Lagi, Kisah nyata dari seseorang, seorang teman memintaku untuk menuliskannya. Inilah coretanku, dengan bahasa seadanya dan sederhana, semoga memberi manfaat.
Lagi dan lagi,
ia kembali, seperti masa lalu yang dipaksa untuk terulang, bukankah aku sudah
mengikhlaskannya? Bukankah aku sudah berbahagia? Tapi mengapa ? ia datang
secara rahasia. Apakah ini sebuah isyarat darinya? Atau sekedar gangguan dari
syetan? Entahlah, kita tahu semua hal berasal dari Allah. Misteri ini, aku
belum sepenuhnya mengerti, Ya Allah,,
berilah kekuatan dan petunjuk.
Ku tatap hampa ruangan ini, meliputi perasaan tak
menentu yang tiba-tiba hadir, aku tak bisa menyebutnya sebagai selingan
kebahagiaan, karena sejatinya rasa cemas lebih dominan menerpa. Ah, mengapa
visualnya terpampang jelas dalam alam itu, mengukir sebuah skenario yang tak
tertulis dalam sejarah nyata hidupku. Ya Allah, sekali lagi aku ingin menjerit
padaMu, ia tetaplah menyesakkan, ada apakah gerangan? rautnya menghentak
fikiranku kembali, sedikit demi sedikit aku sudah mulai teralihkan darinya, ia,
hanya masalalu, bukan seseorang yang ditakdirkan untuk merajut kasih yang halal
bersamaku. Ia adalah pelajaran yang singgah untuk memberikan pelajaran berharga
dalam hidup. Dan kini, hadir dari alam bawah sadar menyentuh kehalusan perasaan
yang sudah sekian waktu bangkit. Mengapa?
Rasa bersalah
mengetuk sanubari, aku melirik ke arah kanan, disampingku, seorang adam
terpejam tengah tenggelam dalam lelap, Ia adalah tempatku menelungkupkan diri,
melepas segala benang yang terburai dan segenap problema di masa lalu maupun
masa kini, Ia adalah pelipur saat suatu yang ku perjuangkan harus kandas di
tengah jalan, wajahnya temaram karena sinar lampu tidur menerpa samar tubuhnya,
sungguh, aku mengasihinya, aku benar-benar menyayanginya, meski kekhawatiran
bisakah hidup bahagia dengannya sempat terlintas pada masa itu, dan semuanya
terjawab setelah ia benar-benar mengikrarkan janji suci untuk menjadi imam dan
pelipur laraku. Sejuta rasa terimakasih ingin ku persembahkan padaNya yang
telah mengirimkanku seorang teman hidup terndah.
Ya Allah,
berdosakah hamba yang tiba-tiba terbayang ia yang kini hadir dalam mimipi? Aku tak
mengundangnya, tapi karena hal itu, tak bisa dipungkiri kenangan bersamanya
terlintas begitu saja, sebuah film kehidupan kembali berputar dalam ingatan,
rasanya ingin ku tuangkan agar tak terkurung dalam fikiran, di dinding, jam
masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari, aku terperanjat dari mimpi tak
diundang, mimpi yang mengusik kembali ketenangan.
***
Sedikit saja,
aku ingin berkisah tentang ia, yang baru saja hadir dalam mimpi, aku
menyebutnya sebagai cinta pertama.
Entah sejak
kapan aku mulai mengerti apa itu rasa suka, rasa suka terhadap lawan jenis yang
tumbuh tanpa disuruh, mungkin sebuah naluri yang dibawa sejak berada di dunia,
dan naluri itu masih ku ingat jelas mulai hadir saat usiaku masih berada di
bangku sekolah dasar. Sebut saja namanya Evan, itu bukan nama sebenarnya, tak
ada alasan mengapa aku tiba-tiba tertarik dengannya, yang ku tahu, aku hanya merasa senang ketika
dia ada dan mencari sosoknya saat ia tak hadir di sekolah. Selebihnya, dunia
bermain lebih menguasai masa-masa SD ku.
Namun sebuah
misteri takdir yang tak mampu ditebak, serasa menimpa padaku, bagaimana tidak
dalam jangka waktu hampir 6 tahun, saat orang tuaku memutuskan untuk pindah ke
luar kota, tentu saja fikiran ini sudah teralihkan dengan hal-hal lain, tiba-tiba
sebuah nomer asing menyapa handphoneku, penasaran, dengan sigap ku tanya siapa
pemilik no hp yang tiba-tiba mengirim ucapan salam melalui pesan itu, saat ku
buka balasannya, sungguh, aku hampir tak percaya, dengan usiaku yang sudah
remaja, hati ini sudah lebih mengerti, bertahun-tahun aku mengakui bahwa
perasaan ini memang bertaut untuk pertama kali padanya, saat ku sebut semua itu
sebagai cinta monyet di masa ingusan, kini aku mulai mengakui sebuah keajaiban
suratan. Rasanya begitu bahagia saat hari-hari berlalu akan ditemani olehnya,
walau sangat disayangkan kami tak mampu betatap muka karena jarak yang membentang,
tapi ia tetaplah bergelar cinta pertama, cinta fanatik yang mulai ku percayai
sebagai sebuah pertemuan yang mungkin akan menautkan kami. Ya, pemilik nomer
itu adalah cinta pertamaku, Evan Ardiansyah.
