Tulisan di bawah ini adalah curahan hati sahabat.
Ku tuliskan
sesuai dengan apa yang ia sampaikan padaku..
Sejujurnya, aku
bingung untuk mengutarakannya. Dari manakah aku harus memulai mengungkap apa
yang ku rasa. Biarlah ku urai apa adanya, mengalir saja, entah ke hilir atau
malah kembali ke hulu.
Wanita saat
berusia dua puluh empat tahun, bukankah sudah waktunya menjalin rumah tangga? Seperti
teman-teman yang kemarin ada di kanan kiriku, duduk berdampingan di bangku
kuliah, namun kini, mula-mula dihampiri seorang adam yang membawanya ke dalam
biduk mahligai. ‘loh menikah?’ batinku, setiap kali mendapat surat undangan
yang datang bertubi-tubi.
Ah, jodoh memang
tak disangka-sangka. Dan pasti akan datang pada waktunya.
Sejenak, aku
kembali bercermin, bagaimana dengan diriku?
Saat hati
kembali bahagia dan teriris karena teman-teman sebayaku satu persatu pergi
untuk memenuhi separuh din, menggandeng sang adam demi mengikuti sunnah Rosul. Disini aku masih duduk
mesra bersama ayat-ayat suciNya, menanti sang pangeran yang belum jua hadir.
Terkadang, aku mulai bertanya pada diri sendiri, kapan aku seperti mereka?
tersenyum merekah bersama pasangannya di pelaminan, berjalan-jalan bebas ke
tempat-tempat indah dimasa honeymoon. Bukankah
umurku sudah cukup untuk menjalani itu semua?
Namun saat ku
renungkan kembali, aku memang belum menyelesaikan sebuah tanggung jawab,
huruf-huruf hijaiyah di lembaran-lembaran itu masih setia menemani, mushaf yang
setiap hari ku sanding dalam bahagia dan
tangis. Demi menjaga kalamNya sering kali ku urai air mata. Saat fikiranku
lelah, saat tak mudah untuk berkonsentrasi, ayat demi ayat begitu sulit terekam
dalam memori. Aku tak mampu berteriak, hanya bulir yang berbahasa, mengutarakan
isi hati yang menjerit, memohon kemudahan dari sang pemberi ingatan. Ku sadar, memang tak mudah
menjalaninya, namun ini sudah keputusan yang ku ambil. Dari sekian banyak ummat
nabi Muhammad yang menjaga kalamullah, aku hanya ingin menjadi salah satu
diantaranya.
Aku rasa, kini aku
hanya perlu bersabar, menyelesaikan tanggungjawab yang sudah ku sematkan.
Berkali ku yakinkan diri, tak perlu resah, mungkin Allah sengaja belum
mendatangkan calon imam, agar aku tetap focus dengan Kalam Ilahi. Bahasa surga
yang begitu berpengaruh menemani hari-hari.
Bahagiaku, saat ayat
demi ayat dengan mudah memenuhi rongga dada, membiaskan rasa syukur dan
kebahagiaan yang tak terkira. Walau lelah, walau air mata kerap membuncah. Ku yakin,
perjuangan ini takkan sia-sia, karena katanya semua kan indah pada waktunya. Bukan
begitu calon imamku yang disana? Hmm,, Siapakah dia?

2 komentar
diary wardah keren artikelnya :)
ReplyBisnis UKM Sumatera Utara
Kosngosan Situs Pelajar
Sibakua Jasa SEO Artikel
Mobil Honda Pekanbaru
Alhamdulillah.. makasih Reza Harahap :)
Reply