Goresan Tintaku, Inilah Misterinya

Goresan Tintaku, Inilah Misterinya



Goresan Tintaku "Inilah Misterinya"


Bismillahirrahmanirrahim,,
Ehem, baiklah aku akan mulai berkisah,,

Hadir di dunia ini, bagiku adalah sebuah misteri, berada dalam rahim ibu selama 10 bulan. Terlahir dari pasangan Muhlis dan Khalawatul maghfiroh, melalui bantuan dukun beranak di kediaman kakekku  Bondowoso Jum’at, 03 Juni 1994.  Jika aku harus bercerita tentang bagaimana awalku menulis, fikiran ini akan langsung berkelana mengingat memori di masa lalu, memori tentang hembusan waktu yang yang telah terlewati, sebuah kenangan yang begitu berkuasanya menghadirkan nostalgia ingatan yang begitu dalam, hingga tak terasa  hati dengan ringannya berdzikir atas kuasaNya yang tak terjangkau oleh nalar. 

Subhanallah,, kuasa Tuhan yang telah menghadirkan waktu, menyuguhkan fase-fase, proses dan segala kenangan yang telah berlalu. Kadang aku terhenyak, tersentak menyadari mataku menatap dunia yang tiba-tiba hadir membentang dengan sejuta misterinya, sementara saat ini aku sedang menuangkan tulisan sebagai lampiasan suara hati yang terus bertalu-talu.

Aku rasa, aku mulai mendalami dunia tulis menulis sejak SMP kelas delapan, saat usiaku menginjak 12 tahun, benar 12 belas tahun, mungkin ada yang bertanya 12 tahun bukannya kelas enam SD?, umumnya memang umur sekian, tapi aku bukan yang umum, juga tidak terlalu khusus, sebuah takdir yang sudah tak bisa ku ubah saat teman-teman sering mengolokiku si pendek, aku memang tidak terlalu tinggi, salah satu alasan juga bahwa umurku terpaut dua tahun dari teman-teman sekelasku. Jadi, di usia lima tahun aku mulai mengenyam pendidikan SD dan itupun berawal secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan orang tua, (lah kok bisa?-red) ya bisa saja. Aku terlahir di desa. Saat teman-temanku yang terpaut usia lebih tua satu atau dua tahun dariku mulai mengenyam pendidikan SD, aku yang pada waktu itu berusia lima tahun, berusaha mengikuti mereka, ikut memasuki kelas karena tak ingin di tinggal teman-teman, wal hasil, guru yang ada di dalam kelas menyangka diriku juga murid dalam kelas itu dan serta merta menyertakan namaku di urutan absen, anak perempuan umur lima tahun bernama Wardatul Jannah. Aku masih ingat baju bebas yang ku kenakan bukan sebuah masalah, pensil dan buku sudah tersedia, pak Guru yang memberinya. 
Sekolah pada waktu itu tidak sedisiplin sekolah era sekarang, aku memang tak berniat sekolah, siapa juga yang peduli aku bersekolah atau bukan, yang jelas naluri kecilku tergerak untuk mengikuti titah orang mirip bapak-bapak yang ada di dalam kelas, yang kemudian aku panggil dengan sebutan pak Guru, seperti teman-temanku yang lain, mereka memegang pensil dan menulis angka satu, huruf-huruf, berulang-ulang sampai satu halaman, begitu pula, akupun mengikutinya. Selama berhari-hari aku melakukan aktifitas seperti teman-teman yang lain, dan tentu saja, tak lama berselang ibu mulai mencium sesuatu yang berbeda dari aktifitasku, entah mendapatkan informasi dari siapa, ibu mengetahui bahwa ternyata aku bersekolah, akhirnya tanpa babibu, ibu datang menemui wali kelasku untuk mengajukan pengunduran diri anaknya menjadi murid, dengan alasan terlalu dininya umur. Hahaha, tapi bagaimana lagi, anak sudah terlanjur betah, tak mau di paksa, dan guru malah mendukung untuk tetap bersekolah. Walhasil, aku mulai benar-benar resmi menjadi murid SDN Jetis 03 atas restu orang tua. 

