“mbak kesini”
lambainya padaku, seketika itu ku bimbing langkah, mendatanginya, tak enak
karena orang tuanya sedari tadi sudah mengawasi kedatanganku.
Ku raih tangan
ibunya yang terulur, bersalaman dan duduk di samping gadis yang baru saja
berseru namaku, ibunya berada di hadapanku. Kepada ayahnya yang duduk agak ke
kiri dari si ibu, aku hanya mengangguk sebagai tanda penghormatan, tak lupa ku
sunggingkan senyum, sebagai sapaan ramah pada mereka, mungkin aku dipanggil untuk
dikenalkan, ternyata kedua orangtua gadis yang memanggilku tadi tampak masih
muda, baik ibu ataupun ayahnya, oh ya maklum saja, Risa (nama samaran) adalah
anak pertama dari mereka, dan masih kelas 1 SMA.
Sekali lagi aku
tersenyum seraya berbasa basi, bertanya kalian bapak ibunya risa? Mereka hanya
mengangguk dan berkata nggeh, selebihnya belum ada kalimat yang menyusul, hanya
pancaran mata yang berbicara, bahwa sedang ada sesuatu yang melanda, aku
terdiam kaku, senyumku tak terbalas, responnya biasa saja, tidak biasanya aku
menghadapi wali santri dengan sikap seperti ini, sejauh ini wali santri yang
bertegur sapa denganku bisanya menampakkan wajah bahagia dan sumringah.
Bingung, perasaanku tidak enak, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya
terjadi, disampingku Risa dan temannya
duduk tertunduk, kilatan berbeda di mata
ibunya begitu terbaca, itu bukan ekspresi berbinar karena telah bertemu
putrinya, namun sebaliknya, tampak putus asa.
“ada apa bu?” ku
coba membuka suara, memecahkan kekakuan yang tercipta. Aku masih lengkap
mengenakan mukenah, tadi baru turun dari masjd, jama’ah isya’, terpaksa
berhenti karena ada yang memanggil, kini aku duduk di tengah-tengah mereka,
menanti apa yang akan terjadi selanjutnya, ku tengok Risa, ia hanya tertunduk,
ada apa? Pandanganku beralih pada ibunya. Raut wajahnya juga tak bisa
dibohongi.
“kamu
pengurusnya?” tanyanya padaku, aku mengangguk dan berkata nggeh, meski
sejujurnya saja pertanyaan demikian membuatku tidak nyaman, kata-kata pengurus
menggelitik pendengaran, serasa membebani pundakku dengan berbagai amanah.
“iniloh mbak,
dia itu punya masalah, tapi gak tahu apa, minta boyong, ayo Ris ceritakan saja
ke mbak pengurus ini, apa sebenarnya masalahmu, mumpung ada mabknya” sambungnya
berterus terang, mata ibu itu sengaja tak menatap mataku, mungkin ia khawatir
aku terganggu dengan pemandangan dibaliknya yang sedang menyiratkan rasa
kecewa.
Mendengar hal
itu, aku tak terlalu terkejut, namun sedikit menyayangkan Risa karena dengan
mudah mengucapkan keinginan itu dihadapan orang tuanya, tak bisa di pungkiri
keinginan untuk boyong memang tak jarang terlintas di benak santri, termasuk
aku sendiri, saat masalah melanda dan terasa begitu penat menanggungnya, saat
itulah teriakan kecil menghiasi dada, bagaimana jika aku boyong saja, namun
untukku, itu sebatas gumaman hati, selebihnya aku akan befikir lebih panjang
lagi untuk masa depan dan mempertimbangkan segalanya. Aku tahu Risa sedang ada
masalah, tapi bagaimana mungkin dia memutuskan dengan cara seperti ini?
“Loh kenapa bu?”
tanyaku tak sabar.
Ku tatap Risa,
ia masih seperti semula, tertunduk, ayahnya yang berada agak jauh dari kami
jadi ikut bersuara dan mendesak Risa dengan bahasa maduranya, ia menyuruh Risa
segera mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dan memicu ia berbuat
demikian.
Lengang, ibunya
menarik nafas dalam, terlihat semakin lara.
“saya mau pulang
mbak, sudah malam, tapi ini gimana, dia masih ada masalah, saya kan gak enak,
kemarin itu dia pulang tanpa izin ke rumah, padahal rumah saya jauh lo mbak,
gak tahu nih anak saya kok tiba-tiba begitu” ungkapnya, dengan perasaan yang
tampak tertahan. Ia terlihat benar-benar kecewa, air mata dan kemarahan,
seperti tersendat membuat penglihatannya sedikit merah namun berair. Mendengar
hal itu, sepertinya aku di tahan untuk tidak pergi dulu sebelum menemukan jalan
keluarnya.
Sepintas, bayang
ayat-ayat suciNya melintas di benakku, ku rasa hari ini aku belum bisa
menyetorkannya, tak lama lagi setoran akan berakhir, ya sudahlah, masalah ini
penting untuk mereka. Kalau boleh, sebenarnya aku hanya berniat mampir
sebentar, bercakap-cakap sejenak lalu pergi melanjutkan aktifitas lain, tapi
bagaimana lagi, ternyata ada sebuah permasalahan yang datang dari Risa. Apa
lagi? Batinku, Ku urungkan niat untuk undur diri dari hadapan mereka, berharap
sebentar lagi semuanya akan baik-baik saja.
“dia ingin
pulang mbak, gimana gak papa mbak saya bawa pulang dulu?”
Aku terdiam
sejenak, mencari solusi yang tepat, masalah seperti ini sudah sering kali
terjadi.
“kalau pulang,
khawatirnya nanti gak mau kembali bu”
“lah itu,
kayaknya pasti gak mau kembali”
“gimana kalau
ibu tinggal saja Risa, nanti ibu dan bapak pulangnya terlalu larut, biar Risa, nanti
saya yang urus” Ku ungkapkan dengan mantap, siap-siap ketika aku sudah berkata
seperti ini santri yang minta boyong pasti bereaksi sama.
“tidak, jangan
pulang, pokoknya Risa ikut pulang”
akhirnya bersuara juga, meski penuh isak, aku tak mengerti apa
sebenarnya yang menjadi alasan kuat anak ini untuk berhenti di tengah jalan,
padahal ia baru saja menapak pendidikan tingkat SLTA, Madrasah Diniah dan
al-Qur’annya juga masih dalam proses, sungguh sangat sayang sekali jika
perjuangan itu harus terhenti disitu saja, tak bisa ku gambarkan bagaimana
dalamnya orang tua menahan perasaan, mengingat siang malam ia berjuang mencari
nafkah hanya demi kenyamanan anaknya dalam menempuh pendidikan, jujur saja,
jika posisiku sebagai orang tua Risa, aku pun amat sangat kecewa dengan
keputusannya yang mendadak.
“aku pingin
boyong mak” teriaknya lagi, meski teriakan itu terdengar lirih, tapi aku bisa
mendengarnya dengan jelas.
“Kok bisa kau
minta boyong sekarang nak? Kau mondok sudah hampir empat tahun, kasep, kok gak
dulu-dulu aja waktu masih baru minta boyong, sekarang sudah kelas satu SMA
malah minta boyong, mbok ya nunggu lulus SMA aja, nanti terserah wis kemana,
ingat ibu sama ayah pontang-panting cari uang untuk membiayaimu, kok bisa kau
memutuskan boyong, gak mikir perasaan mak bapak ta? Sudah besar bukannya tambah
dewasa malah tambah seperti anak kecil, owalah nak”
Risa tunduk
terdiam, aku tahu karakter anak itu, ia anak baik, ia anak yang sadar, semua
yang diucapkan orangtuanya itu tak mungkin terlewat dari perenungannya, aku
yakin ada alasan yang telah menguhkan pendiriannya hingga demikian, tapi apa? Apa hanya karena masalah yang kemarin
menimpanya? Ia keluar tanpa izin dan harus di takzir, mungkinkah karena itu? Entahlah,
apapun alasannya keputusan Risa untuk boyong membuatku tak habis pikir.
“mungkin Risa
sedang jenuh bu, ibu dan bapak pulang saja tidak apa-apa, biar nanti Risa saya
nasehatin” ucapku menengahi, biasanya anak yang sedang frustasi modelnya memang
seperti ini, bawaanya ingin boyong, padahal itu hanya karena perasaannya masih
labil, jika sudah di tinggal pulang orang tuanya, lama-lama ya diam sendiri dan
bercengkrama lagi dengan teman-temannya yang lain, lupa kalau baru kemarin
minta boyong, ku rasa kasus Risapun demikian, anak ini hanya perlu menenangkan
diri sejenak, aku bertekad nanti saat keadaannya membaik akan ku nasehati ia
seperti hari-hari biasanya, saat matanya berbinar menerima segala nasihat dan
ceritaku, ada semangat kebaikan membara disana, itulah sebabnya aku tak habis
pikir jika Risa memilih jalan boyong untuk menyelesaikan masalahnya.
“Tidak mak, aku
ingin pulang, aku ikut kamu” pintanya terisak, ayahnya menatap tajam, terlihat
lelah dengan sikap putrinya, aku bisa memahami perasaan mereka.
Melihat
pemandangan itu, aku tak tahan, aku ingin mengembalikan Risa seperti semula,
ingin segera menyadarkannya, aku sangat mengenalnya, bahkan dekat dengannya, ku
sentuh bahu Risa, berisyarat agar ia mengungkapkan segalanya padaku. Ia menoleh
menatap ke arahku.
“Ada apa
sebenarnya Risa, kenapa kamu seperti ini?” kulirihkan suara untuk menyentuh
perasaan dan mengetahui alasannya.
“Risa ingin pindah
pondok mbak, Risa ingin pindah ke pondok al-Qur’an yang salaf, Risa disini
orangnya mudah ikut-ikutan teman, Risa ingin tenang menghafalkan al-Qur’an,
kalau disini saat berada di sekolah hafalan Risa buyar, Risa hanya ingin
menjadi orang yang lebih baik mbak, Risa mudah ikut teman, padahal temen Risa
ada yang kurang baik, Risa bukan orang yang kuat, Risa hanya perlu pindah ke
pondok yang ketat, Risa hanya ingin menjadi orang baik, bisa mendoakan orang
tua dan benar-benar fokus menghafalkan al-Qur’an, Risa sudah mantap memutuskan
untuk meninggalkan sekolah dan memilih al-Qur’an "
Air mata menetes
deras di sela-sela ia berkata, aku tersenyum, sudah ku bilang, Risa anak baik, aku
tahu anak ini sadar, anak ini punya alasan kuat dengan keputusannya, ia bukan
anak yang tidak mengerti susahnya orang tua, namun ia hanya ingin mengambil
langkah terbaik saat melihat kondisi dirinya. Memang di pondok ini, sekolah
bercampur antara laki-laki dan perempuan namun tetap disertai aturan, karena
disini juga menerima pihak luar yang ingin mengenyam pendidikan formal, seorang
santri harus dituntut tidak terpengaruh dan kuat menghadapi pergaulan yang
semakin tidak karuan, dan Risa ia menyadari kekurangannya yang sulit untuk
menolak ajakan teman. Jadilah, ia memilih untuk pindah ke pondok yang ketat agar
bisa menjaga dirinya, subhanallah, seketika itu perasaanku kembali ringan,
selesai berucap Risa bersandar di pundakku, sepertinya ia lelah, aku
merengkuhnya bangga namun juga sedih karena harus berpisah dengan anak baik
yang selalu menyapa dan antusias mendengar ceritaku.
Ku sampaikan
pada ibunya, apa yang telah Risa sampaikan padaku barusan, ringannya perasaan
mendukung mulutku lancar mengungkapkan aksara, mendengar hal itu orang tuanya
sedikit meluruh, mungkin kemarahannya sedikit menguap dengan alasan putrinya,
meski tak bisa dipungkiri orang tuanya masih berharap agar Risa tetap
menamatkan SMAnya.
“kau yakin
dengan keputusanmu ini?” tanyaku beberapa waktu kemudian setelah ia mendapatkan
izin untuk pulang, kebetulah aku berhenti sejenak untuk bertanya, membiarkan
ibunya mendahului pergi ke tempat semula, tempat kami duduk-duduk tadi, tempat
pengiriman.
“ia mbak Risa
yakin” jawabnya mantap bahkan senyum di wajahnya nampak begitu sumringah.
“gak nunggu
lulus SMA dulu? Kan sayang lo..”
“tidak mbak,
khwatir nanti aku tambah nakal, aku ingin jadi orang baik mbak”
“sekarang itu
perlu lo,, dapat dunia dan akhiratnya, kalau nanti kamu gak sekolah gimana?”
“Risa yakin
dengan ucapan ustadz Risa, katanya orang yang hafal al-Qur’an di jamin oleh
Allah tidak akan melarat, aku percaya itu, untuk profesi Risa bisa jahit mbak,
nanti Risa bisa menekuni hal itu”
“ya sudah kalau
begitu” Aku sudah tak membujuknya lagi, pertahanannya sangat kuat, sekali lagi,
aku hanya bisa bergumam bangga dengan keputusan besarnya. Ia telah
merencanakannya dengan matang.
Kami berpelukan,
tanpa kata, aku tersenyum mengantarnya pulang, dalam hati ku berdo’a, semoga
niat mulia anak ini diberikan kemudahan dan kelancaran oleh Allah SWT, semoga
apa yang dicita-citakannya untuk menjadi orang yang mulia melalui kalamNya
terlaksana, semoga Allah menjaganya. Aamiin Ya Robbal Alamin.
Suatu saat, aku
berharap bisa menjumpainya kembali. Risa.

12 komentar
bagus cerita nya gan
Replymakasih gan :)
ReplyWah hebat, terus berkarya ya
ReplySetelah merantau untuk menghafalkan Al-Qur'an.
ReplyLebih bijak, mendalami keilmuan tafsir di Universitas Yudharta Pasuruan. ��
Oke. Insayaallah. makasih dukungannya :)
ReplyMenurut saya ini bacaan yang menarik. Karena saya non muslim jadinya ini bacaan yang baru buat saya dan tidak banyak bertele tele . Overall bagus
Replymakasih gan :)
ReplyLangka bnget emang anak" yg brfikiran sprti risa.
ReplyAnak jaman skrang kalo mondok itu kbnyakan niatnya skolah sambil mondok.
nggeh betul sekali. :)
Replykeren
Replyyes, terimakasih :)
ReplyAhlul Qur'an Insya Allah,
Reply