Kepercayaanku
akan kejaiban takdir pun semakin kuat,
saat komunikasi singkat itu begitu mudahnya mengikat perasaan kami, dengan
keterbukaan itu, baru ku tahu ternyata ia merasakan hal yang sama, bahkan
mengakui bahwa akupun cinta pertama baginya, bukan main, rasanya melambung,
lebih tinggi dari terjun payung. Jika sudah demikian, apalagi yang terjadi saat
dua insan saling mengakui perasaannya dan ingin lebih dekat satu sama lain, ya
kami memutuskan untuk menjalin kasih, LDR tepatnya.
Jarak membentang,
godaan yang di depan mata datang mengusik, menawarkan keindahan yang lebih
nyata, hati memang sempat goyah, namun aku masih lebih memilih untuk
mempertahankan ia yang disana. Kami lalui waktu sepert biasanya, lama-lama masa
jatuh cinta itu mulai berangsur stabil, senyum merekah itu mulai tenang dan
kembali seperti sedia kala, buncahan kebahagiaan sudah tak sepasang hari
kemarin, kami menyadari, sedang jarak membentang, aku tak tahu apa yang tengah
ia lakukan disana, namun aku mempercayainya, mempercayai hatinya untukku.
Percaya? Menjalin
tanpa mampu bertatap muka memang tak mudah dan sepertinya itu terjadi pada
Evan, mungkin ia merasa bersalah jika tak berterus terang padaku, ya, ia
berterus terang jika ada seseorang yang berada di depan mata dan mampu dengan
mudah ia jangkau telah merebut tempatku dihatinya, aku terusir karena tak bisa
hadir.
Cintaku, harus
berakhir sesingkat itu, cinta pertama yang kandas, runtuh sudah kepercayaan,,
praduga tentang takdir yang sempat ku terka akan menyatukan kita seperti di
roman-roman cerita, bertemu dengan cinta pertama, disatukan dan hidup bahagia
selamanya, halah, itu hanya dongeng, tak semuanya akan berjalan mulus sesuai
rencana, Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, aku
rasa lebih baik seperti itu dari pada ia harus bermain di belakang.
Berat memang,
tapi bagaimana lagi? Matahari masih bersinar sempurna, saat ia luncurkan kalimat
penyayat hati itu, aku masih mengharapkannya, aku merasa semua hanya mimpi
belaka, tidak, itu hanya sementara, ia pasti bercanda, mana mungkin? Aku rasa
cinta pertama yang dipertemukan ini akan begitu kuat. Tapi rupanya, ah, mengapa?
Mengapa hal seperti ini harus menimpa? aku menikmati titik kulminasi yang
hebat, kejenuhan yang tak mampu ku bahasakan, rasa putus asa yang tiba-tiba
menguasai, aku benar-benar ingin tenggelam di dasar bumi karena tak bisa
menggugat, begitu rapuhnya hati saat peristiwa seperti ini datang, baru ku
rasakan betapa sempurnanya rasa sesak yang hadir karena kehilangan cinta,
bahkan ratusan tetes air mata yang bermuara tak cukup untuk membahasakan betapa
mengirisnya tersingkir dari hati seseorang yang amat diharapkan. Lebih menyesakkan
lagi karena aku merasa kalah dari wanita itu, wanita yang telah merebut
tempatku di hatinya, aku, sebenarnya, sungguh tidak terima.
***
Kini, aku telah
memiliki hidup sendiri, bersama kekasih halal yang telah dipilihkan orangtua
untuk menemani hari-hariku, seiring waktu bergulir, rasa cinta tumbuh dalam
keluarga yang mulai kami bina, ku rasa kami hidup bahagia, suamiku adalah orang
yang baik dan penuh kasih sayang, meski tak bisa dipungkiri saat ada suatu hal
yang menarik ingatanku pada cinta pertama, hati ini masih meronta, tetap
berteriak bahwa aku masih tidak rela, ya, tenyata aku belum sepenuhnya ikhlas
ia bersama orang lain, aku merasa tidak utuh bersamanya, seperti banyak lembar
kehidupan yang masih tersisa, dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
Aku sadar tak
seharusnya aku seperti ini, tapi bukankah hal itu sudah teralihkan berkat
aktifitasku sebagai ibu rumah tangga?
Sedang kini, tiba-tiba
saja tidurku kerap diusik oleh mimpi tentangnya, bukan hanya sekali, tapi berkali-kali,
membuatku bertanya-tanya, ada apa gerangan? Apakah ada sebuah isyarat? Atau karena
aku masih tidak bisa ikhlas sepenuhnya?

0 komentar