Lapar dan Dahaga Kerap Melanda (ini bukan tentang diet)

Lapar dan Dahaga Kerap Melanda (ini bukan tentang diet)



Lapar dan Dahaga Kerap Melanda (ini bukan tentang diet)

Aku lapar, namun tak ada yang bisa ku makan. Karena hanya satu itu yang bisa ku konsumsi, tiada yang lain, entah ini sebuah erangan manja atau sudah sepantasnyakah aku merengek? Berharap makanan itu tersedia untuk memenuhi kebutuhan, namun sepertinya ini adalah waktu untuk berpuasa, ya, mungkin, sudah sepatutnya aku menyambut hari-hari untuk menahan dahaga dan lapar, karena tampaknya makanan itu tak selalu tersedia untukku, walau saat ini aku sudah sangat mengurangi konsumsi, namun entah mengapa serasa semakin hilang saja.

Itu saja menu yang tersedia, yang tak bisa ku sisihkan demi mencoba menu lain, karena mungkin hanya itulah makanan yang saat ini memberikan tenaga untukku menghadapi denting waktu yang terus bersenandung. Aku sudah terbiasa mengkonsumsinya, menu yang lain? Aku tidak mungkin mencobanya walau sekedar melepas haus atau menunda rasa lapar. Karena aku khawatir kebutuhan pokok yang sebelumnya senantiasa ku konsumsi tak tersedia lagi jika aku bersikukuh mencoba menu lain. Tentunya, aku takut makanan penyela itu  ternyata membahayakan kesehatan dan berpengaruh buruk demi kelangsungan hembusan nafasku.

Seperti mereka, yang hidup dalam rasa lapar, terkadang hati menjerit sia-sia, tak ada yang dapat dilakukan selain menerima keadaan yang memang ditakdirkan untuknya, bahkan tak ayal bendungan dibilik mata terpaksa tumpah karena tak tahan dengan rasa yang melilit dan menyiksa.

Terkadang aku bertanya, tak adakah makanan untukku walau segenggam? Sekedar untuk mengganjal, bukankah saat itu ia dengan mudahnya mencurahkan suguhan sehingga aku merasa kenyang? Melepaskan dahaga hingga hilang rasa hausku. Dulu, demi menarik minat dan simpatiku terhadap produknya, ia dengan penuh semangat tak kenal lelah selalu menyediakannya untukku, walau di sela-sela kesibukannya, semua itu bukanlah penghalang untuk tetap berusaha mendapat curahan perhatianku terhadap menunya.

Saat ini. ketika menu itu berhasil menjadi makanan sehari-hari, hingga tak terasa menjadi kebutuhan karena sudah terbiasa ku lahap, sepertinya, aku benar-benar tak bisa meninggalkannya, tentu akan sulit untuk beralih menu, namun sayang, setahap demi setahap persediaannya semakin berkurang, aku menghargai aktivitasnya. Tak mungkin waktu terus menerus menyediakan makanan untuk mengatasi rasa laparku. Ku sadari, dan tetap bertahan dengan semakin menipisnya curahan. Perlahan, aku sudah terbiasa dengan jumlahnya. Lama-lama seperti tak ada apapun dihadapanku. Aku menerjangkan tapak, berharap rasa laparku hilang dengan mengalihkan perhatianku pada yang lain.

Tentu saja, tak sepenuhnya aku memaklumi dengan penuh kelapangan, bagiku ini sedikit menekan, berkali ingin ku tahan rasa yang bergejolak. Berharap ada objek yang bisa ku pecahkan tanpa harus merusaknya sedikitpun, tapi sayang, mustahil. Aku menggigit jari, hambar, sudah terimalah takdirmu. Aku meronta, namun tak kuasa, semua itu karena aku sudah menyelam dan tak mampu menarik diri.

Tak banyak yang ku harap, Pintaku, Setidaknya sisakan untukku walau segenggam. Apakah aku harus berpuasa mutih? Atau menahan rasa lapar berhari-hari hingga mati rasa. Apakah harus sekeras itu?

Tak ingatkah bagaimana usahamu menarik perhatianku terhadap produk yang engkau jajakan? Dan semua itu menjadi jejalan yang tanpa ku sadari membuat kecanduan. Nikotin itu ampuh membiusku. Dan perlahan kau menguranginya, hingga terlihat sebatas sisa-sisa. Tentu saja aku tetap menerima.

Apakah kau tak pernah mengkhawatirkan itu? Apakah sebegitu besar kepercayaan dirimu terhadap produk yang telah menyebabkanku tak berdaya? Tak adakah sebersit kekhawatiran bilamana aku terpaksa mati rasa?

Ini bukan tentang diet, ini adalah tentang menahan rasa, jeritan hati dengan tanda tanya besar yang belum terjawab. Demi menenangkan diri, aku akan berprasangka, makanan itu sengaja tak kau luapkan, barangkali disimpan untuk persediaan dimasa depan, saat aku sudah terbiasa dengan rasa lapar, aku akan merasakan nikmat luar biasa dan rasa syukur yang tak terhingga saat limpahan makanan itu membelalakkan mata dan mengusir rasa lapar dan dahaga.

Satu hal, terimakasih, berkatmu, aku merasakan emosi yang membuat tanganku menari merintikkan aksara.


0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES