Terimakasih Telah Melindungiku
Angin tak lagi bergeming bersama cuaca terik di bawah bayang-bayang pepohonan, udara yang menyusup begitu terasa panas di ubun-ubun, menerpa bagai bara api di atas kepala, kepercayaan tentang hari akhir membuka tirai tentang keberadaan alam mahsyar, alam perhitungan yang akan menjawab balasan amal kita di dunia, memberi kabar bahwa mereka yang timbangan kejelekannya lebih berat maka matahari akan menyengat dan menenggelamkan mereka dengan keringatnya sendiri.
Ku memilih berlalu dari hamparan manusia yang ingin menanti keberuntungan melalui sebuah pengumuman undian kupon jalan santai, tak peduli apakah nanti kuponku termasuk daftar salah satu orang beruntung yang akan mendapatkan hadiah, biar kulkas sekalipun, niatku membeli kupon telah ku niatkan sebagai shodaqoh, semata-mata karena aku ingin meramaikan program jalan santai warga desaku. Sudah bisa dipastikan banyak orang yang berharap mendapatkan hadiah-hadiah menarik yang disediakan oleh panitia jalan santai, apalagi dorprizenya kulkas, hitung-hitung bisa di jual kembali. Sementara itu, aku hanya berminat mengikuti jalan santainya bukan kupon undiannya, karena sebenarnya praktek keberuntungan seperti ini masih menuai keraguan dalam keyakinanku, praktek ini seperti tak jauh beda dengan perjudian yang di kemas ramai-ramai dan menyenangkan, aku hanya berusaha ihtiyad berhati-hati khawatir hal itu memang tidak sepatutnya dipraktekkan, kecuali jika undian kupon jalan santai dibagi secara Cuma-Cuma, ini bukan judi lagi namanya, tapi tasyakuran. Namun kenyataan dilapangan kupon jalan santai diperjual belikan kepada masyarakat, mujur bagi mereka yang mendapat hadiah, gigit jari bagi mereka yang pulang dengan tangan hampa.
Ku pastikan diri bahwa semua ini hanya kebetulan semata, menyadari seseorang yang sedari tadi mengikutiku dari depan, lebih tepatnya mendahuluiku dengan hanya berjarak satu langkah, ia menyertai langkahku, bahkan selangkah di depanku, saat ku putuskan beranjak dari arena lapangan, arena yang begitu panas dan sedikit sesak dengan pemandangan manusia yang berkeringat dan kelelahan.
Laki-laki didepanku memiliki tinggi badan yang semampai, senyum menawan dan wajah yang menarik perhatian, wajah yang diam-diam kadang ku perhatikan dari jauh, setiap kali mencuri pandang setiap kali itu pula hatiku bergumam merajut rangkaian kata yang indah, entah bagaiman Tuhan menciptakan maghnet yang memberikan kesenangan tersendiri ini, membuatku mensyukuri kebesaranNya saat mendapati pemandangan yang menyejukkan hati, seakan tiada lagi hal yang lebih bahagia selain berada di dekatnya dan mengukir kenangan indah yang tak terlupa.
Kini ia berada didepan mataku, memperlihatkan punggungnya yang bidang dan menyembunyikan tubuhku yang mungil, dari balik itu, ku tahu tersirat wajah tulus yang ingin memperhatikan dan melindungi, meski tanpa kata yang jelas, bahasa tubuhnya telah menyiratkan sedikit pertanyaan yang sejak tadi menggumpal dalam relung.
“kenapa mengikutiku?” tanyaku sedikit kasar, meski sebenarnya hatiku berteriak untuk tidak melafadzkan kata-kata yang mungkin tidak nyaman baginya, namun apa daya saat lidah kelu dan suasana terlalu kaku, kalimat itu yang tiba-tiba muncul dan terdorong keluar dari mulutku.
Reflek Ilyas (nama laki-laki itu) menoleh kearahku, menawarkan senyum penghibur hati, membuatku sedikit salah tingkah dengan sikapnya yang demikian, kusadari ada rasa nyaman yang menyelimuti diri, namun sepertinya ia menyadari dan mengerti bahwa diriku tak berkenan untuk berjalan berdampingan, seakan terbahasakan oleh jilbab yang selalu kukenakan, tanpa sepatah katapun ia menghormati keputusanku,terbukti ia mengambil posisi sedikit lebih maju.
“Emm,, apa tidak boleh?”balasnya, ia malah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan pula.
Ku bingung untuk menjawab, jika ku jawab ‘ia’ rasanya terlalu rendah untuk harga diri seorang muslimah, jika ku jawab ‘tidak’ khawatir jika nanti ia sedikit tersinggung dan benar-benar meninggalkanku sendiri.
“emm,, ya gak papa” jawabku tanpa menghentikan langkah dan tanpa melihat wajahnya, seperti biasa rasa jaim masih saja menjadi ciri khas gaya bicaraku, terutama pada ia yang sebenarnya telah mempunyai tempat dihati, setidaknya dengan cara demikianlah perasaan yang tersimpan bisa disembunyikan tanpa merasa khawatir diketahui.
“syukurlah,,” jawabnya singkat, dan kembali menatap kearah depan, setelah itu ia terdiam, tiada kata yang menyusul ucapan singkat yang telah dilontarkannya, mungkin akibat jawabanku tidak melegakan dan sedikit membuatnya kurang nyaman. Ada sedikit rasa bersalah yang menyeruak, ingin rasanya kusampaikan bahwa sebenarnya hati ini ingin menyambutnya ramah, namun semua itu masih tertahan dan tersembunyi dibalik jeruji perasaan, ku harap ia dapat bersabar dan mengerti keadaanku.
“maaf ros karena ku telah mengikutimu..” ungkapnya tiba-tiba, membuatku sedikit terkejut setelah sibuk dengan segudang kata yang sedari tadi berdengung dalam hati. ku hanya mampu tersenyum mendengar pengakuan jujur dari balik punggungnya. Kami terus melanjutkan langkah untuk kembali ke peraduan, tak menghiraukan nyanyian burung yang sempat singgah dijajaran pohon sepanjang jalan. Sengaja, ku kembali terlebih dahulu dari arena lapangan, meski sebenarnya masih ada pengumuman pemenang undian kupon jalan santai, namun cuaca panas telah menguras tenaga, membuatku ingin segera beristirahat setelah mengikuti jalan santai mengelilingi jalanan kampung.
“Ros, balapan yuk..” pintanya mendadak, ia berbalik, menghentikan langkah dan membuatku tengadah menatap wajahnya yang benar-benar tulus mengajak lari bersama, dan kurasa ia akan tahu jawaban yang akan ia terima, diam hanya itu yang bisa ku lakukan, setelah itu ku tertunduk menyembunyikan kebingungan yang muncul dirautku.
“kok malah nunduk..? gimana? Kamu berkenan? Kalau tidak ya gakpapa,, ”
Sekali lagi ‘terdiam’ Hanya itu jawabanku.
“ya sudah,, ku lari sendiri aja ya,, da,, ros,,”
Seketika ku angkat kepala untuk memastikan ia benar-benar akan berlari, ia sedikit tersenyum dan melambaikan tangan sekilas seraya menyempatkan menatap wajahku, itu artinya ia akan melangkah menjauh, ku hanya mampu tertegun melihat ia mulai menghuyungkan langkah cepat, dan punggungnya yang lebar semakin berjarak dari penglihatan, hanya beberapa menit, larinya yang cepat membuatnya segera menghilang dari pengelihatan ku.
Dengan langkah sekenanya ku bawa diri tanpa siapapun yang menemani, ingin rasanya ku ikut berlari dan menyusul, namun semua itu ku urungkan karena rasa Jaim yang ku sandang, sebagai muslimah tak mungkin jika ku balapan lari berdua dengan ia yang belum menjadi kekasih halalku.
Langkahku semakin tertunduk, menyibak jalanan sepi perkampungan, sawah dan pepohonan seakan menjadi saksi kehampaan yang tiba-tiba kurasa, sesekali suara bising sepeda motor dan mobil melintas dijalan ini, menciptakan keramaian yang tak mampu menepis rasa sepiku.
Sengaja tak ku sapukan pandangan karena rasa khawatir yang menyelubungi, ternyata tak aman rasanya berjalan seorang diri di jalan perkampungan seperti ini, memang benar masih ada rumah yang berdiri dikanan kiri jalan, namun siang bolong seperti ini suasana begitu sepi karena kemungkinan para penghuninya tengah bekerja atau istirahat.
“Nuhun sewu bu,,”sapaku, mendapati seorang perempuan setengah baya berada di depan rumahnya tengah menjaga padi yang dijemur di bawah terik matahari agar tidak di makan ayam-ayam tetangganya.
“monggoh..” balasnya, seraya tersenyum ramah, membuatku sedikit terhibur menyadari sudah sekitar 10 menit berjalan seorangdiri.
‘tak apalah, toh ku tak ingin memaksa apapun padanya,’ hiburku dalam hati seraya melanjutkan langkah.
Tak bisa terpungkiri, rasa gusar tak mampu ku sembunyikan, hati ini memanggil, jelas mencari Ilyas, ku butuh teman yang tulus dan berkenan melindungiku, 5 meter dari jarakku berdiri, sebuah warung lengkap dengan pelanggannya yang kebanyakan anak-anak muda berdandan metal, mereka bertato dan menggunakan tindik di telinga bahkan di hidungnya, wajah-wajah beringas yang membuatku ingin berbalik arah. Perlahan tapi pasti, rasanya ku mulai menyerah dan tak ingin melanjutkan langkah.
"Sudah berapa lama dia tak menampakkan diri? Apakah ia tak mengerti bagaimana perasaanku? Haruskah aku bersikap ramah padanya? Tak bisakah ia menyadari tanpa harus ku tampakkan? Datanglah,, datanglah,, ku mohon datanglah,, ku memanggilmu melalui suara hatiku Ilyas,,’gumamku dalam hati, beruntung kata-kata ini tersimpan, sehingga ku tak perlu malu meski meracau tak jelas. Namun haruskah ku lanjutkan langkah? Oh ini sungguh bukan sebuah lelucon, bagaimana jika nanti mereka menggoda, lalu menghampiriku, bagaimana jika yang datang tidak hanya satu? kulihat jumlah mereka, banyak, sungguh ku tak ingin memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk jika harus melanjutkan langkah. Datanglah Ilyas,, datanglah,, jangan seperti ini, rasanya ingin menjerit memanggilnya. Tapi jelas itu tak mungkin ku lakukan.
Ku tundukkan diri, meyakini bahwa semua akan baik-baik saja,, entah mengapa ku putuskan untuk melanjutkan perjalanan, ku yakin Allah akan melindungiku, meski rasanya sedikit tertatih membawa langkah, ada rasa berdetak dalam dada, perasaan cemas itu tak bisa hilang dan sedikit demi sedikit menyusup memacu jantungku berdegup lebih cepat.
Ya Allah,, sepertinya ku tak mampu membohongi diri, namun terasa ada seseorang yang mengikutiku dari belakang ‘deg’ semakin cepat saja debaran di dada, oh, siapa ini dibelakangku, dengan segenap rasa penasaran ku berbalik badan untuk memastikan sosok yang berada di balik punggungku. Ya Ilahi,, tak mampu ku bendung rasa lega yang hadir seketika, mula-mula saja tanganku hampir mendarat di dadanya, namun spontan ku urungkan dan ku palingkan muka dari padanya, rupanya dia orang yang kupanggil-panggil sejak tadi, Ilyas.
“kenapa kau tiba-tiba ada disini? Ku kira kau sudah sampai rumahmu,,” tanyaku dengan nada yang tak jua berubah, lagi-lagi ia hanya tersenyum.
“aku mengintipmu dari tadi,, sepertinya kau ragu untuk melanjutkan langkah, takut ya?”
“emm,, biasa saja, sejak kapan kau mengintipku?”
“sejak kau berada ditempat ini, kau tak mungkin tahu,, sejak tadi ku menantimu dibalik rumah itu” ungkap Ilyas, sambil menunjuk sebuah rumah yang berada di pinggir jalan.
“kenapa menantiku?”
“emang kamu berani jalan di depan orang-orang itu,,”
“biasa saja kok..” timpalku kembali. Memang benar ku takut, tapi tak mungkin mengakui hal itu dihadapannya.
“hemm,, baiklah, ayo jalan, didepan ada anak-anak muda, kau jalan dipinggirku saja” perintahnya tiba-tiba.
“loh,, ngapain? Gak ah,,” jelas saja ku terkejut mendengar permintaannya.
“udah,, jalan dipinggirku, kau mau digoda orang-orang itu?”
Tegasnya, karena ku masih tetap bersikukuh untuk tidak berjalan berdampingan. Baru ku sadari, ternyata hal itu terpaksa ia lakukan demi melindungiku, tak ku sangka sedari tadi ia telah menantiku untuk hal ini, dia tidak benar-benar meninggalkanku. Terimakasih ilyas,, dengan sedikit menyisihkan rasa jaim, ku padankan langkah untuk berjalan berdampingan dengannya, ia tenang sekali melangkah memancarkan sosok yang begitu melindungi, ada rasa tenang yang kemudian hadir, terlebih saat ia menyapa dengan salam hormat kepada para kawula muda yang membuatku takut tadi. Dan respon merekapun begitu baik, tak tahu jika aku seorang diri, akankah seperti ini atau kemungkinan-kemungkinan buruk yang ku fikirkan tadi akan terjadi? Entahlah..
Dalam hati, ku benar-benar ingin berterimakasih padanya, terimakasih mendalam karena begitu tulus menemani, terimakasih karena telah menanti dan melindungi, maafkan atas segala sikap kasarku, semua itu ku lakukan untuk penjagaan diri dan demi menutupi perasaanku.
“Ilyas?” panggilku dengan nada yang tak kasar lagi,,
“iya, ada apa?” jawabnya sambil menoleh padaku,,
“terimakasih banyak ya,,”
“iya, sama-sama”
Kami berpisah dipersimpangan jalan, kenangan yang baru saja ku alami terngiang dalam ingatan. Baru kali ini ku berjalan berdampingan dengannya dan itupun karena terpaksa. Terimakasih telah melindungiku.

0 komentar