Punah Sudah Permainan Tradisional Indonesia
“kotak pos belum di isi mari kita isi dengan misi-misian mbak ook minta huruf apa?”
“permisi-permisi numpang tanya sebentar lama-lama menjadi patung”
“domikado eska eskado bea beo brik brik wan tu tri fo”
“ayo maen karet,,”
“ayo bantengan”
“ayo bekelan”
“ayo maen leker (kelereng)”
“ayo maen layangan ”
Bagaimana nostalgianya? Masih ingat dengan permainan-permainan barusan? maaf ya, tidak bisa ku lagukan karena ini hanya tulisan. Bagaimana perasaanmu mengingat semua itu? Apa kamu pernah memainkan permainan tersebut? atau mungkin pada saat kamu lahir permainan itu sudah tidak pernah kamu kenal. Bagi kalian yang mungkin masih pernah ikut andil melestarikan budaya tadi, pasti ada rasa tersendiri yang kalian sembunyikan, entah apa itu, aku tak ingin bertanya, kalau admin sendiri sih ngerasa nyesek banget mengingat kebersamaan dan kebahagiaan kala itu dan kini hanya menjadi kenangan tak terperi. (lebayny, gak segitunya juga sih, hehe).
Lewat tulisan ini admin ingin mengajak pembaca mengamati dan merefleksi sejenak, bagaimana kabarnya Indonesia hari ini, masihkah sebagai Indonesia yang kaya akan budaya? kenapa adik-adik yang baru hadir di dunia langsung mengenal dunia modern yang datang dari luar, game misalnya, ponakanku yang masih berumur tiga tahun sudah pintar berselancar di handphone ayahnya. Suasana di desa sudah tak seramai dulu, seperti di kota-kota saja, padahal yang ku tahu banyak sekali sodara-sodara yang sudah berkeluarga dan memilki keturunan. Tapi Kemana perginya mereka ya? Oh.. rupanya di warnet. Ngapain? Nge-game, Face book.an. ada apa ini? Dimana budaya permainan folklore yang kami lestarikan dulu? Apakah tidak ada generasi yang mengenalkannya. Kenapa masyarakat malah kecanduan voucher isi ulang? Disana sini tampak orang ngobrol melalui ponsel, kadang sambil senyum-senyum sendiri membaca dan saling berbalas pesan singkat.
Tampaknya Indonesiaku yang dulu telah berubah semakin modis saat ini, (wah keren dong? Ah, gak juga) kebersamaan yang hadir melalui perantara budaya tradisional kini sudah berubah menjadi generasi yang lebih individual, di warnet ataupun saat menggenggam hp, orang akan terlihat sibuk dengan dirinya sendiri, artinya tidak terlalu mempedulikan orang lain. Kebersamaan yang dulu mudah kita bangun kini semakin melebur seiring masa yang tak kompromi, menjadi masyarakat yang lebih individual dan ego karena rasa sosialnya yang telah terkikis oleh modernisasi. Okelah, mungkin permainan itu bukan lagi zamannya untuk era modern ini, kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh berbagai alat elektronik telah berhasil sedikit demi sedikit mengikis kebudayaan tradisional Indonesia. Sebenarnya, tak terlalu masalah jika masyarakat kita menjadi lebih produktif, tapi nyatanya malah menjelma menjadi masyarakat konsumtif. Tentunya efek dari semua itu tidak terlepas dari nilai positif dan negatif.
So, ada yang berminat melestarikan budaya (folklore) yang kini hampir punah, tanpa menghilangkan dampak positif yang dihadirkan oleh budaya modern?

0 komentar