Kau Pergi Tanpa Nada
Tak ku sangka,
ternyata rasa percaya diri yang selama ini ku tanam, melesat dari praduga, aku
terlalu tenang dan tak memikirkan segala kemungkinan, wajarlah jika tiba-tiba ia
menghilang, tanpa sedikitpun isyarat. Sebelumnya ku rasa semua baik-baik saja,
memang kita tetap baik-baik saja, dengan sebuah satir yang mula-mula
membentang, menghentikan harapanku untuk menggapainya. Terhenyak, tentu saja,
kecewa, tentu saja, tapi aku tak ingin berlama-lama, aku ingin segera terbangun
dari mimpi buruk ini, menopang segala sendi yang tiba-tiba lunglai karena kabar
angin itu tak sekedar hembusan, ia dengan sadar menerpa tubuhku hingga
terhempas jauh. Aku akan pergi dengan segala harapan yang kandas. Sampai saat
ini, aku tak pernah mengerti apa artinya memiliki, karena nyali ini memang tak
jua hadir, kehadiranmu adalah sebuah pelajaran berharga atas ketidaksigapanku
hingga membuatmu menghilang pergi.
Tak pernah
sekalipun kita mengadakan perjumpaan, ketidaksengajaan itupun mampu dihitung
jari, namun begitulah, kita yang seperti
anak abg, sekedar untuk menyapa mengangkat wajah saja serasa tak mampu, berat
dan tak mudah. Kita saling memaklumi, bukankah rasa yang berdebar itu sudah
mewakilinya? Meski tiada tatapan dan suara untuk menyapa, namun ketidaksengajaan
berjumpa tanpa melepaskan penglihatan itu sudah begitu berharga.
Itulah yang ku
ingat, tiada kenangan yang sengaja kita rajut, kita hadir bagai bunga yang baru
mekar, mampu mengagumi dari kejauhan. Kau dan aku berada di simpang jalan, saat
sebuah takdir merenggut keindahanmu, aku hanya bisa menatap tanpa berbuat,
menatap dengan rasa sendu atas kepergian yang tanpa nada, selamat tinggal bunga,
semoga engkau semakin mekar dengan berada disisinya, seseorang yang ku harap
selalu mengahadirkan senyumanmu, aku takkan pernah mengatakan apa yang selama
ini ku rasa, biarlah nurani itu yang menggetarkannya. Semoga kau bahagia,
sampai kapanpun aku takkan pernah menepis kehadiranmu yang pernah menaburkan
gula harapan dihatiku. Terimakasih Bunga.

0 komentar