Payung
Hitam Air Mata
Rintiknya
mengalir deras ditubuhku,, ku lihat titik-titiknya yang membentuk garis panjang
disetiap sinar lampu yang menerangi, terlihat indah namun membawa jiwaku
kelangit kelam, tiada yang lebih penting selain berusaha membawa diri ketempat
yang aman. Rasanya ku tak lagi mengenali diri ini, diri yang begitu lusuh,
jiwaku terbang di kejauhan cakrawala, berkelana menembus keheningan yang tak
terjamah. Basah hujan telah sejam lalu menyapaku, langkahku tertatih padahal
tak banyak yang ku kerjakan hari ini, kecuali derapan langkah yang ku terjang
menciptakan kelelahan yang sangat dan membuatku terengah. dunia seakan mengecil
dalam pandangan, malam tak lagi berbintang, ku tleah berlari jauh menerobos
tempat yang tak lagi kusadari. Tak ada yang kukenal selain pohon-pohon yang
rantingnya bergelantungan mencekam, keberadaannya membuat buluku bergidik tak
tenang, seakan mereka terus menerus mengawasiku.
Ku teteskan air mata ini tanpa
isak, tak hentinya pipiku basah oleh kristal bening dari kelenjar mataku,
ditengah rasa sepi ini ku tengadahkan diri bersama alunan musik malam yang
menindih ketakutan. Tiada yang lebih berarti, selain ucapan syukur atas
keberhasilan melangkahkan kaki jauh dari para manusia bejat yang hampir saja
menikmati kehormatanku. Telapak kakiku terasa perih, sepertinya sesuatu telah
menggesek atau bahkan menusuknya, mungkin itu terjadi saat ku huyungkan langkah
dengan cepat seraya meninggalkan alas kaki, pun lengan yang sedikit
bergaris-garis oleh sapuan ranting kecil yang begitu saja ku terobos. Tak bisa
kuhindari nafasku begitu terengah-engah,
dadaku mulai sesak dan terasa panas, kali ini ku mulai merasakan keletihan,
tenggorokanku serasa kering, sepertinya sehari ini hanya sedikit air yang
mengalir dalam tubuhku, mungkin energiku terkuras, ya..ku Lelah,, itulah yang kini kurasakan, dengan
susah payah ku sandarkan tubuh penuh keringat kepada sebatang pohon yang tak
kukenali, sekelilingku begitu gelap, tiada siapapun, kecuali bunyi sapaan malam
dari hewan, suara burung hantu seakan berderit-derit ditelinga, ku tak peduli,
fikiranku masih dipenuhi oleh bayang-bayang derapan langkah mereka. Setidaknya
kali ini ku bisa bernafas lega, meski situasi diselimuti kensuyian dan
kegelapan. Tempat ini bagaikan sebuah hutan, atau mungkin saja ini memang
hutan, mungkin lariku begitu jauh hingga membuatku tersesat tak tahu entah
dimana.
Maafkan aku ayah, ibu,, ini
akibat karena ku tak mengindahkan nasehat kalian. Hingga ku tersesat jauh, dan
tak tahu arah jalan pulang. Karena pikiran yang gelap, aku melangkah tak tentu
arah, tanpa khawatir akan bahaya, di tempat ini, akupun tak menyangka jika ada
manusia-manusia beringas yang sudah tertutup hati nuraninya, mereka hampir saja
memangsa kegadisanku, Tapi lihatlah, Allah maha pengasih, dengan sisa tenaga
yang masih bersemayam, kemurahanNya menyelamatkan kehormatanku dari para
mahkluk tak bermoral itu, salahku juga yang keluar di malam seperti ini, Pada
akhirnya ibu tahu,, ya semua keluargaku mulai mengetahui apa yang sebenarnya
terjadi. Mereka prihatin, mereka turut bersedih melihat hal yang menimpaku. Dua
hari yang lalu, para santri serempak di jemput oleh sang keluarga untuk kembali
keperaduannya, meski ada beberapa yang masih menetap di pesantren. Tentang
diriku, tentu saja, ayah menjemputku dengan sepeda motor buntutnya yang
berbunyi atau lebih tepatnya menjerit-jerit, dari jarak 100 meter saja rasanya
tak salah lagi, suara motor butut ayah yang begitu mudah dikenali tlah singgah
dibalik gerbang asrama. betapa bahagianya hati, hari yang ku nanti-nanti telah
tiba, bagaimana tidak, bertemu dengan keluarga adalah yang amat kudamba, ayah,
ibu dan Adik-Adik yang begitu kusayangi.
Kuhampiri ayah yang menyambutku
dengan mata berbinar, beliau datang dengan mengenakan baju taqwa berwarna biru
langit, sarungnya yang kotak-kotak perpaduan antara biru tua dan muda, serta
kopyah hitam tempat ayah biasanya menyelipkan uang. tanpa sepatah kata yang
mengawali ku raih tangan ayah yang berwarna sawo matang dan kudaratkan
dihidungku sebanyak duakali. “ayah,, bagaimana kabar keluarga?” tanyaku membuka
percakapan. baju-baju yang sudah berada dalam tas yang sedari tAdi ku jinjing
serta merta ku serahkan padanya, ayah meletakkannya di gantungan depan.
“Alhamdulillah
baik-baik saja, sehat semua”. Jawabnya singkat, namun benar-benar membuatku
lega.
Motor kami mulai melaju membelah
jalan, bayangan rumah terngiang-ngiang dalam ingatan, ibu, Adik, kakek nenek,
tetangga, mungkin semuanya akan menyambut kedatanganku, dan yang tak terlupa
fasilitas hp yang bisa kugunakan, sudah lama kunantikan hal itu, hatiku tak
sabar lagi ingin segera berkomunikasi dengan kekasihku yang selama ini
terselubung tembok pondok. Namun juga sesekali ku pergoki dia saat membantu
membenah di asramaku, biasanya dia akan ikut membangun kamar mandi, lantai yang
rusak, mengecat, atau apapun pekerjaan tukang. Kekasihku selain sebagai santri,
ia juga mengabdi untuk membantu pembangunan pondok. Wajahnya cute, tampan,
meneduhkan, cukup tinggi dengan ukuran lebar tubuh yang sedang. Dan kupun
sering mencuri pandang saat ia tengah melaksanakan tugasnya, terlihat begitu
ikhlas, dan tabah, membuatku semakin bersyukur karena tlah dicintai olehnya.
Waktu mengalir dengan alami..
sederet kata tentang keindahan cinta sering kali terucap dengan sendirinya
didalam hatiku, tanpa ku perintah rangkaian kalimat indah dengan mudah menghuni
perasaan yang menghiasi kemurnian harapanku. Dan kini, kata-kata itu akan
segera ku torehkan melalui huruf-huruf yang berada di hp. Kesempatan ini takkan
ku sia-siakan begitu saja, betapa leganya hati saat dengan mudahnya diri ini
menyuarakan perasaan pada ia yang di seberang.
“Assalamu`alaikum,,”
sapaku dari luar
pintu, menunggu orang di dalam rumah membukanya, tak lama berselang, ternyata
Adik keduaku dengan semangatnya membuka pintu “mbak,,!!” teriaknya serta merta
menghambur kedalam pelukanku, ku belai rambutnya, ia tersenyum melihatku, “
dimana ibu dan kakak dik?”
“ ibu sedang
masak mbak,, kalo kakak lagi main dengan teman-temannya,”
“oh,, yasudah
kalau begitu mbak ke ibu dulu ya,,”
“ia mbak”…
Adik mulai meneruskan
aktifitasnya menonton kartun yang ia sukai. Sementara ayah, masuk ke dalam
rumah, dan duduk rehat di ruang tamu, mungkin sedikit melemaskan otot-otot
setelah seharian bekerja dan menjemputku. Ku taruh tas yang sedari tadi ku
jinjing di kamar. Sejurus, langsung ku temui ibu dan mencium tangannya dua
kali, kami melepas rindu, ibu terlihat senang sekali dengan kedatanganku,
karena selain sebagai anak perempuan ku juga akan menjadi sahabat ibu. Setelah
itu, ku biarkan ibu menyelesaikan masaknya yang nampaknya kurang sedikit lagi,
hingga ku rasa tak begitu memerlukan
bantuanku, melihat hal itu, langsung saja kuhamburkan diri ke kamar dan rebah
di kasur, namun ku bangun kembali untuk mengambil hp di lemari. Karena inilah saat yang ku
nanti-nanti, selama ini aku dan kekasihku hanya berkomunikasi melalui surat,
itupun terhitung 3 kali, masih teringat bagaimana rangkaian kata yang tertera
di kertas putih berada ditanganku, bagaimana ia
memilih kata dan merangkainya dengan begitu indah.
