Mungkin sudah bisa kalian tebak,
siapakah kiranya yang datang ke rumahnya, ini dari kisah nyata, jadi
apa adanya.
Rasa penasaran yang sedari tadi
menyelubungi perasaanku terjawab sudah, betul-betul mengejutkan, bagaimana
tidak seorang ibu-ibu dengan usia sekitar 60 tahunan datang ke rumah seorang
diri menyatakan suatu hal yang diluar dugaanku, tak kusangka akan secepat ini.
“ini Ibu Saiful Nisa’, dia datang
kesini karena permintaan anaknya untuk melamarmu” terang ibu, tetap saja
membuat pertanyaan besar diruang kepalaku masih meliuk-liuk tak percaya,
bagaimana bisa? Begitu tiba-tiba, jadi ini alasan orang tua menjemputku lebih
cepat dari pondok? Dan mungkin ini juga mengapa ada kakak disini, secepat
itukah?
“iya, nak Nisa’, Saiful ingin
menjadikan kamu sebagai istrinya, apakah kamu mau? Ibu sudah berbicara dengan
orang tuamu di hari kemarin saat kamu masih di pondok, katanya kalian sudah
pacaran”
Aku tertunduk malu, saat Ibu
Saiful dengan jelas mengatakan bahwa anaknya pacaran denganku, sejujurnya
hatiku melonjak senang, sekaligus geleng-geleng mendengar kenyataan tak dinyana
ini, aku dan dia akan bertunangan, impian yang memang sejak saat itu sudah aku
idamkan.
“gimana, kamu mau?”
Aku tersentak kaget, merasakan
tangan ibu menyentuh pundakku, lamunanku seketika itu buyar, rupanya ibu menanti
jawaban, ah siapa yang tidak bersedia menikah dengan kekasih sendiri, tentu
saja, walau tanpa ditanya sudah pasti aku mengiyakan.
“mau bu” jawabku mantap.
“Saiful dimana bu? Kok tidak
ikut?” tanyaku pada beliau, yang kali ini akan menjadi calon ibu mertua,
keriput sudah meliputi kulitnya, wajahnya tanpa riasan, hanya kerudung yang
melilit dan membuatnya terlihat lebih rapi.
“Sekarang dia ikut masnya ke
pasar sapi, setiap selasa dia membantu kakaknya” Ibu Saiful memberi keterangan,
sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah bungkusan, tas ala ibu-ibu.
Oh rupanya Saiful ikut Haji
Farhan kakaknya di pasar sapi, pantas saja ia tidak hadir, tapi mengapa ia
tidak menyempatkan diri datang kesini? Aku sudah merindukannya, ingin segera
bertemu dengannya. Aku tak sabar ingin bertatap dengan sorot matanya yang penuh
cinta. Saiful, apa kabarmu kasihku? Kau memberikan kejutan begitu indah padaku,
aku ingin membuncahkan kebahagiaan ini dan mengucapkan terimakasih karena kau
benar-benar serius padaku. Aku harus bersabar ya? Baiklah, akan aku tanyakan
pada ibumu kapan kita bisa bertemu.
“Kapan kira-kira Saiful bisa
kesini bu?”
Lagi-lagi rasa penasaran tak bisa
terbendung, maklum rasa rinduku sudah meluap, mumpung ada sumber informasi, tak
sabar sudah, aku ingin ia hadir disini. Pertanyaan itu meluncur begitu saja
dari bibirku.
“Besok katanya ia mau kesini, oh
iya ini ada titipan dari Saiful”
Ibu Saiful menyodorkan sesuatu di
balik bungkusan kado kecil untukku, aku menerimanya penasaran, menebak-nebak
apa yang berada di dalamnya.
“apa ini bu?” selingku basa-basi,
meski ku tahu tak perlu lagi bertanya.
“buka saja” perintahnya.
Aku tak sabar ingin segera
melihat isinya, seperti tak ada masanya, begitu ringan, perlahan ku buka kado
kecil itu, tak hentinya fikiranku menebak-nebak isi di dalamnya, dan saat kado
itu terbuka, terjawab sudah rasa penasaran, begitu riangnya hatiku saat melihat
sebuah benda berbentuk lingkaran kecil berwarna mas seakan tersenyum manis
padaku, itu cincin emas, ku ambil dan dengan segera mencobanya, indah, mungkin
mataku berbinar-binar karena riang yang tak bisa lagi ku bahasakan.
“itu cincin tunangan, kalian saat
ini sudah resmi bertunangan” sambung ibuku. Memberikan keterangan singkat.
Aku menatap mereka penuh arti,
ibu dan calon ibu mertua turut tersenyum merasakan keriangan hatiku, Tuhan,
sesederhana itukah? Ah, tak disangka aku sudah resmi menjadi tunangannya.
Saiful, dia telah mengikatku untuk bersiap menjadi istrinya, kami akan segera
bertemu, esok hari, namun sehari terasa lama sekali. Hmm, aku sudah tak sabar
lagi.
kami memang bertemu, tanpa basa basi hari-hari yang telah ia lalui, dan saat itulah ujian datang padaku, menggetarkan hati dan menawarkan pilihan besar dalam hidupku. Suatu hal besar telah terjadi, dan lihatlah apa tindakan yang telah ku pilih.

0 komentar