Mungkin aku menyukaimu lebih dari itu Guruku

Mungkin aku menyukaimu lebih dari itu Guruku

Mungkin aku menyukaimu lebih dari itu Guruku
Aku tidak pernah menganggapnya sebagai orang yang jauh lebih tua dariku, tapi tentu saja, aku tetap menghargainya,  sejak pertama bertemu, ada senyum yang dengan mudah ku sunggingkan, ada jelmaan lukisan yang mula terngiang dan terangkai membingkai rupa yang tiba-tiba berada dihadapanku. Aku tahu, aku sadar kami terpaut usia lima tahun, dan ia adalah sang hawa sementara aku adam yang baru mengenal dunia, namun apa salahnya, bagiku ia seperti orang yang terlahir dimasaku, karena di masa inilah aku mendapati seseorang dengan nama yang tergores indah di kertas putihku.
Ibu Rosa, rasanya tak sampai hati, aku menyebutmu dengan sebutan itu, andai kau seseorang yang terlahir dimasaku, akan ku panggil engkau dengan sebutan terindah dan romantis untuk melukiskan rasa yang terlahir manis. Namun keadaannya berbeda, kau berada didepanku, membimbingku dan teman-teman untuk menyalurkan keilmuan. Itu sudah perantaranya, bertemu denganmu bagiku sudah suatu kebetulan yang luar biasa.
Sejak ia menyapa dan mendengungkan suara, aku sudah menduga, kalimat yang ia keluarkan serasa bernada, ya aku bisa merasakannya, bahwa ia memiliki vocal yang cukup mengesankan, tapi aku tak pernah mengatakannya pada siapapun, rasa ingin tahu yang tersimpan, menjadi petualangan tersendiri yang ingin ku telusuri. Di hari pertama ini, wanita yang bernama Rosa memperkenalkan diri sebagai guru kami, oh guru, kenapa harus guru. 

Ia memiliki paras yang membuatku tak ingin mengalihkan pandangan, entah salahkah aku dengan sikap yang seperti ini? Ku dengar, tidak masalah menatap ghoiru mahrom jika untuk keperluan pembelajaran, bukankah ini untuk kepentingan itu? Dan kesempatan memandangnya adalah bonus yang tak bisa dihindari, Alhamdulillah.. 

Beberapa kali ibu Rosa mencoba mengkondisikan kelas kami, ya kelas yang berisi 48 murid laki-laki puber, laki-laki yang pita suaranya sudah membesar. Ia dengan alasan seorang perempuan dan vocal yang tak begitu nyaring, menatap kami dengan pandangan mengharap agar kami bisa menutup suara saat ia tengah menjelaskan, memohon kerjasama agar bisa menyampaikan pelajaran. Tapi apalah daya, akupun hanya bisa membantu sekenanya, teman-teman yang sebegitu banyaknya memang sulit dikendalikan, disini diam, disana ramai, disana diam, disini ramai, begitulah kelas kami. Ya, karena kelas kami memang istimewa. Anak-anak mesin memang luar biasa.

 Mungkin ia terkejut, berkali hatiku berdo’a agar guru berparas ayu itu bisa sabar menghadapi kami di jam terakhir seperti ini, ini sudah lumayan karena teman-teman hadir semua di dalam kelas,di hari-hari yang lain, kami sudah hilang satu persatu, kabur dari kelas untuk kembali ke peraduan masing-masing, atau bermain ke suatu tempat. Kebetulan saja, tadi kami dapat bocoran bahwa guru dengan kode 55 adalah guru baru bernama ibu Rosa. Dan kami yang penasaran, tentu saja memilih menanti dari pada kabur seperti hari-hari sebelumnya, rasa penasaran sedikit mengusir kenakalan kami. 

Di dalam kelas, teman-teman yang lain menggodanya, menanyakan apakah ia sudah punya pacar atau belum, aku penasaran tapi ia hanya tersenyum.  Namun samar-samar ku dengar.

“ yang jelas aku belum menikah”. Ucapnya ditengah kebisingan.  Aku menarik nafas lega.

Tiba-tiba saja ada dua orang temanku datang terlambat, mereka melangkah cepat kea rah bangku bu Rosa, dengan sengaja mendekati bu Rosa berdalih untuk menanyakan absen, padahal dari tempat duduk saja sudah bisa. Tapi itulah, kesempatan. Aji mumpung. Mereka begitu dekat, Ku perhatikan, bu Rosa sedikit mengerutkan dahi, ia terlihat ingin pergi namun tak berdaya, kedekatan dua temanku membuatnya tak nyaman. Teman-teman yang lain saling bersorak mengetahui maksud Ferdi dan Nuril untuk menggoda bu Rosa, maklumlah, siapa yang tak gemas padanya, bu Rosa berpostur mungil seperti teman-teman sebaya kami. Namun beruntung saja ia segera menemukan nama mereka diabsen, setelah mengabsen,  mereka disuruh segera ke tempat duduk. 

Waktu pelajaran kami hanya satu jam, sebentar lagi mungkin bel akan berbunyi, bu Rosa sudah berkali-kali mengurungkan membuka pelajaran karena teman-teman menghujaninya dengan berbagai pertanyaan, salah satunya adalah tentang no telephon, aku juga menantikan kesempatan itu, siapa tahu ibu cantik itu bersedia memberikan nomernya untuk kami, tapi ku rasa itu kemungkinan yang sangat kecil. Benar juga, ia menolak untuk memberitahukan nomernya, namun ia memberi tahu kami sebuah alamat, katanya alamat blog. 

“Jika ingin mengenalku lebih jauh, silahkan kunjungi alamat blog saya, Diary Rosa” ucapnya, membungkam kami. Aku menuliskan alamat itu dibuku tulis yang terpampang di meja, ya aku berencana akan mengunjunginya, karena hanya itu informasi yang kami dapatkan, bahkan FB pun dirahasiakan, pulang nanti, aku berencana akan langsung ke warnet, rasa penasaran tentangnya  mengalun di fikiran. 

Satu hal lagi, ia tidak bersedia disentuh tangannya oleh kami alias bersalaman, entah apa alasannya, mungkin guru muda itu khawatir teman-teman akan menyalahgunakan kesempatan itu, bahkan ada yang menggoda “Bu kalau salaman gak boleh, tapi cipika cipiki gak papa ya bu,, hahaha” tawa kami membahana, ia tersenyum lagi. Mau tidak mau kami menghormati keputusannya untuk tidak bersalaman, meski jujur saja aku berharap sekali bisa mendaratkan tangannya dihidungku . 
Saat pelajaran berakhir, itulah saat yang ku tunggu-tunggu, bu Rosa menuntun kami untuk berdoa agar ilmu yang kami dapatkan bisa manfaat barokah, aku dan sebagian temanku mengikuti intruksinya, sayang sebagian yang lain malah terburu untuk keluar kelas, suasana berdo’a menjadi kurang khidmah, teman-teman terlalu kuat untuk diatur.  
Bel berbunyi, tanpa babibu, kami menghambur keluar kelas, aku melangkah pelan agar bu Rosa bisa mendahuluiku, “silahkan bu,, duluan” ucapku, sedikit cari perhatian, ku harap ia bisa mengingat namaku. 

“terimakasih Andi,,” jawabnya sambil tersenyum, lalu pergi dengan sopan dan lembut. 

Bukan main girangnya, ya Tuhan aku tidak percaya bu Rosa ternyata masih mengingat namaku, ‘Andi’ tadi dia benar-benar menyebut nama Andi.
Aku tak bisa melukiskan perasaan ini, perasaan bangga dan indah yang bercampur menjadi satu, aku, tak ahu apa yang sedang terjadi, hanya ingin terbang berlari bebas mencium aroma alam yang sejuk nan rindang, dimana sebenarnya kekuatan senyuman ini bermula, aku menyerapnya, merasakan energi yang tak pernah terasa sebelumnya, Oh Tuhan apa yang sebenarnya terjadi, aku ingin menenggelamkan diri. 
Sepeda motor ku hampiri dengan riang, sudah tiba saatnya aku kembali ke rumah. Semangat tertanam menghalau perasaan yang tak mampu tertulis.

***
Tak pernah ku sadari sebelumnya, jika  airmata ini hadir mengiringi niatku untuk menulusurinya jauh, aku membaca bait demi bait kata-kata yang tertulis di blognya, sudikah kalian ku bacakan bagaimana ia menulisnya dengan penuh perasaan. Aku tak bisa menahan perasaan yang tiba-tiba larut, kata-kata itu menjangkau perasaan terdalam, ya perasaan yang mengantarkanku ke dunia tak terjamah, renungan mendalam. 
‘aku tak pernah mengerti alasanku hadir di dunia ini, jika diperkenankan, bolehkah aku mengambil pilihan untuk tidak pernah hadir disini,? berada di dunia dengan segala tanggung jawabnya adalah tugas yang senantiasa membuai dan membuat lalai. Mengapa aku tiba-tiba disini? Berada ditengah-tengah kerumunan manusia yang tak pernah ku kenal sebelumnya,.
Aku menarik nafas setiap terbangun dari lelap, air mata menetes dengan sendirinya saat aku kembai ke dunia, ku ucapkan istighfar berkali-kali, karena perasaan aneh yang tiba-tiba melanda, perasaan aneh yang mengingatkanku bahwa disini hanya sementara, perasaan aneh yang sering mendengungkan bahwa setiap manusia pasti akan berjumpa dengan masa habisnya usia, entah di waktu muda ataupun senja.  
Aku merasa sesak tak beralasan, tak menjangkau namun inilah kenyataan. Bagaimana kiranya harus ku pertanggungjawabkan segala noda yang tak sengaja maupun sengaja, sedang pembalasan itu begitu hebatnya? aku tahu Engkau maha pengampun dan perkasa, namun pantaskah hamba yang tak berharga ini memperoleh tempat terindah disisiMu? 
Aku menangisi hari-hari yang selalu terbuang karena lalai mengingatMu, padahal Engkaulah dzat yang seharusnya senantiasa ku agungkan, bukan manusia yang hanya menjadi media Engkau menunjukkan kekuasaan.  Suatu kali. pernah aku terkagum pada Ia, namun segalanya menjadi sirna karena semua ini hanya fana, dan Kaulah pemilik sesunggunhnya, kaulah yang palng berhak dicintai dan dikagumi, Allah ya Robbil Izzati. Astaghfirullahal `Adzim,, ’
Ku usap air mata, entah mengapa, baru kali ini aku begitu larut dalam sebuah tulisan. Aku menatap diri ini, terlalu banyak noda yang tak mampu ku urai, Ya Allah, perih rasanya, mengingat semua ini hanya fana. Terimakasih guru, terimakasih bu Rosa engkau telah menjadi perantara mengingatkanku padaNya. 

Aku akan menanti kehadiranmu dihari-hari selanjutnya, di mata pelajaranmu. Guruku tercinta. Ibu Rosa. 

0 komentar


View MoreHOTTEST ARTICLES