Bagaimanapun, sebenarnya aktifitas menulis tidak terlepas dari peran orang tua, entah ini sebuah peristiwa aneh, ajaib atau hanya kebetulan.   

Suatu hari ibu pernah berkisah padaku, di tempat tidur, saat kita akan memulai mimpi, aku berbaring di sampingnya, lebih tepatnya disamping adik kecilku yang sedang diteteki, karena keadaan demikian membuatku nyaman, entah kenapa, berkumpul bersama melegakan, memberikan ketenangan dan mengusir rasa sepi. Suara ibu yang memecah keheningan bagai taburan bibit yang tumbuh subur dalam ingatan, mimpi ibu, harapan, kisah kasih, sedikit demi sedikit mengalir tercurah ke pendengaranku, usiaku waktu itu belum mencapai akil baligh, sekitar usia tujuh tahun ku rasa, karena adikku masih diteteki, itu berkisar umur dua atau tiga tahun, berjarak enam tahun dari kelahiranku, namun aku masih ingat benar air mataku mengalir saat ibu menceritakan tentang kisahnya yang tak senada dengan harapan. 

Jika ku ceritakan secara rinci mungkin ini akan menjadi sebuah novel. Singkatnya, ibu memiliki mimpi menjadi seorang pendidik dan penulis, melanjutkan pendidikan ke jenjang-jenjang yang lebih tinggi, namun suatu hal yang rasanya tak perlu ku sebutkan karena terlalu rumit jika harus ku ungkap telah meluluh lantakkan impian ibu yang takkan terulang lagi di usianya yang kini mulai menapak senja. Pendidikan ibu berhenti di SLTP, karena janji kakek untuk menyekolahkannya tiba-tiba tidak di indahkan, pupus sudah harapannya, karena selanjutnya ibu dimasukkan di sebuah pesantren salaf  atau yang dikenal dengan pesantren tanpa sekolah formal, hanya dipersiapkan untuk menjadi seorang istri yang sholihah. Berada di pesantren memang tepat itu juga termasuk harapan ibu, namun ibu ingin berada di pesantren yang juga menyediakan sekolah formal, agar ia bisa meraup impian sekaligus mendapatkan ilmu agama. 

Ada karya yang ibu buat, namun berujung pada kesia-siaan, tak ada yang mewadahi, ibu hanya menggoreskannya di sebuah kertas putih, referensi untuk menambah perbendaharaan katapun tak begitu memadai, karena pesantren salaf hanya menekankan pada pengajian kitab kuning, sekarang, saat ibu sudah berkeluarga dan mempunyai keturunan, suatu hari aku menemukan lembaran-lembaran yang berisi tulisan-tulisan dengan abjad indah panjang dan melengkung, seperti tulisan yang sengaja di ukir atau memang terpancar karena naluri seni yang telah melekat, melihat sekilas saja mengundang rasa penasaran, demi menghilangkannya aku segera membaca,  tulisan itu, sebuah puisi, puisi yang menggunakan unsur perasaan mendalam, walau aku tak pernah membuatnya, namun aku bisa menikmati, merasakan keindahan saat menyuarakannya dalam hati. Kagum, itulah yang ingin aku sampaikan, aku yakin itu tulisan ibu, tulisan ayah tidak seperti itu, aku tak menyangka, ibuku memiliki kemampuan menulis puisi, indah pula. Anganku mulai melayang, mencoba memasuki dunia aksara, dunia yang tiba-tiba ingin ku jamah setelah membaca goresan tinta ibuku.

Setelahnya, segera saja ku bergegas mencari sosok ibu untuk meminta penjelasan lebih lengkap mengenai tulisannya, serasa menemukan teka teki rumit, lega saat mendapati ibu, ia sedang duduk di kursi menjahit pakaian adikku yang sedikit robek, “ibu, ini tulisan ibu bukan?” ungkapku riang bukan kepalang, sejenak perhatian ibu tertuju pada kertas yang ku tumpu pada kedua tanganku. “oh benar, ini tulisan ibu, itu puisi”. 