Tak sabar, ku
tuliskan salam pembuka “assalamu`alaikum ya akhi,,”
Ku menanti balasannya, waktu
terus bergulir, semenit, 2 menit, 3 menit hingga 15 menit, tak jua ada balasan.
Sekali lagi kukirimkan sms yang telah ku kirim, berharap kali ini ada pesan
masuk darinya, mungkin pesan awal belum ia terima, atau mungkin ia tengah sibuk
berkemas untuk pulang ke rumah seperti halnya diriku ini.
Ku hitung waktu tlah belalu 30
menit, ku dengar suara ibu yang tengah memanggilku untuk makan bersama, dengan
segera ku beranjak dari tempat tidur, ku tinggalkan hp yang semula berada dalam
genggamanku, karena ku yakin setelah makan nanti mungkin ku akan mendapatkan
pesan masuk dari kekasihku.
Ku nikmati
makanan yang ibu suguhkan, meski sederhana dengan menu tempe tahu dan ikan
asin, namun sambal dan sayurnya benar-benar menyihirku untuk lahap memakannya.
Sampai-sampai ku baru menyadari bahwa Adik pertamaku Akmal belum jua berada di
rumah, dengan resah ku menengok kekanan dan kekiri.
“ bu,, dimana
Akmal?” tanyaku mengungkapkan keresahan
“ Akmal belum
pulang, katanya latian saman di rumah pak Niman”
“ loh Akmal ikut
saman bu?”
“ia.. udah
lumayan lama kok”
“syukurlah kalau
begitu,, Alhamdulillah,, bu Alifa sudah selesai makan, Alifa bawa ke belakang ya bu piringnya ..”
“ia Alifa,,
sekalian langsung kamu cuci,,”
“baik bu,,”
Ku bawa
piring-piring bekas sisa makan keluarga, karena diriku termasuk yang paling
terakhir menyelesaikan makan. Maklumlah,, mungkin karena kunyahanku terlalu
lama,, hal itu sudah terbiasa ku lakukan di pondok, efeknya terbawa sampai di
rumah. Selesai mencuci, ku bawa langkah ke kamar, firasat kuat bahwa akan ada
balasan dari seseorang disana membuat hatiku berbunga-bunga, meski belum begitu
merekah karena belum tahu kepastiannya, apakah benar-benar akan mendapatkan
balasan atau tidak, namun rasa yakin lebih mendominasi dalam feelingku. Dengan
ceria ku raih hp yang tergeletak di kasur, ku lihat ada dua pesan baru masuk,
tak salah ternyata pesan itu dari akhy,, balasan dari seseorang yang begitu ku
nanti.
“wa’alaikumsalam
neng Alifa,, maaf neng ini Adi,” begitulah pesan pertama, selanjutnya ku buka
pesan kedua,,
“neng Alifa,,
maaf ada yang perlu saya sampaikan pada neng, penting. Tolong telpon ya neng,,
soalnya pulsa di nomer hp ini mau habis neng,,”
Dengan segera
kulakukan panggilan pada nomernya, tak lama terdengar suara Adi disana.
“asslamu’alaikum
neng,,”
“wa’alaikumsalam
kang Adi,, ada apa kang?”
“begini neng,,
neng Alifa tolong kuatkan hati ya,, ku yakin neng Alifa orang yang tawakkal..”
Deg. Ku tak tahu
apa yang sebenarnya hendak Adi sampaikan, namun firasat buruk sudah tak bisa ku
tepis dari perasaanku, darahku seakan berdesir,, membangunkan bulu kuduk.
“ada apa kang
Adi,, dimana kang Firman..?! ” ku bertanya, tanpa bisa mengendalikan keresahan
yang mulai memacu nafasku. Praduga-praduga aneh mulai menghantui fikiran, tanpa
ku perintah mataku mulai terasa panas, namun ku coba menahan dan menguatkan
diri menghadapi kabar yang akan kang Adi sampaikan,,
“anu neng,,
anu,, kang Firman sudah kembali ke rahmatullah..”
Innalillahi
wainna ilaihi roji’un,,,
Aku merasakan
sesuatu di dalam dada begitu menghentak, rasa terkejut yang membutakan,
seketika segalanya terasa gelap, senyap, hambar dan menyakitkan fikiran, ah,
aku benar-benar tak mampu menahannya. Pening.
