Pernahkah di
perjalan hidup ini, engkau merasakan harapan mendalammu dihantam oleh kenyataan
yang tak sejalan?
Tentu saja yang
ku maksud ini masih masalah cinta.
Cinta? Kenapa harus
cinta? Lagi-lagi cinta, cinta dan cinta.
Mungkin akan
sedikit hiperbola untuk ia yang selalu berfikir rasional dan bermain logika,
seperti sebuah permainan dunia yang dipandang sebelah mata, atau bahkan
dianggap tak terlalu berguna, lebih-lebih bagi yang mengukur segala hal dengan
materi semata, bisa saja ia tak mengerti bagaimanakah tolak ukur rasa suka
sebenarnya? Namanya juga praduga.
Namun tentu tidak
untuk ia yang mendengarkan kehalusan perasaan, bahwa ada sesuatu tak terjamah
disana, tentang sesuatu yang takkan pernah ada habisnya, takkan pernah hilang
sampai akhir masa. Ya, itulah cinta, berbagai macam devinisi tak habis
tentangnya, bahkan serasa senantiasa kurang dalam penguraiannya. Sebisanya, aku
akan mengulas tentang hal yang begulung dalam masalah cinta, ya, cinta yang
kali ini tak selalu mulus dan sesuai harapan. Simaklah, aku akan membahasakan
perasaan saat cinta tak bersambut. Mewakili siapapun yang pernah merasakan
sakit yang sama.
Bersyukurlah,
kalian yang merasakan gayung bersambut, saat cinta berlabuh dan ia yang kau
taksir, mengulurkan tangan untuk menyambut perasaan yang saling bertaut.
Indah bukan?
karena satu
kepuasan dan rasa lega tanpa sadar merebak di jiwa seperti taman bunga di musim
semi yang indah tak terbahasakan. Bagai buah yang mulai ranum dan ingin segera
disantap. Tiada hambatan, atau halangan yang berarti saat suka bertemu suka
merapat tanpa harus bersusah payah dan mengorbankan hal-hal lain. Hari-hari
menjadi penuh senyum dan kebahagiaan, semangat muncul beriring dengan buih-buih
rasa yang tak bisa diartikan, hidup serasa semakin berarti dan sempurna karena
rasa dahaga yang sebelumnya melanda sudah sirna oleh kehadiran seseorang yang
mengisi relung jiwa. Indahnya, serasa dunia milik berdua.
Bersyukurlah,
hanya itu yang perlu ku tegaskan, karena selanjutnya, kalian hanya perlu
mempertahankan, saling menjaga kepercayaan dan rasa. Satu babak kemenangan
telah kalian dapatkan. Sebelum melangkah pada babak-babak perjalanan sebuah
hubungan selanjutnya.
Kini, aku ingin
berbagi, saat puluhan puisi telah terangkai untuk mengutarakan rasa, saat kertas
putih menjadi lampiasan tinta yang meliuk-liuk membentuk untaian aksara, saat hati
menanam sebuah benih harapan mendalam tentang sosok yang terdamba, yang
diharapkan melabuhkan kasih dan simpatinya, saat waktu demi waktu menjadi saksi
bisu pertumbuhan rasa yang semakin manis dan mengakar dalam sukma, tanpa harus
bersuara dan tiba-tiba saja, sebuah keadaan menjawab, keadaan yang tak
disengaja, keadaan yang berhasil menjawab segala yang telah kita rasa. Harapan itu memperoleh jawaban dengan jelas
bahwa segalanya akan sia-sia belaka. Karena ternyata ia sebaliknya, tak memiliki
rasa yang sama, malah menaruh perasaan pada orang lain yang ternyata ada
disekitar kita. Lebih-lebih dekat dengan kita.
MasyaAllah, bagaimana patahnya? Perlahan
tapi pasti, seperti ada jarum kecil yang menusuk ulu-ulu, meremukkan segala
penjuru di hati, mengaburkan pandangan dan menggelapkan harapan. Hidup serasa
lunglai dan tak berdaya, air mata hadir membahasakan luka yang berasal dari dalam
dada, tak mampu tertahan dan merebak dengan sendirinya, seakan mengalahkan
derasnya air terjun yang bermuara. Sesak dan melelahkan jiwa.
Setelah sekian
waktu menguasai emosi, kehancuran yang terasa akan menjadi pacuan untuk tetap
bertahan memperjuangkan potensi yang ada, saat perasaan menguasai seakan dunia
dalam pandangan menjadi runtuh dan tiada artinya, namun realita kembali
memanggil, sebuah harapan yang takkan pernah padam kembali muncul, biskan
lembut sang hikmah menyadarkan diri, bahwa segala hal yang terjadi pasti
memiliki makna tersembunyi, bahwa ada banyak misteri yang sedang Allah
persiapkan untuk kita menopang dan membangun diri.
Setidaknya itulah
rasa yang dengan segala upaya ku sampaikan.
Tak ada salahnya
dengan rasa, tak ada salahnya menaruh sebuah harapan untuk pendamping disana,
namun manusia yang hanya mampu menatap, takkan mampu merubah perasaan mahluk
ciptaanNya. Karena hanya Ia dzat yang membolak balikkan perasaan hati. Kiranya,
jika ia yang kita harapkan ternyata berpaling. Tak perlulah mencela atau bahkan
menggugat tentang takdir suratan, karena segala hal syarat dengan makna yang
tersirat, ada misteri dibalik misteri. Bahwa segala hal akan tetap berjalan
sebagaimana mestinya untuk melanjutkan hidup yang fana dan sementara, bahwa
Allah akan menghadiahkan kabahagiaan bagi seorang hamba yang pandai bersyukur
dan tak berputus asa.
Salam, Move On
Selalu

0 komentar