Aku sudah tahu ibu, ucapku dalam hati. Yang sebenarnya ingin ku ungkapkan, aku kagum karena ibu ternyata seorang penyair, seorang ibu dengan tiga anak yang memiliki jiwa sastra, ibu yang berbeda dari ibu kebanyakan yang ku temui di daerahku, ibu memang berbeda, segalanya, ibu adalah guru terbaik sedunia. Ibu yang menanamkan kekuatan agama sejak masih kecil, ibu yang mendidikku tanpa kekerasan, ibu yang membimbingku dengan kasih sayang, memberi kebebasan namun terkendali. Banyak hal tentangnya yang begitu ku banggakan, yang begitu ku syukuri, aku tak mampu menyebutkannya.

Tak tahu apakah ini sebuah perjuangan meneruskan cita-cita atau memang naluri yang tiba-tiba tumbuh dengan sendirinya. Sejak itulah, ada gemuruh dalam dada, ada pacuan yang membuat semangatku berkobar, ada greget yang menghentak-hentak, ada kebisingan yang mulai menghuni fikiran, ada gumpalan aksara yang juga ingin dicurahkan, ada ruang yang ingin aku ciptakan, ada setumpuk abjad yang ingin melesat keluar.

Ku ketuk pintu dunia menulis, dengan semangat membara, tinta hitam mulai ku bubuhkan, ada kepuasan tersendiri saat aksara demi aksara terangkai menjadi kalimat, tentu saja  dengan perbendaharaan kata seadanya, aku mulai membuat puisi dan cerita pada buku sisa, halaman kosong sisa pelajaran kelas yang sudah tak digunakan, karena kelas selanjutnya aku harus berganti buku baru, ku gunting sisa buku tak terpakai itu dan ku ubah menjadi bentuk horizontal, yang ku beri sampul sendiri. Dan aku mulai menulis, menulis dan menulis, yang penting menulis, tak ada bimbingan bagaimana cara menulis yang benar. Aturan? Mana ku tahu, aku hanya ingin berekspresi dengan bebas, sesuai dengan kemampuanku saat itu. 

Tak ada yang menyadari, bagiku, apa yang ku tulis hanya sebuah keisengan belaka, coba-coba dan mungkin tak layak di baca, ada berlembar-lembar coretan yang tak sengaja tergeletak di meja, ternyata ada yang membaca, ku tahu, karena di waktu berbincang, ibu tiba-tiba mengomentari tulisanku, ia berkata bahwa aku memiliki bakat menulis, mata ibu berbinar, aku seperti mendapat pengakuan yang begitu menanamkan kepercayaan diri, bahkan ibu bilang cerpenku lebih baik dari teenlit-teenlit yang sempat ibu baca. Girangnya bukan main, meski tersimpan dalam lubuk hati yang terdalam, sejak saat itu menjadi penulis ku nobatkan sebagai impian yang ingin ku capai. Ibu mendukung, aku hanya perlu belajar dan mencoba. 

Aku masih ingat cerpen pertama yang ku tulis dengan sedikit niat, tidak seperti sebelum-sebelumnya tulisanku hanya berupa cerita bersambung yang tak jelas akhirnya, dikatakan cerpen bukan novel juga bukan, cerbung gak jelas gitu kali ya,, hehe. Yang penting kan nulis. Namun kali ini ada yang sedikit berbeda, karena tulisan yang akan ku buat adalah hasil permintaan seorang guru yang tentu saja menyayangi dan mendukungku, disitulah,  aku mulai menggagas tema sebelum merangkai cerita, memikirkan awal dan endingnya. Itu ku tulis waktu berada di bangku SMP. Cerpen ini ada kaitannya dengan komitmen yang ku pegang sejak saat itu, ya aku berkomitmen untuk tidak berpacaran, kecuali dengan suamiku nanti, aku lupa judulnya. Waktu itu dengan semangat 45, berkat dukungan dari ibu dan kepercayaan diri yang mulai tumbuh, aku menulis cerpen dengan kepuasan tak terkira, maklumlah pertama kali membuat cerpen dan tuntas sampai ending, selesai, aku menyetorkan tulisan dengan tinta hitam itu kepada guruku, namanya juga sekolah di desa, masih belum tersentuh computer, hanya guru-guru yang menggunakannya. Alhamdulillah, dengan segala keringanan hati, guruku menawarkan diri untuk mengetik naskah cerpenku dan katanya akan dikirimkan pada media. Wihh,, masuk media dan bisa terkenal? Tulisanku masuk ke media? Siapa yang tidak ingin, aku begitu berharap, sekaligus pasrah jika memang belum ada kabar bahwa cerpenku di terima atau tidak, yang terpenting ada rasa puas, perasaan itu telah membayarnya, merasa bermanfaat dan semakin berarti menjalani kehidupan. 