***
ku buka mata
perlahan, ada orang tua dan Adik-Adik di sampingku, mereka terlihat begitu
cemas, ayah, ibu, mereka terlihat sangat iba padaku, entah mungkin mereka sudah mengetahui apa yang
terjadi, ternyata aku baru saja tak sadarkan diri, tiba-tiba rasa sesak kembali menyelubungi,
air mata yang tadi tak sempat mengalir kini menggelinding deras membasahi
bantal yang ku peluk,, “ya Allah,,” ku teriakkan nama itu berkali-kali untuk
menabahkan hati, namun keadaanku yang begitu lemah belum mampu sepenuhnya
menerima suratan yang terhidang untukku, dengan empati ibu memeluk diriku, ku
senggukan menangis dalam pelukannya, sementara ayah memberi nasihat agar aku
mampu menerima keadaan. Namun dalam fikiran, ku hanya ingin sendiri, petang, ku
ingin berlari sejauh mungkin untuk melepaskan rasa yang tak mampu ku hadapi
ini, dengan perlahan ku lepas pelukan ibu, langkah gontai tak menyurutkan
langkahku untuk pergi keluar.
“Alifa,, kau mau
kemana?” ayah datang mencoba menghentikan langkahku, namun ku meronta, mengiba
pada ayah untuk membiarkanku berjalan pergi menenangkan fikiran,,
“tidak Alifa,,
ini sudah malam nak,,”
“sebentar ayah,,
sebentar,, saja, Alifa hanya ingin menghirup udara bebas untuk menenangkan
fikiran,,” pintaku memelas, fikiranku begitu kacau.
“ jangan pergi
Alifa,, malam nak,, !!” ku dengar teriakan ibu dari pintu rumah.
“tidak papa bu,,
Alifa hanya berjalan-jalan sebentar” jawabku sekenanya..
“Jangan
jauh-jauh Alifa,,!!”
Tanpa menjawab,
ku mulai melangkah tak tentu arah, fikiranku benar-benar kalut, bagai awan yang
begitu berkabut.
Kerinduan yang
tersimpan, telah bersimpuh dalam keagunganNya, cinta di persimpangan jalan
telah menangis pilu menerima suratan yang terhempas,, air mata jatuh bermuara
diatas lara yang tak mampu terlukiskan, bagai jiwa yang terlepas dari raganya,
kosong, hilang hampa dan begitu hambar, kegelisahan menerpa bagai angin topan
tak diundang,, bunga yang mekar seketika layu bagai terserang gulma tak belas,
tak mampu ku rangkai kata-kata indah yang kini terlihat berdarah menahan sakit,
wajahnya melayang-layang dalam bayangan membawa fikiranku berkelana menemukan
sudut ia diterima disisiNya, akhy,,
Kini, ku berada di rumah kang Firman bersama ayah dan
ibu, setelah tadi malam paman
menemukanku telelap di bawah pohon pinus, rupanya ku berada di
pekarangan adik ayah yang terletak jauh dari rumah, setelah mengantarkanku
pulang barulah paman mengerti apa yang sedang menimpaku, ku sangat mengerti
bagaiman ayah dan ibu terlihat begitu lelah, mungkin semalam mereka begitu
bingung mencariku. Tapi semua telah berlalu, kali ini ku hanya ingin
mendengarkan penjelasan kang Adi tentang
kang Firman.
Katanya, Kang
Firman meninggal karena serangan tipes yang tak segera ditangani, ia
mengabaikan dirinya sendiri, ia tidak ingin merepotkan orang lain, bahkan saat
teman-temannya bersikeras untuk membawanya ke rumah sakit, ia selalu menolak.
Hingga ia berada pada kondisi kritis, awalnya
kang Firman tetap menolak dibawa kerumah sakit, namun dengan ketidak
berdayaannya teman-teman segera membawa kang Firman kerumah sakit tanpa
pertimbangan persetujuannya, namun sebuah daun di lauh mahfudz telah gugur
menuliskan sebuah nama bernama Firman yang tak bisa diralat kembali, jiwanya
tak tertolong, dan keluarganya terlihat begitu terpukul, namun mencoba tawakkal
atas suratan sang kuasa. Ku lihat dari jauh jasad kang Firman yang nampak
tenang. “semoga kang Firman bahagia disana. Aamiin..” gumamku dalam hati, tak
terasa air mata kembali mengalir deras di pipi. Ya Allah,,, kuatkan hamba,,,


0 komentar