Sampaikan Salamku Pada Calon Istrimu "Maaf, Telah Meminjam Jodohmu"

Sampaikan Salamku Pada Calon Istrimu "Maaf, Telah Meminjam Jodohmu"

Ku tulis cerita ini, berdasarkan kisah seseorang, disini aku hanya berusaha menuangkannya melalui coretan sederhana, sebisa mungkin membahasakan apa yang tengah ia alami dan ia rasa. Semoga memberi manfaat.
Sampaikan Salamku Pada Calon Istrimu  "Maaf, Telah Meminjam Jodohmu"
****
Jujur saja, ku curahkan rahasia ini secara terus terang, tanpa harus menyebutkan nama, agar aku leluasa menggambarkannya tanpa rasa takut.

Aku adalah seseorang yang memiliki sebuah selera, selera yang tentu tak semua orang menyukainya, bahkan tak sedikit karena sebuah selera itu, banyak orang yang memandangku sinis, meluncurkan kata-kata pedas penyudut hati. Tentu saja, aku mendengarnya, ingin rasanya aku mendatangi dan membungkam mulutnya dengan kerudung yang mereka kenakan, tak habis pikir, bisa-bisanya mereka mengurusi orang lain, padahal dirinya sendiri belum tentu lebih baik

Mungkin kalian bertanya selera yang bagaimanakah, sehingga aku menghadapi hal yang demikian? Sebelum aku katakan, Pembaca sudah mengenal Syahrini, benar bukan? seorang artis yang berkat penampilannya menjadi begitu cetar membahana, karena penampilan yang menjadi keeksisannya itulah tak sedikit netizen yang menghujat, namun ada sebagian juga yang mendukungnya, posisiku tak jauh beda, sedikit menyamainya, begitu sedikit, karena aku hanya dalam lingkup lokal, sedang Syahrini sudah lingkup Nasional bahkan mungkin internasional.

Meski tak seheboh dia, namun selera glamour ini memang sudah melekat sejak dini, alhasil, tak sedikit pasang mata yang menjatuhkan pandangannya untuk mengamati penampilan yang melekat di tubuhku, entahlah, menjadi orang yang diperhatikan seakan memberi kesan tersendiri, serasa hidup semakin berwarna,  aku benar-benar menikmatinya, inilah rasanya memiliki ciri khas, berbeda dari orang lain, dengan gayaku sendiri.

Berkat penampilan itulah, banyak orang yang mengenalku, sepertinya juga berpengaruh pada urusan cinta, jangan ditanya, tak tahu sudah berapa kali seseorang yang singgah bertubi-tubi menjadi tambatan hati, datang dan pergi. Kebahagiaan dan kesedihan silih berganti mewarnai hidup, hingga tak terasa pada akhirnya aku merasa biasa mengahadapi hal demikian, tak ada yang perlu dikejutkan, meski tak mampu dipungkiri rasa sakit tetap hadir di hati, itu manusiawi, namun hanya sejenak, karena selanjutnya pasti datang lagi sang adam yang siap mengisi hatiku, entah bagaimana begitu mudahnya mereka masuk, mendapatkan pengganti bukanlah hal yang sulit.

Saat ini, untuk kesekian kalinya, aku mengalami hal yang serupa, serupa namun tak sama. Karena rasanya begitu berlipat ganda. Aku menghujat diri, mengapa harus setia dan terus menantinya, jika pada akhirnya hal seperti ini yang ku rasa. Harapan ini sudah begitu penuh, aku mempercayainya untuk menjadi imamku kelak, menjadi tambatan terakhir yang siap membimbingku, walau aku seperti ini, setidaknya mendapatkan pasangan yang baik adalah yang ku damba, kebetulan ia datang dengan sifat yang berbeda dari mereka sebelumnya, lebih menjaga dan tak terlalu agresif dalam meluapkan rasa. Hal itulah yang entah mengapa membuatku merasa tertantang, sering jengkel sendiri karena merasa sepi, namun tak berdaya. Anehnya, tak ada hasrat untuk melampiaskannya pada yang lain, karena ku sadar mereka tak bisa menenangkanku sebagaimana ia, hanya ia kekasihku yang begitu ku harapkan kehadirannya.

Kedatangannya membuat hati ini riang gembira, ibarat anak kecil yang mendapatkan oleh-oleh dari sang ayah, saat ditinggal bekerja.  Ku rasa sepertinya aku mulai serius, niat ini tanpa sadar tertanam untuk menatanya demi masa depan, tak seperti kisah asmaraku sebelumnya yang ku anggap sekedar permainan belaka.

Ia benar-benar berbeda, tak seperti kekasihku sebelumnya, yang sering menghubungi dan memberikan curahan perhatian, aku merasa kenyang bahkan terlalu kenyang hingga nyaris membuatku bosan, namun laki-laki ini bersikap sebaliknya, benar ia mampu untuk membuat hatiku berbunga, namun ketahuilah itu sangat jarang ia lakukan, bahkan sering kali aku merasa diabaikan, tapi itulah yang memberikan makna tersendiri, sikapnya yang demikian membuatku merasakan dalamnya kerinduan dan sesaknya rasa hampa tanpa kehadirannya, menghimpit dada namun tetap indah terasa.
***

Ku rasa, cukup sudah uraiannya, berbicara banyak tentangnya hanya akan membuatku sakit, Mungkin inilah saatnya aku tersadar dari mimpi panjang yang tak mungkin terwujud, kebiasaannya yang memang jarang sekali menghubungi, kini mengandung sebuah isyarat, aku tak menyangka, mungkin aku takkan pernah tahu, jika saudaranya tidak keceplosan mengatakan bahwa ia akan dijodohkan dengan putri seorang ustadz, bahkan perjodohan itu sudah dirancang sedemikian rupa oleh orang tuanya. Hanya tersenyum yang bisa ku lakukan, saat ia menutup mulutnya mengekspresikan rasa sesal karena sudah terlanjur berucap, tak papa batinku, itu lebih baik daripada aku harus mengetahuinya lebih lambat, ia meminta maaf, melihat wajahku yang sempat berekspresi kaget, entah, mungkin ada rasa iba yang tiba-tiba melintas dalam batinnya,  menahan hanya itu yang bisa ku lakukan dihadapannya, agar tak ada  yang melihat kerapuhanku saat mendengar berita menyesakkan itu, aku merasa gila, tersenyum dalam tangis yang tertahan, ada bendungan disana, perasaan ini berkecamuk, campur aduk hingga sulit untuk ditampakkan. Ku katakan padanya, bahwa aku baik-baik saja, bahkan ku berpura berkata, bahwa kabar itu sudah basi, aku sudah mengetahuinya.

Aku berlalu dengan senyum tulus yang sebenarnya ku paksakan, senyum untuk hati yang remuk, bangunan harapan itu sudah hancur menjadi puing-puing, meretakkan segala nafas yang masih berhembus. Aku benci mengingatnya, aku, aku tak tahu harus bagaimana, mungkin aku memang tak pernah pantas untuknya, tapi mengapa? Tiada kabar ataupun sepatah kata darinya, jika selama ini cintaku digantungkan, begitu teganya ia, ia tentu memiliki alasan tak mengatakan ini padaku. Tapi apa?

Di dalam kamar, saat semua orang terlelap, aku menikmati tangis yang menyayat, indah, perasaan ini terlalu indah, dan saat keindahan itu harus terenggut aku tak bisa menahan rasa sakitnya, pening, ini seperti bukan diriku, mengapa begitu mendalam? Mengapa ku buang air mata ini hanya untuk menangisinya? Aku benar-benar merasa gila dan bodoh, laki-laki itu telah membuatku majnun.

Keesokan harinya, ia menyapaku melalui sebuah pesan dan sapaan hangat, ia bilang katanya aku adalah wanita terindah yang pernah ia kenal, bulsyit, persetan dengan semua itu jika pada akhirnya cintaku kandas karena ia tak bisa memperjuangkan kebersamaan ini, ia meminta maaf padaku, katanya ia tak sanggup mengatakan kenyataan ini, ia mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Terlambat! Aku sudah lebih dulu mengerti, lebih sakit karena aku harus mengetahuinya dari orang lain, katanya ia tak bisa menolak permintaan orang tua, karena kebahagiaan orang tua adalah prioritas utama baginya. Aku bungkam mendengar semua penjelasan itu, ku ucapkan terimakasih padanya untuk yang terakhir kali, terimakasih karena telah merubahku menjadi wanita yang lebih tegar, terimakasih atas waktu yang telah ia luangkan untuk menemaniku kemarin, terimakasih karena darinya aku bisa mengajukan proposal lagi pada sang Ilahi untuk calon suami yang aku dambakan, entah siapa, terimakasih karena ia telah mengajarkanku arti rasa sakit dan kehilangan, terimakasih untuk segala hal yang telah ia berikan. dan terakhir, Sampaikan Salamku Pada Calon Istrimu  "Maaf, Telah Meminjam Jodohmu". Do'akan Semoga aku mendapat pengganti yang lebih baik agar rasa cinta ini benar-benar hilang digantikan oleh calonku yang baru. Aamin.

1 komentar

10/27/2016

Sabaaaar nggeh.. Smg Allah menberikan kado terindah bagimu..

Sabaaaar..

Reply
avatar


View MoreHOTTEST ARTICLES