Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 7)

Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 7)


Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 7)
Aku adalah gadis yang tercebur ke dalam jurang terjal, walau belum sepenuhnya, bunga yang baru mekar ini mungkin hampir saja dipetik di waktu yang tak seharusnya,  mungkin tangkainya hampir patah, berenang dalam liang dosa yang dengan ringan diterjang, itulah kebodohanku, ketidakberdayaanku, kelemahanku,  aku yang dibutakan oleh cinta, mudah sekali menuruti apa yang ia lakukan. 

Hingga suatu hari, aku mendapat kabar dari temanku Rosa, katanya Saiful bukanlah laki-laki yang baik, selama aku di pesantren dia telah berkali-kali ganti pacar, Risma temanku sendiri adalah salah satu pacarnya, bahkan yang tak dapat ku percaya lagi dia bilang Saiful pernah meneguk air haram, Ya Tuhan, mendengar hal itu perasaanku sakit tak tertahankan, bagaimana mungkin ia demikian? Sumber informasinya adalah orang yang ku percaya, aku tak tahu bagaimana harus mengklarifikasi semua ini pada Saiful, dia mungkin tidak akan mengakuinya, namun kabar itu, ah, mengapa harus datang terlambat setelah ku serahkan pengabdianku padanya? Aku memang benar-benar bodoh, telah dibutakan oleh rayuan mautnya.

Esoknya, aku bertengkar hebat dengan Saiful, ia tidak mengakui apa yang telah dilakukannya selama ini, aku menyebut nama seseorang, Risma, temanku sendiri yang sempat menjadi pacarnya, ia mengelak dengan nada yang tak kalah sengit, aku terus memaksanya untuk mengaku, tidak aku tidak akan berhenti, sebelum ia benar-benar jujur, lama aku mendesaknya, dan lihatlah balasannya padaku, ia bilang Rismalah yang terus menggodanya, ia wanita kesepian yang datang mengejarnya, dan Saiful? Ia tidak mampu menolak, ah, aku tak habis pikir mengapa calon suamiku seperti ini? Apa yang telah dilakukannya selama ini? Bukankah nafsunya masih begitu menggebu? Ah, Saiful, mengapa begitu jahat? Aku tak mampu memikirkan apa yang telah terjadi diantara mereka, sejauh apa hubungan dan kontak fisik yang telah mereka lakukan, Tuhan aku benar-benar tidak terima ia demikian.

Rasa ragu meliputi perasaanku untuk melanjutkan hubungan dengannya, bahkan aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana seharusnya bertindak, karena setelah itu aku tidak begitu percaya dengan apa yang telah diucapkannya, terlebih saat ku ingin meminjam hpnya, ia selalu saja menolak, malah melampiaskan kemarahannya padaku karena telah tidak mempercayainya, airmataku benar-benar membuncah, sikapnya semakin menguatkan kebohongannya, kebenaran penyelewengannya juga diperkuat oleh orang sekitar yang mengiyakan berita dari Rosa. Hancur sudah kepercayaanku padanya, saat itu juga aku benar-benar ingin mengakhiri hubungan dengannya. Sakit, Selama ini aku tak pernah bermain hati dengan yang lain, aku tak menyangka ia begitu tega berbuat jahat di belakangku. 

Saat terpuruk itu aku sengaja berkunjung ke rumah Ibu Hamro’, kebetulan sekali Hamro’ sedang berada di rumah, pesantrennya libur, sekalian saja aku mengunjunginya, disana kami masih sempat bernostalgia melepaskan rindu, mengumbar senyuman tulus yang dengan mudah terulas untuk menyambutnya, selesai dengan itu semua, aku mulai bercerita tentang Saiful, calon suamiku, ku ungkapkan bagaimana ia sebenarnya dan apa yang telah ia lakukan padaku, kalimat yang keluar dari bibirku mengalir dengan lancar dihadapan Hamro’, ia mendengarkan dengan baik dan mencoba memahami perasaanku, aku merasa bersyukur memiliki tumpuan cerita yang ku percaya, keluarga Hamro’ adalah keluarga yang menjaga lisan dan mampu menjaga amanah, tak ada kekhawatiran saat aku dengan mudah membuka semua dihadapannya.

Aku meminta pendapat Hamro’, setelah mendengar semua penjelasanku tampak ada gurat kesal di wajahnya, sepertinya ia juga kecewa pada Saiful, apakah hubungan ini perlu dilanjutkan atau tidak? Dan jawaban yang ku terima dari Hamro’ adalah tidak, ia benar-benar tidak setuju jika aku meneruskan hubungan dengan Saiful, banyak pertimbangan katanya, dari segi agama, bukankah ia tidak pernah sholat, dari segi sifat, ia juga telah berbuat hal yang tidak pantas, dari segi harta, ia juga tak begitu berada, begitupun dengan nasab dan ketampanan, semuanya tak ada yang unggul, pertimbangan apalagi untuk mempertahankannya, katanya, aku berfikir sejenak, sepertinya aku masih menyisakan rasa suka padanya, namun ungkapan Hamro’ itu telah membuatku semakin mantap untuk mengundurkan diri dan mengakhiri hubungan ini dengannya. 

Kepada orangtua aku mengajukan apa yang ku rasa sebagai keputusan terbaik, ku ungkapkan pada mereka bagaimana Saiful yang sebenarnya, dan bagaimana niatku untuk mengakhiri pertunangan ini, aku telah mantap setelah menimbang dari berbagai segi, tinggal menanti jawaban dari orangtua,  dan tahukah jawaban apa yang ku terima setelah mengutarakan segalanya? sungguh aku sangat terkejut dengan keputusan mereka, terutama ibu yang begitu bersikukuh untuk mempertahankan hubungan kami, mereka memilih menafikan kabar itu, aku tahu, mungkin ibu akan malu jika pertunangan ini harus berakhir, kemarin ibu begitu bangga menyebarkan berita pertunanganku dengan adik Haji Farhan, sekali lagi adik Haji itulah kata-kata yang sering diunggulkannya dihadapan saudara-saudara dan para tetangga, jika hubungan ini berakhir keluarga tentu akan menanggung malu karenaku, terutama ibu yang sangat berbangga dengan pertunangan ini, label Haji itulah pertimbangannya, walau hanya adik, karena sebutan haji begitu sakral dikampung kami.

Pada akhirnya aku menyerah. Keputusan orangtua sudah tidak bisa diganggu gugat, sejujurnya aku sendiri masih menyimpan rasa suka pada Saiful, jika sudah demikian aku hanya perlu memaafkannya, memulai semuanya dari awal, mecoba untuk menerimanya kembali, berharap ia akan lebih baik, bukankah ia lebih memilih diriku untuk menjadi istrinya dari pada pacar-pacarnya yang kemarin? Ada sebersit harapan yang ku pendam, semoga saja setelah  kami menjadi suami istri ia akan berubah dan menjadi suami yang bertanggung jawab pada keluarganya.

Saksikanlah apa yang terjadi di keluargaku selanjutnya, semoga cerita ini bisa memberikan pelajaran yang baik untuk kalian.



0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES