Tak Ku Sangka, Ternyata Pria Juga Sama

Tak Ku Sangka, Ternyata Pria Juga Sama

Tak Ku Sangka, Ternyata Pria Juga Sama

Dadaku terasa sesak,  dipenuhi gemuruh nafas yang menariknya lebih cepat. Entah apa yang sedang melanda. Pikiranku kosong, sadar, atau mungkin hanya berpura-pura tidak sadar, kami merajut kembali jalinan kasih itu, setelah sepersekian waktu dipisahkan oleh satir yang membentang. Keakraban yang berusaha kami sembunyikan dibalik jeruji perasaan.

Nafasku memburu, oksigen yang ku hirup terasa tersengal. Ia menyatakan ketidaksanggupannya untuk berpisah denganku, ia ingin memulai dari awal, ia ingin mendengar sapaan ramah yang selalu ku ukir melalui pesan hangat.

Aku tak pernah menyadari jika pengaruh kehadiranku begitu besar untuknya, selama ini aku hanya mengalir apa adanya. Meski sedikit terpasung dengan beberapa hal tentang diriku yang tidak membuatnya terkesan, ia terlihat berpaling dari suara yang ku anggap merdu, dari wajah yang ku anggap terindah untuknya, atau mungkin itu sekedar praduga saja, seakan-akan tak ada yang terlalu membuatnya menarik mengenaiku, tapi setelah mendengar erangan halus dari penderitaannya, seolah aku menjelma sebagai wanita yang begitu berharga, wanita yang benar-benar  ingin direngkuhnya, wanita yang benar-benar mengusik fikirannya.

Aku berhenti sejenak dari lenguhan panjang atas benang kusut yang tak segera terurai di dalam benakku. Sesuatu dibalik rusuk terasa berdenyut saat mendengar laki-laki itu berterus terang tentang hari-hari yang dilaluinya dengan tangisan. Laki-laki yang tak pernah sama sekali terlihat menitikkan air mata. Laki-laki yang ku kenal sebagi sosok kuat dari segala terpaan badai dan rasa gengsinya.

Siapa yang tidak terkejut waktu mendengar isaknya begitu jelas menembus gendang telinga, sangat terasa ada air mata berharga yang berderai lancar disana, air mata yang singgah karena suatu hal telah menimpanya dengan amat sangat, isak yang biasanya ku cicil saat berkomunikasi dengannya karena kerap kali ditinggal dalam lelap yang mungkin lebih nikmat, kini berbalik arah, bagai tumpukan kerikil yang sudah lama ku bangun tanpa sadar, tangis itu memecah dalam ruang kasih yang telah menjulang disana.

Dan aku? Tentu saja menerimanya, masa yang selama ini telah menjadi saksi perjalanan dua hati dan mengukir sejarah bagaimana kami bersusah payah untuk saling mengerti karakter masing-masing. Terpaan badai memang tak luput menampar kami, kegoyahan, kekuatan, ketidakstabilan selang-seling mengontrol dan menguasai perasaan yang tengah hadir kala itu. Angan berpisahpun pernah terucap, meski pada kenyataannya kita tidak akan mampu, dan pada akhirnya kata-kata yang menyinggung hal itu menjadi daftar paling akhir dalam mengatasi problema. Pantang untuk menyinggung kata pisah.

0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES