![]() |
Aku tak ingin membuncah.
Dicintai seseorang adalah sebuah anugerah. Kenikmatan luar biasa yang begitu
halus kita rasa. Namun, aku juga tak bisa memungkirinya, jika suratan telah
mengubah haluan perasaan kasih seseorang.
Suatu masa kita mulai
bersama, melalui saat-saat saling bergelimang rasa dan kekaguman yang
membahana, berdengung-dengung hingga membuat hati tergoda untuk terus
menelusuri alam ia yang semakin membuai jiwa.
Dan kini, aku
hanya ingin bertanya. Mencari, bahkan menelisik. Dimanakah ruang yang pernah ku
temukan dulu berada? Dimanakah emosi membara yang bertalu menghias sukma?
Masih ingatkah
engkau? Saat kita tak mampu bersuara, sementara hati ini bertaut untuk mendengungkan
alunan cinta?
Masih ingatkah
engkau? Saat dentuman di dada semakin berdebum pabila kita bertatap muka?
Masih ingatkah
engkau? Air mata mengalir mengiringi rasa rindu yang terasa manis dan menyesakkan dada?
Kita telah
mencicipinya, merasakan pahit manis minuman yang selama ini kita teguk. Tak ada
rahasia, rasa penasaran sudah sirna, segalanya tampak jelas di depan mata. Hitam
putih perjalanan panjang mengalun menghentakkan segenap emosi menguras air mata
dan rasa sakit.
Kita sudah
semakin bertalu akibat genderang yang tak sengaja dibunyikan, apa kau kira aku
sekuat batu yang tak mampu tergoyahkan? Apa kau kira air mata yang terkuras tak
ada artinya? Meski ku rasakan grafik yang naik turun di hati, namun angan untuk
menengok ketenangan yang lebih menjanjikan itu menggoda naluri, ya, pada
akhirnya aku pasrah.
Kita sudah
saling berbagi rasa, rasa yang mudah tersulut emosi karena tak ada air yang
menyiraminya, api dan api berkobar semakin membara, akankah kita bertahan dalam
kebakaran yang akan menghanguskan?
Aku sering
bergulat dengan perasaan, mencari haluan yang terbaik untuk ku jalani, namun
takdir tetap tak tahu pasti, kiranya masihkah kita bertahan dengan segala bumbu
yang terkadang tak mampu memberikan rasa, karena mati rasa?
Aku bertahan,
mengamati jalan yang terbaik, menanti detik yang terus bergulir tentang
keputusan takdir, segalanya masih belum pasti, tiada beda antara saat itu dan
saat ini. Semuanya, tentang menjaga rasa, dan meminta Allah untuk menunjukkan
jalan yang terbaik, takdir yang sempurna.

0 komentar