Indonesiaku yang begitu sabar
Masa masih terus berjalan, saat sebuah seruan berdentum akan ada pemilihan pemimpin baru di Negeri ini, di kota ini, di desa ini, di RW ini, bahkan di RT ini. Ya, secercah harapan muncul, mendongakkan banyak kepala untuk menatap langit, berharap guyuran hujan segera mengentaskan masyarakat dari kegersangan. Dimana-mana bertebaran Wajah penuh harap atas adanya perubahan, masyarakat awam yang tak tahu menahu tentang dunia politik dan sampai saat ini bekerja keras atas hasil keringat sendiri hanya mengangguk mengiyakan, bahwa tak banyak pengaruh bagi dirinya. Semua itu hanya menjadi hembusan berita yang usang ditelan waktu.
Mula-mula terdengar janji manis yang bersenandung merdu di telinga, seperti sebelum-sebelumnya, harapan dan kecewa. Namun walau demikian, Indonesiaku yang sabar, masih tetap mendambakan kesejahteraan, lagi-lagi janji-janji itu benar-benar menggugah harapan, bahwa akan ada masa ekonomi merata, bahwa akan ada masa anak-anak negeri tidak terlantar, lalu mendapat tempat yang layak, bahwa akan ada masa kekayaan bangsa Indonesia tidak hanya dieksploitasi oleh penguasa, terbagi rata agar menjadi masyarakat sejahtera. Begitulah kiranya Janji-janji politik yang sering disebut angin surga.
Pada prosesnya yang tak mudah, Kedudukan yang menjadi rebutan penguasa sering kali malah menimbulkan pertarungan sengit antar kubu yang fanatik di kelompok masing-masing, entah atas dasar apa mereka- para pendukung- rela menomerduakan persatuan dan kerukunan yang jelas-jelas tertera di pancasila butir ke-tiga ‘persatuan Indonesia’, mungkin ada janji manis yang begitu tegas diucapkan oleh calon pemimpin mereka sehingga kesetiaan dan urat nadi hampir keluar demi mendukungnya-sang calon-, meski tidak diketahui janji itu pasti ditepati atau menguap begitu saja.
Setelah pemimpin terpilih, toh, pada kenyataannya, bangsa Indonesia masih dengan sabar mendambakan datangnya ratu adil, pemimpin yang benar-benar mendengar suara hati mereka, yang tidak hanya mengumbar janji, karena kenyataan dilapangan tidak sesuai dengan yang diucapkan saat berkampanye. Kecewa? tentu, tapi Indonesiaku begitu sabar, bukankah Indonesia sangat sabar, buktinya Indonesia pernah dijajah hingga tiga ratus lima puluh tahun dan saat dipimpin oleh orang Indonesia sendiri janji-janji yang dihembuskan oleh calon penguasa juga tidak pasti, Indonesia? Masih begitu bersabar.

0 komentar