Ku sampaikan terimakasih padamu yang telah ikut andil mengobrak-abrik perasaanku, terimakasih karena telah menghadirkan seutas kebahagiaan untukku, terimakasih karena berkatmu kurasakan pahit manis serta berbagai rasa yang singgah dalam kehidupan, semuanya menjadi warna-warni pelangi yang begitu besar nikmatnya, yang begitu wajib disyukuri. Baik manis ataupun getir, anugrah itu adalah keindahan yang tak dapat diperjual belikan.Aku tersadar, rasa hampapun senantiasa singgah saat keberadaanmu menghilang, menyebabkan fikiran berkecamuk akan prasangka, bertanya bagaimanakah keadaan perasaan disana, apakah segundah ini atau bahagia-bahagia saja, masih ingatkah engkau tentang keagresifan yang ditawarkan diawal kali pendekatan, rasa manis yang membuai seakan menjadikan kita sebagai pasangan yang tak akan terpisahkan, selalu ingin bersama dan berbagi rasa, meski kesibukan menyambar, tapi selalu ada waktu yang disisihkan, seperti apapun tak ada yang mampu menghalangi keintensifan komunikasi kita. Dan nyatanya itu tak bertahan lama, entah apa sebabnya. Sebagai perempuan aku hanya menanti sapaan, pantang bagi diriku menampakkan keagresifan yang selalu membuncah, meski hati bergemuruh, meski perasaan rindu memburu, namun ku halau diri untuk tidak mengekspresikannya terlebih dahulu.Aku wanita dan sudah sepatutnya menjunjung harga diri, hal ini mungkin tampak melalui sikap yang ku pilih. Sebenarnya perasaanku stabil, tak ada kata bosan ataupun luntur, hanya saja aku yang menanti, sengaja tak meluncurkan sapaan terlebih dahulu sebelum engkau menyapaku, tak lain demi mengukur seberapa besar keistiqomahan perasaanmu. Mungkin aku juga salah, tidak terlalu mengerti bagaimana perasaan seorang pria, karena ku berfikir jika ia mengingatku selalu, tentu ia akan menghubungiku untuk melampiaskan rasa rindu.Tolong jawab kegelisahan ini, apakah aku salah? Jika ia, mohon klarifikasi jalan berfikirku.
Kukirimkan
pesan itu pada seseorang yang tiba-tiba menghilang dari keintensifan
komunikasi, sebenarnya aku masih ingin menyimpan segudang kegelisahan yang
disebabkan olehnya, namun ibarat balon yang semakin membesar, jika tidak segera
dihentikan malah dikhawatirkan meledak. Akhirnya, dengan kata ‘bismillah’
kukirim pesan tentang isi hatiku yang selama ini tersimpan rapat. Ada sedikit rasa
malu dengan pengakuan jujur tentang hari-hari yang kulalui, demi melegakan
hati, ku sisihkan harga diri dan memilih untuk mengungkapkannya.
Ku
nanti balasan pesan di facebook, ungkapan resah itu ku kirim melalui via
pesan yang tersedia disana, karena terlalu panjang jika mengirimnya via
sms. Dalam pesan itu, sebenarnya ingin ku sampaikan bahwa
aku tak ingin mengemis bila memang takdir tak berpihak untuk menyatukan kami,
rasa terimakasih akan mewakili bagaimana harga diri dan kepasrahan yang ikut
andil membumbui bahasa yang tersurat untuknya. Namun urung ku rangkai aksara
itu, khawatir jika ucapanku terlalu menyimpang jauh. khawatir jika apa yang meresahkanku hanya prasangka semata, cukuplah kepastian yang ingin
ku ketahui, kepastian tentang kejelasan kedekatan kami selama ini. Aku berharap
ia segera membalasnya. Tapi, menit demi menit berlalu, tiada tanda-tanda
balasan, akhirnya ku sign out dari FB di warnet dan memilih kembali ke kamar.
Ku sadari, didiamkan
tanpa sebab yang pasti, ternyata lebih tidak nyaman dari pada mendengar suara
atau menatap tulisan di hp kala ia berselisih paham denganku yang meskipun
terkadang disertai emosi, setidaknya aku masih bisa merasakan kehadiran,
kedekatan dan suaranya. Karena maghnet tetap hadir menyuarakan rasa kasih walau
apapun yang menghadang, meski kadang fikiran kami tak sejalan, kami tetap
bertahan melalui warna kehidupan. Namun jika sudah seperti ini, saat komunikasi
sudah tak seringan kemarin, saat komunikasi terasa semakin tersatir, saat hati
lelah menebak-nebak kemungkinan yang terjadi, praduga yang terus menerus
menguasai fikiran, masihkah ku bersabar menanti penjelasannya tanpa meminta
atau mendesaknya? Haruskah aku terus menerus bermain dengan dugaan-dugaan, atau
barangkali aku harus terus menyangka bahwa hubungan kita masih seperti kemarin,
baik-baik saja. Ah, aku tak mengerti, ada apa sebenarnya? Prasangka itu telah
mempengaruhi jalan berfikirku hingga menimbulkan tulisan seperti itu. Entahlah,
prasangka ini benar ataukah salah?

10 komentar
kalau di kasih iklan menguntungkan ini kalau aktif nulis
ReplyAamiin,, :)
ReplyBagus (y)
Replykeren gan
ReplyBagus (y)
ReplyDari segi penulisan juga sih enak dibacanya
makasih ya gan.. :)
Replythanks ya.. :)
Replymakasih gan :)
ReplyCerpen ini bikin penasaran sob .. bagus :)
Replyiyakah?? makasih :)
Reply