Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 6)

Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 6)

Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 6)
Hari ini aku bertemu lagi dengannya, setelah satu tahun tak berjumpa karena  harus menimba ilmu di pesantren, sejujurnya waktu sesingkat itu belum begitu memberikan kontribusi yang mendalam untuk kehidupan agamaku, banyak hal yang masih belum ku mengerti, keluarga kami memang tak begitu menekan soal agama, bahkan orang tuaku jarang melaksanakan sholat lima waktu, kadang sholat kadang tidak, begitupun denganku sebelum berada di pesantren, namun semenjak di pesantren sedikit demi sedikit kebiasaan dan peraturan yang harus dipatuhi membuatku rutin melaksanakan sholat lima waktu, entahlah kebiasaan itu akan bertahan atau tidak, untuk saat ini kebiasaan itu tetap bertahan, efek dari pesantren masih begitu ku rasa, semoga saja kebiasaan keluarga di rumah tidak mempengaruhiku, meski aku tidak begitu yakin akan kuat.

Aku jadi tahu mengapa orang tua membawaku ke pesantren, salah satu alasan terbesarnya adalah mempersiapkan diriku untuk menikah, istilahnya adalah selingan waktu untuk mencapai usia yang lumayan, saat ini usiaku mencapai 17 tahun, bagi orang desa disini usia demikian sudah lazim untuk betunangan ataupun menikah, terang sudah,  alasan mendalami agama sepenuhnya bukan alasan yang utama, sejak semula aku memang dipersiapkan untuk hal ini. Menikah. Ah menikah? aku senang mendengarnya, pun tidak sabar. 

 Saiful datang ke rumah, meminta izin orang tua untuk membawaku jalan-jalan, dengan ringan mereka mengizinkanku, bahkan tak ada larangan atau pesan apapun, adat di desaku memang begitu, bagi mereka, bertunangan artinya pacaran yang resmi, bahkan sudah hampir sama dengan menikah, bedanya hanya tidak tinggal bersama, walau ada sebagian dari mereka yang sering kali menginap dirumah pasangannya,  mereka (orang tua) tidak akan melarang putrinya dibawa kemana-mana oleh tunangannya, rata-rata memang demikian, jadi tak jarang banyak pasangan yang hamil sebelum menikah, seakan-akan hal itu bukanlah sebuah aib, hal seperti ini sudah mewabah di desaku, terkecuali kelurga yang memegang erat prinsip agama, kalau disini seperti istri bang Ferdi dan anak-anaknya, meski bang Ferdi tak begitu mendalam perihal agama, namun istri dan anak-anaknya yang sejak itu ku ketahui kakek mereka adalah seorang Kyai hafal al-Qur’an (dari jalur istri bang Ferdi, karena bang Ferdi masih saudaraku) begitu erat memegang prinsip syariat, putrinya yang bernama Hamro’ saat ini sudah berada di Pesantren, kepada dialah biasanya aku menumpahkan cerita dan meminta pertimbangan, namun saat ia tak ada (belum liburan pesantren) kepada istri bang Ferdi ibunya Hamro’lah aku sering melampiaskan atau bertanya banyak hal, bagiku mereka seperti ruang berkonsultasi,  maklumlah jika kekuatan agama begitu melekat, nasab mereka adalah orang-orang alim yang pasti mendoakan keturunannya. Namun tak menutup kemungkinan walau nenek moyangnya bukan ulama’ anak turunnya bisa juga menjadi orang alim, semua terserah Allah yang mengatur.

Kami menghabiskan waktu bersama, ia membawaku ke rumahnya, bertemu dengan keluarganya dan makan disana, calon ibu mertua memperlakukanku dengan baik, sejujurnya aku terkejut saat melihat rumah Saiful yang jauh dari prediksi, sangat melesat dari bayanganku, kakaknya memang Haji namun biaya yang dimilikinya adalah berkat usaha istrinya yang maju dan sukses, bukan karena harta keluarganya sendiri, rumah Saiful masih menggunakan anyaman bambu, tak jauh beda sebenarnya dengan rumahku, namun dirumah hanya sebagian yang menggunakan anyaman bambu, selebihnya sudah menggunakan dinding tembok. 

Aku tak ingin mempermasalahkan hal itu, karena bisa bersatu dengannya sudah membuat perasaanku senang, sepertinya aku telah dibutakan oleh cinta, bagaimana tidak, ternyata Saiful tidak melakukan sholat lima waktu, dia benar-benar meninggalkannya, aku tak bisa memaksa, ia akan tersinggung jika aku membahas tentang sholat, sedikit sedih memang, namun perasaanku, tetap saja tak bisa menolaknya untuk bersama denganku. 

Kami sering keluar, dua insan yang dimabuk cinta, tak ada larangan walau kami belum melangsungkan pernikahan, ku akui benteng imanku memang tak terlalu kuat, hari demi hari terus berlalu, sekali dua kali aku lalai melaksanakan sholat, dan tanpa terasa saat hal itu sudah sering berlangsung, aku menjadi ringan meninggalkannya, ah, imanku memang naik turun untuk hal itu.

Mungkin seperti yang kalian kira, bagaimana jika dua insan, laki-laki perempuan yang masih muda dibiarkan bersama? Sedangkan mereka masih memuja-muja cinta, Apa yang terjadi? Sedang nafsu masih begitu menggebunya?

Benteng iman yang lemah, kenikmatan yang terngiang dalam memori telah membutakan segalanya, setiap kali ada kesempatan, ia meraihku mesra, walau tidak sampai menjamah tempat terlarang (keperawananku), untuk hal itu aku belum bisa menyerahkannya, setidaknya sampai disitulah imanku dalam mempertahankan kesucian sebelum berlangsungnya pernikahan. 

Namun suatu hari aku mendengar sebuah kabar besar, kabar yang sejujurnya melukai perasaanku, kabar yang tak sengaja aku terima, kabar yang tak pernah ku inginkan adanya, namun tak bisa lagi ku hindari, membuatku dilema dan tak tahu harus bagaimana menghadapinya.


0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES