Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 8)

Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 8)


Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 8)
Semua yang berpijak di dunia, ada masa kadarnya, rasa cinta, kebahagiaan, rasa sayang, seiring berjalannya waktu ia bisa memudar, dengan sendirinya, tak perlu menunggu lama, jika sang Kuasa sudah menghendaki, apa mau dikata, rasa itu akan mudah berubah seketika, hambar dan terasa tak bernyawa. Inilah dunia tempat ujian sang hamba.

Aku telah menikah dengan Saiful setahun lamanya, sejak ayah dan ibu menetapkan tanggal pernikahan kami di atas keraguan yang melanda, aku berkata pada Hamro’ dengan senyum mengembang bahwa aku memilih menikah dengan Saiful dengan sejuta keadaannya, ia sempat terkejut, namun seketika pasrah mengatakan mungkin aku dan Saiful memang ditakdirkan berjodoh. Meski tak bisa ku pungkiri gurat kurang setuju itu begitu terlihat di raut manisnya.

Mulailah aku melangkah di kehidupan yang baru, aroma baru dan suasana baru, meski tak sepenuhnya bisa dikatakan baru, karena aku sudah begitu mengenal suamiku, kami sudah  sering bersama, sejak pacaran dulu. Seiring menggelindingnya roda waktu, layar yang terpampang di depan mata semakin jelas terlihat, Saiful suamiku, telah sangat ku ketahui perangainya. 

Jika aku disuruh membuat prosentase tentang sikap positif dan negatifnya, maka menurutku 80% negative dan 20% positif, itu menurut kacamataku, entah bagaimana jika penilaian itu diserahkan pada orang lain, mungkin ia akan terlihat lebih baik, atau bahkan lebih buruk.

Kembali, aku bercerita kepada Hamro’ tentang kehidupan baruku setelah menikah, tepat satu tahun, setelah ia kembali ke Pesantren dan hadir kembali di rumahnya, sebenarnya aku sudah membeberkan apa yang terjadi padaku selama ini kepada ibundanya, namun untuk kali ini mumpung Hamro’ di rumah, aku tidak melewatkan kesempatan untuk berbagi dengannya, mungkin bisa ia jadikan pelajaran nanti jika memilih pasangan hidup.

Menikah ternyata tak sesederhana yang ku kira, memilih pendamping hidup yang tepat adalah hal yang sangat perlu diperhatikan, kegadisan hanya sekali seumur hidup, dan itu takkan pernah bisa dikembalikan lagi seperti sedia kala. Dulu aku tenang-tenang saja, usaha untuk menolak menikah dengan Saiful memang tak sepenuhnya ku kerahkan, sejujurnya aku sendiri masih merasakan ketergantungan untuk selalu bersamanya, aku dibutakan oleh cinta. Masa-masa indahlah yang menghiasi fikiran anak remajaku, menikmati saat-saat bersama, meraup kasih sayangnya, dan meraih kebahagiaan berkeluarga, aku kira semua itu akan mudah ku gapai, tapi kenyataannya, semua itu memang tak sesederhana yang ku angankan, menghadapi kemarahannya, menghadapi sifat kekanakanya, menghadapi ketidak agamisannya begitu membuatku terpana, mengelus dada, seandainya saja dulu aku bersikukuh menolak pernikahan, tentu saja aku masih memiliki kewenangan untuk melakukannya, mungkin aku masih memiliki kesempatan untuk memilih imam yang lebih baik, namun nasi sudah menjadi bubur, aku sudah terlanjur tercebur.

Hari-hari yang ku lalui bersamanya terasa begitu panjang, baru satu tahun menikah, rasanya sudah tak terhitung berapa masalah yang datang bertubi, sayangnya tanpa sadar, perlahan, keteguhan imanku semakin rapuh dalam melaksanakan kewajiban sholat lima waktu, aku tetap percaya pada Tuhan, namun untuk beribadah menyembah padaNya menjadi nomer sekian yang sering kali aku lalaikan, sebenarnya aku benar-benar tahu itu salah, namun di rumah tak ada yang begitu agamis, ibu dan ayahku juga jarang-jarang melaksanakan sholat lima waktu, pengaruh keluarga memang benar-benar menggoyahkan imanku, suatu saat nanti, entah kapan, aku ingin rajin menjalankan kewajiban sebagai hambaNya.

