TERSIBAKNYA TABIR BIDADARI SURGA
Ku ingin memandang kehangatan wajahmu sekali lagi, menatap kerlingan matamu, mendengar suara dari bibir mungilmu, berbincang lepas bagai dua burung merpati yang terbang bebas mengepakkan sayap, berbagi senyuman di tempat yang teduh berhiaskan mawar-mawar indah yang melengkapi aroma nama yang kau sandang, Rosa.
Sesuai dengan orangnya, semerbak seperti sang bunga, begitulah yang kurasakan saat pertama kali kau menampakkan diri dihadapanku, baju dan kerudung warna hitam begitu merona membalut tubuhmu yang mungil, bak bidadari kecil dari surga kau datang dengan langkah pelan, menyiratkan rasa penasaran yang tak mampu ku bendung.
‘Ros.. bisakah kau menemuiku kali ini,, saja, hanya sebentar, setelah itu ku akan segera pergi ke sekolah SMAN 05 Pasuruan karena ada urusan’
kulayangkan sms ini dengan hati penuh harap, terhitung sudah ke-12 kalinya ku mengajukan permintaan untuk bertemu dengan Rosa secara langsung dan selama itu pula secara halus selalu ia tolak dengan alasan yang sama.
“ku hanya ingin Menjaga diri mas,,” begitulah ujarannya. Ku tunggu dering HP tanda balasan darinya,, menunggu sebuah jawaban yang menyuarakan alam bahwa untuk kali ini ia bersedia atau tetap sama seperti jawaban sebelumnya.
‘ia mas,, insyaallah..’
Jawaban sms itu begitu tertera jelas dimata, melambungkan perasaan yang tak mampu ku lukiskan, entah mengapa setelah melihat wanita ini di jejaring social, hatiku seakan tertarik untuk menelusuri kepribadiannya, ia terlihat begitu indah, terlebih kata-kata yang selalu ia tulis di media social seakan membahasakan bagaimana karakternya, sedikit banyak ku bisa menebak bahwa ia menyukai kelembutan, meski ku belum melihatnya secara langsung. Dan baru kali ini ku diberi kesempatan untuk mendatanginya, entah apa alasannya, yang jelas ku sangat bersyukur karena Allah memberikan kesempatan padaku untuk bertemu dengan seseorang yang bagiku begitu misterius. Kesempatan langka ini tak ingin ku sia-siakan begitu saja, segera kukenakan baju batik guru yang biasa ku pakai saat mengajar, namun ku ambil jaket untuk menutupinya.
“Fuad,, ayo cepat, sarapan dulu!”
Suara Ibu begitu lantang terdengar dari arah ruang makan, mungkin Ibu membuat nasi goreng, nasi yang amat ku suka sekaligus menyihirkan kantuk saat mengajar.
“Iya Ibu,, sebentar.. ” sahutku dari kamar. Dengan sigap ku tarik diri menuju ruang makan. Disana ku dapati Ibu tengah menata nasi dengan tempe goreng dan telur dadar dimeja, sederhana, namun wanginya begitu menggoda selera. Ku hampiri Ibu dengan perasaan haru, begitulah setiap hari ia memanjakanku, ku raih piring yang telah berisi nasi.
“Terimakasih, Ibu..” ucapku tertahan, dan ku mulai duduk dikursi makan bersiap menyantapnya, ada rasa sakit yang terkadang tak bisa ku artikan, disana,, disekitar mata dan mulut Ibu terdapat garis-garis keriput yang seakan menyiratkan bahwa Ibu sudah semakin menua, tepatnya beliau telah berusia 50 tahun, sedangkan Aku, Aku adalah anak semata wayangnya yang tentu sangat ia kasihi. Ketahuilah, Ayah yang ku cinta telah berpulang ke Rahmatullah sekitar lima tahun yang lalu, beliau terserang nyamuk aides aigepti yang menyebabkan beliau mengidap demam berdarah, dengan segenap kekuatan ku bendung air mata kala itu, Ayah yang kerap kali memecahkan suasana dengan selera humornya harus rela kehilangan nyawa, bahkan sampai kali ini ku seakan masih belum percaya bahwa beliau telah tenang disana, suara, sikap, tawa, kebiasaan beliau, masih terasa akrab dalam kehidupanku. Saat ajalnya datang, kutatap wajah Ayah dengan hati tersayat, beliau nampak tersenyum tenang, Ibu begitu lemah dalam pelukanku, tangisnya yang tak bersuara namun begitu deras mengalirkan air mata, mata Ibu begitu membengkak. Dan pada akhirnya kami harus menyadari bahwa semua adalah milikNya dan akan kembali padaNya. Namun, begitulah, hati ini tak dapat memungkiri bahwa rasa kehilangan masih begitu membekas dalam ingatan.
Kali ini ku tatap wajah Ibu yang sedikit kurus dengan rasa haru, Ibu, seorang wanita penyemangat yang sangat kusayangi..
“Maaf ya Ibuku sayang,, anak Ibu selalu merepotkan, hehehe,” ucapku menggoda. Ibu mulai sedikit tersenyum karena tingkah lakuku.
“Sudah,, cepat dimakan Pak Guru,” balas Ibu seraya tersenyum jaim.
“hehe, ia,, ia.. bu..”
Ibuku, meski sebenarnya masih mempunyai kesempatan untuk mencari pendamping lagi, namun ia tetap menjanda sampai detik ini, tak jarang ku tawarkan duda-duda baik yang menurutku pas untuk Ibu. Semua itu tiada lain karena ku ingin mencoba mengerti keadaan Ibu sebagai seorang wanita yang membutuhkan sandaran dan kepala rumah tangga, berkali ku coba berkali itu pula Ibu menolaknya. Ujungnya tinggallah kami berdua, Ibu dan anak semata wayangnya yang tertampan ini, hehehe.
“Ibu juga nemenin dong,, ” pintaku manja.
“iya,, iya,, sudah ayo cepat dimakan, keburu dingin nasi gorengnya,, sebentar lagi Ibu mau belanja untuk warung kita.”
“Oke bu,,”
Selepas makan, ku raih tangan Ibu yang terasa sedikit kasar, dengan lembut ku daratkan dihidung, tangan yang semula lembut kini berubah sedikit kasar, ku rasa mungkin akibat dari seringnya bekerja keras, meski kerap kali ku larang, namun begitulah, laranganku tak sedikitpun mematahkan tekad Ibu untuk tetap sibuk di warung kecil kami. Ibu sadar bahwa penghasilanku sudah mampu menghidupi kami berdua, namun Ibu sering kali berkilah
“Tabung saja penghasilanmu,, nanti bisa digunakan untuk biaya menikah” begitulah alasan yang selalu Ibu lontarkan, sekaligus membuatku terdiam menerawang, memikirkan siapakah gerangan yang akan bersedia menjadi permaisuri hatiku?
Setelah meminta segenap restunya, ku mantapkan hati, dengan iringan do’anyalah ku menjadi seperti ini, memiliki profesi sebagai tenaga pengajar bahasa Inggris di dua sekolah sekaligus SMA dan MA.
Ku langkahkan kaki menuju garasi sepeda motor, motor sederhana hasil peninggalan Ayah yang selalu menjadi teman setia setiap ku membawa diri ke jalan raya, dengan penuh hati-hati ku pacu ringan membayangkan bagaimana Ayah yang dulu sering mengendarai dengan semangatnya yang khas, kenalpotnya mulai sedikit berkarat, namun tak menyurutkan pelayanannya mulai dari Ayah hingga diturunkan pada anak semata wayangnya ini.
Angin semilir mengantarkan fikiranku yang terpusat pada suatu tempat, tempat yang begitu ingin kusinggahi untuk memecahkan rasa penasaranku selama ini, Pesantren Nurut Tholabah, penjara suci yang begitu dikenal karena memiliki pengasuh dengan perangai yang terkenal rendah hati.
Tiada yang tahu rencana yang telah kurangkai dalam hati, termasuk Ibu yang selalu menjadi tempatku melabuhkan sejuta cerita mulai dari karir, peribadatan bahkan cinta yang sejauh ini masih di bawah naungan kearifan rasa, tekad bulat ini sudah membentuk segenggam keyakinan membawa motorku melaju pergi kearah yang dipandu oleh perasaan, ya, motorku pertama kali akan melaju ke arah penjara suci seorang santriwati yang biasa dikenal dengan nama pesantren Nurut Tholabah.
Jelas tak mampu kupungkiri, ada sedikit kegugupan yang sebenarnya tak kuinginkan, untuk pertama kalinya Allah memberiku kesempatan berjumpa dengannya, ku tak tahu apa yang akan terjadi di menit setelah ini, namun harapan indah menguatkan ikhtiar dan do’aku agar menuai keberhasilan meski ada segenap bayang-bayang yang meruang difikiran, tentang kelancaran dan kegagalan, karena mungkin saja Aku gagal bertemu dengannya. Ah, dan itu tidak boleh, kesempatan emas ini baru kudapatkan. Ku yakin Allah akan memberi kelancaran.
Ku pacu sepeda motor seraya menikmati udara pagi, hembusan angin sejuk yang masih menebarkan sisa-sisa oksigen memberi kesegaran tersendiri dalam fikiran dan jasmani, warna hijau yang masih berbaris di sepanjang jalan seakan menyuarakan bahwa negarAku adalah negara tropis, meski ku tahu beberapa meter setelah ini pemandangan berbeda akan mencemari pandanganku bahwa negara agraris yang terkenal dengan suburnya tumbuhan ini tak sepenuhnya menyejukkan, karena sebentar lagi akan ku dapati jajaran gedung, perusahaan dan ruko-ruko yang bertebaran di sepanjang jalan, gersang dan amat disayangkan.
Pesantren yang akan ku singgahi adalah pesantren yang begitu terkenal dengan pengasuhnya yang berahlakul karimah, kabar tentang beliau yang tiada lain bernama Kyai Hasanuddin sudah tak asing lagi di telinga, beliau merupakan kyai terpandang yang di elu-elukan ilmu dan kerendahan hatinya, tapi untuk kali ini nyaliku hanya untuk menghampiri santriwati di pesantren beliau, meski sebenarnya ada keinginan besar untuk mengenal sosok Kyai Hasanuddin secara langsung dan lebih mendalam, tapi kurasa hal itu tidak untuk saat ini, mungkin disuatu nanti akan ada waktu yang mengaharuskanku mengahadap beliau dan meminta restunya. Mungkin.
Baru kusadari perjalananku sudah tinggal 3 KM lagi untuk mencapai pesantren Nurut Tholabah. Motor-motor dan mobil-mobil yang melaju mulai begitu ramai memadati jalan raya, mungkin setiap orang memulai aktifitas sehari-hari. Di lampu merah kuberhenti untuk mematuhi rambu-rambu dan tentunya usaha untuk menyelamatkan nyawaku. Orang yang mengendarai motor dipinggirku, rupanya sudah disambut pengemis perempuan yang menggendong anaknya, cukup pagi juga Ibu dan anak itu memulai mencari nafkah di tengah kota yang kini telah ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang, tanpa fikir panjang, ku sisihkan uang senilai Rp. 5000,- dan memberikannya saat pengemis itu sudah mencapai motorku, mungkin uang yang tak seberapa itu bisa sedikit membantu beban hidup yang ia tanggung. Tiba-tiba saja Aku teringat Ibu disana, yang pertama ingin ku tanyakan, dimana suaminya? Dimana Ayah anak kecil yang dalam gendongan Ibu pengemis itu? Apakah ia sama sepertiku hidup tanpa Ayah? Entahlah,,
Saat ku tengadah lampu hijau sudah menyala. Pertanda ku harus segera kembali memacu motorku.Tak terasa 10 menit telah berlalu, terlihat sebuah gang dari arah jalan raya, gang itu bertuliskan “Selamat datang di Pesantren Nurut Tholabah”, ada rasa berdebar yang mula-mula menyusup di dada saat ku berbelok ke arah barat dan mulai melintasi gerbang tersebut, kali ini jalan yang ku lalui mulai sedikit sepi. Tak jauh dari gerbang awal, mungkin sekitar 500 meter pemandangan asri kembali memanjakan penglihatanku, pohon-pohon yang tertata rapi disertai bunga-bunga indah yang menghiasi rerumputan, jalan sunyi yang sebentar lagi mengantarkan diriku ke asrama putri terasa menambah debaran yang tak bisa ku artikan. Akhirnya kini ku dapati gerbang yang bertuliskan “Asrama Putri” suasana disini masih begitu kental dan bernuansa pedesaan meski tak seberapa jauh dari jalan raya, dibelakang asrama putri terdapat sawah yang masih membentang, sedang di samping kiri asrama putri, bisa ku tebak bahwa itu adalah Ndalem (kediaman Kyai, Bu nyai, neng dan gus), ndalem tersebut sederhana namun nyaman di pandang mata, mungkin karena para santri yang ikut menjadi abdi ndalem selalu menjaga keasrian ndalem. Ku cukup mengetahui hal itu karena dulu kupun pernah menjadi seorang santri di Pondok Pesantren al- Anwar selam enam tahun sejak SLTP hingga lulus SLTA sebelum akhirnya ku mulai melanjutkan kuliah dan kembali kerumah.
Tentunya tiada keberanian bagiku untuk langsung memasuki gerbang asrama putri, selain ragu ku juga khawatir ada peraturan bahwa laki-laki dilarang memasuki gerbang, meski sekedar di halaman ndalem. Dengan mengumpulkan kekuatan, segera saja ku layangkan sms pada wanita yang ingin ku temui bahwa ku sudah berada di depan gerbang.
‘ia mas.. sebentar lagi ku keluar’
Satu pesan masuk darinya, lega, dan ku tunggu ia seraya mencari posisi duduk yang nyaman ku tempati. Meski sekedar duduk diatas batu yang disampingnya adalah rerumputan hijau, namun hal ini seakan begitu nyaman karena hatiku yang merasakan kelegaan. Bagaimana tidak setelah berkali-kali mengiba untuk menemui gadis yang menggugah perasaanku ini, akhirnya datang juga kesempatan yang semula ku kira takkan pernah terwujud. Pikiranku,, tentu saja memikirkan bagaimana ia datang, apa yang akan terjadi dan bagaimana ku akan memulai pembicaraan? lama-lama ku bisa bertambah canggung karena berfikir macam-macam.
Mungkin karena rasa yang tak menentu, hingga waktu seakan begitu cepat menghadirkan sosok gadis berbaju hitam, ia dengan anggunnya menghampiriku disertai senyum manis yang tersungging. Langkahnya sesekali tertunduk, mungkin ia sedikit malu karena baru pertama menjumpaiku.
“Sampean mas Ilham ya..” sapanya ramah. Ia berdiri sekitar dua meter dariku.
“Iya benar,, bisakah kau juga duduk..?” tanyaku meski sedikit canggung, ku tak kuasa berdiri, karena jujur ototku masih terasa lunglai karena debaran keras yang baru saja melanda.
“Iya mas,” jawabnya seraya duduk di rerumputan yang berjarak sekitar satu meter dariku. Tak ada nyali bagiku mendekat, sebagai laki-laki ku ingin menghormati penjagaannya, namun sesekali ku beranikan diri menatap wajah indahnya, dengan segera ku mencoba mengimbanginya duduk diatas rumput tepat disamping batu yang semula ku duduki. Kami terdiam, ternyata benar praduga yang sempat ku bersitkan, rasa canggung menghambat keinginanku untuk mengajaknya berbincang riang. Meski ku tebak, ia sendiri terlihat salah tingkah dan bingung berbuat apa, namun tiada tindakan yang bisa segera ku lakukan, ada rasa bersalah dalam diri meski tak mampu ku pungkiri rasa bahagia membuai naluriku.
“Setelah ini Mas Ilham hendak kemana?” tanyanya, sepertinya ia berusaha unuk memecahkan suasana, ku jadi merasa semakin bersalah karena mungkin telah membuatnya kebingungan.
“Mas mau ke SMA dik.. oya, kamu kenal mbak Dina?” ucapku mencoba mengajaknya berbincang.
“Mbak Dina yang jurusan Pendidikan Bahasa Arab itu ya?”
“Iya dik benar,, kenal dik?”
“Kenal, Mas. Tapi mbak Dina sudah lama berhenti, kenapa lo mas?”
“Gak papa dik,, dulu mbak Dina satu MI sama mas, tapi setelah SLTP kita terpisah Karena mbak Dina mondok disini, sedangkan mas mondok di Al-Anwar”
“Oh,, gitu ya mas,, jadi mas pernah mondok? Berapa tahun mas?”
“Iya dik,, sekitar enam tahun, tapi setelah itu mas berhenti, soalnya mas kuliah beasiswa di Malang,” jawabku senang, karena suasana yang kurasakan mulai mencair.
“Oya kok baru tanya sekarang dik? Waktu di sms kok kayak cuek gitu ke mas,?” sambungku, akhirnya, ada kesempatan untukku menanyakan sikapnya tentang hal ini, rasa khawatir apakah dia sudah mempunyai pandangan seorang pendamping selalu saja membuatku pasang surut, meski dari sikapnya ku yakin bahwa ia masih belum memiliki seorang yang special di hatinya. Angin berdesir mengibaskan kerudung dan membuatnya semakin memancarkan pesona. Ia terdiam, sedikit ragu untuk menjawab pertanyaanku.
“Maaf mas jika sikapku demikian, ku hanya khawatir komunikasi kita menjadi begitu sering, ku takut merasakan ketergantungan seperti yang terjadi dengan teman-temanku, kata mereka jika sehari tidak sms rasanya tidak nyaman dan merasa kesepian, jadi bisa dipastikan ketergantungan itu jelas akan mengganggu tugasku di Pesantren”
Ku dengarkan alasannya dengan seksama, terjawab sudah kekhawatiranku tentang sikapnya yang acuh tak acuh. setelah ia menjawab demikian ada kelegaan yang semakin menyeruak di dada, seakan menjadi pertanda sepertinya akan ada kesempatan untuk meraih hati sang Rosa.
“Oya,, asrama adik kok kelihatan sepi?” ungkapku penasaran, karena sejak semula jarang sekali ku lihat lalu lalang anak Adam.
“Iya mas,, sekarang waktunya liburan haflah imtihan, teman-teman sudah pulang dari hari kemarin, insyaallah saya sebentar lagi juga akan pulang mas, ayah yang kesini nyusul.”
“Oh..” timpalku seraya mengangguk-anggukan kepala.
Terdiam, hanya itu yang bisa kulakukan saat mendengar jawabannya. Ku perhatikan, sejak ia berbincang denganku tatapan matanya kerap kali tak mengarah padaku, mungkin ia tengah berusaha menjaga pandangan. Sekilas, ku amati dengan jelas, gadis ini memang begitu menarik, matanya terlihat bening dan ceria, alisnya begitu membentuk seperti bulan sabit, begitupun dengan bibirnya yang mungil dan mengeluarkan suara halus. Ingin rasanya ku berbincang lama dengan gadis ini, tapi seakan ada hal yang entah apa telah membuatnya gelisah.
“Mas,, ku pamit dulu ya,,” ungkapnya tiba-tiba. Tentu saja aku sedikit terkejut, sepertinya baru beberapa menit kami berjumpa dan memulai perbincangan yang semakin membuatku yakin bahwa gadis ini benar-benar pas dihati. Mungkin karena salahku yang kurang kreatif mencari bahan perbincangan, karena memang perasaan campur aduk membuatku larut menikmati kesempatan bersama sekaligus bingung untuk berkata.
“Oh iya dik, silahkan, makasih ya,, “
“ia mas, sama-sama, monggoh,,” pamitnya seraya menunduk kemudian memunggungiku pergi.
Begitulah, pada akhirnya hal yang tak ku inginkan harus terjadi, ia berpamitan dengan meminta persetujuanku. Berat rasanya ku anggukkan kepala. Hembusan angin menerpa wajah, menyapa raut mukaku yang menampakkan kehausan, haus karena merasakan air yang menyiramiku berpamitan untuk kembali ke peraduan, dan meninggalkan seribu pertanyaan yang bergejolak dihati. Akankah ku harus merasakan mabuk rindu padanya? Gadis yang ku kenali dari media social, dan saat hadir di mata, ku rasakan kecocokan jiwa yang sulit dimengerti, apakah ini pertanda ku harus terus berjuang untuk menulusurinya?
Ku ingin menemuimu sekali lagi,, menulusuri seluk beluk kehidupanmu untuk menyampaikan salam manis dari lubuk hatiku,, akankah perjumpaan kita hanya sampai disini,,? Tidakkah kau menyadari perasaan sesak yang tiba-tiba saja mulai melanda. Ku ingin mengahdiahi Ibu seorang menantu yang sholihah, agar bisa menjadi temannya di kala ia sendiri.
Setelah pertemuan satu kali itu, selalu saja ajakan pertemuan yang kembali kulayangkan, pun ditolaknya dengan halus, ‘menjaga diri’ begitulah dalihnya, mendapati jawaban demikian tak mampu ku pungkiri hati sedikit kecewa, namun hal itulah yang membuatku semakin yakin untuk terus mengejarnya, terlebih saat ia memproklamasikan diri bahwa belum ada Adam yang menjadi pagar hatinya.
***
Kupandang sebuah figura yang menampilkan kesederhanaan nya, raut wajah yang begitu ku rindukan kian memenuhi rongga dada, kaca di jendela masih basah diterpa embun, menyusupkan oksigen yang begitu segar di pagi hari, matahari menerpa dari bilik-biliknya, menggambarkan keagungan Tuhan yang tiada tara.
“Fuad,, ayo siap-siap, katanya mau ngelamar Rosa”
Ku terkejut, Suara ibu yang menyebut nama Rosa membuyarkan lamunanku, bahkan tak ku dengar suara derit pintu yang ibu buka, flashback tentang awal mengenal kekasih hatiku telah membawaku larut dalam rasa syukur yang tak mampu ku lukiskan, ia yang selalu menjaga diri kini menerimaku yang hanya mampu berharap dan selalu menanti kesiapannya. Terhitung sekitar dua tahun lamanya ku menunggu, kali ini ia menjawab siap bertemu denganku untuk yang kedua kalinya dalam keadaan bahwa ku siap menyatakan ikrar untuk menjalin sunnah rosul bersamanya. Terjawab sudah, bahwa kali ini ku harus datang ke kediaman Kyai Hasanudin dalam rangka untuk meminta restunya. Aku bersyukur karena bisa menyibak tabir bidadari surga yang telah menjaga hatinya. Terimakasih Tuhan.

0 komentar