pernah meneguk air haram, Ya Tuhan, mendengar hal itu perasaanku sakit tak
tertahankan, bagaimana mungkin ia demikian? Sumber informasinya adalah orang
yang ku percaya, aku tak tahu bagaimana harus mengklarifikasi semua ini pada
Saiful, dia mungkin tidak akan mengakuinya, namun kabar itu, ah, mengapa harus
datang terlambat setelah ku serahkan pengabdianku padanya? Aku memang benar-benar
bodoh, telah dibutakan oleh rayuan mautnya.
Esoknya, aku bertengkar hebat
dengan Saiful, ia tidak mengakui apa yang telah dilakukannya selama ini, aku
menyebut nama seseorang, Risma, temanku sendiri yang sempat menjadi pacarnya, ia
mengelak dengan nada yang tak kalah sengit, aku terus memaksanya untuk mengaku,
tidak aku tidak akan berhenti, sebelum ia benar-benar jujur, lama aku
mendesaknya, dan lihatlah balasannya padaku, ia bilang Rismalah yang terus
menggodanya, ia wanita kesepian yang datang mengejarnya, dan Saiful? Ia tidak
mampu menolak, ah, aku tak habis pikir mengapa calon suamiku seperti ini? Apa yang
telah dilakukannya selama ini? Bukankah nafsunya masih begitu menggebu? Ah,
Saiful, mengapa begitu jahat? Aku tak mampu memikirkan apa yang telah terjadi
diantara mereka, sejauh apa hubungan dan kontak fisik yang telah mereka
lakukan, Tuhan aku benar-benar tidak terima ia demikian.
Rasa ragu meliputi perasaanku untuk
melanjutkan hubungan dengannya, bahkan aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana
seharusnya bertindak, karena setelah itu aku tidak begitu percaya dengan apa
yang telah diucapkannya, terlebih saat ku ingin meminjam hpnya, ia selalu saja menolak,
malah melampiaskan kemarahannya padaku karena telah tidak mempercayainya,
airmataku benar-benar membuncah, sikapnya semakin menguatkan kebohongannya,
kebenaran penyelewengannya juga diperkuat oleh orang sekitar yang mengiyakan
berita dari Rosa. Hancur sudah kepercayaanku padanya, saat itu juga aku
benar-benar ingin mengakhiri hubungan dengannya. Sakit, Selama ini aku tak
pernah bermain hati dengan yang lain, aku tak menyangka ia begitu tega berbuat
jahat di belakangku.
Saat terpuruk itu aku sengaja
berkunjung ke rumah Ibu Hamro’, kebetulan sekali Hamro’ sedang berada di rumah,
pesantrennya libur, sekalian saja aku mengunjunginya, disana kami masih sempat bernostalgia
melepaskan rindu, mengumbar senyuman tulus yang dengan mudah terulas untuk
menyambutnya, selesai dengan itu semua, aku mulai bercerita tentang Saiful,
calon suamiku, ku ungkapkan bagaimana ia sebenarnya dan apa yang telah ia
lakukan padaku, kalimat yang keluar dari bibirku mengalir dengan lancar dihadapan
Hamro’, ia mendengarkan dengan baik dan mencoba memahami perasaanku, aku merasa
bersyukur memiliki tumpuan cerita yang ku percaya, keluarga Hamro’ adalah
keluarga yang menjaga lisan dan mampu menjaga amanah, tak ada kekhawatiran saat
aku dengan mudah membuka semua dihadapannya.
Aku meminta pendapat Hamro’,
setelah mendengar semua penjelasanku tampak ada gurat kesal di wajahnya,
sepertinya ia juga kecewa pada Saiful, apakah hubungan ini perlu dilanjutkan
atau tidak? Dan jawaban yang ku terima dari Hamro’ adalah tidak, ia benar-benar
tidak setuju jika aku meneruskan hubungan dengan Saiful, banyak pertimbangan
katanya, dari segi agama, bukankah ia tidak pernah sholat, dari segi sifat, ia
juga telah berbuat hal yang tidak pantas, dari segi harta, ia juga tak begitu
berada, begitupun dengan nasab dan ketampanan, semuanya tak ada yang unggul, pertimbangan
apalagi untuk mempertahankannya, katanya, aku berfikir sejenak, sepertinya aku
masih menyisakan rasa suka padanya, namun ungkapan Hamro’ itu telah membuatku semakin
mantap untuk mengundurkan diri dan mengakhiri hubungan ini dengannya.
Kepada orangtua aku mengajukan
apa yang ku rasa sebagai keputusan terbaik, ku ungkapkan pada mereka bagaimana
Saiful yang sebenarnya, dan bagaimana niatku untuk mengakhiri pertunangan ini,
aku telah mantap setelah menimbang dari berbagai segi, tinggal menanti jawaban
dari orangtua, dan tahukah jawaban apa
yang ku terima setelah mengutarakan segalanya? sungguh aku sangat terkejut
dengan keputusan mereka, terutama ibu yang begitu bersikukuh untuk
mempertahankan hubungan kami, mereka memilih menafikan kabar itu, aku tahu,
mungkin ibu akan malu jika pertunangan ini harus berakhir, kemarin ibu begitu
bangga menyebarkan berita pertunanganku dengan adik Haji Farhan, sekali lagi adik
Haji itulah kata-kata yang sering diunggulkannya dihadapan saudara-saudara dan para
tetangga, jika hubungan ini berakhir keluarga tentu akan menanggung malu
karenaku, terutama ibu yang sangat berbangga dengan pertunangan ini, label Haji
itulah pertimbangannya, walau hanya adik, karena sebutan haji begitu sakral dikampung
kami.
Pada akhirnya aku menyerah. Keputusan
orangtua sudah tidak bisa diganggu gugat, sejujurnya aku sendiri masih
menyimpan rasa suka pada Saiful, jika sudah demikian aku hanya perlu
memaafkannya, memulai semuanya dari awal, mecoba untuk menerimanya kembali,
berharap ia akan lebih baik, bukankah ia lebih memilih diriku untuk menjadi
istrinya dari pada pacar-pacarnya yang kemarin? Ada sebersit harapan yang ku pendam,
semoga saja setelah kami menjadi suami
istri ia akan berubah dan menjadi suami yang bertanggung jawab pada keluarganya.
Saksikanlah apa yang terjadi di
keluargaku selanjutnya, semoga cerita ini bisa memberikan pelajaran yang baik
untuk kalian.
0 komentar