Sebuah Catatan, Saat Hati Memaksakan Cinta

Sebuah Catatan, Saat Hati Memaksakan Cinta


Ya Allah Engkau lebih tahu apa yang tengah kurasakan saat ini, perputaran waktu mengantarkan aku bertemu dengan berbagai macam sang adam, dari yang begini sampai begitu, memang tak ada yang sempurna, benar-benar sulit  mejumpai seorang adam yang benar-benar pas di hati.

Dalam keriasauan ini, hatiku masih tak segera mampu mengurai benang kusut, sebenarnya siapakah yang ku suka, bagaimanakah sebenarnya cinta yang ku rasakan? Mengapa yang katanya ku anggap cinta terasa biasa-biasa saja bahkan amat sederhana, apakah cinta memandang kriteria? Apakah hati akan luluh dan mampu mencintai karena kebaikan yang dilakukan seseorang? Benarkah itu? Mendengar banyak pernyataan bahwa dalam berumah tangga cinta atau ketampanan sudah bukan no 1. Karena yang akan lebih di utamakan adalah ekonomi, sifat dan agama. Kemakmuran keluarga itu sendiri.

Terkadang aku meminta pada Allah untuk menenangkan waktuku sejenak, berfikir mendalam tentang warna yang ku selami hanya membuat fikiran penat dan ingin melepaskan takdir, aku tidak ingin merasakan gelombang ombak meski sebenarnya aku sudah terombang-ambing olehnya. Mungkin kasusku kali ini tak jauh beda dengan kisah cintaku yang pertama, di cintai tapi aku tak mampu memahami perasaanku sendiri, apakah benar hati ini menaruh keinginan padanya? Apakah benar ia yang ku harapkan menjadi imam? Tapi mengapa perasaan datar dan biasa-biasa saja yang ku rasakan? Mengapa tiada tawa atau sekedar senyum sebagai pertanda atau kode bahwa aku bahagia saat ia hadir. Mungkinkah ini isyarat bahwa sebenarnya cinta tak bisa dipaksakan? Bahwasanya cinta tak bisa luluh begitu saja meski dengan pengorbanan dan kebaikan, karena yang hadir kala mendapati hal itu hanyalah rasa kasihan dan tidak tega. Apakah seperti itu yang sebenarnya ku alami saat ini?

Ya Allah,, bagaimana seharusnya jalan yang mesti ku tempuh, apakah ku harus bertahan, memberikan kesempatan bahwa mungkin suatu saat hatiku berubah dan bisa tersenyum karenanya, benarkah cinta bukan prioritas utama saat berumah tangga? Benarkah yang terpenting adalah kebaikan dan kemapanan dari seorang suami, tanpa perlu menengok perasaan yang ternyata tak sepenuhnya menerima kehadiran ia yang begitu mencinta, karena ternyata perasaan ini tak bertaut padanya. Apakah jahat jika ku masih berharap ada seseorang yang mampu menciptakan debar di hatiku, meski ia tak melakukan apapun, apalagi melakukan hal-hal untukku? Jahatkah jika aku mengharap orang lain untuk menjadi imamku? Adam yang benar-benar menarik hatiku untuk benar-benar ikhlas menemani jiwa raganya? Ataukah aku harus bertahan dengan apa yang ku rasakan sekarang, saat ada seseorang yang benar-benar mencintaiku dan bersedia berkorban, karena mungkin nantinya aku akan merasa butuh dan menaruh rindu akan kehadirannya. Mungkinkah seperti itu?


Pada akhirnya, ia menghilang, pergi, sebelumnya aku memang sudah tak peduli. Hati ini memang tak mampu dipaksakan, dengan sendirinya jiwa tak tak sudi. Ada seseorang yang hadir kembali dan bisa ku terima dengan sepenuh hati, ia yang begitu setia menanti, memantau tindak tanduk diri, ia yang selama ini mungkin memang telah dipersiapkan untukku, menjawab sebuah misteri dari sang Ilahi Robbi.

0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES