Hari ini aku
bertemu lagi dengannya, setelah satu tahun tak berjumpa karena harus menimba ilmu di pesantren, sejujurnya
waktu sesingkat itu belum begitu memberikan kontribusi yang mendalam untuk
kehidupan agamaku, banyak hal yang masih belum ku mengerti, keluarga kami
memang tak begitu menekan soal agama, bahkan orang tuaku jarang melaksanakan
sholat lima waktu, kadang sholat kadang tidak, begitupun denganku sebelum
berada di pesantren, namun semenjak di pesantren sedikit demi sedikit kebiasaan
dan peraturan yang harus dipatuhi membuatku rutin melaksanakan sholat lima
waktu, entahlah kebiasaan itu akan bertahan atau tidak, untuk saat ini
kebiasaan itu tetap bertahan, efek dari pesantren masih begitu ku rasa, semoga
saja kebiasaan keluarga di rumah tidak mempengaruhiku, meski aku tidak begitu yakin
akan kuat.
Aku jadi tahu
mengapa orang tua membawaku ke pesantren, salah satu alasan terbesarnya adalah
mempersiapkan diriku untuk menikah, istilahnya adalah selingan waktu untuk
mencapai usia yang lumayan, saat ini usiaku mencapai 17 tahun, bagi orang desa
disini usia demikian sudah lazim untuk betunangan ataupun menikah, terang sudah,
alasan mendalami agama sepenuhnya bukan
alasan yang utama, sejak semula aku memang dipersiapkan untuk hal ini. Menikah.
Ah menikah? aku senang mendengarnya, pun tidak sabar.
Saiful datang ke rumah, meminta izin orang tua
untuk membawaku jalan-jalan, dengan ringan mereka mengizinkanku, bahkan tak ada
larangan atau pesan apapun, adat di desaku memang begitu, bagi mereka,
bertunangan artinya pacaran yang resmi, bahkan sudah hampir sama dengan
menikah, bedanya hanya tidak tinggal bersama, walau ada sebagian dari mereka
yang sering kali menginap dirumah pasangannya, mereka (orang tua) tidak akan melarang
putrinya dibawa kemana-mana oleh tunangannya, rata-rata memang demikian, jadi
tak jarang banyak pasangan yang hamil sebelum menikah, seakan-akan hal itu
bukanlah sebuah aib, hal seperti ini sudah mewabah di desaku, terkecuali
kelurga yang memegang erat prinsip agama, kalau disini seperti istri bang Ferdi
dan anak-anaknya, meski bang Ferdi tak begitu mendalam perihal agama, namun
istri dan anak-anaknya yang sejak itu ku ketahui kakek mereka adalah seorang
Kyai hafal al-Qur’an (dari jalur istri bang Ferdi, karena bang Ferdi masih
saudaraku) begitu erat memegang prinsip syariat, putrinya yang bernama Hamro’
saat ini sudah berada di Pesantren, kepada dialah biasanya aku menumpahkan
cerita dan meminta pertimbangan, namun saat ia tak ada (belum liburan pesantren)
kepada istri bang Ferdi ibunya Hamro’lah aku sering melampiaskan atau bertanya
banyak hal, bagiku mereka seperti ruang berkonsultasi, maklumlah jika kekuatan agama begitu melekat,
nasab mereka adalah orang-orang alim yang pasti mendoakan keturunannya. Namun tak
menutup kemungkinan walau nenek moyangnya bukan ulama’ anak turunnya bisa juga
menjadi orang alim, semua terserah Allah yang mengatur.
Kami
menghabiskan waktu bersama, ia membawaku ke rumahnya, bertemu dengan
keluarganya dan makan disana, calon ibu mertua memperlakukanku dengan baik,
sejujurnya aku terkejut saat melihat rumah Saiful yang jauh dari prediksi,
sangat melesat dari bayanganku, kakaknya memang Haji namun biaya yang
dimilikinya adalah berkat usaha istrinya yang maju dan sukses, bukan karena
harta keluarganya sendiri, rumah Saiful masih menggunakan anyaman bambu, tak
jauh beda sebenarnya dengan rumahku, namun dirumah hanya sebagian yang
menggunakan anyaman bambu, selebihnya sudah menggunakan dinding tembok.
Aku tak ingin
mempermasalahkan hal itu, karena bisa bersatu dengannya sudah membuat
perasaanku senang, sepertinya aku telah dibutakan oleh cinta, bagaimana tidak,
ternyata Saiful tidak melakukan sholat lima waktu, dia benar-benar
meninggalkannya, aku tak bisa memaksa, ia akan tersinggung jika aku membahas
tentang sholat, sedikit sedih memang, namun perasaanku, tetap saja tak bisa
menolaknya untuk bersama denganku.
Kami sering
keluar, dua insan yang dimabuk cinta, tak ada larangan walau kami belum
melangsungkan pernikahan, ku akui benteng imanku memang tak terlalu kuat, hari
demi hari terus berlalu, sekali dua kali aku lalai melaksanakan sholat, dan
tanpa terasa saat hal itu sudah sering berlangsung, aku menjadi ringan
meninggalkannya, ah, imanku memang naik turun untuk hal itu.
Mungkin
seperti yang kalian kira, bagaimana jika dua insan, laki-laki perempuan yang
masih muda dibiarkan bersama? Sedangkan mereka masih memuja-muja cinta, Apa yang
terjadi? Sedang nafsu masih begitu menggebunya?
Benteng iman
yang lemah, kenikmatan yang terngiang dalam memori telah membutakan segalanya,
setiap kali ada kesempatan, ia meraihku mesra, walau tidak sampai menjamah
tempat terlarang (keperawananku), untuk hal itu aku belum bisa menyerahkannya,
setidaknya sampai disitulah imanku dalam mempertahankan kesucian sebelum
berlangsungnya pernikahan.
Namun suatu
hari aku mendengar sebuah kabar besar, kabar yang sejujurnya melukai
perasaanku, kabar yang tak sengaja aku terima, kabar yang tak pernah ku
inginkan adanya, namun tak bisa lagi ku hindari, membuatku dilema dan tak tahu harus bagaimana menghadapinya.

0 komentar