Meraih Surga di Telapak Kaki Ibu
“Ibu pakai saja uang kamilah, nanti Kamilah transfer, di ATM masih ada tiga ratus ribu bu,, ibu butuh berapa? Kamilah transfer dua ratus ribu ya,,” ungkapku gembira, merasa bangga memiliki seorang ibu yang begitu gigih memperjuangkanku dan kalimat itu ingin ku ucapkan selalu.
“loh, tapi kasihan kamu nak, nanti ibu gantinya gimana,,”
Aku terhenyak sesaat, menyadari rentetan kalimat yang keluar dari mulut wanita paling ku percaya dan ku cinta, jika ada kata yang lebih halus dari mengucapkan kata ‘mulut’ tentu akan ku gunakan bahasa paling sopan untuk memuliakannya. Karena bagi adat orang jawa kata mulut kurang sopan digunakan untuk orang yang kita hormati.
“ibu lucu, ya gak perlu diganti lah bu, ngapain,,”
“ya gak papa nak,, kamunya gimana nanti”
“tenang saja bu, Kamilah masih ada uang kok”
Aku mendengar tawa yang sedikit gundah disana.
Kalimat ini yang sudah ku khawatirkan sejak awal, kalimat yang benar-benar muncul dari rasa kasih seorang ibu, kalimat yang menurutku tak sepatutnya dilontarkan karena itu adalah kalimat yang menggambarkan rasa sungkan kepada seorang anak. Aku tak habis pikir mengapa kasih ibu sampai sedemikian rupa, ternyata sejauh itu keikhlasan yang melambung dalam dirinya selama membesarkanku, tak bisa digambarkan, padahal sejak kecil ibulah yang berjuang demi menyambung hidupku, melahirkan, merawat, mendidik, menyekolahkanku hingga sarjana, tanpa imbalan apapun dan tanpa balasan apapun dariku, mengapa ku katakan tanpa balasan apapun, karena yang sudah ku suguhkan kepada orang tua tidak sebanding dengan apa yang telah mereka korbankan selama ini. Sangat jauh. Tapi saat aku mencoba memberikan bantuan kepada ibu dengan gaji pertamaku yang tidak seberapa, apa yang diucapkan ibu sungguh mengiris perasaanku, aku hanya memberi sedikit, sangat jauh berbanding dengan apa yang telah ia berikan untuk seorang Kamilah, tapi tampaknya, penjagaan, pengorbanan selalu saja menyertai setiap tindak langkahnya.
Aku tahu masalah yang tengah dihadapi ibu, karena masalah ini seakan sudah menjadi makanan yang sering dilahap dengan terpaksa, kebetulan tadi pagi aku menelponnya untuk meluapkan segala cerita, entah mengapa tiba-tiba saja ada kisah baru yang mencoba mendobrak kembali kehidupan asmaraku, aku bercerita panjang lebar kabar gembira ini, karena ku rasa sepertinya seseorang kali ini akan sesuai dengan harapan orang tua untuk menjadi pendampingku di pelaminan, meski tidak tahu pasti apakah ku akan membuka hati untuknya atau tidak atau mungkin belum, yang jelas aku bisa melihat kesungguhannya dan masa depannya yang cerah. Sesuai dengan kriteria yang diharapkan orangtuaku.
Disana, aku bisa merasakan sepertinya ibu tak begitu merespon serius, ku sadar, mungkin ibu khawatir seperti sebelum-sebelumnya, karena sejauh ini ibu telah membebaskanku untuk memilih sendiri siapa yang menurutku tepat menjadi imamku kelak. Namun tampaknya aku sering terkecoh, seseorang yang kurasa bisa membimbingku untuk lebih dekat denganNya, ternyata malah mengalihkanku pada nafsu belaka, seringkali aku terbuai komunikasi via telpon tak tentu arah, menghabiskan waktu dengan komunikasi bersama pilihanku, walau kami tidak bertemu secara langsung, namun ku tahu itu sudah banyak menyita waktu untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Berkali adam singgah, berkali ku laporkan pada ibu, berkali itu pula ibu merasakan ketidak cocokan karena faktor agama dan ekonomi yang tidak sesuai harapan, begitulah peran ibu yang sejauh ini masih menjadi pedomanku untuk mengambil langkah, menjadi teman diskusi yang tidak lepas dari al-Qur’an dan Hadist. Seorang wanita dinikahi karena empat perkara karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu beruntung. Begitupun dengan laki-laki.
