Ada apa
gerangan? Udara sejuk begitu halus mengusik, berbisik tentang mendung yang tiba-tiba
menghampiri, tanpa sebab yang pasti hatiku terasa suram, tak ada apapun, namun
seperti sebuah isyarat yang tak pernah ku mengerti, perasaan itu, ingin
mengungkapkan sesuatu yang tertahan, ya, ada sesuatu yang mengganjal, tapi apa
itu? Aku tak bisa memaksa. Aku belum mengerti. Hanya berlabuh sebuah harapan,
semoga tak ada hal buruk.
Sebenarnya,
isyarat itu sudah hadir. Beberapa kali. Ada sesuatu.
Tak lama, begitu
singkat, sebuah ucapan ringan meluncur, membahasakan keputusan besar tentang
komitmen yang tak bisa dilanjutkan. Kita, harus berakhir disini, dengan
terpaksa. Ada sebuah alasan. Dan hati nuraniku, tak sanggup menerima alasan
apapun, antara terkejut, sedih, luka yang tak mengerti datang tanpa permisi. Ya
ini dia, luka yang tak tampak namun begitu mudahnya meremukkan perasaan. Tak usah
ditanya, air matapun serasa tak sanggup untuk membahasakannya, sembab dan sesak
yang terasa berdebum bagai gemuruh guntur yang berkali-kali memekakkan telinga,
sirna sudah harapan, hilang sudah impian bersama, semua tinggal cerita. Aku menatap
jenuh terhadap hidup, pekat dan aku hanya ingin tenggelam di dasar bumi.
Aku mulai menyusuri
jalan dengan rasa ragu, seraya mendengarkan bisikan-bisikan batin yang mengiang
dalam angan. Apakah hatiku akan tetap bahagia ataukah sebaliknya? Sambil melangkah
ku tata kekuatan, meski terkesan rapuh, namun takan ku biarkan peristiwa kala
itu mematahkan semangat hidup. Angin berhembus membiaskan harapan, meski tiada
seseorang lagi disisi, namun ku ungkap rasa syukur atas segala hal yang telah
Ia limpahkan, betapa nikmatnya merasakan udara yang begitu ajaib dan berharga, menatap
cakrawala dengan anugerah penglihatan dariNya, mendengarkan senandung-senandng
nyanyian alam berkat kemurahanNya, masih pantaskah jiwa meronta karena masalah
cinta yang tak tercapai. Bukankah masih banyak kenikmatan yang tak sempat kita
syukuri?
Ku melangkah
dengan gontai, ada sesuatu yang berkecamuk dalam fikiran, hari ini ku coba
menenangkan diri, seperti hari-hari kemarin saat jiwaku lemah menghadapi
kenyataan cinta, menyambut hidup dengan warna baru dan lembaran baru. Ku
saksikan sendiri kisah hidup yang selama ini terangkai. Begitulah, ada tawa dan
tangis, ada tentram, keluh kesah, gelisah, melankolis, kehamonisan, konflik
dsb. Tak kuasa ku tatap manusia yang bergemuruh, berbincang riang bersama kawan
mereka, begitu senangnya merasakan nikmat komunikasi, seraya melepaskan segala
beban. Dan kini, aku merasa sepi. Oh tidak, ku tak merasa sepi, walau cinta
sang adam tak lagi disisi, namun ku halau diri, mencari sebuah arti tentang
kehidupan dan hakikatnya yang penuh misteri, kebahagiaan masih terus menanti
bahkan hadir disisi. Bukankah Allah menciptakan semua ini untuk pembelajaran,
dan ia yang pernah hadir menemani adalah sebuah pelajaran berharga yang patut
disyukuri. Allah meminjamkan jodoh orang lain untuk memberikan pelajaran
berharga, Bukankah Ia menciptakan makhluknya untuk berpasang-pasangan? Dan pasanganku
yang sebenarnya tentu saja sudah tersedia disana. Entah siapa, semoga Allah
memberikan pasangan yang mampu mengantarkan kita ke tangga syuhada untuk meraih
surgaNya, karena sebenarnya itulah sejatinya kebahagiaan yang hakiki. Aamiin..

0 komentar