Haruskah Ku Menghilang, Agar Kau Mencariku Lagi?
Telah banyak
waktu berlalu bersama peluh kepayahan untuk tetap bertahan, berjalan beriringan
walau sering kali tersandung. Aku meluluh untuk tetap berada dalam genggamanmu
yang menuntunku. Tak tahu jalan manakah yang tengah kita tempuh, naluri untuk
menyesuaikan diri sudah tertanam tanpa sadar, aku menuruti, memenuhi
permintaanmu, ada sekian yang ku rasa pas, ada sebagian yang melesat dari
jangkauan.
Tak perlu
mengelak, inilah kenyataan, aku memilihmu tanpa kompromi. Aku menilaimu tanpa
bertanya pada siapapun siapakah sebenarnya engkau, hanya berbekal hati, insting
dan perasaan. Ya tanpa terlalu banyak pertimbangan. Aku tak menyibukkan diri
bertanya keberbagai penjuru untuk menyelami dirimu. Saat keputusan sudah
diambil, aku menyelamimu dengan usahaku sendiri, kucicipi manis pahit
mengenalmu, melaraskan harapan yang kadang menimbulkan tangis dikemudian hari,
ku rasa wajar, itu adalah warna warni sebuah hubungan, ada satu hal yang tak
bisa terelakkan dan yang aku banggakan didirimu, sebuah sikap yang mampu
menguasai dan menaklukanku, ya, kekuatan akalmu mampu meredam pola fikirku yang
kadang meronta, aku berterimakasih atas hal itu, sebuah bekal untuk menjadi
seorang wanita dibawah kendali sang pemimpin. Karena aku sendiri tak bisa
membayangkan bagaimana diri ini jika imamku tak mampu mengarahkan argumenku
yang terkadang kurang seimbang atau terlalu berperasaan.
tapi, tak mampu
ku pungkiri, terkadang kekecewaan menghampiri, saat sebuah keputusan sikap yang
berada di luar jalur kau pilih, entah dengan dalih apa, entah bagaimanakah
engkau berfikir, entah bagaimanakah engkau memutuskan suatu hal di atas otakmu
yang cemerlang, entah bagaimana caramu mengambil jalan. Sejak saat itu, masih
selalu ku ingat tangis air mata yang mengembun di pelupuk, karena deru itu
masih begitu melekat dalam memori. Hatiku meronta, ketidak sesuaian untuk
melakukan yang terbaik dalam hidup serasa menyiksa batinku tanpa sadar. Aku
tahu bukan aku yang menjalani, tapi ia, namun disini aku yang menangis kecewa, karena aku memilihmu bukan untuk sebuah permainan, aku memilihmu
berharap engkau adalah yang terbaik dan melakukan yang terbaik dalam hidup, tak lagi terhempas lama bersama dunia lain. Tentu saja, perasaan yang labil ini sering berharap
lepas, namun hanya sejenak, setelah itu, hati wanita begitu mudah meluruh
dengan sapaan manis yang ia terbitkan kembali untuk menyapa hari. Berulang
kali, memang, akhirnya tanpa kata terkejut, tapi sikasaan batin itu masih saja
bersemayam.
Suatu kali,
sebuah keputusan ku ambil, bukan karena alasan kekhilafannya, tapi karena orang
tua memang tak berpihak padanya, aku pasrah, tak sepenuhnya menolak, karena
jujur saja aku lelah, setelah ku pikir-pikir aku amat lelah. Saat itu, rasa
sedih dan ringan bercampur menjadi satu. Sedih karena merasa kehilangan, ringan
karena sebuah beban dalam fikiran yang kerap kali menghadirkan isak turut
lenyap. Mungkin rasa ringan itu lebih mengalahkan rasa sedih.
Ku fikir, sejak
saat itu kita tak mungkin dipertautkan kembali, karena pada kenyataannya aku
memilih pasrah, agar Allah memilihkanku pasangan yang terbaik. Yang tak perlu
mengalirkan air mataku berulang, yang memperjuangkan kehidupannya dengan
memanfaatkan waktu melakukan hal yang terbaik untuk dunia dan akhiratnya.
Tapi sebuah
skenario dariNya datang, menghadirkanmu kembali. Kau telah menerobos semak
belukar, berusaha untuk menggapai diriku lagi. Pada saat itulah, setelah melihat sebuah perjuangan, aku merasa menjadi begitu berarti untuk tetap hadir menemani hari-harimu dalam suka maupun duka, Masih ingatkah? engkau pernah
bertanya. Setelah waktu membentangkan komunikasi yang harus ku sisihkan. Kau
bertanya tentang apakah aku masih menaruh perasaan padamu? Dengan penuh
kebingungan aku menjawab ia. Mengapa? Satu sisi, aku mulai mengerti akan
besarnya cintamu, yang tetap bertahan walau waktu memisahkan kita, aku sangat
menghargai sebuah kesetiaan itu, sedang disisi lain, aku tak siap untuk
terbelenggu dengan tangis yang selalu menorehkan luka dibatinku. Ya, aku masih
takut sebuah rutinitas yang kau pilih masih sama seperti sebelumnya. Toh, pada
akhirnya aku tak mampu mengatakan tidak, ya karena sebuah perasaan halus yang
katanya memang sudah mendarah daging dalam sifatku membuatku mengambil
keputusan itu, entah apakah demikian yang terbaik.
Kini, pahit manis yang berkubang mengulurkan tali untuk kita, tarik ulur begitu terasa, namun erat itu tetaplah nyata, Tak pernahkah kau dengar bisikan hati tentang sinar yang terkadang sedikit sirna? saat aku meraba untuk mencari cahaya, yang tak jua tiba karena tengah beralih dari sini. Dan aku, masih tetap menanti.
Kini, pahit manis yang berkubang mengulurkan tali untuk kita, tarik ulur begitu terasa, namun erat itu tetaplah nyata, Tak pernahkah kau dengar bisikan hati tentang sinar yang terkadang sedikit sirna? saat aku meraba untuk mencari cahaya, yang tak jua tiba karena tengah beralih dari sini. Dan aku, masih tetap menanti.
Hanya harapan
dan do’a. Ku pasrahkan takdir hidup ini padaNya, hanya satu, Ia meridhoiku untuk
berjihad dijalanNya. Tak peduli apa yang
akan ku hadapi nanti.

0 komentar