Tentunya, aku menyadari betul bagaimana harapan mereka (orang tua), memperjuangkan kebahagiaanku sampai detik ini, tak lain untuk disambung dengan kebahagiaan yang selanjutnya bersama kekasih halal yang tepat, begitulah, mereka menilik tolak ukur kebahagiaan untukku jika agama dan materinya bagus. Disini, Aku hanya menanti takdir bertindak, bagaimana ia menjawab harapan orangtuaku.
Menyadari ibu tak begitu antusias, akhirnya cerita tentang seseorang yang datang menghadiri kehidupanku itu tak lagi ku lanjutkan. Biarlah mengalir seperti air, jika sudah waktunya pasti Allah akan menjawabnya untuk ibu.
Mendengar ibu berbicara, dapat ku tangkap keresahan dari pengaduannya yang tidak manja ataupun merengek, tetap menggambarkan sosok yang tegar, rupanya ibu dilanda krisis uang lagi, hal itu memang sering terjadi, ayah acap kali tak mengindahkan kebutuhan ibu yang menghidupi tiga anak, ternyata masih lebih baik diriku meski posisiku sendiri masih berada di pesantren. Padahal kami tahu persis ayah yang bekerja di pulau sebelah menerima gaji setiap satu minggu sekali dengan nominal sekitar delapan ratus ribu, sangat cukup untuk dibagikan dengan keluarga di rumah. Tapi entah mengapa ayah selalu bersikap lalai, aku baru menyadarinya saat usia mengantarkanku pergi untuk menuntut ilmu di kota yang jauh dan membutuhkan transfer demi biaya hidup yaitu berada di pesantren dan bersekolah formal, Bukan hal yang asing lagi, uang yang ku butuhkan terlambat, tapi itu masih lebih baik dari pada kondisi ibu yang sampai berhutang. Sebagai seorang anak, sebenarnya aku tak ingin menuntut, serasa tiada hak untuk mendesak ayah mengirimkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhanku, di posisi demikian acap kali ku berangan untuk menghasilkan uang yang banyak agar tak perlu merepotkan dan tentunya agar bisa ku berikan pada ibu yang begitu pintar mengatur keuangan, berkat ibu pintar menabung, aku bisa mempunyai rumah yang cukup besar di usia Sembilan tahun, padahal ayah hanya bekerja sebagai kuli bangunan, tapi ibu yang mengerti kebutuhanku mendorongku untuk mendesak ayah agar segera mengirimkan uang. Sejak mengalami masa-masa demikian, aku bermimpi, jika suatu saat nanti aku sukses dan memperoleh materi cukup, aku akan mengirimkan uang untuk ibu tanpa sepengetahuan ayah, agar tak ada lagi cerita ngirit sehingga berhutang, agar tak ada lagi ungkapan uang belanja untuk sehari-hari sudah tinggal empat ribu rupiah, hanya cukup untuk jajan adik-adikku.
Alhamdulillah, aku beruntung karena bisa bersekelah dan berada si pesantern, Sebenarnya dua rangkap formal dan pesantren itu adalah cita-cita ibu yang tertunda dan kini dilaksanakan olehku-anaknya-, karena ibu sendiri hanya berada di pesantren selepas SMP, tentu tidak semata-mata karena kemauan beliau aku memilih hal ini, tapi naluri yang tertanam sejak didalam kandungan ibu telah menggerakkan hatiku untuk melaksanakan keinginan-keinginan yang tertunda dimasa muda ibu, termasuk hobi menulis yang tidak tersalurkan dan kurang berkembang. Terkadang aku menemukan puisi-puisi indah karangan ibu, puisi yang menyimpan sejuta makna tentang kisah cintanya yang berakhir tragis,sejak itulah aku mulai tertarik dengan puisi maupun hal-hal yang berbau tulisan, dan tanpa disadari buku puisiku sudah memenuhi halaman satu buku yang sering berpindah tangan meski sebatas tulisan tangan
Dulu sewaktu ayah tidak bekerja, ibu harus mengusahakan kebutuhan keluarganya sendiri, tak banyak yang bisa ibu lakukan, beruntung ibu masih mempunyai ayam yang dipelihara, setiap hari ibu merogoh pantat ayam untuk mengetahui akan bertelur atau tidak, beruntung ayam yang telah ibu pelihara, selalu ada yang bertelur setiap harinya. Dari hasil penjualan satu butir telur itulah ibu bisa menyambung hidup keluarga, meski uang yang dihasilkan tidak seberapa, hanya Rp.500,- . Rp.200,- untuk uang sakuku, Rp.200,- untuk minyak goreng sepucuk plastic, Rp. 100,- untuk minyak gas beberapa tetes sebagai bahan menghidupkan api pada kayu di tumang. Alhamdulillah, untuk beras dan sayur kami mendapatkannya dari sawah, sementara untuk lauknya ibu menggunakan beras yang diuleg halus untuk digoreng menjadi rempeyek. Walhasil, uang Rp. 500,- berhasil mencukupi kebutuhan keluarga kami.
***
Namun suatu hari, aku mendapat telephone dari ibu, rasanya seperti mimpi, sebulan yang lalu ada masalah tak terduga yang dialami keluargaku, ibu menceritakan kronologis rangkaian kisah dari awal hingga akhir, mungkin ibu khawatir akan mengganggu belajarku dan memutuskan bercerita sekarang, saat liburan sekolah tiba, sementara aku sudah menyandang prestasi sebagai juara umum, sudah satu bulan ibu merahasiakan kisah ini padaku, seakan tak terjadi apapun, ibu bercerita dengan ketenangan yang sudah menguasainya.
Aku sedikit tak percaya, namun itu nyata terjadi di keluargaku, membayangkannya saja seperti rangkaian sketsa yang memusingkan kepala dan membuat nafas tak beraturan, kejadian tersebut seperti sebuah sinetron yang biasanya ditayangkan di televisi dan menuntut penyelesaian. Aku hadir sebagai orang yang menyaksikan atau lebih tepatnya mendengarkan namun turut menjalani peran yang tidak membutuhkan aksi, karena cerita ini sudah berlalu dan selesai, hakim sudah memutuskan tanpa campur tanganku.
Ada seseorang yang datang ke tempat ayah bekerja, ia menawarkan diri sebagai pelayan atau tukang masak para pekerja, jauh-jauh datang dari daerah seberang untuk mengais rezeki demi menyambung hidup, walhasil, ayah menerimanya dan memberikan tempat yang layak untuknya.
Masa berlalu, wanita itu memang mempunyai suami, namun kabar yang beredar suaminya adalah orang yang kurang bertanggung jawab dan tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, berawal dari hal itulah wanita itu datang dengan menyimpan maksud yang tersirat untuk memperdaya ayah, karena posisi ayah sebagai mandor tentu mempunyai bayaran lebih dibandingkan para pekerja yang lain.
Tak salah, jika suatu malam aku bermimpi ada seekor anjing besar yang ingin masuk kerumahku, anjing itu melirik ingin memasuki rumah, namun ragu, aku sedikit ngeri melihatnya, namun dengan tatapan tajam dan lafadz suci yang ku lantunkan dalam hati membuat anjing itu kehilangan nyali dan berlalu dari rumahku.
Mungkin sebenarnya itu adalah pertanda yang telah diberikan Allah, meski aku tak mengetahui langsung, namun sepertinya mimpi telah berisyarat bahwa ada sesuatu yang terjadi di keluargaku yang damai, menyadari bahwa anjing adalah hewan yang mempunyai liur dan menyebabkan najis mugholladzoh. Sama halnya dengan kedatangan wanita itu, wanita yang datang ke tempat kos ayah untuk mengotori nama baik keluargaku yang sudah ibu jaga dengan sangat gigih.
Angin yang datang terus membisikkan sesuatu yang tidak sedap ditelinga, ibuku tercinta sedang bertaruh rasa, mengklarifikasi dengan pikiran dan segala bukti yang akan ia kuak, ibu sering mendengar bahwa wanita itu sering terlihat berboncengan dengan ayah, dan selalu mengaku sebagai istri ayah disana, di tempat kerja. Aku tahu ibu memang orang yang kuat karena selalu menyandarkan masalah dunia kepada Allah semata, ia memiliki kecerdasan emosional yang tinggi, namun sebaik-baiknya kecerdasan emosional jika sudah dihadapkan dengan masalah demikian, siapapun wanita pasti akan merasakan hancur dan tersayat.
Ibu memiliki kekuatan untuk marah, ia tidak sepertiku yang mudah menangis dan akan menangis jika menahan marah, tapi ibu beraksi, bom waktu yang terhimpit ditengah-tengah hati ibu telah membuncah dan mengoyak perasaannya, seketika itu rasa cinta ibu pada ayah seakan mati dan takkan pernah hidup kembali. Penyekutuan itu tak bisa diampuni, sama halnya dengan Tuhan yang tak bisa mengampuni dosa syirik. Ibu hanya ingin menyelamatkan keluarganya, ia tak ingin ke empat nama anaknya menjadi tercoreng karena kabar burung yang semakin deras dan terus memberikan noda.
Komunikasi via telephone ayah dan ibu sudah tak lagi harmonis, yang dikirim hanya kalimat-kalimat kiasan menyayat hati, ibu melontarkan segala keganjalannya dengan bahasa yang mengandung konotasi, sekalipun demikian uraian kata tak mampu menggambarkan perasaan dan rasa marahnya yang meletup. Disana, ayah terus mengelak dan memungkiri apa yang ibu tuduhkan padanya, namun kabar kian terang ibu semakin mencium aroma ketidakpastian yang membutuhkan pembuktian.
Tak tahan, akhirnya ibu meminta ayah pulang sekaligus mengundang wanita tukang masak beserta suaminya kerumah. Di rumah ibu sudah mendatangkan seseorang yang bijak untuk menjadi hakim. Ia dipersilahkan duduk menanti kedatangan ayah. Tak lama jelang sejam kemudian, ada seseorang yang membuka pintu rumah tanpa salam, ibu menyendiri di kamar, tak ada lagi sapaan manis saat ayah tiba, tatapan atau senyuman tak sanggup diekspresikan meski palsu. Ayah langsung duduk di kursi sofa, melepas lelah karena perjalanan jauh dan terlihat tekanan batin yang menggumpal di wajahnya. Hakim yang semula duduk menanti dengan melihat televisi mencoba mencairkan suasana, menyapa dan mengajak ayah berbincang.
Sesekali ibu mendengar obrolan ringan antara ayah dengan hakim, belum sama sekali mengarah pada permasalahan, mereka malah saling berkenalan dan menjalin keakraban. Kali ini tinggal menunggu kedatangan si Maria, perempuan tukang masak yang dikabarkan telah menjadi istri ayah. Cukup lama memang, namun perbincangan yang akrab itu sedikit mengalihkan rasa bosan menanti, sementara itu di dalam kamar, ibu berusaha menguatkan diri atas badai yang menjadi prahara rumah tangga, mengadukan apa yang akan dihadapinya kepada Allah, mungkin ibu berharap masalahnya menjadi rampung dan berakhir dengan baik.
Selang dua jam kemudian, ada ketukan dari balik pintu. serta merta ibu keluar dari kamar menemui orang-orang yang sudah berkumpul di ruang tamu. Rupanya, Maria datang disertai suaminya yang bermuka masam, betapa terkejutnya ibu setelah melihat wajah seorang Maria yang telah menodai kehidupan keluarganya, dengan wajah yang sangat tidak pantas di bilang lumayan, tentu sangat jauh dengan rupa ibu yang menawan. Wanita itu selain berkulit sawo sangat matang, ternyata ia mempunyai bentuk bibir yang teramat lebar, membuat ibu semakin tak habis pikir dibuatnya.
Jalan musyawarah adalah pilihan pemecahan masalah ini, semua orang harus jujur mengungkapkan apa yang tengah terjadi terutama bagi dua lakon yaitu ayah dan si tukang masak. Sebelum musyawaroh dimulai mereka disumpah al-Qur’an untuk mengungkapkan hal yang sebenar-benarnya, pertama hakim memberi kesempatan pada ayah untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya hubungan dia dengan Maria. Dengan gamblang ayah menolak atas tuduhan hubungan itu, ayah menjelaskan bahwa ia tidak mempunyai ikatan apapun dengan Maria, kecuali hanya sebatas rekan kerja yang bekerja di tempat ayah, mendengar jawaban itu segera saja ibu melontarkan kasak kusuk tentang ayah yang sering terlihat berboncengan dengan perpempuan itu bahkan kabarnya Maria terkadang berada di tempat kos ayah. Wajah ayah terlihat sedikit terkejut menerimanya, dengan sangat menyesal ayah mengatakan bahwa ia memang sering berboncengan karena Maria selalu meminta tumpangan saat mereka hendak berangkat kerja, terkadang Maria juga mampir di kos-kosan ayah dengan dalih bertamu. Ibu terdiam, rasa pahit yang kian merongrong di dadanya terasa semakin runyam, bukan karena ibu begitu mencintai ayah, tapi karena ibu merasa kurang percaya jika tak terjadi apapun diantara mereka berdua. Sementara Maria hanya terdiam dan terlihat sedikit ketakutan, sorot mata ibu yang tajam seakan meminta penjelasan kepada wanita yang telah datang menodai rumahtangganya, hakim menegasakan kembali meminta pernyataan dari si wanita tukang masak, dengan sedikit canggung wanita itu mengakui kebenaran yang di katakan oleh ayah. Tapi begitulah, hati yang sudah bergemuruh dan dilanda emosi merasa tak percaya dengan pernyataan kedua pelaku. “lalu kenapa, kata pak Nurman, waktu ditanya status kamu mengakui dirimu sebagai istri suamiku?” lagi-lagi ibu berusaha mengorek semua kejanngalan yang ia temukan. Sekali lagi pak hakim menegaskan bahwa mereka sudah disumpah al-Qur’an, maka berhati-hatilah dalam berucap.
“Karena aku ingin menjadi istri suamimu meskipun istri yang kedua, suamiku tidak bisa memberikan nafkah yang layak untukku, maka dari itu saat orang bertanya, kadang aku mengaku manjadi istri suamimu, karena memang aku menginginkan itu.” Wanita tukang masak itu menjelaskan dengan sedikit malu dan ketakutan.
Di sampingnya, Haris suami Maria hanya terdiam, merasa lebih malu dan bersalah atas perilaku sang istri yang tidak pantas, namun karena ia juga si istri berbuat demikian, gaji pekerjaannya yang tidak seberapa sering digunakan untuk membeli rokok, efeknya nafkah untuk anak istrinya menjadi berkurang.
“tapi tenang saja, aku jamin kami tidak pernah berhubungan” sambung si Maria menghentakkan pikiran ibu yang begitu kalut, lalu sampai pada batas apa kedekatan mereka. Ibu merasa lelah untuk meneruskan, raga dan pikirannya terus terforsir. Kemudian ibu meminta hakim untuk segera memberikan jalan keluar. Tak perlu panjang lebar, dengan tegas hakim memberikan maklumat kepada dua keluarga tersebut untuk tidak saling berhubungan antar satu sama lain, bukan untuk memutus silaturahmi, tapi untuk menghindari fitnah besar ini terjadi lagi. Keduanya diberi surat perjanjian untuk menandatangani keputusan itu.
Pada akhirnya kedua keluarga itu menyetujui, meski terlihat raut kekecewaan di wajah Maria, karena dengan begitu ia tidak boleh lagi bekerja di tempat ayah, ia harus menyingkir dari pandangan ayah untuk menghindari fitnah demikian terulang kembali.
***
Ibu memang sudah lebih tenang sekarang, namun pencitraan noda itu tetap melekat, takkan terhapus dari hatinya yang sudah layu, bagaimanapun kesucian penjagaan ibu telah dibalas dengan kesimpangan oleh ayah, meski tak sampai jauh, namun hati wanita takkan bisa didusta. Yang terbaca hanya demi menyelamatkan nama baik keluarga dan anak-anak yang tetap merasa aman dan lengkap memiliki keluarga yang utuh. Ibu bersyukur karena Allah masih menyelamatkan keluarganya dari badai yang menerpa.
Sebab itulah, aku sangat menyayangi ibuku yang sudah berjuang jiwa dan raga demi menjaga dan menghidupi anaknya, karena itu aku selalu bermimpi untuk memberikan ibu nafkah yang layak tanpa harus ayah tahu. Meski ayah telah berbuat demikian, tapi ku tetap memiliki kewajiban berbakti dan berbuat baik padanya, karena ayahlah yang selama ini bekerja untuk membiayaiku sampai sejauh ini, meski mengalami sedikit hambatan dan perjuangan yang sangat gigih dari seorang ibu. Aku hanya bisa mendoakan agar mereka bahagia dunia akhirat, Aamiin.

0 komentar