“ayolah, sekali-kali jalan-jalan berdua gitu, kemana kek, biar pernah, mumpung besok liburan Maulud” pintanya padaku.
Aku sedikit terkejut, suara tanpa rupa itu benar-benar berbunyi demikian. Bagaimana bisa permintaan macam itu dengan mudah diutarakan?
“maaf, aku tidak bisa”
“kenapa?”
“tidak papa, aku hanya tidak bisa”
“apa salahnya?” Jejalnya padaku. membuat hatiku bergejolak.
Aku terdiam. Seperangkat jawaban tertahan dalam dada.
“haruskah aku mengatakannya?”
“ya, segeralah katakan padaku apa alasanmu menolakku, bukankah aku kekasihmu?” tekannya lagi.
Sebenarnya pertanyaan demikian tak ingin ku jawab, biarlah ia tahu dengan ungkapan sikap, ku rasa tak perlulah mengurai kata untuk mengalirkan argumen yang aku sendiri masih terus belajar dan mencoba mempertahankannya.
Namun karena sebuah desakan, aku harus meronta, mengeluarkan panahnya satu persatu dari bilik hati. Rasa khawatir menaungi gejolakku untuk berkata, berharap semoga apa yang ku ucapkan tak memberikan kesan kurang baik untuk segala prinsip yang ku genggam.
“siapa yang tidak ingin jalan berdua? Menikmati pemandangan alam bersama seseorang yang nyaman di jiwa, menatap kebesaranNya seraya menautkan rasa? Aku tak menafikan, angan seperti itu kian terbersit dalam hati, rangkaian peristiwa indah, ungkapan romantis, mengukir kisah manis yang begitu nyata, mengisi hari dengan senyum merekah yang mengembara dari masing-masing jiwa, yaitu engkau dan aku, menyelami bagaimana rasanya saat dunia serasa milik berdua, melepaskan segala problema untuk menyambut hari indah yang akan kita rangkai.
Tentu saja aku sangat menyukainya, bahkan sangat mengharapkan saat-saat seperti itu menyapa perjalanan skenario hidupku. Tapi tunggu kasih, ini belum waktunya, kau dan aku masih dalam taraf bertahaffudz, kita saling menjaga hati, bukan berarti dengan mudah menodai garis Ilahi. Aku akan mengulurkan tanganku terhadap ajakanmu nanti, jika waktunya sudah tiba, saat para malaikat mengamini engkau berikrar untuk mengemban amanah menjadi pemimpinku, saat engkau menebusku dengan mahar yang diridhoiNya, saat janji mutiara pahala mengalir setiap kita bersua mesra. Kita akan melakukannya nanti, saat separuh agama kita tertebus oleh niat suci menjalankan sunnahNya, kita akan meraup suguhan kebahagianNya tanpa khawatir noda-noda akan menjadi catatan di lauh mahfudz sana, karena sejatinya kita akan memetik buah surga yang melimpah. Sabarlah kasih,, akan tiba saatnya kita melepaskan segala gejolak dalam jiwa. Semua kan indah pada waktunya.”
Lega, setidaknya aku telah mengutarakan gelombang didalam hatiku. Aku beristighfar dengan segala hal yang telah ku ucap, berharap Allah tetap meneguhkan pendirian yang akan tetap ku jaga, karena hanya Ia sang Kuasa yang mampu membolak-balikkan hati, bisa saja saat ini aku seperti ini, dikemudian hari berubah seperti itu, naudzubillah.
Entah apa yang telah ku ucapkan tadi, panah-panah itu apakah mampu menembus relung hatinya atau tidak? Ku pasrahkan semua padaNya, berharap celotehanku tidak berlebihan pula, karena itu tulus meluncur begitu saja.
Sesaat tak ada suara, aku menanti responnya, apakah ia akan bersikukuh dengan ajakannya, atau menghargai keputusanku. Aku mengontrol diri, saat mendengar hembusan nafas disana.
“Terimakasih telah menerimaku menjadi kekasihmu, calon imammu. Hanya itu yang ingin ku katakan”
Ia membalas singkat, suaranya terdengar sedikit berubah, ada ekspresi yang tak mampu ku jangkau. Sepertinya ia tersenyum.
“aku tak benar-benar serius, aku hanya mengujimu, kau lolos, hadiahnya nanti ya,, akan datang pangeran berkuda putih mengajakmu untuk ke istananya, hahaha”
Ia terbahak, Alhamdulillah, aku merasa lega jika demikian adanya, ternyata ia juga mengerti batasan yang menjadi undang-undang tak tertulis dalam hidupku. dan aku yakin iapun mengimbanginya.
“Ya sudah ya,, kita lanjutkan aktivitas masing-masing. Oke, assalamu’alaikum,, “
“okke, wa`alaikumussalm wr wb”
Klik. Ku tutup telephone. Menyisihkannya, kemudian menatap kembali tulisanku dilayar komputer, aku menuliskannya, menulis kisah kasihku yang akan tetap kami jaga kesuciannya, sebagai saksi sejarah rangkaian cerit cinta, sampai akhir masa.

0 komentar