Akan ku jelaskan padamu, seseorang
yang sedang menahan rasa untuk bertemu.
Tahukah kau? Betapa berharganya
hubungan ini? Hingga perlu menahan seperti ini. Jika aku menimbang sekali lagi,
tak perlu ada penyesalan di hati.
Dengan berat hati ku raih
telephon, sedikit ragu, ada sesuatu yang akan ku sampaikan, akankah ku beri
tahu hari ini atau besok saja? Namun setelah ku pikir-pikir, dari pada
mengganjal, lebih cepat akan lebih baik. Seraya menanti kesibukannya selesai, sesekali,
aktifitas-aktifitas di Pesantren menyapa dan mengalihkan pikiranku sejenak. Meski
sejujurnya, sejak tadi aku sudah mempersiapkan, menanti momen tenang agar bisa
segera menyampaikan.
Sekitar pukul 22.00 WIB, ku rasa
inilah saatnya menghubungi sebuah nomer dengan emoticon smile, emoticon yang
selalu berhasil membuai dan membuat hatiku ceria. Aku tidak bisa menebak
responnya nanti, namun ku pastikan ia harus menerima keputusan ini.
“halo, assalamua’alaikum”
“waalaikumsalam” sahutnya riang,
membuatku semakin ragu untuk menodai keceriaanya. Lagi, ia mungkin lelah
seharian bekerja dan ingin melepaskan penat bersamaku.
“emm, ada yang ingin aku
sampaikan” keraguan mengiringi kalimatku, cemas mulai menyatu.
“ada apa to?” malah nada manja
yang terdengar, seperti suara seorang pelindung yang amat dibutuhkan saat aku
curhat padanya.
Semakin ciut saja nyaliku. Tak
sampai hati untuk berkata. Sepertinya ia menyangka aku akan mencurahkan
masalahku lagi, padahal hari ini aku ingin menyampaikan sebuah nasehat dari
guru, nasehat yang harus aku patuhi demi masa depan yang lebih baik.
“Emm, Tadi aku dapat nasehat dari
Guru”
“nasehat apa?”
”Guruku mengatakan, ada satu
cobaan terberatku dalam menghafalkan al-Qur’an”
“Apa?” tanyanya penasaran.
“HP” Jawabku mantap.
“terus? berarti?”
sambungnya.
“ceritanya panjang, pada intinya
beliau menyuruhku untuk menaruh hp terlebih dahulu, artinya tidak sering
menghubungimu”
“jadi keputusanmu bagaimana?” ku
dengar suaranya mulai berubah, ada sedikit rasa tidak terima.
“kita komunikasi satu minggu
sekali, setiap hari kamis saja, bagaimana?” usulku, sedikit cemas.
Ia terdiam sejenak. Hingga ku
desak untuk berkata. Nafas disana terdengar sedikit memburu, jelas sekali tak
semudah itu keputusan ini bisa diterima.
Entah, terlalu jahatkah keputusan
itu, atau terlalu mudahkah ku katakan? Solusi yang tersimpan difikiran hanya demikian,
agar komunikasi tak sering terjalin dan menganggu fikiran.
“beberapa bulan lagi kita akan
menikah, kata beliau hubungan sebelum menikah itu semu, fata morgana, hidup
yang sesungguhnya adalah nanti, ketika kita sudah di bawah satu atap, kau dan
aku akan bersama sampai akhir hayat, Insyaallah, menghabiskan waktu dan saling
berbagi. Biarlah kita simpan cerita saat ini, nanti kita akan saling
melampiaskannya ketika Allah telah menakdirkan kau dan aku hidup bersama,
jangan sampai saat ini bermanis-manis, namun waktu menikah malah tidak
harmonis, Naudzubillahi min dzalik ” Ku hirup nafas dalam-dalam, bersiap untuk
berbicara lagi, disana masih terdiam.
“ku tahu ini berat, tapi semua
ini demi kebaikan kita, tirakat kita untuk menuju pelaminan, akupun tak tahu
seberapa kuat bisa melaluinya, bagaimana rasanya menahan kerinduan. Hanya
sehari dalam seminggu kita berkomunikasi melalui Hp. Gak papa ya? Mau bagaimana
lagi ini semua demi kebaikan kita, karena kata beliau, cobaan menghafalkan
al-Qur’an seribu kali lipat akan lebih berat saat kita sudah berumah tangga,
nah mumpung aku masih di Pesantren beliau menyarankan agar aku benar-benar
berkonsentrasi pada al-Qur’an. Oya, dapat salam juga dari beliau, yang sabar,
bukankah kita akan menikah dan akan bersama terus nantinya, bagaimana tunanganku?
Tidak apa-apa ya,,”
Aku menahan nafas
menyampaikannya, berharap yang disana menerima. Dan dengan keadaannya, aku benar-benar bertekad untuk menggantinya nanti, sebagai balasan atas apa yang telah kulakukan saat ini. Bagaimanapun jalan terbaik harus segera di ambil, dan ku rasa ini hanya soal
waktu. Hati yang terikat, keakraban yang terjalin, dan kebahagiaan yang
didapat, tak semudah ucap, meninggalkan hal itu untuk sementara. Demi keridhoan Ilahi, demi janji rindu yang harus ditepati, demi kehalalan yang akan bersaksi.
Hanya bersabar, Semoga Allah melapangkan hati kita, memudahkan jalan dan mengantarkan kita pada kebahagiaan nantinya, kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena tujuan menikah adalah ibadah untuk meraih tangga syuhada dan bersama sampai di surga. Kini, aku hanya bisa tersenyum, menjawabnya dengan doa saat masih ada orang lain yang berusaha mengganggu hubungan ini dengan seribu kalimatnya.

0 komentar