Suamiku, Tolong! Cinta Pertama Itu Mengusikku Kembali

Suamiku, Tolong! Cinta Pertama Itu Mengusikku Kembali

Lagi, Kisah nyata dari  seseorang, seorang teman memintaku untuk menuliskannya. Inilah coretanku, dengan bahasa seadanya  dan sederhana, semoga memberi manfaat.
Suamiku, Tolong! Cinta Pertama Itu Mengusikku Kembali
Lagi dan lagi, ia kembali, seperti masa lalu yang dipaksa untuk terulang, bukankah aku sudah mengikhlaskannya? Bukankah aku sudah berbahagia? Tapi mengapa ? ia datang secara rahasia. Apakah ini sebuah isyarat darinya? Atau sekedar gangguan dari syetan? Entahlah, kita tahu semua hal berasal dari Allah. Misteri ini, aku belum sepenuhnya mengerti,  Ya Allah,, berilah kekuatan dan petunjuk.

Ku tatap  hampa ruangan ini, meliputi perasaan tak menentu yang tiba-tiba hadir, aku tak bisa menyebutnya sebagai selingan kebahagiaan, karena sejatinya rasa cemas lebih dominan menerpa. Ah, mengapa visualnya terpampang jelas dalam alam itu, mengukir sebuah skenario yang tak tertulis dalam sejarah nyata hidupku. Ya Allah, sekali lagi aku ingin menjerit padaMu, ia tetaplah menyesakkan, ada apakah gerangan? rautnya menghentak fikiranku kembali, sedikit demi sedikit aku sudah mulai teralihkan darinya, ia, hanya masalalu, bukan seseorang yang ditakdirkan untuk merajut kasih yang halal bersamaku. Ia adalah pelajaran yang singgah untuk memberikan pelajaran berharga dalam hidup. Dan kini, hadir dari alam bawah sadar menyentuh kehalusan perasaan yang sudah sekian waktu bangkit. Mengapa?

Rasa bersalah mengetuk sanubari, aku melirik ke arah kanan, disampingku, seorang adam terpejam tengah tenggelam dalam lelap, Ia adalah tempatku menelungkupkan diri, melepas segala benang yang terburai dan segenap problema di masa lalu maupun masa kini, Ia adalah pelipur saat suatu yang ku perjuangkan harus kandas di tengah jalan, wajahnya temaram karena sinar lampu tidur menerpa samar tubuhnya, sungguh, aku mengasihinya, aku benar-benar menyayanginya, meski kekhawatiran bisakah hidup bahagia dengannya sempat terlintas pada masa itu, dan semuanya terjawab setelah ia benar-benar mengikrarkan janji suci untuk menjadi imam dan pelipur laraku. Sejuta rasa terimakasih ingin ku persembahkan padaNya yang telah mengirimkanku seorang teman hidup terndah.

Ya Allah, berdosakah hamba yang tiba-tiba terbayang ia yang kini hadir dalam mimipi? Aku tak mengundangnya, tapi karena hal itu, tak bisa dipungkiri kenangan bersamanya terlintas begitu saja, sebuah film kehidupan kembali berputar dalam ingatan, rasanya ingin ku tuangkan agar tak terkurung dalam fikiran, di dinding, jam masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari, aku terperanjat dari mimpi tak diundang, mimpi yang mengusik kembali ketenangan.
***
Sedikit saja, aku ingin berkisah tentang ia, yang baru saja hadir dalam mimpi, aku menyebutnya sebagai cinta pertama.

Entah sejak kapan aku mulai mengerti apa itu rasa suka, rasa suka terhadap lawan jenis yang tumbuh tanpa disuruh, mungkin sebuah naluri yang dibawa sejak berada di dunia, dan naluri itu masih ku ingat jelas mulai hadir saat usiaku masih berada di bangku sekolah dasar. Sebut saja namanya Evan, itu bukan nama sebenarnya, tak ada alasan mengapa aku tiba-tiba tertarik dengannya,  yang ku tahu, aku hanya merasa senang ketika dia ada dan mencari sosoknya saat ia tak hadir di sekolah. Selebihnya, dunia bermain lebih menguasai masa-masa SD ku.

Namun sebuah misteri takdir yang tak mampu ditebak, serasa menimpa padaku, bagaimana tidak dalam jangka waktu hampir 6 tahun, saat orang tuaku memutuskan untuk pindah ke luar kota, tentu saja fikiran ini sudah teralihkan dengan hal-hal lain, tiba-tiba sebuah nomer asing menyapa handphoneku, penasaran, dengan sigap ku tanya siapa pemilik no hp yang tiba-tiba mengirim ucapan salam melalui pesan itu, saat ku buka balasannya, sungguh, aku hampir tak percaya, dengan usiaku yang sudah remaja, hati ini sudah lebih mengerti, bertahun-tahun aku mengakui bahwa perasaan ini memang bertaut untuk pertama kali padanya, saat ku sebut semua itu sebagai cinta monyet di masa ingusan, kini aku mulai mengakui sebuah keajaiban suratan. Rasanya begitu bahagia saat hari-hari berlalu akan ditemani olehnya, walau sangat disayangkan kami tak mampu betatap muka karena jarak yang membentang, tapi ia tetaplah bergelar cinta pertama, cinta fanatik yang mulai ku percayai sebagai sebuah pertemuan yang mungkin akan menautkan kami. Ya, pemilik nomer itu adalah cinta pertamaku, Evan Ardiansyah.

