Haruskah Ku Menghilang, Agar Kau Mencariku Lagi?

Haruskah Ku Menghilang, Agar Kau Mencariku Lagi?


Haruskah Ku Menghilang, Agar Kau Mencariku Lagi?

Haruskah Ku Menghilang, Agar Kau Mencariku Lagi?
Telah banyak waktu berlalu bersama peluh kepayahan untuk tetap bertahan, berjalan beriringan walau sering kali tersandung. Aku meluluh untuk tetap berada dalam genggamanmu yang menuntunku. Tak tahu jalan manakah yang tengah kita tempuh, naluri untuk menyesuaikan diri sudah tertanam tanpa sadar, aku menuruti, memenuhi permintaanmu, ada sekian yang ku rasa pas, ada sebagian yang melesat dari jangkauan.

Tak perlu mengelak, inilah kenyataan, aku memilihmu tanpa kompromi. Aku menilaimu tanpa bertanya pada siapapun siapakah sebenarnya engkau, hanya berbekal hati, insting dan perasaan. Ya tanpa terlalu banyak pertimbangan. Aku tak menyibukkan diri bertanya keberbagai penjuru untuk menyelami dirimu. Saat keputusan sudah diambil, aku menyelamimu dengan usahaku sendiri, kucicipi manis pahit mengenalmu, melaraskan harapan yang kadang menimbulkan tangis dikemudian hari, ku rasa wajar, itu adalah warna warni sebuah hubungan, ada satu hal yang tak bisa terelakkan dan yang aku banggakan didirimu, sebuah sikap yang mampu menguasai dan menaklukanku, ya, kekuatan akalmu mampu meredam pola fikirku yang kadang meronta, aku berterimakasih atas hal itu, sebuah bekal untuk menjadi seorang wanita dibawah kendali sang pemimpin. Karena aku sendiri tak bisa membayangkan bagaimana diri ini jika imamku tak mampu mengarahkan argumenku yang terkadang kurang seimbang atau terlalu berperasaan.

tapi, tak mampu ku pungkiri, terkadang kekecewaan menghampiri, saat sebuah keputusan sikap yang berada di luar jalur kau pilih, entah dengan dalih apa, entah bagaimanakah engkau berfikir, entah bagaimanakah engkau memutuskan suatu hal di atas otakmu yang cemerlang, entah bagaimana caramu mengambil jalan. Sejak saat itu, masih selalu ku ingat tangis air mata yang mengembun di pelupuk, karena deru itu masih begitu melekat dalam memori. Hatiku meronta, ketidak sesuaian untuk melakukan yang terbaik dalam hidup serasa menyiksa batinku tanpa sadar. Aku tahu bukan aku yang menjalani, tapi ia, namun disini aku yang menangis kecewa, karena aku memilihmu bukan untuk sebuah permainan, aku memilihmu berharap engkau adalah yang terbaik dan melakukan yang terbaik dalam hidup, tak lagi terhempas lama bersama dunia lain. Tentu saja, perasaan yang labil ini sering berharap lepas, namun hanya sejenak, setelah itu, hati wanita begitu mudah meluruh dengan sapaan manis yang ia terbitkan kembali untuk menyapa hari. Berulang kali, memang, akhirnya tanpa kata terkejut, tapi sikasaan batin itu masih saja bersemayam.

Suatu kali, sebuah keputusan ku ambil, bukan karena alasan kekhilafannya, tapi karena orang tua memang tak berpihak padanya, aku pasrah, tak sepenuhnya menolak, karena jujur saja aku lelah, setelah ku pikir-pikir aku amat lelah. Saat itu, rasa sedih dan ringan bercampur menjadi satu. Sedih karena merasa kehilangan, ringan karena sebuah beban dalam fikiran yang kerap kali menghadirkan isak turut lenyap. Mungkin rasa ringan itu lebih mengalahkan rasa sedih.

Ku fikir, sejak saat itu kita tak mungkin dipertautkan kembali, karena pada kenyataannya aku memilih pasrah, agar Allah memilihkanku pasangan yang terbaik. Yang tak perlu mengalirkan air mataku berulang, yang memperjuangkan kehidupannya dengan memanfaatkan waktu melakukan hal yang terbaik untuk dunia dan akhiratnya.

Tapi sebuah skenario dariNya datang, menghadirkanmu kembali. Kau telah menerobos semak belukar, berusaha untuk menggapai diriku lagi. Pada saat itulah, setelah melihat sebuah perjuangan, aku merasa menjadi begitu berarti untuk tetap hadir menemani hari-harimu dalam suka maupun duka, Masih ingatkah? engkau pernah bertanya. Setelah waktu membentangkan komunikasi yang harus ku sisihkan. Kau bertanya tentang apakah aku masih menaruh perasaan padamu? Dengan penuh kebingungan aku menjawab ia. Mengapa? Satu sisi, aku mulai mengerti akan besarnya cintamu, yang tetap bertahan walau waktu memisahkan kita, aku sangat menghargai sebuah kesetiaan itu, sedang disisi lain, aku tak siap untuk terbelenggu dengan tangis yang selalu menorehkan luka dibatinku. Ya, aku masih takut sebuah rutinitas yang kau pilih masih sama seperti sebelumnya. Toh, pada akhirnya aku tak mampu mengatakan tidak, ya karena sebuah perasaan halus yang katanya memang sudah mendarah daging dalam sifatku membuatku mengambil keputusan itu, entah apakah demikian yang terbaik.

Kini, pahit manis yang berkubang mengulurkan tali untuk kita, tarik ulur begitu terasa, namun erat itu tetaplah nyata, Tak pernahkah kau dengar bisikan hati tentang sinar yang terkadang sedikit sirna? saat aku meraba untuk mencari cahaya, yang tak jua tiba karena tengah beralih dari sini. Dan aku, masih tetap menanti.

Hanya harapan dan do’a. Ku pasrahkan takdir hidup ini padaNya, hanya satu, Ia meridhoiku untuk berjihad dijalanNya.  Tak peduli apa yang akan ku hadapi nanti.



0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES