Pendidikan di Indonesia, dengarkan suara hati ini
“Adik’e ncen gak kyok mbak’e. Mbak’e lek ulangan oleh seratus. Mbk’e pinter buedo mbek adik’e goblok, lek ulangan oleh 20” (adiknya berbeda dengan kakaknya, sang kakak saat ulangan mendapatkan nilai 100, dia pintar, beda dengan adiknya, bodoh. Kalau ulangan dapat nilai 20)
Setelah mendengar kata-kata seperti itu, siapapun pasti akan menyatakan setuju bahwa diwacana tersebut kepintaran semata-mata diukur oleh nilai ulangan, jika nilainya bagus berati orang itu pintar, begitupun sebaliknya, saat mendapat nilai jelek, ia akan dicap bodoh dan tidak mampu. Terasa tak adil memang, saat ada seseorang yang dianugerahi kepintaran selalu mendapatkan nilai yang baik sementara ada yang sulit mencerna pelajaran sehingga mendapatkan nilai kecil selalu dikatakan bodoh. Vonis bodoh. Begitulah kira-kira yang saat ini masih melekat di sebagian besar paradigma orang Indonesia, bahkan di zaman modern era sekarang. Lalu mengapa Tuhan menciptakan perbedaan seperti itu? Bukankah tampak tidak adil bagi yang IQ-nya mungkin di bawah rata-rata? Mengapa tidak disamaratakan saja, sehingga semua orang merasa mampu dan yang kurang mampu tidak lagi merasakan pendiskriminasian?
Ah, rasanya sulit menguraikan, bahwa Allah menciptakan semua ini sudah sangat seimbang.
Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (al-Mulk: 1-3)
Demikianlah, al-Qur’an menegaskan bahwa Allah menciptakan segala hal dengan seimbang. Begitu pula dengan kepintaran yang tidak semata-mata diukur oleh angka ujian. Di abad ini Indonesia sudah mengenal multiple intelegensi. Kepintaran yang meliputi berbagai hal, diantaranya: Cerdas Berbahasa, Cerdas Logika, Cerdas Gambar, Cerdas tubuh, Cerdas bergaul, Cerdas memahami diri sendiri dll. Jadi, tidak ada manusia yang benar-benar terlahir bodoh di dunia ini, semua orang memiliki keceradasan dan potensi masing-masing, semua itu akan terlihat semakin menonjol ketika digali dan diasah. Seperti seniman lukis yang bisa mempublikasikan kreatifitas fantastisnya kepada orang lain sehingga bernilai jual tinggi. Bukankah itu sebuah kecerdasan yang belum tentu bisa dilakukan oleh mereka yang selalu mendapat nilai A saat ujian? Atau mereka yang pandai menciptakan lagu dengan kemampuan berpikir arah nada, ritme, irama, musik, apakah dikatakan bodoh saat nilai sekolahnya D? Masihkah angka-angka menjadi patokan kepintaran seseorang?
Sayangnya, pendidikan di Indonesia masih dengan gagah menjejalkan setiap siswa untuk mempelajari setumpuk mata pelajaran yang sering kali menjadi angin lalu bagi mereka yang merasa tidak mampu atau merasa bukan dunianya, pendidikan sering kali dianggap sebagai legalitas semata untuk mendapatkan ijazah. Tanpa menengok potensi atau kecerdasan berbeda-beda yang dimiliki oleh setiap siswa. Tak heran, jika banyak pelajar yang bingung menemukan jati diri dan potensi yang seharusnya sudah terasah sejak dini. Pada akhirnya, multiple intelegensi yang dimiliki mereka menjadi usang karena tidak pernah digali. Efeknya, banyak sarjana yang menjadi pengangguran bertebaran disana-sini. Katanya, karena merasa tidak punya potensi.

0 komentar