Kepercayaanku akan kejaiban takdir pun  semakin kuat, saat komunikasi singkat itu begitu mudahnya mengikat perasaan kami, dengan keterbukaan itu, baru ku tahu ternyata ia merasakan hal yang sama, bahkan mengakui bahwa akupun cinta pertama baginya, bukan main, rasanya melambung, lebih tinggi dari terjun payung. Jika sudah demikian, apalagi yang terjadi saat dua insan saling mengakui perasaannya dan ingin lebih dekat satu sama lain, ya kami memutuskan untuk menjalin kasih, LDR tepatnya.

Jarak membentang, godaan yang di depan mata datang mengusik, menawarkan keindahan yang lebih nyata, hati memang sempat goyah, namun aku masih lebih memilih untuk mempertahankan ia yang disana. Kami lalui waktu sepert biasanya, lama-lama masa jatuh cinta itu mulai berangsur stabil, senyum merekah itu mulai tenang dan kembali seperti sedia kala, buncahan kebahagiaan sudah tak sepasang hari kemarin, kami menyadari, sedang jarak membentang, aku tak tahu apa yang tengah ia lakukan disana, namun aku mempercayainya, mempercayai hatinya untukku.

Percaya? Menjalin tanpa mampu bertatap muka memang tak mudah dan sepertinya itu terjadi pada Evan, mungkin ia merasa bersalah jika tak berterus terang padaku, ya, ia berterus terang jika ada seseorang yang berada di depan mata dan mampu dengan mudah ia jangkau telah merebut tempatku dihatinya, aku terusir karena tak bisa hadir.

Cintaku, harus berakhir sesingkat itu, cinta pertama yang kandas, runtuh sudah kepercayaan,, praduga tentang takdir yang sempat ku terka akan menyatukan kita seperti di roman-roman cerita, bertemu dengan cinta pertama, disatukan dan hidup bahagia selamanya, halah, itu hanya dongeng, tak semuanya akan berjalan mulus sesuai rencana, Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, aku rasa lebih baik seperti itu dari pada ia harus bermain di belakang.

Berat memang, tapi bagaimana lagi? Matahari masih bersinar sempurna, saat ia luncurkan kalimat penyayat hati itu, aku masih mengharapkannya, aku merasa semua hanya mimpi belaka, tidak, itu hanya sementara, ia pasti bercanda, mana mungkin? Aku rasa cinta pertama yang dipertemukan ini akan begitu kuat. Tapi rupanya, ah, mengapa? Mengapa hal seperti ini harus menimpa? aku menikmati titik kulminasi yang hebat, kejenuhan yang tak mampu ku bahasakan, rasa putus asa yang tiba-tiba menguasai, aku benar-benar ingin tenggelam di dasar bumi karena tak bisa menggugat, begitu rapuhnya hati saat peristiwa seperti ini datang, baru ku rasakan betapa sempurnanya rasa sesak yang hadir karena kehilangan cinta, bahkan ratusan tetes air mata yang bermuara tak cukup untuk membahasakan betapa mengirisnya tersingkir dari hati seseorang yang amat diharapkan. Lebih menyesakkan lagi karena aku merasa kalah dari wanita itu, wanita yang telah merebut tempatku di hatinya, aku, sebenarnya, sungguh tidak terima.
***
Kini, aku telah memiliki hidup sendiri, bersama kekasih halal yang telah dipilihkan orangtua untuk menemani hari-hariku, seiring waktu bergulir, rasa cinta tumbuh dalam keluarga yang mulai kami bina, ku rasa kami hidup bahagia, suamiku adalah orang yang baik dan penuh kasih sayang, meski tak bisa dipungkiri saat ada suatu hal yang menarik ingatanku pada cinta pertama, hati ini masih meronta, tetap berteriak bahwa aku masih tidak rela, ya, tenyata aku belum sepenuhnya ikhlas ia bersama orang lain, aku merasa tidak utuh bersamanya, seperti banyak lembar kehidupan yang masih tersisa, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Aku sadar tak seharusnya aku seperti ini, tapi bukankah hal itu sudah teralihkan berkat aktifitasku sebagai ibu rumah tangga?

Sedang kini, tiba-tiba saja tidurku kerap diusik oleh mimpi tentangnya, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, membuatku bertanya-tanya, ada apa gerangan? Apakah ada sebuah isyarat? Atau karena aku masih tidak bisa ikhlas sepenuhnya?


0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES