Tak sengaja, aku
menemukan sebuah buku bersampul hijau, ada gambar kartun gadis manis di cover
depan. Siapapun tentu akan penasaran untuk membuka kembali sesuatu yang
sebelumnya pernah menemani, seperti kali ini, ingatanku langsung terhubung
memberikan kode bahwa buku itu adalah kenangan yang pernah menyertaiku di masa
kemarin. Tanpa hambatan apapun, lembar demi lembar ku buka untuk kembali ku jelajahi,
coretan-coretan artikel, terjemah, cerpen, berbaur menjadi satu. Sedikit demi
sedikit ku baca, serasa bernostalgia,
terkadang aku sendiri memberikan penghargaan untuk tulisan-tulisanku
tempo dulu, seakan hari ini aku heran, dari mana asalnya ide dan rangkaian
aksara itu muncul? Yang jelas-jelas teraplikasikan melalui goresan tanganku,
aneh, tapi itulah kenyataannya, bahwa ada sebuah kekuatan disana yang terkadang
lalai kita sadari, ya tentu saja, kekuatan itu berasal dari sang pencipta, sang
pemberi ide.
Di akhir-akhir
halaman, aku masih menatap tulisanku sekilas, menganggukkan bahwa tinta itu
memang pernah ku bubuhkan melalui tanganku sendiri, tentunya juga hasil dari
kerja keras fikiran, tapi tetap saja, semua itu tiada arti tanpa
pertolonganNya, karena pada dasarnya apa yang ku lakukan dan ku hasilkan berada
dalam kendaliNya, sebuah titipan dariNya, sejatinya adalah milikNya. Segalanya.
Asyik bernostalgia, sebuah ingatan halus
muncul menyentuh rasa, memberikan energi sedih yang tiba-tiba hadir begitu
saja, sebenarnya bukan perasaan mendalam, hanya ingatanlah yang menyapa
kembali, bahwa tulisan juga turut bersaksi atas perasaan pada kala itu, sebuah
goresan tentang latar belakang untuk tugas akhir kuliah atau yang sering kita
sebut dengan proposal skripsi. Memoriku memutar ulang kejadian itu kembali.
***
Dengan perasaan
bangga, karena aku merasa bahwa tugas untuk berkata-kata adalah hal yang
sejatinya ku sukai, disana aku menduga, mengerjakan sebuah percobaan latar
belakang yang ditugaskan oleh dosenku adalah hal yang mudah. Pikiranku langsung
melayang, menggali sebuah ide untuk berkencan dengan bahasa. Karena sebelumnya
sudah ada ide yang berada dalam taraf kemungkinan aku akan mengangkatnya. Teman-teman
yang lain, ku lihat, ada yang menampakkan muka masam atas tugas ini. Mungkin
dirasa berat, atau bingung untuk memulai.
Entah,
seharusnya ini dimaklumi atau memang pantas untuk dicaci, ku serahkan semua ini
berdasarkan penilaian masing-masing orang.
Di suatu hari,
dengan perasaan senang aku mulai merangkai kata, bahkan, dengan sedikit ke
PD-an, aku menerka-nerka respon dosenku nanti, pasti beliau akan merasa senang
dengan apa yang ku hasilkan, bukankah aku menuliskannya dengan sepenuh hati dan
fikiran, tulisan yang murni muncul dari otakku, apalagi aku menyelesaikannya
dengan begitu cepat, bukankah itu sebuah nilai plus saat teman-teman yang lain
ternyata masih bingung memulai, sedang disini aku sudah menyelesaikannya, wihh,
keren bukan?
Esok harinya,
aku benar-benar menyelesaikannya dalam waktu sekejap, karena aku hanya perlu
mengembangkan ide dengan kata-kata yang ku kuasai, coretan tangan itu ku tatap
berkali-kali, ku baca dengan perasaan bangga, sambil bergumam, oh ternyata
seperti ini skripsi? Tak sulit kok.
Aku menemui
dosen langsung diruangannya, wah,, lebih intens tentu akan terasa lebih baik,
agar beliau benar-benar mengapresiasi apa yang sudah ku selesaikan dalam waktu
sekejap, padahal baru dua hari yang lalu beliau memberikan tugas, hahaha,
dasar sok bangga.
Perasaan PD
seakan sudah tertanam, dengan mantap ku serahkan tulisanku pada pak Dosen,
beliau mempersilahkanku duduk. Dan lagi-lagi aku meyakini diri, bahwa dosen itu
akan memberikan apresiasi terhadap usahaku. Sambil menanti beliau mengamati,
tak ada rasa khawatir yang terlalu berarti. Beliau membaca tulisanku sekilas,
sepertinya tak sampai selesai, melihat hal itu tentu saja aku sedikit kecewa.
Buku itu diserahkan kembali padaku, aku menerimanya dengan ringan.
Dan tahukah? Apa
yang selanjutnya ku terima? Sungguh, kejadian itu seperti sebuah hantaman
halilintar bagiku, ya seketika itu, aku merasa jatuh terjungkal dari perahu
yang terbalik dan aku harus bersusah payah untuk menggapainya kembali. Aku
mendengar dengan seksama beliau mengomentari tulisan yang telah ku hasilkan
dengan susah payah, bahwa latar belakang yang ku buat sendiri itu seperti benda
tak berharga, tulisan yang tak bermutu, tak berbobot, tak ada nilai
kualitasnya. Katanya karena tidak ada catatan kaki atau rujukan dari teori, aku
menullisnya berdasarkan wawasan dan alasanku sendiri mengangkat tema proposalku.
Tentu saja aku
terkejut bukan main, Entah, mungkin karena perasaan sebelumnya sangat
berkebalikan dengan apa yang kali ini kuterima, atau memang kata-kata itu
benar-benar meremas perasaan, akhirnya aku tak kuat menahan isak, ya, tanpa bisa
mencegah, apa yang ku rasakan terungkap jelas melalui air mata yang bermuara di
depan beliau, dengan susah payah ku usap buliran yang malah mengalir deras
dipipi, beliau meneruskan tuturnya, bahwa seharusnya aku mengambil teori dari
seorang ahli, tidak ujuk-ujuk menulis dari hasil pemikiran sendiri, apalagi
orang yang belum lulus kuliah sepertiku kala itu tentu belum berhak
mengeluarkan teori berdasarkan hasil ijtihad sendiri, karena aku harus
mengambil pendapat para ahli dulu sebelum mengulasnya dengan bahasaku.
Saat itu aku
benar-benar merasa bodoh, entah air mata itu membuncah karena aku tak terima
dengan ungkapan yang bagiku begitu sadis (hehe) atau karena aku merasa malu. Yang
jelas, itu adalah pertama kalinya aku menangis di depan dosenku secara
langsung. Bahkan untuk menghentikan tangis, dalam hati aku mengatai diri
sendiri, sudah besar kok masih cengeng, hehe tapi tetap saja, dasar gembeng yang
ada air mataku semakin santer menetes. Bahkan, maaf, ingusku juga berkali-kali
keluar (hehe) Tapi untunglah, sepertinya beliau hanya fokus pada penyampaian
komentar, tanpa melihat rautku yang mungkin menyedihkan.Semoga saja..
Nah itulah
sedikit ulasan kisah yang masih tersimpan rapi dalam ingatan, mungkin kalian
memiliki kisah yang lain dalam menghadapi skripsi. So, semua pasti punya kisah
perjuangan masing-masing. Itu adalah kisahku diawal kali mengenal skripsi,
belum perjalanan untuk mencapai finish yang mungkin akan menjadi beribu aksara
jika ku tuliskan. Liku-liku, senang dan sedih menjadi hiasan kehidupan. Mungkin
salahku juga, saat masa-masa awal melangkah untuk memulai tugas akhir,
referensi yang ku baca sangat sedikit, atau hanya berlalu lalang numpang lewat.
Hehe, jangan seperti itu ya,,

0 komentar