Ku tunggu waktu demi waktu, tak ada kabar, mungkin tulisanku belum layak muat, masih amatir, perlu perbaikan sana sini, tak apalah, setidaknya aku sudah berusaha, sudah menghasilkan karya, dan mendapatkan semangat baru. Hingga akhirnya, kelulusan mengantarkanku ke luar kota, berpisah dengan mereka yang ku cinta namun tetap melekat di dada. Dengan tekad mantap aku melangkah pada sebuah pesantren, Pesantren Ngalah Pasuruan, lengkap dengan pendidikan formalnya, sebuah cita-cita tertunda yang kini di tapak olehku, ibu aku seperti tengah meneruskan harapanmu yang sempat tak terjamah. Pendidikan dan cita-cita akan mulai ku ukir dari sini, ilmu dunia dan akhirat yang ingin ku raup sepenuhnya, agar bisa memberikan manfaat dan barokah.

Berpisah dengan orang tua dan orang-orang di sana, tentu membuat perasaan sedikit sesak, ada yang hilang, berbeda, belum siap, ingin menangis, seperti mengalami dejavu dan sebagainya, perasaan itu tak bisa dijabarkan. Kehampaan-kehampaan itulah yang kemudian mengalirkan puisi-puisi yang begitu mudah di ungkapkan, mewakili perasaan yang sulit ditafsiri, banyak puisi yang ku kulis, hampir satu buku, mungkin sudah 60an halaman, sayang, buku puisiku berpindah tangan, di pinjam teman-teman dan tak kembali, alias hilang, meski tentu saja sampai saat ini masih ada harapan suatu saat buku puisi saksi bisu perjuangan mondokku yang kini sudah merambah usia delapan tahun akan ditemukan. 

Selain menulis puisi, diary juga selalu siap sedia menjadi penampung coretan tanganku, karena dengan tulisan aku mampu menumpahkan segala hal, lebih-lebih di awal nyantri, perlu beradaptasi karena merasa asing dengan semua orang dan keadaan di pesantren, jadilah ku tumpahkan segala uneg-uneg dengan goresan pena. 

Caraku menulis diary lebih mengarah pada bahasa konotasi, entah mengapa, mungkin karena hatiku terlalu rahasia, atau karena ada kecemasan bila suatu waktu ada orang yang membaca diaryku. Karena itulah aku tidak marah saat ada orang lain membaca diaryku, karena tentu saja hanya aku yang lebih memahaminya. 

Dan pada suatu kesempatan, aku mulai mengirimkan karya puisiku ke majalah pondok yang terbitnya hanya satu tahun sekali, ini sebuah kesempatan langka, apalagi santri di pesantrenku mencapai ribuan orang, pada waktu itu sekitar dua ribuan, kebetulan ada sayembara menulis puisi untuk majalah MinNa (Media Informasi Ngalah), dengan niat coba-coba ku layangkan puisiku pada pihak yang menerima naskah. Alhamdulillah, dua puisiku di muat menghiasi salah satu halaman majalah, menyisihkan puisi peserta yang lain, rasanya dua kepuasan sudah ku dapatkan, puas karena  berkarya, yang kedua puas karena karyaku bisa dikenal dan dinikmati orang lain.

Waktu terus berjalan, kesempatan datang lagi kepangkuanku, sebuah undangan menjadi anggota majalah MinNa tertera di kertas putih bertuliskan nama Wardatul Jannah, Perihal Permohonan menjadi anggota. Tak disangka, ternyata buah karyaku menarik perhatian mereka untuk merekrutku menjadi anggota, disitu aku mulai belajar menulis artikel atau berita, tentu saja menulis cerita atau puisi masih tetap menjadi hobi tercinta, cerpenku sudah tiga kali di muat di majalah MinNa, Hingga pada tahun berikutnya aku dipilih menjadi ketua organisasi MinNa, sebuah perjalanan yang tak pernah dinyana, meski aku merasa belum pantas menjadi seorang pemimpin, namun amanah ya harus dijalani saja, apalagi aku bukan kategori orang yang tegas mengambil keputusan, lebih mengarah pada orang yang begitu banyak pertimbangan,

Di periode masa jabatanku inilah, Pembina memberikan gagasan cemerlang, sebuah ide yang sebelumnya tak terutarakan, pernah terbersit namun tak tergubris, karena masih merasa terlalu muluk, ya, kami ditantang untuk membuat sebuah antologi cerpen santri Ngalah. Membuat sebuah buku? Bukankah itu perlu biaya? Bukankah tidak mudah membuatnya? Sepertinya perlu proses yang panjang. Belum lagi ISBN, apa lagi itu. Waktu itu aku memang memandang rumit untuk mempraktekkan gagasan yang telah disepakati. Namun ini sebuah tantangan, aku membayangkan, betapa bangganya saat nama dan karya kita menjadi sebuah buku yang bisa dinikmati orang lain? Dan ku putuskan tak perlulah banyak pertimbangan, Kami sudah bertekad, misi tetap di jalankan, urusan financial, biarlah belakangan, yang penting tahap pertama tema, syarat beserta tetek bengeknya harus segera di buat dan di sebarkan sesegera mungkin. Agar semua santri Ngalah mengetahui pengumumannya. 

Karya sudah terkumpul, seleksi dan layout sudah dilakukan, tinggal memikirkan biaya cetak dan pemasaran, kami berfikir, teman-teman saling mencari solusi untuk memecahkan permasalahan ini, karena pengajuan proposal kepada pihak yayasan bukanlah ide yang baik, cairnya akan membuuhkan waktu yang tidak sedikit. Dan Alhamdulillah, rupanya Allah menjawab harapan dan do’a kami, seperti ada jalan mulus kami mengurusi ISBN tanpa membayar sepeserpun dan tanpa bersusah payah, ada seorang Kaprodi FAI di Universitas Yudharta, kampus di pesantrenku dengan senang hati menguruskan ISBN kami, bahkan beliau mengacungi jempol atas karya yang telah kami buat, sementara biaya cetak, nah untuk yang ini kami mendapat masukan menggunakan sistem POD, pesan, bayar, kemudian ke percetakan, barulah buku dilayangkan., bagai mendayung dua tiga pulau terlampaui, percetakan  juga memberikan kemudahan bagi kami, apalagi royalty yang diminta hanya 10%, sangat mulia. Syukurlah, Rampung sudah segala masalah, keuangan bisa diatur, promosi harus segera di gencarkan, baik dari pamphlet ataupun media sosial, karya Antologi Cerpen Santri Ngalah sudah dibukukan, tinggal menunggu siapa saja yang order, Alhamdulillah itu adalah sebagian jawaban Allah yang telah menjawab impianku, karena karyaku menjadi nama utama juduk Antologi cerpen Santri Ngalah, kini aku tinggal mencari bagian lain dari impianku yang belum aku temukan.




8 komentar

11/08/2016

Waow.. Sip pungin nulis... Hihihi...

Reply
avatar
11/08/2016

hehe, semangat menulis :)

Reply
avatar
11/14/2016 Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
avatar
11/28/2016

Ye ye lalalalaa ye ye lalalala

Reply
avatar
12/05/2016

lah kok malah nyanyi? =D

Reply
avatar


View MoreHOTTEST ARTICLES