Sebenarnya, ada satu hal yang masih bisa ku unggulkan dari mas Saiful, ia memiliki kebaikan yang aku damba, hasil kerjanya selalu dilimpahkan pada istrinya, tentu saja padaku, meski tak seberapa namun aku bisa leluasa mengaturnya sendiri, ia hanya meminta jatah untuk membeli rokok dan kopi saat diluar rumah, di rumah aku sendiri yang menyediakan kopi untuknya. Itu dulu, tapi tidak untuk sekarang, sifat itu telah menghilang, semenjak ia pergi berkunjung ke rumah orangtuanya, disana ia mempunyai banyak saudara dan tetangga, aku tidak tahu siapa sejatinya orang yang telah mempengaruhi pola fikirnya hingga demikian. Hidupku terasa semakin sengsara saja, belanja telah dijatah sepuluh ribu rupiah perhari olehnya, kami menjadi sering bertengkar, hp, kaca lemari, pintu kamar, pecah setelah menjadi korban pelampiasan kemarahannya, barang-barang itu bersaksi di tengah ketidak harmonisan rumahtanggaku. 

Dan parahnya lagi, orang tua, terutama ibu yang dulu melindungi dan mengayomi, tiba-tiba seperti orang lain saja, Ia menjadi sangat perhitungan saat aku meminjam beras karena kehabisan persediaan, mungkin karena terlalu sering, kemarahannya pada Mas Saiful seperti dilampiaskan padaku, wajahnya tak ceria lagi seperti saat mengumbar kabar bahwa aku menikah dengan adik haji Farhan, jelas sudah kedudukan bukanlah segalanya, tak ada bandingnya setelah ia menyadari sendiri bahwa suamikupun tidak sopan padanya, Saiful terkadang juga bertengkar lepas dengan ibu, ah, aku tak tahu mengapa keduanya sama-sama tak ada yang mengalah, posisiku berada di tengah-tengah seperti ditampar kanan dan kiri, suami sudah seperti itu dan saat aku mengadu pada orangtua mereka akan berbalik memarahi dan menyalahkanku, mengungkit semua kejemuan ini karena ulahku, tak pernah lagi membahas kebanggaannya dulu saat menikahkanku dengan yang disebutnya adik haji Farhan.

Kepada Hamro’ dan ibunyalah aku mencurahakn segala sesak yang berdebum di dada, seperti beban yang begitu ingin ku hempaskan, namun terus hadir dan hadir, mereka mendengarkan, mengerti dan berbaik hati memberikanku bantuan saat aku dalam posisi terdesak, aku telah menceritakan semuanya pada mereka, termasuk tentang mas Saiful yang katanya bermain dibelakangku. Aku lelah, aku memilih tetap bertahan bersamanya, demi calon bayi yang berada dalam rahimku. Bayi yang begitu ku nantikan kehadirannya sebagai pelipur lara dan harapan baru akan masa yang lebih baik, bayi yang akan hadir didampingi oleh kedua orang tuanya yang utuh, demi ia (calon bayi) aku akan tetap bertahan bersama mas Saiful. Mungkin, dalam hidup ini aku sudah terbiasa mencicipi mahoni, walau rasanya begitu pahit namun semakin lama seperti hambar saja, rasaku padanya, mungkin telah sirna ditelan oleh segala lara yang telah tercipta. Hidup akan berjalan apa adanya, aku baik-baik saja, semua ini tidak mengapa.

Sejujurnya, saat salah memilih pasangan, maka kesalahan itu hanya akan berbuih penyesalan berkepanjangan, penyesalan yang tak mudah dihentikan hanya dengan membalikkan telapak tangan. Karena janji suci telah diucapkan, harapan yang menguatkan, dan benih dirahim yang membuatku bertahan, Aku telah memilih menikah dengannya, menjadi istri untuk melayani kebutuhan dzohir dan batinnya, melahap pahit manisnya.  Maaf, bahkan saat berhubungan badan suamiku jarang sekali melakukan mandi besar, sholat hanya dua kali dalam setahun, yaitu sholat hari raya idul fitri dan idul adha. Awalnya aku bukan main terkejut, meskipun pemahaman agamaku tidak terlalu baik, namun aku masih menjalankan kewajiban mandi besar setelah berhubungan suami istri, sedang ia, berbusa rasanya aku membual untuk menasehatinya, ia yang keras kepala tak kan menghiraukan, lama-lama aku menjadi terbiasa dengan semua itu. 

Sebenarnya, dulu tanda-tanda itu sudah berisyarat, sayangnya semua itu ku terjang berkat tabir harapan dan hawa nafsu yang menyambut hari besarku, hari saat aku menjadi ma’mumnya. 

Bila aku boleh berpesan, selektiflah memilih pasangan, terutama lihatlah agama dan perangainya, janganlah hanya karena rasa cinta seorang wanita sampai dibutakan oleh kelakuannya yang kelak hanya berbuah lara dan sengsara, karena semua itu sudah ku rasakan getahnya, jadi benar-benar berhati-hatilah, terutama engkau kaum remaja, semoga kita diberikan kesabaran oleh Allah SWT. aamiin.


0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES