Semu
Menepis bertajuk kuntum merayuSesempurna bulan yang nampak berlalu
Dikesetiaan berkatub beku
Mencari selimut membalut kedinginan
Ransang pori-pori yang melebar
disiksa rindang tak tepat tujuan
kebulatanmu mengerling
membasahi kalbu
tebar pesona senantiasa berkabung
sigapmu bercermin bayangan
sungguh seribu semu tiada bertasbih
mata menjilat bakarkan kerinduan
sebab pandangan dalam kalung bulan
sesendu hati yang mengungkap tikungan
perjalanan tercegat hal rupawan
padahal hanya insan tak bernilai
lemah tertawa di persinggahan
manalah ku tahu
hanya perasaan yang tak kenal deru
mengerang tertatap ragu dan lugu
Kibarkan Gelora Semesta
Berlagak berbaju lusuh,Bulu roma merajuk pergerakan.
Dia bertandang, mengais yang terserak dan mencari sajak
bersaksi atas ayat kauniah dengan gerak
Bibit tertanam tumbuh meranum
Beberapa tunas yang tersorot mentari
Dia berjanji, gulita akan di terangi
Disibak pelita dari cahaya hati,
Tak pernah terbersit,
rumbai-rumbai menggelitik rasa,
mengusik fikiran tentang ilmu dan tenggang rasa.
Kami bersahaja, bergandeng tangan dan menatap angkasa
Bersama tunas-tunas bangsa yang gegap gempita.
Esok purnama, kita akan menghadang masa
Bersama kibarkan gelora semesta.
Ruh Yang Bermaya
Helai belai mengembalikan tawa gundahGelap gulita pecinta dunia menangis
Keresahan semakin bertambah megah
Cita menggelora menerpa gulana
Terasa sulit genggaman kan terlepas
Berat hati membebani
Pernah menggelayut demi aku yang berdiri
Saat khayalan menerka andai nyata
Tak ku biarkan kusam menelan kenangan
Dulu,, gembala sayang terkasih gembira
Cinta meneranginya,
Namun kini,,
Hati bagai terhanyut nestapa
Menanti ceria di depan mata
Tak terlihat malah menggerai luka
Mungkin takdir liku-liku bersama Ruh yang Bermaya
Tangis menggema menyapu karma
Sepadankan keramahan dan jejak yang tak nampak
Kuasa itu membelenggu jiwa yang kerontang
Kehilangan darah dan sumsum penyanggah rongga dada
Tak berdaya, usang, tak terjamah.
Semua mata hanya menatap hampa,
Mulut menganga dan tangan hanya berpangku saja
Tak sadar maghnet menarik hingga lepas kulitnya
Tak sadar teriakan memekakkan telinga
Tak sadar mulut bicara, hingga berbusa
Tak sadar mata melotot hingga merosot.
Tinggal menunggu apa?
Guntur menyambar menghabiskan korban jiwa?
Angin topan menghentakkan manusia tak berdosa?
Banjir melanda siapa saja?
Keruk saja, tak usah bicara
Libas saja, tak usah berpikir lama
Pergerakan, masih tidurkah engkau?
Aku sudah meradang dan kau hanya diam saja
Cepat
Tertutup Mata
Terbungkam dihadapan kuasaNya
Saat mata terpejam dan organ tak berfungsi
Nadiku serasa berhenti sejenak
Terperanjat dari ketukan pintu hati
Nurani menjerit keras, terbangun dari tidur panjang
Alangkah putih kasih luasNya
Membentangkan kalimat syukur tak terhingga
Namun, sadar itu kerap menjadi buih di lautan
Lenyapkan rasa berdosa
Padahal noda menyirami, bercampur peluh
Tetes air mata darah tak mampu membaca
Kecuali hanya sedikit dari PeringatanNya
Dengarkanlah nasihat abstrak ini
PeduliNya sungguh nyata
Rahmat dibalik nuansa
Di balik tabir keajaiban dunia
Rindu Rhomadonmu
Ku cicipi manis airmata membasuh hatiDi sudut yang tak terjamah, beralun mengikuti irama simponi,
Aku bersaksi, fatamorgana dan kebisuan membumbung menghalau rasa letih,
Hampir seperempat abad, ku pijak kaki di dunia akibat buah khuldi,
Sejurus, aku menatap sendu malam yang bisu berisyarat merdu,
Memintaku bersimpuh menghirup aroma tanah yang nampak berlalu
Ya Robbil Izzati, aku ingin meluruh bersama rinai air mata yang tak mampu menebus murkamu,
Kealpaan, bagai angka merah menghujani badanku dengan darah
Sudah 22 kali kulalui bulan suci Rhomadanmu.
Takdir berlabuh, menusuk kebisuan, kekhilafan, kekurangan, bagai duri berpeluh.
Aku terkulai, mengharap tangan malaikat menggapai tanganku
Cahaya putih yang begitu penat ku rindukan,
Begitu dalam ku sesapi air mata meredam jiwa,
Impianku Ya Robb, bersandar dalam baitmu,
Merasuki segala kemurnian yang meleburkan noda-noda
Di penantian penuh harap yang senantiasa ku rasa

0 komentar