Selepas menyapu semak-semak aku bingung karena tak ada cikrak, kotornya sampah dan rerumputan menciutkan nyaliku untuk langsung mengaisnya dengan tangan, tak tahu alat apa yang bisa dipergunakan, sejauh mata memandang, aku belum mendapati barang yang dapat membantu mengatasi hal itu.
Teman-teman
yang lain berjarak beberapa meter dariku, disini aku hanya seorang diri,
selepas menyapu bersama temanku Rahma, aku segera berbalik arah ke utara,
berteriak kecil jika aku harus meninggalkannya sebentar, ada semak-semak yang
sepertinya belum terjamah, dan benar saja, rumput-rumput liar perlu dicabuti,
sampah-sampah plastik yang tak bisa terurai juga perlu diambil dan disapu.
Tak
membutuhkan waktu lama, sekejap sudah tampak lebih rapi. Selesai, aku mencari barang
pengganti cikrak, sebenarnya hanya bola mataku yang berkelana, ku lihat
sekeliling, sepanjang jalan mulai tampak rapi dan lebih mempesona, namun sampai
saat ini tak jua ku temukan cikrak ataupun penggantinya. Barangkali, fikiranku
yang memang belum menemukan ide, ku rasa teman-teman sudah membawa cikraknya tadi
ke gudang, buktinya peralatan sudah mulai tinggal satu dua saja. Ku lihat
hamparan halaman dan jalan kampus, mulai lengang, teman-teman sebagian besar
sudah kembali ke Aula. Temanku Rahma masih di sana, ditempat semula, rupanya
dia sedang asik berbincang dengan Vie.
Aku
malah belum selesai dengan sampah. Malas sekali jika harus kembali ke gudang
untuk mengambil cikrak, menurutku jaraknya cukup membuat kaki tak ingin kembali
ke tempat semula karena harus berjalan beberapa puluh meter lagi, belum lagi leherku
sudah cukup penat saat terus menerus menunduk karena menyapu tadi. Diam saja,
itulah sementara yang ku pilih, rasanya sedikit putus asa. Haruskah ku raup
sampah dengan tangan tanpa alas, aku khawatir rumput yang gatal itu malah malah menyerang telapak tanganku, meski ku tahu sampah itu tak mungkin dibiarkan begitu
saja atau haruskah ku memacu diri demi sebuah cikrak? Atau ku tinggal saja,
bukankah tak ada yang melarang? Hmm,
pikiran negatifku mulai turut bicara.
Ku
pegang sapu tanpa gairah, pandanganku memang mengarah ke depan, namun pikiranku
masih sesekali bertanya-tanya. Keadaanku saat ini, seperti mimpi saja, baru kemarin
MA, tak disangka ternyata Allah menakdirkan hambaNya ini untuk mencicipi dunia
perkuliahan yang biasanya ku lihat di televisi, potret para remaja yang
mendekap buku tebal dengan penampilan keren, tidak lagi seperti bangku sekolah
yang masih terikat menggunakan seragam, orang-orang yang menyapa satu sama lain
dengan ringan dan dewasa. Angan-angan yang baru kemarin masih terngiang,
ternyata kali ini aku akan memasukinya, tak disangka umurku sudah 17 tahun,
meski baru bertambah kemarin, ternyata umur ini sudah seperti mereka yang kemarin ku tonton di serial remaja.
Di tengah keasyikan memikirkan banyak hal, tiba-tiba
ada seorang laki-laki yang telah berjongkok didepanku, aku sedikit terkejut,
kakiku spontan melangkah mundur, menatapnya penuh tanya, rupanya ia meraup
sampah-sampah dan rerumputan yang sejak tadi menganggu fikiran, aku membisu,
pandanganku terhenti untuk menatap rambut lurusnya lekat, siapa pula laki-laki
baik ini, namanya siapa, dia kelompok apa, aku ingin melihat wajahnya, kami
semua memakai kaos kerja bakti yang seragam, ia berada di depan kakiku sambil
mengais sampah tanpa mempedulikan bagaimana aku terheran. Selesai, ia langsung
berpaling dan membawa sampah yang ada ditangannya ke tong sampah tanpa
sedikitpun menoleh kearahku.
Lidahku kelu, aku malah terdiam meski sejatinya ingin berteriak memanggil, terlambat, dia sudah berlalu, hanya mataku yang masih mengekornya penasaran, tepat saat ia mulai berbalik arah dan menoleh untuk mengambil peralatan kerja bakti, disitulah ku dapati wajahnya, dan ya Tuhan bukankah dia teman satu kelompok denganku? Ah, bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya. Kenapa datang begitu saja tanpa sepatah kata? Setidaknya sapa aku sejenak. Aku protes dalam hati. Sejak awal ia memang tak pernah berbicara denganku. Aku juga tak pernah melihatnya memperhatikanku, memang aku hanya gadis biasa dengan postur mungil, juga tak terlalu pandai mengakrabkan diri, melihat ia mudah akrab bersama teman-teman sejujurnya membuatku merasa tersudut, apakah aku tak terlalu penting? Bukankah ia terlihat sangat sosial dengan teman-teman yang lain, dengan mbak Dije ia bisa tertawa terbahak dan berbincang akrab, suka sekali melihat keakraban yang terjalin, ingin seperti itu juga, tapi, ah tidak mungkin aku yang memulai. Wanita kok. Mungkin hanya perlu menunggu waktu, dan akan akrab dengan sendirinya. Sudahlah, masih banyak teman-teman yang lain. Bukan begitu?

12 komentar
mantap untuk mengisi waktu luang
Replyhehehe. makasih ^_^
ReplyArtikelnya bagus sob, bahasa dan kata katanya rapi.. tapi cuma satu yang mungkin orang jarang tahu (kata cikrak)/ ganti pengki mungkin lebih jadi lebih baik :) maksih sob, benar2 bagus
ReplyWihh, bagus ini artikelnya tentang cerita cinta, mungkin ada beberapa kata yang kurang dipahami oleh pembaca. Jadi tolong dibenahi. Terima kasih
Replyhahaha. iya makasih ya gan masukannya. berarti banget :)
Replyoke, masih belajar :) makasih ya :)
Replywah, bisa jadi novel nih,
Replyditunggu lanjutannya.
salam,
Menarik juga cerita cinta nya :D
Replynice artikel bermanfaat.
Replywaalaikumsalam. Terimakasih gan. Doa dan dukungannya ya :)
Replyhahahaha :D
Replyiyakah??
makasih :)
makasih gan :)
Reply