Dadaku terasa sesak, dipenuhi
gemuruh nafas yang menariknya lebih cepat. Entah apa yang sedang melanda.
Pikiranku kosong, sadar, atau mungkin hanya berpura-pura tidak sadar, kami
merajut kembali jalinan kasih itu, setelah sepersekian waktu dipisahkan oleh
satir yang membentang. Keakraban yang berusaha kami sembunyikan dibalik jeruji
perasaan.
Nafasku memburu, oksigen yang ku hirup terasa tersengal. Ia
menyatakan ketidaksanggupannya untuk berpisah denganku, ia ingin memulai dari
awal, ia ingin mendengar sapaan ramah yang selalu ku ukir melalui pesan hangat.
Aku tak pernah menyadari jika pengaruh kehadiranku begitu besar
untuknya, selama ini aku hanya mengalir apa adanya. Meski sedikit terpasung
dengan beberapa hal tentang diriku yang tidak membuatnya terkesan, ia terlihat berpaling
dari suara yang ku anggap merdu, dari wajah yang ku anggap terindah untuknya,
atau mungkin itu sekedar praduga saja, seakan-akan tak ada yang terlalu membuatnya
menarik mengenaiku, tapi setelah mendengar erangan halus dari penderitaannya,
seolah aku menjelma sebagai wanita yang begitu berharga, wanita yang
benar-benar ingin direngkuhnya, wanita
yang benar-benar mengusik fikirannya.
Aku berhenti sejenak dari lenguhan panjang atas benang kusut yang
tak segera terurai di dalam benakku. Sesuatu dibalik rusuk terasa berdenyut
saat mendengar laki-laki itu berterus terang tentang hari-hari yang dilaluinya
dengan tangisan. Laki-laki yang tak pernah sama sekali terlihat menitikkan air
mata. Laki-laki yang ku kenal sebagi sosok kuat dari segala terpaan badai dan
rasa gengsinya.
Siapa yang tidak terkejut waktu mendengar isaknya begitu jelas
menembus gendang telinga, sangat terasa ada air mata berharga yang berderai lancar
disana, air mata yang singgah karena suatu hal telah menimpanya dengan amat
sangat, isak yang biasanya ku cicil saat berkomunikasi dengannya karena kerap
kali ditinggal dalam lelap yang mungkin lebih nikmat, kini berbalik arah, bagai
tumpukan kerikil yang sudah lama ku bangun tanpa sadar, tangis itu memecah
dalam ruang kasih yang telah menjulang disana.
Dan aku? Tentu saja menerimanya, masa yang selama ini telah menjadi
saksi perjalanan dua hati dan mengukir sejarah bagaimana kami bersusah payah
untuk saling mengerti karakter masing-masing. Terpaan badai memang tak luput
menampar kami, kegoyahan, kekuatan, ketidakstabilan selang-seling mengontrol
dan menguasai perasaan yang tengah hadir kala itu. Angan berpisahpun pernah
terucap, meski pada kenyataannya kita tidak akan mampu, dan pada akhirnya
kata-kata yang menyinggung hal itu menjadi daftar paling akhir dalam mengatasi
problema. Pantang untuk menyinggung kata pisah.

0 komentar