Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 3)

Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 3)

Bagaimana, jadi kalian ingin tahu kelanjutan cerita itu? Baiklah, nikmati suguhan selanjutnya ya,, terimakasih sudah setia membaca dan menantikan kelanjutannya.
Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 3)
Segenap rona manis dunia remaja singgah dalam fikiran, sebagai wanita yang tak begitu mengerti agama, hidupku terasa mengalir bagai daun yang terbawa arus, aku tahu apa yang ku perbuat tidak sepenuhnya dibenarkan, namun dinding imanku begitu rapuh hingga dengan mudahnya rayuan syetan datang ke pangkuanku, menawarkan madu manis untuk bunga yang baru mekar. Andai saja aku mengerti, kala itu aku harus segera berenang ketepi agar tak terhanyut oleh gelombangnya, kemungkinan aku masih bisa terselamatkan. Namun nyatanya? Ahh, sudahlah.

Dua manusia yang sama-sama dimabuk cinta, aku tak mengerti manakah cinta dan manakah nafsu belaka? Di suatu kesempatan aku kembali berjalan bersamanya, menikmati angin malam yang dingin, desaku menjadi saksi bisu, aku berdua dengannya, menggamit lengannya, menikmati kebersamaan di belakang stand pasar malam, tepatnya di lapangan tempat kami bertemu pertama kali. Kebetulan setahun sekali, lapangan sepak bola itu disulap menjadi pasar malam, sebuah hiburan untuk kami orang desa yang merindukan keramaiain. Sementara itu di belakang stand sepi, memang itulah yang kami cari, kesempatan syetan untuk merasuki dua insan yang menepis dosa, menyisihkan rasa bersalah untuk sebuah kenikmatan sementara. Aku tenggelam dalam sebuah noda, meski tak basah sepenuhnya.

Sekitar pukul 22.00 aku kembali kerumah, hanya perlu berjalan kaki untuk menempuh jarak antara pasar malam dan rumahku, waktu berangkat ke pasar malam, tadinya aku bersama teman-teman wanita yang lain, namun sesampainya disana kami saling berpencar bertemu dengan kekasihnya masing-masing. Aku memasang wajah tak bersalah, saat kembali ke rumah seorang diri, seperti hari-hari sebelumnya, tampak polos dihadapan mereka, ada kakak yang sedang duduk di ruang tamu, kopi berada di mejanya, entah mengapa aku merasa kedatanganku disambut dengan tatapan tak bersahabat olehnya, meski tak tersenyum biasanya ada saja kata-kata yang ia sampaikan, entah bertanya atau sekedar menyuruhku istirahat. Namun kali itu, ia hanya diam dengan kerutan di dahinya, itu bukan dia yang biasanya, ada apa gerangan? Aku tak mengerti mengapa tatapannya seperti marah padaku, ada yang salah? Batinku. Sejenak, aku berdiri mematung, membalas tatapan, sekadar memastikan pandangan anehnya, nyatanya aku semakin merasa salah tingkah saat kakak mulai berdiri mendekati dan mengamatiku dari dekat, seperti ada sesuatu yang aneh, ia menatap leherku.

“kenapa ini??” tanyanya dengan penekanan mendalam dan amarah yang terpendam. Tangannya mengacung ke leherku.

aku terkejut bukan main, dengan segera aku berusaha menutupinya, bagaimana mungkin itu membekas? Cepat-cepat aku merapat ke cermin di ruang tengah. Astaga, merah-merah itu memang terpampang jelas, sangat pantas kakak seperti ingin menelanku bulat-bulat. Aku berlari kekamar, ia berteriak dan mengomeliku habis-habisan, apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah kepalang basah, ayah dan ibu pasti akan segera tahu.

Tak salah lagi, esok paginya aku disidang oleh ayah dan ibu, kakak sudah pasti melaporkan kelakuanku, aku terdiam dan merasa bersalah saat mereka mengintrogasiku di ruang tamu. Katanya, aku masih anak sekolah, kelas tiga SMP, tidak pantas berpacaran apalagi sampai leherku merah seperti itu. Aku diam saja, jauh di hati kecilku, aku menyadari bahwa perbuatanku sangat tidak pantas, tak ada pembelaan ataupun perlawanan dariku, aku benar-benar terdakwa dan tersangka dengan bukti nyata. Ayah menanyakan siapa laki-laki itu, awalnya aku tak berani membuka suara, namun ibu mendesakku terus menerus, tak tahan akhirnya ku ungkapkan saja siapa laki-laki yang selama ini dekat denganku, Ku sampaikan pada mereka kalau laki-laki itu adalah Saiful. 

Mereka terdiam sejenak, mengingat nama Saiful di daftar ingatan mereka. Ibulah yang terlihat lebih keras berfikir.
"Saiful, adik Haji Farhan?" Tanya ibu meyakinkan dirinya.
"ia bu, benar"
Ungkapku dengan suara tertahan, aku tak bisa mereka-reka apa tindakan yang akan diambil mereka atas hal yang terjadi padaku. Masih beruntung tidak ada  pukulan yang mendarat ditubuhku, mengingat kesalahanku cukup fatal. 

Ku perhatikan, ada perubahan dari ekspresinya, ibu seperti berfikir ulang, entah, setelah menyebut nama itu, sepertinya kepanikan ibu sedikit meluruh, rautnya tak lagi semencekam tadi, akupun lebih tenang, mungkin ada pertimbangan setelah ia mengetahui orangnya.


Dan ternyata, berkat kejadian itu, setelah lulus SMP orang tua membawaku ke Pesantren untuk menimba ilmu agama, dengan berat hati aku pergi,meninggalkan desa, keluarga dan dia, aku benar- benar berharap dia disana setia menantiku, kata Ibu kalau sudah saatnya ia akan segera menjemputku dari pesantren, aku berangkat dan hanya mampu mengiyakan, menanti saat itu tiba.

Terhitung hanya satu tahun di Pesantren, aku dijemput oleh ayah dan ibu, ada sebuah alasan mereka begitu cepat menjemputku, entah apa itu, rasa berat bercampur sedih tiba-tiba menelusup saat aku harus meninggalkan aktifitas di pesantren yang sejatinya sudah mulai ku nikmati, teman-teman baru, para ustadzah, aku harus berpisah dengan mereka, benar-benar pertemuan yang sebentar, walau demikian kenangan itu akan selalu ku simpan dalam memori manisku, banyak pelajaran yang dapat ku petik dari Pesantren. Dan itu begitu berarti.

Letak Pesantrenku sebenarnya tidak terlalu jauh, masih dalam satu kota, namun jaraknya membentang, karena harus melewati daerah-daerah yang masih sepi penduduk, banyak sawah di sepanjang jalan, penduduknya masih sedikit, polusi sangat minim, berbeda sekali dengan jalan raya yang tidak jauh dari desaku, sawah-sawah yang dulu terbentang mulai jarang ditemui, karena kini sudah disulap menjadi rumah-rumah masyarakat. Mungkin sekitar 20 KM, aku sudah bisa mencapai pesantrenku. Aku berjanji, suatu saat akan mengunjunginya kembali di waktu luangku.

Dan alasan itu, mengapa ayah dan ibu tiba-tiba sekali menjemputku, aku masih belum mengerti. Mereka tak bersedia memberitahu. Tapi tak kan lama lagi, aku pasti mengetahuinya.

Tobe Continue di Sepuluh Ribu Rupiah Itu (Part 4)


0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES