Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 5)

Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 5)


Mungkin sudah bisa kalian tebak, siapakah kiranya yang datang ke rumahnya,  ini dari kisah nyata, jadi apa adanya.
Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 5)
Rasa penasaran yang sedari tadi menyelubungi perasaanku terjawab sudah, betul-betul mengejutkan, bagaimana tidak seorang ibu-ibu dengan usia sekitar 60 tahunan datang ke rumah seorang diri menyatakan suatu hal yang diluar dugaanku, tak kusangka akan secepat ini. 

“ini Ibu Saiful Nisa’, dia datang kesini karena permintaan anaknya untuk melamarmu” terang ibu, tetap saja membuat pertanyaan besar diruang kepalaku masih meliuk-liuk tak percaya, bagaimana bisa? Begitu tiba-tiba, jadi ini alasan orang tua menjemputku lebih cepat dari pondok? Dan mungkin ini juga mengapa ada kakak disini, secepat itukah? 


“iya, nak Nisa’, Saiful ingin menjadikan kamu sebagai istrinya, apakah kamu mau? Ibu sudah berbicara dengan orang tuamu di hari kemarin saat kamu masih di pondok, katanya kalian sudah pacaran” 


Aku tertunduk malu, saat Ibu Saiful dengan jelas mengatakan bahwa anaknya pacaran denganku, sejujurnya hatiku melonjak senang, sekaligus geleng-geleng mendengar kenyataan tak dinyana ini, aku dan dia akan bertunangan, impian yang memang sejak saat itu sudah aku idamkan.


“gimana, kamu mau?” 


Aku tersentak kaget, merasakan tangan ibu menyentuh pundakku, lamunanku seketika itu buyar, rupanya ibu menanti jawaban, ah siapa yang tidak bersedia menikah dengan kekasih sendiri, tentu saja, walau tanpa ditanya sudah pasti aku mengiyakan.


“mau bu” jawabku mantap.


“Saiful dimana bu? Kok tidak ikut?” tanyaku pada beliau, yang kali ini akan menjadi calon ibu mertua, keriput sudah meliputi kulitnya, wajahnya tanpa riasan, hanya kerudung yang melilit dan membuatnya terlihat lebih rapi.


“Sekarang dia ikut masnya ke pasar sapi, setiap selasa dia membantu kakaknya” Ibu Saiful memberi keterangan, sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah bungkusan, tas ala ibu-ibu.


Oh rupanya Saiful ikut Haji Farhan kakaknya di pasar sapi, pantas saja ia tidak hadir, tapi mengapa ia tidak menyempatkan diri datang kesini? Aku sudah merindukannya, ingin segera bertemu dengannya. Aku tak sabar ingin bertatap dengan sorot matanya yang penuh cinta. Saiful, apa kabarmu kasihku? Kau memberikan kejutan begitu indah padaku, aku ingin membuncahkan kebahagiaan ini dan mengucapkan terimakasih karena kau benar-benar serius padaku. Aku harus bersabar ya? Baiklah, akan aku tanyakan pada ibumu kapan kita bisa bertemu.


“Kapan kira-kira Saiful bisa kesini bu?”


Lagi-lagi rasa penasaran tak bisa terbendung, maklum rasa rinduku sudah meluap, mumpung ada sumber informasi, tak sabar sudah, aku ingin ia hadir disini. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku.


“Besok katanya ia mau kesini, oh iya ini ada titipan dari Saiful” 


Ibu Saiful menyodorkan sesuatu di balik bungkusan kado kecil untukku, aku menerimanya penasaran, menebak-nebak apa yang berada di dalamnya. 


“apa ini bu?” selingku basa-basi, meski ku tahu tak perlu lagi bertanya.

“buka saja” perintahnya.


Aku tak sabar ingin segera melihat isinya, seperti tak ada masanya, begitu ringan, perlahan ku buka kado kecil itu, tak hentinya fikiranku menebak-nebak isi di dalamnya, dan saat kado itu terbuka, terjawab sudah rasa penasaran, begitu riangnya hatiku saat melihat sebuah benda berbentuk lingkaran kecil berwarna mas seakan tersenyum manis padaku, itu cincin emas, ku ambil dan dengan segera mencobanya, indah, mungkin mataku berbinar-binar karena riang yang tak bisa lagi ku bahasakan.


“itu cincin tunangan, kalian saat ini sudah resmi bertunangan” sambung ibuku. Memberikan keterangan singkat. 


Aku menatap mereka penuh arti, ibu dan calon ibu mertua turut tersenyum merasakan keriangan hatiku, Tuhan, sesederhana itukah? Ah, tak disangka aku sudah resmi menjadi tunangannya. Saiful, dia telah mengikatku untuk bersiap menjadi istrinya, kami akan segera bertemu, esok hari, namun sehari terasa lama sekali. Hmm, aku sudah tak sabar lagi.


kami memang bertemu, tanpa basa basi hari-hari yang telah ia lalui, dan saat itulah ujian datang padaku, menggetarkan hati dan menawarkan pilihan besar dalam hidupku. Suatu hal besar telah terjadi, dan lihatlah apa tindakan yang telah ku pilih.





0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES