Misteri Cinta (Part 4) Tak Ku Sangka, Ternyata Dia

Misteri Cinta (Part 4) Tak Ku Sangka, Ternyata Dia

Misteri Cinta (Part 4) "Tak Ku Sangka, Ternyata Dia"
Tanpa berkenalan, sejak awal aku sudah tahu jika namanya Rasya, jurusan Tarbiyah, satu kelompok telah memudahkanku mengetahui profil teman-teman tanpa bersusah payah, ada catatan di absen. Apalagi dia, anak yang datang terlambat dengan wajah tak berdosa, masuk ruangan dan langsung duduk di kursi depan sebelah barat, beruntung belum ada tindakan dari kakak senior, mereka mempersilahkan saja, tanpa berbuat apa-apa, mungkin masih dimaklumi karena hari pertama. Jelas saja pandanganku sempat mengekor padanya, memperhatikan ia yang baru dan satu kelompok denganku. Kami semua duduk membentuk leter u, wajah teman-teman di sekeliling bisa terlihat dengan jelas. Dan aku memilih sibuk berbincang dengan teman-teman perempuan yang baru.

Itu kejadian tiga hari yang lalu, namun karena kejadian sore tadi, tak sadar hatiku terdorong untuk memperhatikannya sejenak, mengikuti rasa ingin tahu yang hadir, tindakannya masih terekam jelas, sayangnya aku tak berani mengangkat suara, apalagi menghampiri dan dengan mudah mengatakan terimakasih padanya, sebenarnya ada harapan yang terselubung untuk bisa mengenal dan mengucapkan rasa terimakasih secara langsung, namun hal itu ku genggam erat dalam selimut naluri, agar tetap hangat dan rapi, tanpa harus ku luapkan pada yang lain, cukup Allah semata yang mengetahui. 

Pasopati akan berakhir, malam ini, adalah malam inagurasi, malam ke empat orientasi kami, artinya setelah acara ini berakhir, belum tentu kami dapat berkumpul bersama teman-teman dari berbagai jurusan yang telah disatukan secara acak menjadi satu kelompok, namanya kelompok harimau. Sesuai dengan intruksi, ba’da isya’ kami harus langsung menuju ruang kelompok masing-masing, masih tetap dengan pakaian hitam putih, berompi kertas karton, topi ala toga yang berbahan sama. Begitulah intruksi senior kami, sebagai mahasiswa baru, kami hanya menuruti perintah, mengenal mereka dan tak ingin membantah ataupun cari ribut dengan segala persiapan yang harus dipatuhi, meski sejujurnya, perlakuan demikian membuatku mencari-cari makna atau istilah kerennya hikmah, apa sih tujuannya memakai atribut seperti itu, manfaatnya apa ya? Itulah yang sempat terlintas dalam fikiranku, mungkin saja itu adalah sebuah simbolis harapan, kami akan bersama-sama wisuda, menjadi sarjana dan tepat waktu, atau bisa jadi untuk melatih mental dan membuat kami lucu agar mereka tidak tersipu jika penampilan kami keren. Hahaha, pedenya, menyisihkan fikiran lain bahwa cara itu seperti tidak begitu berpengaruh dan kurang berarti. Tapi yasudahlah, yang penting happy.

Aku sangat bersyukur satu kelompok dengan teman-teman yang begitu menghibur, mereka lucu-lucu, celetukan alamiah merekalah yang sering kali membuatku berharap agar acara ini tak segera berakhir, atau paling tidak kami akan tetap bersama-sama nantinya. 

Malam terasa berjalan begitu cepat, tampilan-tampilan dari setiap kelompok pasopati begitu menghibur, terutama dari kelompok Harimau, kawan-kawanku yang lucu sukses membuat suara tawa gaduh di langit-langit ruangan. Aku sendiri terpingkal-pingkal dan bangga. 

Begitu singkat, acara benar-benar akan berakhir, perenungan menjadi penutup, mata kami, mata ratusan mahasiswa baru di tutup slayer, di sebuah ruangan luas, Aula Garuda namanya, lampu dipadamkan, hanya lilin yang terbakar perlahan menjadi penerang di depan setiap individu, kami duduk bersila membentuk lingkaran. tidak tahu bagaimana keadaan ruangan yang berpendar oleh ratusan sinar lilin, hanya bayang keindahan yang terekam dalam hayalan. Suasana hening, berganti derap langkah dan suara dari kakak senior, diksi demi diksi memenuhi telinga, kami hanya mendengar suara, gelap. Keadaan seperti ini membuat kami mudah berkonsentrasi dengan apa yang disampaikan. Aku mencerna, meresapi setiap kata yang terucap. 

“Sudah sadarkah engkau dengan rintihan doa dan harapannya? Mereka yang berpeluh keringat, membanting tulang demi pendidikan anaknya? Tak dapatkah kau temukan impian disana, saat tatapan mendalam melepasmu untuk bangkit melawan kebodohan dan menjadi orang berguna. 

Untuk apa kau berpura-pura, jika hanya untuk menjual tampang dan sok gaya, berhura-hura hanya untuk bermain-main saja? pulang saja, cari kerja! Biar kau tahu rasa. ”

Sajak selanjutnya aku tercengang, mendengar suara lantang seorang mahasiswa yang mengatakan “siap” hanya seorang. Itu terjadi saat kakak senior bertanya pada kami di tengah renungan, 'apakah kalian siap menjadi mahasiswa yang tidak sekedar sampah? Mahasiswa yang benar-benar berjuang untuk kebaikan orang tua, bangsa dan agama?' semua terdiam, larut dalam bius kata-kata penggebrak mahasiswa baru, perjalanan panjang yang mesti kami tempuh. Akupun lebih tenggelam dan memilih lirih menjawab. Sebagian yang lain menjawab sedang-sedang saja. Jawaban lantang itu mendapat pujian dari kakak senior, kami yang menjawab lirih digertak sekali lagi untuk menjawab lantang. sontak kami semua mengikuti intruksi, suara ratusan mahasiswa menggema di ruangan, bergemuruh menggetarkan dada. Masalahnya, konsentrasiku kini bukan pada isi renungan, suara itu, aku jadi memikirkannya, sepertinya tidak asing, benarkah itu suaranya? sepintas bayang wajah berkelebat dalam fikiran. Segera ku tepis, apa peduliku. Mungkin hanya perasaanku saja.



2 komentar

5/12/2017

Unik menarik saya suka saya suka... ^_^ salam kenal

Reply
avatar
6/05/2017

makasih.. salam kenal juga :)

Reply
avatar


View MoreHOTTEST ARTICLES